Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

8 hasil
Subjek: fitokimia
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

HISTOKIMIA DAN STRUKTUR SEKRETORI TUMBUHAN SAMBUNG NYAWA (Gynura procumbens) SERTA POTENSINYA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gynura procumbens atau sambung nyawa merupakan tumbuhan obat tradisional dari famili Asteraceae yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat kalimantan. Tumbuhan yang digunakan sebagai obat umumnya memiliki struktur sekretori sebagai sintesis atau penyimpanan metabolit sekunder sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe struktur sekretori serta distribusi histokimia senyawa terpenoid, alkaloid, dan senyawa lipofilik pada jaringan batang dan daun G.procumbens asal Tarakan, Kalimantan Utara, serta mengeksplorasi potensi hasil penelitian sebagai sumber pembelajaran pada mata kuliah Fitokimia. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif melalui sayatan free hand section secara paradermal dan melintang dilanjutkan dengan uji histokimia menggunakan reagen kupri asetat 5% untuk terpenoid, reagen Wagner 1% untuk alkaloid, dan Sudan IV untuk senyawa lipofilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sekretori yang dijumpai pada kedua organ berupa trikoma kelenjar. Daun memiliki tipe trikoma peltate tipe I dan capitate tipe II, sedangkan batang hanya memiliki trikoma capitate tipe I dan capitate tipe II yang menunjukkan bahwa daun memiliki kompleksitas struktural lebih tinggi dibandingkan batang. Seluruh tipe trikoma pada kedua organ memberikan hasil positif terhadap senyawa terpenoid, alkaloid, dan lipofilik. Temuan ini relevan dengan capaian pembelajaran mata kuliah Fitokimia dan berpotensi dikembangkan menjadi panduan praktikum berbasis riset bagi Program Studi Pendidikan Biologi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, TOKSIKSITAS, DAN KOMPONEN BIOAKTIF EKSTRAK Sargassum sp DARI PERAIRAN NUNUKAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sargassum sp merupakan makroalga cokelat yang keberadaannya cukup melimpah di perairan Nunukan, Kalimantan Utara, dan diketahui berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengevaluasi aktivitas antioksidan, kandungan senyawa bioaktif, serta tingkat toksisitas pada berbagai ekstrak Sargassum sp. Proses ekstraksi dilakukan melalui metode maserasi dengan menggunakan empat jenis pelarut, yakni etanol 96%, etil asetat, n-heksana, dan petroleum eter. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH, identifikasi senyawa bioaktif dilaksanakan melalui uji fitokimia, sementara pengujian toksisitas dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva Artemia salina. Hasil pengujian antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 3,93 ppm, diikuti oleh ekstrak n-heksana dan etanol dengan nilai IC50 masing-masing 55,49 ppm dan 64,20 ppm, serta petroleum eter sebesar 4.032,33 ppm. Uji fitokimia mengkonfirmasi keberadaan senyawa alkaloid, flavonoid, steroid, dan saponin dalam ekstrak. Adapun hasil uji toksisitas menunjukkan nilai LC50 petroleum eter sebesar 219,7475 ppm, n-heksana 257,8258 ppm, etil asetat 559,898 ppm, dan etanol 478.300.000.000 ppm, yang mengindikasikan bahwa ekstrak petroleum eter memiliki tingkat toksisitas tertinggi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI FITOKIMIA RUMPUT KNOP (Hyptis capitata Jacq.) DAN PENERAPANNYA SEBAGAI PANDUAN PRAKTIKUM

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati berupa tanaman obat tradisional. Umumnya tanaman sebagai obat mengandung senyawa metabolit sekunder misalnya flavonoid. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai obat tradisional adalah Hyptis capitata Jacq. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid pada daun dan batang H. capitata Jacq., perbedaan kadar flavonoid antara daun dan batang, serta menyusun panduan praktikum berbasis spektrofotometer. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berupa daun dan batang H. capitata Jacq. yang diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Penetapan kadar flavonoid dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 450 nm dengan larutan standar quersetin. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji T berpasangan (Paired Sample T-Test) untuk mengetahui perbedaan signifikan antara kedua sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid pada daun lebih tinggi dibandingkan batang. Nilai rata-rata sampel daun sebesar 5,506828 mg/L dan sampel batang sebesar 1,115884 mg/L. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kadar flavonoid pada daun dan batang. Selain itu, penelitian ini menghasilkan panduan praktikum fitokimia yang dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk mendukung kegiatan praktikum mahasiswa. Hasil penelitian menunjukan H. capitata Jacq. memiliki potensi sebagai sumber senyawa flavonoid. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran melalui panduan praktikum yang aplikatif dan edukatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI FITOKIMIA TANAMAN KEMOYANG (Homalomena rubescens) DAN PENERAPANNYA SEBAGAI PANDUAN PRAKTIKUM

2026•

Tanaman Homalomena rubescens (kemoyang) merupakan tanaman obat yang memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif. Senyawa tersebut berupa golongan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan kadar flavonoid pada bagian umbi, batang, dan daun tanaman H. rubescens, (2) mengetahui perbedaan kadar flavonoid pada masing-masing bagian tanaman, serta (3) menyusun panduan praktikum analisis flavonoid berbasis spektrofotometri. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari bagian daun, batang, dan umbi tanaman H. rubescens yang diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Analisis kadar flavonoid dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 450 nm dengan kuersetin sebagai larutan standar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA untuk mengetahui perbedaan konsentrasi flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid tertinggi terdapat pada daun sebanyak 2,814268 mg/L, kemudian umbi sebesar 1,505941 mg/L, dan batang sebesar 1,447276 mg/L. Terdapat perbedaan signifikan kadar flavonoid antar bagian tanaman dengan nilai signifikansi 0,018 (0,05). Uji lanjut Post Hoc Tukey menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara daun dengan batang serta daun dengan umbi, sedangkan antara batang dan umbi tidak berbeda signifikan. Berdasarkan hasil penelitian, telah disusun panduan praktikum analisis flavonoid berbasis spektrofotometri yang memuat komponen lengkap dan sistematis, sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam kegiatan praktikum fitokimia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK KOMBUCHA DARI TEH BUAH Rhizophora mucronata SEBAGAI MINUMAN FUNGSIONAL

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kombucha adalah minuman berkarbonasi alami non-alkohol yang dibuat dengan cara memfermentasi larutan teh dan gula dengan kultur kombucha yang mengandung bakteri dan ragi yang dikenal sebagai SCOBY. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik kombucha berbahan dasar teh buah Rhizophora mucronata sebagai minuman fungsional, ditinjau dari analisis senyawa fitokimia, aktivitas antioksidan, pH, dan kadar alkohol. Rhizophora mucronata diketahui mengandung senyawa aktif seperti tanin, flavonoid, saponin, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Proses fermentasi dilakukan selama 11 hari menggunakan kultur simbiotik antara bakteri dan ragi SCOBY. Identifikasi senyawa fitokimia dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Aktivitas antioksidan diuji dengan metode DPPH menggunakan lima variasi konsentrasi, nilai pH diukur dengan pH meter, dan kadar alkohol diuji menggunakan alcohol hydrometer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa teh kombucha dari buah R. mucronata mengandung senyawa alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Aktivitas antioksidan kuat tercatat sebesar 4,3446 ppm dan asam askorbat 0,0004 ppm. Nilai pH akhir berada di bawah 3, menandakan terbentuknya asam organik selama fermentasi. Kadar alkohol tidak terdeteksi, menunjukkan produk ini aman dikonsumsi dan memenuhi standar halal menurut Majelis Ulama Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, teh kombucha buah R. mucronata memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai minuman fungsional yang alami, sehat, dan bernilai komersial.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI SENYAWA FITOKIMIA DAN POTENSI ANTIOKSIDAN DARI SUPERNATAN BEBAS SEL ISOLAT BAKTERI SIMBION SPONS Clathria sp.

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Spons laut merupakan sumber senyawa bioaktif yang potensial dalam antibakteri, antikanker, antiinflamasi dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifika kandungan bioaktif bakteri simbion spons Clathria sp. melalui uji fitokimia dan menemukan bakteri simbion Clathria sp, yang berpotensi menghasilkan senyawa antioksidan. Penenlitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Uji fitokimia menunjukkan bahwa dari 23 isolat bakteri simbion Clathria sp, mengandung saponin. Uji antioksidan dengan metode DPPH diperoleh aktivitas terbaik dengan persentase inhibisi rata-rata diatas 50% pada isolat C1 (56,46%), C3 (53,17%), C13 (54,49%), dan C15 (53,06%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri simbion Clathria sp, berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif dan antioksidan, dan membuka peluang pengembangan obat antimikroba dan antioksidan di masa depan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Fisikokimia dan Fitokimia Ekstrak Daun Katang-katang (Ipomoes pes caprae) Dari Tarakan Kalimantan Utara

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Katang-katang (Ipomoea pes-caprae) tergolong dalam jenis mangrove asoset yang tumbuh di ekosistem pantai Kota Tarakan Kalimantan Utara. Daun Katang-katang secara empiris dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional dalam mengobati penyakit. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan identifikasi fisikokimia serbuk daun katang-katang, menentukan rendemen dan kandungan senyawa bioaktif ekstrak daun katang-katang sebagai bahan baku obat melalui uji fitokimia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Simplisia daun katang-katang dilakukan uji fisikokimia yang meliputi kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut dalam air dan kadar sari larut dalam etanol. Ekstrak daun katang-katang diperoleh dengan metode maserasi. Pelarut yang digunakan terdiri dari etanol, aseton dan kloroforlm dengan perbandingan 1:5 b/v selama 72 jam pada suhu 50ºC dengan kecepatan 100 rpm. Masing-masing ekstrak kemudian dihitung nilai rendemennya dan dilakukan uji fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar abu dan kadar tidak larut asam sebesar 2,88±1,44% dan 0,05±0,02% memenuhi standar Farmakope Herbal Indonesia (FHI). Nilai kadar sari larut dalam air dan larut dalam etanol sebesar 3,91±0,74% dan 2,81±1,1% tidak memenuhi standar FHI. Nilai rendemen ekstrak daun Katang-katang sebesar 43,50% menggunakan pelarut etanol, 41,50% aseton, dan 42,60% klorofom. Hasil uji fitokimia ekstrak daun katang-katang pada pelarut etanol terbukti mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin, namun tidak ditemukan pada pelarut aseton dan klorofom. Daun Katang-katang dari Tarakan, Kalimantan Utara terbukti memiliki potensi sebagai bahan baku obat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji bioaktivitas akar kuning (Arcangelisia flava merr) dan laos (alpinia galanga) sebagai antibakteri dan antioksidan

2021•

Abstrak Akar kuning dan laos sebagai obat tradisional masyarakat indonesia. Oleh karena itulah perlu membuktikan secara ilmiah terkait khasiat kedua bahan tersebut melalui uji bioaktivitas. Tujuan penelitian ini yaitu menguraikan persentase rendeman yang didapatkan dari masing-masing ekstrak akar kuning dan laos yang dihasilkan, mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder dengan fitokimia, menguji kosentrasi ekstrak akar kuning dan laos sebagai antibakteri serta menguji potensi ekstrak akar kuning dan laos sebagai antioksidan. Pada penelitian ini menggunakan metode maserasi suksesif bertingkat, skrining fitokimia, agar difusi sumuran dan DPPH. Hasil yang didapatkan yaitu sampel akar kuning heksan, etil asetat dan metanol masing-masing memiliki persentase rendeman sebesar 0,16% , 0,18%, 1,44 %. Kemudian untuk sampel laos heksan, etil asetat dan metanol memiliki persentase rendeman sebesar 1,77%, 0,64%, 2,37%. Selanjutnya hasil skrining fitokimia yaitu pada akar kuning metanol mengandung alkaloid, fenol, saponin, tanin dan flavanoid. Disamping itu laos heksan dan etil asetat mengandung alkaloid dan steroid, untuk laos metanol yaitu alkaloid dan tanin. Selain itu, aktivitas antibakteri terdapat pada kosentrasi 2000 ppm yaitu ekstrak akar kuning metanol di bakteri uji Sterptococcus aureus, Sterptococcus sobrinus, Ralstonia solanacearum dan Propionibacterium acnes dengan masing-masing daya hambat sebesar 34%, 32%, 32% dan 28% dan 1000 ppm pada R. Solanacearum sebesar 24%. Kemudian pada laos etil asetat di bakteri uji S. Sobrinus dan R. Solanacearum yakni masing-masing daya hambat sebesar 29% dan 36% di 2000 ppm dan 1000 ppm sebesar 29%, 36%. Terakhir berdasarkan hasil pengujian DPPH didapatkan ekstrak laos metanol memiliki aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 95,01%. Abstract Yellow root (Arcangelisia jlava Merr) and Laos (Alpinia galanga) are used as traditional medicine for Indonesian people. Therefore, it is necessary to scientifically prove the efficacy of these two materials through bioactivity tests. The purposes of this study were to describe the percentage of soaking of each of the extracts of the Yellow Roots and Laos, identify the content of secondary . metabolites with phytochemicals, test the concentration of extracts of the Yellow Roots and Laos as antibacterial, and test the potential of extracts of the Yellow Roots and Laos as antioxidants. This study used the methods of stratified successive maceration, phytochemical screening, agar well diffusion and DPPH. The results showed that the Yellow Root samples of hexane, ethyl acetate and methanol each had soaking percentage of 0.16%, 0.18%, and 1.44%. Then, for the Laos hexane, ethyl acetate, and methanol samples, the soaking percentages were 1.77%, 0.64%, and 2.37%. Furthermore, the results of phytochemical screening, namely methanol Yellow Roots contained alkaloids, phenols, saponins, tannins and flavonoids. Besides, Laos hexane and ethyl acetate contained alkaloids and steroids, for Laos methanol were alkaloids and tannins. In addition, antibacterial activity was found at a concentration of 2000 ppm, namely methanol Yellow Root extract in the test bacteria Staphylococcus aureus, Streptococcus sobrinus, Ralstonia solanacearum and Propionibacterium acnes with inhibitory powers of 34%, 32%, 32% and 28% and 1000 ppm, respectively, in R. Solanacearum by 24%. Then on Laos ethyl acetate in the test bacteria S. Sobrinus and R. Solanacearum, 29% and 36% inhibition were at 2000 ppm and at 1000 ppm were 29%, 36%, respectively. Finally, based on the results of the DPPH test, it was found that the Laos methanol extract had the highest antioxidant activity of 95.01 %.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail