ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Muara Sekatak adalah salah satu daerah di Kalimantan Utara yang memiliki tambak tradisional monokultur. Pertukaran dan pemasukan air pada pengelolaan tambak menyebkan larva dan juvenil ikan ikut masuk dan berkembang di dalam tambak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberagaman ikan non budidaya di dalam tambak tradisional Muara Sekatak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2020. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan menguraikan masing-masing jenis ikan yang didapakan. Hasil identifikasi ikan selama penelitian sebanyak 21 yaitu udang putih (Penaeus sp), udang shima (Parapenaopsis sp), kepiting keraca (Varuna litterata), kepiting bakau (Scylla serrata), ikan bandeng laki (Elops machnata), ikan mujair (Oreochromis mossambicus), ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides), ikan sumpit (Toxotes jaculatrix), ikan gerot-gerot (Pomadasys maculatus), ikan sangga langit (Tripodichthys blochii), ikan julung-julung (Strongylura leiura), ikan kakap (Lates calcarifer), ikan kerong-kerong (Terapon jarbua). ikan gulamah (Nibea soldado), ikan kiper (Scatophagus argus), ikan sembilang (Plotosus canius), ikan buntal (Tetraodon nigroviridis), ikan belanak (Mugil cephalus), ikan serinding (Ambassis nalua), teri gepeng (Stolephorus sp), dan ikan bluncat (Exyrias Puntang).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kepiting bakau dan kelimpahannya di tambak tradisional kota Tarakan. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dengan mengambarkan dan menguraikan data primer yang diperoleh di lapangan, serta didukung dengan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kepiting bakau yang tertangkap sebanyak 32 ekor. Berdasarkan data bobot dan panjang dari ketiga lokasi yang diperoleh dari empat kali sampling, didapatkan kisaran bobot tubuh sebesar 443,5 g dan panjang 12,3 cm. Kepiting yang tertangkap di tambak daerah Mulawarman, memiliki ukuran tubuh dan bobot yang lebih besar dibandingkan dengan kepiting dari kedua lokasi tambak tradsional lainnya. Jenis kepiting bakau yang tertangkap adalah spesies Scylla serrate. Rasio jenis kelamin kepiting bakau dari ketiga lokasi, yaitu. Pasar Tenguyun, Kampung Empat dan Mulawarman, menunjukkan rasio jenis kelamin didominasi oleh individu jantan. Untuk status reproduksi pada individu betina, ditemukan TKG yang bervariasi, yaitu; TKO I, TKO II dan TKO III. Kesimpulan dari tiga lokasi tambak tradisional jenis kepiting bakau yang teridentifikasi adalah Scylla serrate. Jumlah kepiting yang tertangkap paling banyak didapatkan pada lokasi tambak trandisional Kampung Empat sebanyak 13 ekor sedangkan untuk rasio jenis kelamin dari tiga lokasi tambak tradisional, didominasikan individu jantan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kualitas air merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon), terutama pada tambak tradisional yang pengelolaan airnya bergantung pada pasang surut alami. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi kualitas air pemeliharaan udang windu pada tambak tradisional di Pulau Tekolang, Desa Sajau Hilir, Kabupaten Bulungan, yang dilaksanakan pada Januari–Maret 2026 di tiga petak tambak menggunakan metode survei deskriptif kuantitatif. Parameter yang diamati meliputi suhu, salinitas, kecerahan, oksigen terlarut (DO), pH, alkalinitas, amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat, yang dibandingkan dengan baku mutu budidaya udang windu berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata suhu 30,1–30,4 °C, salinitas 15,6 ppt, dan kecerahan 33–34 cm masih mendukung budidaya. Nilai rata-rata pH berkisar 7,6–8,1 dan DO 4,6–4,8 mg/L, meskipun DO minimum pada beberapa pengamatan mencapai 2,8 mg/L. Alkalinitas berfluktuasi cukup tinggi, khususnya pada Petak 1 dan Petak 3. Amonia menjadi parameter paling kritis dengan rata-rata 0,24 mg/L (Petak 1), 0,09 mg/L (Petak 2), dan 0,06 mg/L (Petak 3), sehingga seluruh petak melebihi baku mutu 0,01 mg/L. Nitrit juga melampaui baku mutu pada sejumlah periode pengamatan, terutama di Petak 2 dan Petak 3. Rata-rata nitrat sebesar 0,57 mg/L (Petak 1), 0,39 mg/L (Petak 2), dan 0,81 mg/L (Petak 3), dengan Petak 3 menunjukkan akumulasi tertinggi. Sebaliknya, rata-rata fosfat relatif rendah (0,062–0,086 mg/L) dan umumnya belum mencapai standar minimal 0,1 mg/L. Secara umum, kondisi fisik air mendukung pemeliharaan udang windu, sedangkan akumulasi senyawa nitrogen, fluktuasi alkalinitas, rendahnya DO pada periode tertentu, dan rendahnya fosfat menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tambak tradisional. Pengelolaan bahan organik dasar, pengapuran sesuai kebutuhan, pergantian air pasang surut terencana, serta pemantauan kualitas air rutin diperlukan untuk menjaga kestabilan lingkungan budidaya. Kata kunci: kualitas air; udang windu; tambak tradisional; senyawa nitrogen; Pulau Tekolang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, ketersediaan benih masih banyak bergantung pada hasil tangkapan alam, sehingga diperlukan upaya pengembangan teknologi pembenihan yang efektif dan berkelanjutan. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi keberhasilan penetasan telur adalah jenis substrat yang digunakan selama pemeliharaan induk bertelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan substrat yang berbeda terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (Scylla sp.) di tambak tradisional Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di tambak penelitian Universitas Borneo Tarakan, Kecamatan Tarakan Barat, Kalimantan Utara. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas dua perlakuan, yaitu substrat lumpur dan substrat pasir, masing-masing 10 ulangan. Hewan uji yang digunakan sebanyak 20 induk kepiting bakau betina bertelur dengan ukuran dan kondisi relatif seragam. Parameter yang diamati meliputi waktu penetasan telur, pertumbuhan bobot mutlak, dan tingkat kelangsungan hidup. Data dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat lumpur memberikan waktu penetasan lebih cepat, yaitu rata-rata 10 hari, dibandingkan substrat pasir selama 11 hari. Tingkat kelangsungan hidup pada substrat lumpur mencapai 70%, sedangkan substrat pasir 30%. Namun, hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan jenis substrat tidak berpengaruh signifikan terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (p>0,05). Dengan demikian, jenis substrat tidak memberikan pengaruh nyata terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau di tambak tradisional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas penting dalam budidaya tambak tradisional di Kabupaten Bulungan yang keberhasilan produksinya sangat bergantung pada kualitas air sumber. Sungai Riyap merupakan sumber utama air tambak di Desa Sajau Hilir, namun kondisi perairannya berpotensi dipengaruhi oleh aktivitas pertambakan, perkebunan, permukiman, serta dinamika pasang surut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fisika-kimia air Sungai Riyap sebagai sumber baku air tambak udang windu dan menentukan status mutu air menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP). Penelitian dilaksanakan pada Januari–Maret 2026 di empat stasiun yang mewakili bagian hulu, depan pintu tambak, area setelah aktivitas tambak, dan muara sungai. Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi pasang dan surut. Parameter yang diamati meliputi suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, pH, oksigen terlarut (DO), amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan suhu berkisar 27–32 °C, salinitas 14–17 ppt, kecerahan 37–92 cm, kecepatan arus 0,6–0,9 m/detik, pH 5,7–7,0, DO 5,5–6,7 mg/L, amonia 0,045–0,467 mg/L, nitrit 0,063–0,374 mg/L, nitrat 0,618–0,949 mg/L, dan fosfat 0,023–0,038 mg/L. Suhu, salinitas, dan DO secara umum masih mendukung budidaya udang windu tradisional, sedangkan pH, amonia, nitrit, nitrat, fosfat, serta beberapa parameter fisik menunjukkan ketidaksesuaian terhadap kisaran yang dipersyaratkan. Nilai IP berkisar 2,7–11,0, terdiri atas 37,5% pengamatan tercemar ringan, 54,2% tercemar sedang, dan 8,3% tercemar berat. Rata-rata IP pada kondisi pasang sebesar 4,90, sedangkan pada kondisi surut meningkat menjadi 7,42, atau sekitar 51% lebih tinggi. Kondisi tercemar berat ditemukan pada Stasiun 3 dan Stasiun 4 saat surut bulan ketiga dengan IP masing-masing 10,1 dan 11,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Riyap masih berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air tambak udang windu, tetapi memerlukan pengelolaan melalui pemilihan waktu pengambilan air saat pasang, penggunaan tandon atau kolam pengendapan, pengondisian pH, serta pemantauan kualitas air secara berkala. Kata kunci: indeks pencemaran; kualitas air; Sungai Riyap; tambak tradisional
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Kualitas tanah merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon), terutama pada sistem tambak tradisional yang masih sangat bergantung pada kondisi alami tanah dan perairan. Tanah dasar tambak berperan sebagai media penampung bahan organik, penyedia unsur hara, serta tempat berlangsungnya proses biogeokimia yang memengaruhi kualitas lingkungan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas tanah tambak budidaya udang windu di Pulau Tanjung Karis, Kabupaten Bulungan. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Maret 2026 menggunakan metode deskriptif kuantitatif pada tiga stasiun, yaitu Stasiun 1 dan Stasiun 2 sebagai petak tambak, serta Stasiun 3 sebagai area kontrol di luar tambak. Sampel tanah diambil secara komposit, kemudian dianalisis terhadap parameter pH tanah, potensial redoks, tekstur tanah, bahan organik, C-organik, kapasitas tukar kation, fosfat, dan nitrat. Data dianalisis secara deskriptif melalui nilai kisaran, rata-rata, standar deviasi, serta dibandingkan dengan baku mutu dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah tergolong sangat masam, dengan pH H₂O berkisar 3,76–4,26 dan pH KCl berkisar 3,51–4,11. Nilai potensial redoks berada pada kondisi oksidatif, yaitu 210,98–263,77 mV. Tekstur tanah didominasi oleh fraksi debu dan liat, sedangkan bahan organik berkisar 2,93–6,29%, C-organik 1,70–3,65%, KTK 13,94–19,63 me/100 g, fosfat 13,39–21,06 mg/kg, dan nitrat 33,17–70,15 mg/kg. Secara umum, kualitas tanah tambak di Pulau Tanjung Karis masih memiliki beberapa faktor pembatas, terutama pH tanah yang sangat masam, C-organik yang rendah, serta akumulasi fosfat dan nitrat yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan tanah tambak secara berkelanjutan untuk mendukung budidaya udang windu yang optimal. Kata kunci: kualitas tanah, tambak tradisional, udang windu, Penaeus monodon, Pulau Tanjung Karis Abstract Soil quality is one the key factors determining the succes of giant tiger shrimp (Penaueus monodon) farming, particuraly in traditional pons system that remain heavily depedent on natural soil and water conditions. The pond bottom soil serves as a medium for storing organic matter, a source of nutrients, and a site for biogeochemical processes that influence the quaity of the farming environment. This study aims to analyze the soil quaity of giant tiger shrimp farming ponds on Tanjung Karis Island, Bulungan Regency. The Study was conducted from January to March 2026 using a quantitative descripitve method at three stations: Station 1 and Station 2 as aquaculuture plots, and Station 3 as a control area outside the farming ponds. Soil samples were collected as composite samples and then analyzed for soil pH, redox potensial, soil texture, organic matter, organic carbon, cation exchange capacity, phospate and nitrate. The data were analyzed descriptively using range, mean and standard deviation, and compared with quality standards and relevant literarture. The results of the study show that the soil pH is classified as highly acidic, with H₂O pH ranging from 3.76 to 4.26 and KCI ph ranging from 3.51 to 4.11. The redox potential values indicate oxidative conditions, ranging from 210.98 to 263.77 mV. The soil texture is dominated by silt and clay fractions, while organic matter ranges from 2.93-6.29%, organic carbon 1.70-3.65%, cation exchange capacity (CEC) 13.94-19.63 me/100 g, phosphate 13.39-21.06 mg/kg, and nitrate 33.17-70.15 mg/kg. In general, the quaity of pond soil on Tanjug Karis Island is still limited by several factors, particularly and nitrate. Therefore, sustainable management of farming ponds is necessary to support optimal giant tiger shrimp farming. Keywords: Soil Quality, Traditional Shrimp Ponds, Giant Tiger Shrimp, Penaeus monodon, Tanjung Karis Island
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Makrozoobentos merupakan organisme dasar perairan yang berperan penting dalam rantai makanan serta dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman makrozoobentos dan kondisi lingkungan pada tambak tradisional udang windu dengan mangrove (TDM) dan tanpa mangrove (TTM) di Kota Tarakan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling pada tiga stasiun pengamatan pada masing-masing tipe tambak. Data yang dikumpulkan meliputi komposisi jenis, kelimpahan, indeks keanekaragaman (H'), indeks keseragaman (E), indeks dominansi (D), serta parameter kualitas lingkungan berupa suhu, pH air, pH tanah, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan amonia. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan uji t untuk mengetahui perbedaan komunitas makrozoobentos antara kedua lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis dan kelimpahan makrozoobentos pada TDM lebih tinggi dibandingkan TTM. Nilai indeks keanekaragaman pada TDM berkisar 1,56–1,59, sedangkan pada TTM berkisar 1,06–1,26. Hasil uji t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p0,05) antara kedua tipe tambak. Komunitas makrozoobentos yang ditemukan didominasi oleh Gastropoda. Hasil pengukuran kualitas lingkungan menunjukkan bahwa sebagian besar parameter masih berada pada kisaran yang mendukung kehidupan makrozoobentos, meskipun kadar amonia melebihi baku mutu yang direkomendasikan. Keberadaan mangrove terbukti meningkatkan ketersediaan bahan organik dan kualitas habitat sehingga mendukung keanekaragaman dan kelimpahan makrozoobentos yang lebih tinggi pada tambak tradisional udang windu di Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kualitas air merupakan faktor pembatas utama dalam keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon). Akumulasi senyawa beracun akibat penurunan kualitas air sering kali memicu penurunan kesehatan udang hingga mortalitas massal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi probiotik RICA dalam memperbaiki kondisi lingkungan perairan serta dampaknya terhadap kelangsungan hidup (Survival Rate) udang windu pada sistem tambak tradisional. Penelitian dilaksanakan pada Oktober hingga Desember 2025 di Pulau Tanjung Karis, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen dengan membandingkan petak perlakuan probiotik RICA dan petak kontrol (non-probiotik), dengan parameter kualitas air merujuk pada Baku Mutu Permen KP No. 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petak tambak dengan perlakuan probiotik memiliki kondisi lingkungan yang lebih stabil, ditandai dengan konsentrasi oksigen terlarut (5,7–7,1 mg/L), pH (8,08–8,48), dan amonia (0,01–0,31 mg/L) yang lebih baik dibandingkan dengan petak non-probiotik. Meskipun beberapa parameter seperti amonia, nitrit, dan alkalinitas pada kedua perlakuan belum sepenuhnya memenuhi baku mutu, aplikasi probiotik RICA terbukti mampu menekan akumulasi senyawa nitrogen berbahaya (Amonia dan Nitrit) lebih efektif dari pada petak non-probiotik. Hal ini sesuai dengan kelangsungan hidup udang windu yang mencapai 24,7% pada petak perlakuan probiotik, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan petak non-probiotik yang hanya sebesar 7%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian probiotik RICA lebih baik dalam perbaikan kualitas air serta peningkatan kelangsungan hidup udang windu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya bernilai ekonomi tinggi di pasar ekspor. Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, memiliki lahan tambak tradisional terluas di Indonesia (±94.030,64 ha), namun produktivitasnya menurun drastis dari 300–400 kg/ha/siklus sebelum 2003 menjadi 25–70 kg/ha/siklus pada 2022, jauh di bawah standar Permen KP No. 75 Tahun 2016 (100–300 kg/ha/siklus). Penelitian ini bertujuan menganalisis produksi aktual udang windu serta mengidentifikasi praktik manajemen budidaya pada sistem tambak tradisional di Kabupaten Bulungan. Penelitian dilaksanakan Januari–Maret 2026 di tambak tradisional Kabupaten Bulungan. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur terhadap 350 responden yang dipilih secara purposive sampling dari 2.596 pembudidaya tambak yang tercatat, mencakup aspek karakteristik responden, kepemilikan tambak, proses budidaya, produksi aktual, kualitas air dan tanah, pengelolaan mangrove, biaya produksi, serta kendala utama. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden (52,3%) berusia 30–50 tahun dengan rata-rata pengalaman bertambak 21,2 tahun, seluruhnya (100%) mengelola lahan milik sendiri rata-rata seluas 12,1 hektar. Tingkat produksi aktual rata-rata 50–60 kg/ha/siklus dengan sistem bersifat ekstensif, mengandalkan pakan alami dan pasang surut tanpa aerasi maupun pakan buatan. Kualitas air dan tanah tambak, serangan penyakit terutama White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan Monodon Baculovirus (MBV) serta pengelolaan mangrove merupakan faktor penentu produksi utama. Pembudidaya yang melakukan penanaman mangrove menunjukkan produktivitas lebih tinggi. Kendala utama meliputi degradasi kualitas tanah dan air, serangan penyakit, keterbatasan modal, dan rendahnya adopsi teknologi. Sistem budidaya tambak tradisional udang windu di Kabupaten Bulungan masih berproduktivitas rendah akibat ketergantungan penuh pada faktor alam dan minimnya penerapan teknologi. Peningkatan produktivitas memerlukan perbaikan manajemen kualitas tanah dan air, penguatan biosekuriti, integrasi silvofishery berbasis mangrove, serta dukungan penyuluhan dan akses teknologi yang berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kabupaten Bulungan dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil udang windu di Indonesia, dengan luas lahan tambak yang paling besar di Provinsi Kalimantan Utara. Faktor pendukung utama yang menentukan keberhasilan budidaya udang windu (Penaeus monodon) pada sistem tambak tradisional yakni kualitas air dan keberadaan plankton. Plankton memiliki peran penting sebagai produsen primer dan indikator kesuburan perairan, sehingga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter fisika-kimia air dan struktur komunitas plankton pada tambak udang windu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel air dan plankton di lima lokasi tambak, yaitu Pulau Kepiting, Pulau Tengkolang, Pulau Berasan, Pulau Tanjung Karis, dan Desa Salimbatu. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), nitrat, fosfat, nitrit, dan amoniak. Data dibandingkan dengan baku mutu air tambak berdasarkan Permen KP No. 75 Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air berada dalam kisaran baku mutu, meskipun suhu, amoniak (0,31–0,54 mg/L), dan nitrit (0,02–0,034 mg/L) sedikit melebihi ambang batas. Struktur komunitas plankton menunjukan kelimpahan sebesar 2.482 sel+ind/sel jumlah ini berada pada kategori rendah. Nilai indeks keanekaragaman (H′) sedang serta indeks keseragaman (E) yang relatif tinggi dan terdapat jenis plankton yang mendominasi yaitu Oscillatoria (fitoplankton) dan Cyclops (zooplankton). Hal ini menunjukkan kondisi perairan tambak yang masih tergolong stabil dan produktif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Usaha tambak tradisional di Kota Tarakan memiliki peran penting dalam perekonomian masyarakat pesisir, namun masih menghadapi berbagai kendala seperti penurunan produktivitas dan tingginya biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usaha tambak tradisional dengan fokus pada komoditas udang windu, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan usaha tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik snowball sampling. Sebanyak 11 responden petambak diambil dari tiga pos pembelian utama di Kota Tarakan, yaitu Pos Harapan Jaya, Pos Masengereng, dan Pos Ajis. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan kuesioner, sementara data sekunder diperoleh dari BPS dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Analisis data dilakukan dengan menghitung total biaya produksi biaya tetap dan biaya variabel, total penerimaan, serta pendapatan bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi didominasi oleh biaya tetap seperti pembelian lahan rata-rata Rp393 juta per 15 ha dan pembuatan petak tambak Rp400 juta, serta biaya variabel seperti benih udang Rp4,5 juta per periode tebar dan tenaga kerja rata-rata Rp 1,5 juta per orang. Penyusutan aset tambak mencapai Rp80 juta per tahun. Pendapatan petambak beberapa mengalami kerugian, karena hasil panen udang windu yang belum bisa menutupi biaya produksi yang dikeluarkan. Selain itu, potensi pendapatan tambahan dari komoditas sampingan seperti kepiting dan ikan belum dimanfaatkan secara optimal. Kesimpulan penelitian ini mengidentifikasi perlunya peningkatan efisiensi produksi melalui pelatihan teknis bagi petambak, perbaikan manajemen biaya, serta dukungan pemerintah dalam penyediaan benih berkualitas dan akses pemasaran. Dengan langkah-langkah tersebut, usaha tambak tradisional di Kota Tarakan dapat ditingkatkan produktivitas dan keberlanjutannya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Usaha tambak tradisional merupakan bentuk budidaya perikanan yang masih mengandalkan cara konvensional, seperti penggunaan teknologi minim, sistem pengelolaan sederhana, dan ketergantungan pada kondisi alam. Penelitian ini bertujuan menganalisis produktivitas dan kelayakan ekonomi usaha tambak tradisional di Kalimantan Utara, dengan studi kasus pada petambak di Kota Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui data primer dari 11 petambak dan data sekunder berupa data harga pembelian dari tiga pos pembelian udang. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata produksi udang windu per siklus sebesar 289,09 kg dengan penerimaan rata-rata Rp36.018.182. Namun, sebagian besar petambak belum mencapai titik impas (Break Even Point/BEP) dengan nilai tertinggi mencapai Rp66.395.889 dan terendah Rp 13.425.926, ditunjukkan oleh persentase nilai ROI (Return on Investment) berkisar antara 66% hingga 98% dan rasio Benefit-Cost (B/C), hanya dua dari sebelas responden yang menunjukkan nilai B/C 1, yang berarti mengalami (kerugian), enam responden berada pada nilai B/C = 1 (impas), dan tiga responden lainnya berada di atas angka 1 (menguntungkan). Menunjukkan bahwa usaha tambak tradisional secara umum belum sepenuhnya layak secara finansial karena masih belum mampu menutupi biaya produksi secara efisien. Meskipun demikian, terdapat peluang pengembangan usaha melalui efisiensi penggunaan input, pengelolaan budidaya yang lebih baik, bibit unggul, serta dukungan pemerintah berupa pelatihan, modal, dan penguatan pemasaran. Penelitian ini diharapkan menjadi rujukan dalam meningkatkan kesejahteraan petambak dan keberlanjutan usaha tambak tradisional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian yang berjudul Analisis Kualitas Air dan Tanah Pada Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon) Di Tambak Tradisional dilakukan di Kota Tarakan pada tanggal 8 Agustus 2024 sampai dengan 8 Oktober 2024 dengan tujuan untuk menganalisis kualitas air dan tanah pada tambak udang tradisional dan membandingkannya dengan standar ideal yang ditetapkan dalam Permen KKP No. 75 Tahun 2016. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air secara in-situ, ditemukan bahwa nilai parameter seperti pH dan alkalinitas belum mencapai nilai optimal sesuai standar, sedangkan hasil pengukuran kualitas air secara ex-situ ditemukan bahwa nilai amoniak, nitrat, nitrit, dan fosfat belum mencapai nilai optimal untuk kegiatan budidaya udang secara tradisional. Parameter kualitas air berdasarkan hasil pengukuran kualitas air diperoleh nilai suhu 30-35 ◦C, salinitas 9-16 ppt, pH 5-8, alkalinitas 40,35-71,6 mg/L, amoniak 0,06 mg/L, nitrat 0,8 mg/L, nitrit 1,06 mg/L, nitrit 0,8 mg/L dan fosfat 0,5 mg/L. Tambak tradisional ini tidak ideal untuk kegiatan budidaya udang windu seperti pH tanah, bahan organik, potensial redoks, suhu, pH air, alkalinitas, nitrat, nitrit, fosfat, dan nilai amoniak yang belum sesuai dengan Permen KKP No. 75 Tahun 2016.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
The success of tiger shrimp (Penaeus mondon) aquaculture in ponds is highly influenced by water quality, the presence of pests and diseases, the fertility of the aquatic environment, and the availability of natural feed such as plankton. This study aims to analyze the plankton community structure in traditional tiger shrimp ponds on Tibi Island, Bulungan Regency. The research was conducted from May to September 2024. Plankton samples were collected eight times (every two weeks) using a composite sampling technique. The study focused on species identification, abundance, and ecological indices including diversity index, evenness index, and dominance index. Results showed that phytoplankton were dominated by the - classes Bacillariophyceae and Zygnemophyceae, while zooplankton were predominantly from the class Maxillopoda. Phytoplankton abundance ranged from 131-299 cells/L in plot 1 and 177-345 cells/L in plot 2, indicating oligotrophic conditions. The phytoplankton diversity index ranged from 0.88-1.51 (plot 1) and 0.43-1.29 (plot 2), reflecting low to moderate diversity levels. Evenness index ranged from 0.40-0.69 (plot 1) and 0.18-0.55 (plot 2); dominance index ranged from 0.24-0.50 (plot 1) and 0.25-0.78 (plot 2). Zooplankton abundance was recorded at 0-56 ind/L in plot 1 and 0-47 ind/L in plot 2 (also indicating oligotrophic conditions). Zooplankton diversity index ranged from 0.00-1.33; evenness index from 0.00-1.00; and dominance index from 0.00-1.00. The overall plankton community structure suggests that the aquatic environment remains relatively fertile and continues to support traditional tiger shrimp aquaculture.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan komoditi yang potensial di Provinsi Kalimantan Utara. Pengembangan budi daya kepiting bakau masih terus dilakukan salah satunya adalah penelitian tentang penggunaan subtract untuk merangsang percepatan matang ovari induk betina kepiting bakau. Tujuan penelitian ini untuk memahami dampak dari substrat yang berbeda terhadap percepatan kematangan ovari kepiting bakau (Scylla sp). Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan antara lain; 3 perlakuan dan 5 ulangan dan penyuntikan formula oil crab dengan dosis ( 0,2 ml/ekor). Perlakuan A Tanpa Substrat, Perlakuan B Substrat Pasir dan perlakuan C Substrat Lumpur. Dari hasil penelitian ini dapat diperoleh data bahwa pada perlakuan B subtract pasir lebih cepat matang ovari dibandingkan perlakuan lainnya. Proses reproduksi kepiting bakau dapat distimulasi menggunakan hormon oil crab, yang secara signifikasi yang berpengaruh Berdasarkan uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pertumbuhan berat badan mutlak kepiting bakau selama pemeliharaan kurang lebih (40 hari) dengan masing-masing perlakuan memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (F > 0.05). Data kualitas air selama penelitian menunjukkan suhu berkisar 26-30C, salinitas 22-30 ppt, DO 5.7-6.7 mg/l, pH 7.8-8.5 dan ammonia 0.08-0.13 mg/l.