Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

8 hasil
Subjek: Kata kunci: Kepiting bakau
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Substrat yang Berbeda Tehadap Percepatan Menetas Kepiting Bakau (scylla sp) di tambak Tradisional Kota Tarakan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, ketersediaan benih masih banyak bergantung pada hasil tangkapan alam, sehingga diperlukan upaya pengembangan teknologi pembenihan yang efektif dan berkelanjutan. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi keberhasilan penetasan telur adalah jenis substrat yang digunakan selama pemeliharaan induk bertelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan substrat yang berbeda terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (Scylla sp.) di tambak tradisional Kota Tarakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di tambak penelitian Universitas Borneo Tarakan, Kecamatan Tarakan Barat, Kalimantan Utara. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas dua perlakuan, yaitu substrat lumpur dan substrat pasir, masing-masing 10 ulangan. Hewan uji yang digunakan sebanyak 20 induk kepiting bakau betina bertelur dengan ukuran dan kondisi relatif seragam. Parameter yang diamati meliputi waktu penetasan telur, pertumbuhan bobot mutlak, dan tingkat kelangsungan hidup. Data dianalisis menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat lumpur memberikan waktu penetasan lebih cepat, yaitu rata-rata 10 hari, dibandingkan substrat pasir selama 11 hari. Tingkat kelangsungan hidup pada substrat lumpur mencapai 70%, sedangkan substrat pasir 30%. Namun, hasil uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan jenis substrat tidak berpengaruh signifikan terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau (p>0,05). Dengan demikian, jenis substrat tidak memberikan pengaruh nyata terhadap percepatan penetasan telur kepiting bakau di tambak tradisional.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI PRODUKSI KEPITING BAKAU (SCYLLA SPP) DI CV. CAKKE BONE KOTA TARAKAN KALIMANTAN UTARA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi produksi, sumber pasokan, ukuran, harga, bentuk pemasaran, serta potensi keberlanjutan kepiting bakau yang dipasarkan di CV. Cakke Bone. Penelitian dilaksanakan pada Februari sampai Maret 2026 dengan metode deskriptif eksploratif melalui survei, wawancara, kuesioner, dan observasi langsung terhadap aktivitas usaha kepiting bakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV. Cakke Bone berperan sebagai eksportir dan pengumpul yang memperoleh kepiting bakau dari nelayan dan pengepul lain, terutama dari tambak di wilayah Kalimantan Utara. Produksi kepiting dipengaruhi oleh kondisi pasang surut, yaitu sekitar 3.000 kg per hari saat pasang tinggi dan 1.000 kg per hari saat pasang rendah, dengan rata-rata produksi sekitar 12.000 kg per minggu. Kepiting dipasarkan dalam bentuk hidup dan disortir untuk tujuan pasar dalam negeri dan ekspor. Harga jual ditentukan oleh ukuran dan jenis kelamin kepiting Dimana kepiting jantan yang ukuran 200-400 gr harganya sekitar Rp50.000, kepiting jantan yang ukuran 400-600 gr harganya sekitar Rp65.000/kg, dan kepiting jantan yang ukuran 700-1000 gr harganya sekitar Rp85.000/kg, sedangkan kepiting betina (CBK, CBH) harganya sekitar Rp 100.000-150.000/kg. Berdasarkan hasil menelitian terlihat bahwa potensi kepiting bakau di Kota Tarakan masih tinggi, namun keberlanjutannya perlu didukung melalui perlindungan kawasan mangrove, pengaturan ukuran tangkap, pencatatan pasokan, serta perlindungan terhadap kepiting betina bertelur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh penambahan vitamin c pada rotifera dan artemia terhadap sintasan larva kepiting bakau (Scylla serrata)

