Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: carrageenan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

MODIFIKASI JUMLAH CINCIN PADA METODE LONG LINE BUDIDAYA Kappaphycus alvarezii DI TANJUNG BATU TARAKAN, KALIMANTAN UTARA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan  Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MODIFIKASI JUMLAH CINCIN PADA METODE LONG LINE BUDIDAYA Kappaphycus alvarezii DI TANJUNG BATU TARAKAN, KALIMANTAN UTARA

2026•

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi jumlah cincin pada konstruksi long line terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan bobot mutlak, dan kandungan karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di perairan Tanjung Batu, Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan jumlah cincin, yaitu P1 (1 cincin), P2 (3 cincin), dan P3 (5 cincin), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Bobot bibit awal disesuaikan dengan jumlah cincin, yaitu P1 = 15 g, P2 = 45 g, dan P3 = 75 g, dengan masa pemeliharaan selama 45 hari. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap tujuh hari sekali, sedangkan analisis karagenan dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cincin berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap bobot mutlak, SGR, dan kadar karagenan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P2 dan P3 pada parameter bobot mutlak, serta ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain pada parameter SGR. Nilai SGR tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 sebesar 6,2%/hari, sedangkan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 133 g. Kadar karagenan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar 2,67%, diikuti oleh P3 (2,53%) dan P1 (2,27%). Penggunaan tiga cincin direkomendasikan untuk memperoleh kualitas karagenan terbaik, sedangkan penggunaan lima cincin lebih sesuai untuk meningkatkan produksi biomassa. Kata kunci: Cincin; Karagenan; Kappaphycus alvarezii; Long Line;Pertumbuhan  Abstract This study aimed to evaluate the effect of modifying the number of rings in a long-line cultivation system on the specific growth rate (SGR), absolute weight gain, and carrageenan content of Kappaphycus alvarezii cultivated in the waters of Tanjung Batu, Tarakan, North Kalimantan. The experiment employed a Randomized Block Design (RBD) with three treatments: P1 (1 ring), P2 (3 rings), and P3 (5 rings), each replicated three times. Initial seed weights were adjusted according to the number of rings (P1 = 15 g, P2 = 45 g, and P3 = 75 g), and the cultivation period lasted 45 days. Growth parameters were observed every seven days, while carrageenan content was analyzed at the end of the cultivation period. The results showed that the number of rings had a significant effect (P 0.05) on absolute weight gain, SGR, and carrageenan content. Duncan’s multiple range test revealed that P1 differed significantly from P2 and P3 in absolute weight gain, while all three treatments differed significantly from one another in SGR. The highest SGR was recorded in P1 at 6.2% day⁻¹, whereas the greatest absolute weight gain was obtained in P3 at 133 g. The highest carrageenan content was found in P2 (2.67%), followed by P3 (2.53%) and P1 (2.27%). The use of three rings is recommended for achieving the best carrageenan quality, while five rings are more suitable for maximizing biomass production. Keywords: Carrageenan; Growth; Kappaphycus alvarezii; Long Line; Ring

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

APLIKASI EDIBLE FILM BERBAHAN DASAR SEMI REFINED CARRAGEENAN DARI RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) SEBAGAI PENGEMAS BUMBU

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penggunaan plastik sintetis sebagai pengemas makanan, termasuk bumbu, telah menjadi masalah lingkungan yang serius karena sifatnya yang sulit terurai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik edible film berbahan dasar semi refined carrageenan (SRC) dari rumput laut Kappaphycus alvarezii yang diaplikasikan sebagai pengemas bumbu. Metode penelitian meliputi pembuatan tepung SRC dengan ekstraksi KOH 8%, dilanjutkan pembuatan edible film dengan variasi konsentrasi gliserol (0%; 0,1%; 0,3%; dan 0,5%) serta penambahan asam malat 0,3%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik fisik edible film dipengaruhi secara signifikan oleh konsentrasi gliserol. Nilai kuat tarik tertinggi diperoleh pada konsentrasi gliserol 0,0% sebesar 43,7 MPa, sedangkan nilai terendah pada konsentrasi 0,5% sebesar 29,2 MPa. Seluruh sampel telah memenuhi standar Japanese Industrial Standard (JIS) untuk kuat tarik (minimal 0,39 MPa) dan ketebalan (maksimal 0,25 mm). Ketebalan film berkisar antara 0,023 mm hingga 0,036 mm, yang cenderung meningkat seiring bertambahnya konsentrasi gliserol. Nilai perpanjangan (elongasi) mengalami peningkatan dengan bertambahnya gliserol, mencapai nilai tertinggi 46,29% pada konsentrasi 0,5%, meskipun hasil ini belum mencapai standar minimal JIS sebesar 70%. Kelarutan film menunjukkan nilai terendah pada konsentrasi gliserol 0,3% yaitu sebesar 26,7%. Secara keseluruhan, edible film berbahan dasar SRC berpotensi sebagai alternatif pengemas bumbu yang ramah lingkungan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakteristik Karagenan dari Rumput Laut dan Hasil Samping Garam (kappaphycus alvarezii) di Pulau Sebatik Menggunakan Pelarut Natrium Hidroksida (NaOH)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kappaphycus alvarezii seaweed is a primary source of carrageenan, possessing significant economic significance and extensively cultivated in coastal regions, including Sebatik Island. In the manufacture of seaweed salt, waste is generated that has not been effectively utilized. This study aimed to assess the properties of carrageenan derived from the by-product of the K. alvarezii seaweed salt production process utilizing sodium hydroxide (NaOH) as a solvent. The parameters analyzed included yield, moisture content, sulfate content, ash content, and viscosity. Extraction was carried out using the hot alkali method with 0.5% NaOH at 90-95°C for 5 hours, followed by precipitation with KCl, drying, and grinding. The results showed that carrageenan from salt residues had a yield of 21.64 ± 5.81%, moisture content of 6.66 ± 1.52%, sulfate content of 2.72 ± 0.39%, ash content of 32.6 ± 0.57%, and viscosity of 12.6 ± 0.9 cPs. In comparison, carrageenan from whole seaweed showed a yield of 32.8 ± 2.42%, moisture content of 9.66 ± 2.51%, sulfate content of 1.58 ± 0.14%, ash content of 44.33 ± 3.78%, and viscosity of 9.6 ± 0.9 cPs. Although derived from waste, carrageenan from salt residues exhibited competitive physicochemical properties, particularly in terms of water content and viscosity. Thus, seaweed salt by-products have potential as an alternative raw material for carrageenan production, especially for non-food industrial applications.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK EDIBLE FILM DARI SEMI REFINED CARRAGEENAN Kappaphycus alvarezii DENGAN ASAM MALAT SEBAGAI PLASTICIZER

2024•

Sampah plastik sudah menjadi masalah serius bagi masyarakat di Indonesia karna sudah mencemari lingkungan baik perairan dan daratan. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah plastik dengan membuat edible film dari kappaphycus alvarezii. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan kadar asam malat yang optimal pada pembuatan edible film semi refiend carrageenan (SRC) yang diolah dari rumput laut (kappaphycus alvarezii) Adapun metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pertama-tama pembuatan semi refined carrageenan kemudian membuat edible film dari rumput laut dan dilakukan pengujian parameter uji ketebalan, uji tarik, elongasi, uji kelarutan dan uji kadar air. Hasil yang didapatkan dengan penambahan asam malat dapat meningkatkan ketebalan film hingga 0,063cm. Kuat tarik pada edible film dengan penambahan asam malat mengalami penurunan seiring bertambahnya kosentrasi asam malat yang ditambahkan. Terjadi peningkatan perpanjangan menjadi 36.87% pada edible film dengan kosentrasi asam malat 0,3%.pada uji kadar air tanpa adanya penambahan asam malat pada edible film mendapatkan hasil yang lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Untuk uji kelarutan Pada penambahan asam malat 0,1% dan 0,3% menunjukan nilai kelarutan yang sama yaitu 83,81%. Berdasarkan parameter perpanjangan, edible film dengan penambhan asam malat 0,3% menghasilkan perpanjangan optimum perpanjangan yaitu sebesar 36,87%. Edible film yang dihasilkan memenuhi standar japanese industrial standar untuk parameter ketebalan dan kuat tarik, namun belum memenuhi parameter perpanjangan dan parameter kelarutan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pembuatan Edible Film Berbahan Dasar Semi Refined Carrageenan dari Rumput Laut (Eucheuma cottoni) sebagai Pengemas Serbuk Kopi

2023•

Sampah masih menjadi masalah serius bagi bangsa Indonesia, terutama sampah plastik, maka dari itu perlu dilakukan pencegahan untuk mengurangi sampah plastik, salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik yaitu dengan pembuatan edible film berbahan dasar tepung semi refined carrageenan, karena memiliki kandungan yang aman dikonsumsi dan ramah lingkungan, teknologi semi refined carrageenan juga dimanfaatkan pada pengemas pangan yang digunakan sebagai edible film, sehingga dapat digunakan sebagai solusi dari pengurangan sampah plastik dari polimer sintetik. Pada penelitian ini telah berhasil memproduksi edible film dengan konsentrasi 1% ,1,25% dan 1,5 % berbahan dasar semi refined carrageenan yang diperoleh dari rumput laut (Eucheuma cottoni) sebagai pengemas bubuk kopi. Penelitian ini telah berhasil memproduksi edible film berbahan dasar semi refined carragenan yang diperoleh dari Euchema cottoni sebagai pengemas bubuk kopi. Standar pada uji kuat tarik yaitu 7,64 -31,36 MPa sehingga ketiga edible film telah memenuhi strandar. Standar uji elongasi yang sesuai dengan JIS yakni minimal 70 % sehingga nilai ketiga edible film belum memenuhi standar dimana nilai elongasi paling tinggi yaitu 1,23%. Standar uji ketebalan yang sesuai dengan japanesse industrial standard yaitu maksimal 0,25 mm, sehingga pada uji ketebalan ini didapatkan nilai 0,056 – 0,063 mm yang memenuhi standar. Pada uji kelarutan edible film didapatkan nilai sebesar 15,51 - 51,01%. Standar nasional pada uji kadar air sebesar 7%, sehingga didapatkan nilai yang sesuai standar pada kopi yang terbungkus edible film dengan nilai 4,24% dan 5,76% pada konsentrasi semi refined carragenan 1,25% dan 1,5%. Pengujian hedonik edible film 30 panelis telah memberikan nilai pada edible film dan didapatkan hasil kesukaan panelis dari edible film dengan penggunaan konsentrasi 1,25% dengan tingkat kesukaan menyukai. Hasil uji hedonik kopi 30 panelis lebih menyukai kopi yang terbungkus edible film dari pada kopi tanpa edible film.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail