ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman Nipah (Nypa fruticans) adalah mangrove dari keluarga palem, dan pelepahnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber selulosa. α-selulosa merupakan adalah fraksi selulosa bermassa molekul tinggi yang tidak larut dalam NaOH 17,5% dan dianggap sebagai selulosa berkualitas tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh konsentrasi NaOH terhadap karakteristik α-selulosa dari delignifikasi pelepah nipah (Nypa fruticans) melalui pengujian rendemen dan kadar α-selulosa. Metode penelitian ini ada tiga tahapan yakni tahapan pertama preparasi sampel, tahap kedua delignifikasi sampel, tahap ketiga adalah analisis α-selulosa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi NaOH terhadap nilai rendemen α-selulosa hasil dari delignifikasi pelepah nipah (Nypa fruticans) (Sig. > 0,05). Perlakuan terbaik adalah konsentrasi NaOH 10% dengan nilai rendemen sebesar 18,27% ± 0,01% dan kadar α-selulosa sebesar 81,58% ± 3,07%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kappaphycus alvarezii seaweed is a primary source of carrageenan, possessing significant economic significance and extensively cultivated in coastal regions, including Sebatik Island. In the manufacture of seaweed salt, waste is generated that has not been effectively utilized. This study aimed to assess the properties of carrageenan derived from the by-product of the K. alvarezii seaweed salt production process utilizing sodium hydroxide (NaOH) as a solvent. The parameters analyzed included yield, moisture content, sulfate content, ash content, and viscosity. Extraction was carried out using the hot alkali method with 0.5% NaOH at 90-95°C for 5 hours, followed by precipitation with KCl, drying, and grinding. The results showed that carrageenan from salt residues had a yield of 21.64 ± 5.81%, moisture content of 6.66 ± 1.52%, sulfate content of 2.72 ± 0.39%, ash content of 32.6 ± 0.57%, and viscosity of 12.6 ± 0.9 cPs. In comparison, carrageenan from whole seaweed showed a yield of 32.8 ± 2.42%, moisture content of 9.66 ± 2.51%, sulfate content of 1.58 ± 0.14%, ash content of 44.33 ± 3.78%, and viscosity of 9.6 ± 0.9 cPs. Although derived from waste, carrageenan from salt residues exhibited competitive physicochemical properties, particularly in terms of water content and viscosity. Thus, seaweed salt by-products have potential as an alternative raw material for carrageenan production, especially for non-food industrial applications.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Serat kelapa adalah salah satu bahan alam yang serbaguna dengan berbagai aplikasi di berbagai industri. Serat kelapa digunakan dalam pembuatan tali, kain, dan produk tekstil lainnya. Serat ini sering digunakan dalam produksi karung, tikar, dan anyaman. Serat kelapa dapat digunakan sebagai campuran dalam pembuatan beton dan bahan bangunan lainnya. Sabut kelapa dapat juga dimanfaatkan menjadi bahan komposit. Komposit terdiri dari dua unsur yaitu matriks dan filler. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan dalam pembuatan komposit dengan memanfaatkan sabut kelapa sebagai filler, dan pengaruh sabut kelapa terhadap kekuatan impact dan kekerasan. Komposisi filler yaitu sekitar 10, 15, 20 (%) serat dari sabut kelapa dengan bermatriks resin sekitar 100%. Penambahan filler diiringi pengurangan matriks yang digunakan dari 100% epoxy. Spesimen dengan perlakuan NaOH dibuat dengan 9 spesimen dan tanpa perlakuan dibuat sebanyak 3 spesimen. Komposit dibuat dengan proses hand lay-up. Komposit yang telah dibuat kemudian dilakukan uji mekanik yaitu kekerasan dan impact. Hasil data tertinggi uji kekerasan dengan perlakuan NaOH pada variasi (15%/85%) sebesar 75 shore D. Kekerasan terendah pada variasi (10%/90%) sebesar 63 Shore D. Sedangkan tanpa perlakuan hasil penelitian data tertinggi menunjukkan pada variasi (10%/90%) sebesar 74 Shore D. Dan kekerasan terendah pada variasi (20%/80%) sebesar 63 Shore D. Kekuatan impact perlakuan NaOH tertinggi berada pada variasi 20% energi serap sebesar 3.28 Joule dan ketangguhan impak sebesar 0.020 . Dan tanpa perlakuan tertinggi berada pada variasi 20% energi serap sebesar 3.39 Joule dan ketangguhan impak sebesar 0.021 .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan gabus merupakan salah satu ikan asli Indonesia yang menghasilkan albumin. Albumin dikenal sebagai protein yang sangat bermanfaat bagi penderita hipoalbumin dan proses penyembuhan luka pasca operasi. Selain itu, albumin juga memiliki komposisi kimia yang dapat dimanfaatkan pada pembuatan biosensor. Albumin dapat diekstrak dari ikan gabus menggunakan air, garam konsentrasi rendah, serta pelarut asam dan basa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakteristik albumin ikan gabus yang diekstrak dengan pelarut asam dan basa. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu preparasi sampel, ekstraksi albumin dari ikan gabus menggunakan pelarut HCl (Perlakuan A) dan pelarut NaOH (Perlakuan B), serta karakterisasi ekstrak albumin ikan gabus meliputi rendemen, kadar air, kadar lemak, kadar protein dan kadar albumin. Data dianalisis dengan Independent T-test. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata (sig 0,05) antara rendemen, kadar air, kadar lemak, kadar protein dan kadar albumin pada perlakuan A dan B. Rendemen, kadar air, kadar protein dan kadar albumin terbaik terdapat pada perlakuan A dengan nilai berturut-turut sebesar 2,630,12%; 12,98±0,43%; 42,82±0,64% dan 8,34±0,83%. Kadar lemak terbaik terdapat pada perlakuan B yaitu sebesar 0,52±0,12%. Pelarut asam lebih baik dalam mengekstrak albumin ikan gabus dibandingkan pelarut basa karena dapat menghasilkan kadar albumin lebih tinggi.