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sistem pertambakan khususnya di wilayah pesisir Kalimantan Utara memiliki bentuk yang tidak beraturan dengan lahan yang cukup luas yang di kelola secara tradisional untuk setiap tambaknya. Bentuk dan ukuran yang tidak ideal tersebut memanfaatkan proses pasang surut sehingga ikan-ikan yang termasuk non budidaya akan ikut masuk ke dalam tambak saat proses pasang surut terjadi. Ikan mujair dan ikan beloso menjadi salah satu ikan non budidaya. Keberadaan ikan tersebut menjadi salah satu ikan yang cukup mengganggu dalam proses budidaya dalam tambak. Proses pertumbuhan atau perkembangbiakan ikan mujair yang sangat cepat dengan ukuran yang beragam mulai dari yang terkecil sampai terbesar pada saat panen menyebabkan ikan ini menjadi ikan kompetitor sedangkan ikan beloso menjadi ikan predator utama bagi udang yang dibudidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan mujair (Oreochromis sp) dan ikan beloso (Saurida sp) di Tambak Tradisional Kalimantan Utara. Pengambilan sampel dilakukan pada saat panen dan dengan menggunakan alat tangkap bubu, pancing dan jala. Proses pengambilan sampel dilakukan pada bulan November 2023 sampai Februari 2024 di Tambak Tradisional Kalimantan Utara. Pengukuran panjang total dan berat total sebanyak 88 ekor untuk ikan mujair dan 30 ekor untuk ikan beloso dari hasil panen dari Tambak. Analisis pola pertumbuhan panjang berat ikan mujair adalah W = 0,0187.L 2,9503 dan menunjukkan korelasi yang sangat tinggi (R2 = 0,98) sedangkan pola pertumbuhan ikan beloso adalah W = 0,0049.L 3,1388 dan menunjukkan korelasi yang sangat tinggi (R2 = 0,97). Pola pertumbuhan ikan mujair bersifat alometrik negatif sedangkan pola pertumbuhan ikan beloso bersifat alometrik positif. Hasil faktor kondisi ikan mujair berkisar 0,80 – 1,24 dan ikan beloso berkisar 0,84 – 1,21. Hal ini menunjukkan ikan mujair memiliki tubuh yang kurus, artinya lingkungan di tambak kurang mendukung kehidupan ikan mujair tersebut. Ikan beloso memiliki bentuk tubuh yang gemuk yang artinya lingkungan tambak mendukung kehidupan ikan beloso.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dalam proses pemanenan di tambak tidak hanya ikan budidaya yang didapatkan tapi juga berbagai jenis ikan yang tidak dipelihara dan tidak di budidaya ikut terpanen. Interaksi dan aliran energi antara ikan budidaya dengan non budidaya di dalam ekosistem tambak perlu diteliti untuk dapat mengidentifikasi kelompok ikan-ikan yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap biota budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rantai makanan dan mengelompokan tingkatan trofik dalam ekosistem tambak. Penelitian dilakukan di Tambak Pulau Tibi dan pengumpulan sampel dilakukan pada saat panen sebanyak tiga kali sampling pada periode pasang purnama. Metode yang digunakan deskriptif kuantitatif dan analisis data berupa index of stomach content (ISC), Indeks Relatif Penting (IRP) dan index of prepondere (IP). ISC pada ikan-ikan yang diperoleh bervariasi pada tiap samplingnya, nilai ISC tertinggi diperoleh pada ikan bloso dengan nilai 20,20% (sampling 1) dan 4,26% (sampling 3), ikan Yarica hyalosoma 10,73% sedangkan ikan mujair 11,31% (sampling 2), 1,00% (sampling 1) dan 3,71% (sampling 3). ISC terendah diperoleh pada ikan bulan-bulan sebesar 0,02% (sampling 2), 0,36% (sampling 3) dan 3,99% (sampling 1), ikan gerot-gerot 0,05% dan ikan betutu 0,96%. Variasi jenis makanan yang banyak diperoleh pada ikan bloso, ikan kakap dan ikan bandeng laki sedangkan variasi jenis makanan sedikit diperoleh pada ikan belanak, ikan senangin dan ikan mujair. Proses makan memakan di dalam tambak berbentuk jaring makanan dan pengelompokan di dalam tambak terdiri atas produsen, konsumen tingkat 1, konsumen tingkat 2 dan konsumen tingkat 3, karena berbentuk jaring makanan maka ada spesies yang berada tidak hanya pada satu tingkatan konsumen dalam aliran energi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu sumberdaya perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi di Kalimantan Utara adalah kepiting bakau. Hal ini disebabkan karena di wilayah ini memiliki mangrove yang masih mendukung kehidupan kepiting bakau sebagai habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan budidaya kepiting bakau di tambak tradisional dan di tambak silvofishery. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, dengan mengamati kondisi-kondisi yang terjadi melalui observasi secara langsung di lapangan. Parameter yang diukur pada penelitian ini seperti pertumbuhan berat, panjang tubuh, Survival Rate(SR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan yang baik untuk budidaya kepiting bakau terdapat pada tambak silvofishery, dimana pertumbuhan berat dan panjang tubuh kepiting bakau pada tambak silvorshery berat sekitar 150g dan panjang sekitar 2,9cm sedangkan pada tambak tradisional pertumbuhannya, berat sekitar 117g dan panjang sekitar 2,6cm. Tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau (Scylla spp.) masih tergolong baik. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan kepiting pada lahan tambak silvofishery lebih baik dibandingkan dengan tambak tradisional.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Mangkudulis merupakan salah satu daerah di Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara, memiliki potensi perikanan yang cukup besar, khususnya perikanan budidaya tambak tradisional udang windu. Secara umum, faktor lingkungan yaitu kualitas tanah akan mempengaruhi kualitas air tambak. Permasalahan kualitas air dalam tambak umumnya bermula dari kualitas tanah, seperti pH, reaksi redoks, kandungan C organik, N total, rasio C/N, Fe, Mn, Al, dan tekstur tanah. Tujuan dari penelitian ini Menguji parameter kualitas tanah tambak dengan Menganalisis kualitas tanah terhadap. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu dari bulan Agustus hingga September 2022, di tambak udang windu pulau Mangkudulis Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara. Sampel tanah dianalisis pada Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Data kuantitatif dari pengukuran kualitas tanah dianalisis dengan metode statistik menggunakan Ms. Excel untuk mendapatkan minimum, maksimum, rata-rata dan standar deviasi. Hasil pengukuran kualitas tanah tambak pulau Mangkudulis Kabupaten Tanah Tidung menunjukkan bahwa, kualitas tanah tambak bersifat asam dengan nilai pH 6.02; pH_2 O yaitu 4.07, dan pH_kcl yaitu 3.78, yang berkorelasi terhadap nilai potensial redoks, bahan organik, kandungan Al, Fe, dan Mn. Hasil kualitas tanah tersebut menjadi faktor penurunan produksi tambak udang windu di Pulau Mangkudulis Kabupaten Tana Tidung. Kata Kunci: Pulau Mangkudulis, Kualitas Tanah, Tambak Tradisional,
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pertumbuhan dan padatnya jumlah penduduk di wilayah pesisir menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan terutama bagi usaha budidaya di tambak. Sampah plastik yang akan terakumulasi dan terfragmentasi menjadi ukuran yang kecil hingga berukuran 5 mm atau lebih kecil yang disebut mikroplastik. Mikroplastik dapat membahayakan biota yang dibudidayakan di tambak, seperti udang Windu (Penaeus monodon) yang merupakan komoditi dengan nilai ekonomis tinggi. Bukan hanya berbahaya bagi udang, namun juga berbahaya untuk manusia yang mengkonsumsinya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keberadaan, bentuk, warna, ukuran dan kelimpahan mikroplastik pada udang windu (Penaeus monodon) di tambak tradisional Kota Tarakan. Metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling berdasarkan aktivitas di lokasi Tambak Juwata permai Tarakan Utara (1), lokasi Bandara Tarakan Barat (2), dan tambak dilokasi Islamic center Tarakan Timur (3). Organ target yang dianalisis adalah insang dan usus. Ekstraksi sampel menggunakan metode Lumban Tobing (2020), yaitu melalui ekstraksi destruksi alkali dengan penambahan larutan KOH 10%, dan Penyaringan sampel menggunakan Cellulose Nitrate Membrane Filter 0,45 um, 47 mm, kemudian diamati menggunakan mikroskop Nikon type eclipse Ti2- U dengan perbesaran paling rendah 4x/0.10. Keberadaan mikroplastik pada tubuh Udang windu (Penaeus monodon) telah terindentifikasi pada semua lokasi tambak. Pada lokasi (1) di ditemukan mikroplastik sebanyak 172 partikel, tambak (2) 208 partikel, dan tambak (3) 160 partikel. Bentuk mikroplastik yang ditemukan adalah fiber, film, fragmen dan filamen. Warna mikroplastik yang teridentifikasi adalah wama hitam, merah, biru, coklat, putih, ungu, dan hijau, Ukuran yang ditemukan yaitu mulai dari 20 um- >5000 µm. Kelimpahan mikroplastik pada lokasi tambak (1) yaitu 11,47 partikel/individu, tambak (2) 13,87 partikel/individu dan lokasi tambak (3) 10,67 partikel/individu.