2025•

Abstrak Tingkat sintasan larva kepiting bakau (Scylla serrata) selama masa pemeliharaan di hatchery masih tergolong rendah, terutama pada stadia zoea. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya kualitas nutrisi dari pakan alami seperti rotifera (Brachionus plicatilis) dan Artemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C pada rotifera dan artemia terhadap kelangsungan hidup (sintasan) larva kepiting bakau. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan berupa perbedaan dosis vitamin C (0 ppm, 200 ppm, 250 ppm, dan 300 ppm). Parameter utama yang diamati adalah sintasan larva selama pemeliharaan dari stadia zoea I hingga crablet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C secara signifikan meningkatkan sintasan larva, dengan hasil terbaik diperoleh pada perlakuan dosis 300 ppm. Hasil sintasan stadia crablet tertinggi sebesar 5,83%. Kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran optimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengayaan pakan alami menggunakan vitamin C dapat meningkatkan nutrisi dan memperbaiki tingkat kelangsungan hidup larva kepiting bakau pada stadia Zoea- Crablet.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PERBEDAAN SALINITAS TERHADAP PERCEPATAN MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla serrata)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Metode mutilasi pada kepiting bakau perlu dikurangi meskipun sangat memicu percepatan moulting. Uji manipulasi lingkungan pada budidaya kepiting soka perlu dilakukan yakni menggunakan kejutan salinitas air pada media pemeliharaan tanpa adanya mutilasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji proses moulting kepiting bakau (Scylla serrata) yang optimal dengan menggunakan perbedaan salinitas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan meliputi: perlakuan A salinitas 5 ppt; perlakukan B salinitas 10 ppt; perlakuan C salinitas 15 ppt; dan perlakuan D salinitas 20 ppt. Kepiting yang digunakan memiliki bobot tubuh berkisar antara 40 – 60 gram berjenis kelamin jantan dengan jumlah 16 ekor sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A memiliki waktu tercepat pada proses moulting, dengan hasil rata – rata 18 hari diikuti perlakuan B dengan lama waktu sekitar 32 hari, perlakuan C sekitar 34 hari dan perlakuan D tidak terjadi proses moulting pada waktu yang ditentukan. Hasil dari tingkat kelangsungan hidup selama penelitian adalah perlakuan B dan C memiliki tingkat kelangsungan hidup terbaik sekitar 100% sedangkan perlakuan A dan D dengan tingkat kelangsungan hidup yang cukup baik sekitar 75%. Berdasarkan uji ANOVA tidak terjadi perbedaan yang nyata antara perlakuan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI BUDIDAYA KEPITING BAKAU PADA TAMBAK TRADISIONAL DAN TAMBAK SILVOFISHERY DI KALIMANTAN UTARA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu sumberdaya perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi di Kalimantan Utara adalah kepiting bakau. Hal ini disebabkan karena di wilayah ini memiliki mangrove yang masih mendukung kehidupan kepiting bakau sebagai habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perkembangan budidaya kepiting bakau di tambak tradisional dan di tambak silvofishery. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, dengan mengamati kondisi-kondisi yang terjadi melalui observasi secara langsung di lapangan. Parameter yang diukur pada penelitian ini seperti pertumbuhan berat, panjang tubuh, Survival Rate(SR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan yang baik untuk budidaya kepiting bakau terdapat pada tambak silvofishery, dimana pertumbuhan berat dan panjang tubuh kepiting bakau pada tambak silvorshery berat sekitar 150g dan panjang sekitar 2,9cm sedangkan pada tambak tradisional pertumbuhannya, berat sekitar 117g dan panjang sekitar 2,6cm. Tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau (Scylla spp.) masih tergolong baik. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan kepiting pada lahan tambak silvofishery lebih baik dibandingkan dengan tambak tradisional.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

POTENSI PEMANFAATAN PENGELOLAAN KEPITING BAKAU (Scylla sp) DI WILAYAH PROVINSI KALIMANTAN UTARA

2022•

Kalimantan Utara memiliki potensi sumberdaya perikanan yang sangat besar, salah satunya adalah sumberdaya kepiting bakau. Berkembangnya pasar-pasar kepiting bakau baik lokal maupun internasional adalah suatu tantangan untuk meningkatkan produksi secara berkesinambungan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengelolaan budidaya kepiting bakau (Scylla sp) di wilayah provinsi kalimantan utara. Manfaat dari Penelitian ini di harapkan dapat memberikan informasi kepada pembudidaya mengenai potensi pengelolaan kepiting bakau yang ada di Kalimantan utara. Metode penelitian yang digunakan yaitu pemgambilan data DKP Provinsi, DKP Kota Tarakan dan BPS. penelitian dilakukan bulan September sampai Oktober di Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September sampai bulan Oktober 2021. Pada tahun 2007 cenderung meningkat khususnya kepiting hidup dan kepiting beku, dan pada tahun 2018 potensi meningkat drastis, khususnya kepiting hidup dan daging kepiting beku. Potensi kepiting bakau pada tahun 2019 mulai menurun akibat dampak pandemi Covid-19 permasalahannya cukup kompleks saat itu lockdown dimana-mana. Memasuki tahun 2020 potensi kepiting mulai naik khususnya kepiting hidup dan kepiting beku. Pada tahun 2021 mulai menurun drastis adapun potensi berupa kepiting bakau, danging kepiting, kepiting soka, untuk capit kepiting dan kepiting beku tidak ada. Potensi kepiting bakau sangat meningkat dan tingginya permintaan kepiting bakau di dalam negeri dan luar negeri. Daerah tujuan dalam negeri kebanyakan dikirim ke Jakarta, Bandung, Makassar. Untuk luar negeri di kirim ke Malaysia, Singapura, China, Australia, Jepang, Korea Selatan. Adapun komoditas yang di ekspor maupun yang di impor berupa. Capit Kepiting, Daging Kepiting, Kepiting Hidup, dan Kepiting Beku. Untuk pasar lokal Kalimantan Utara Kepiting Bakau biasanya di kirim ke Tanjung Selor, Nunukan, KTT, dan Malinau.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN KEPITING BAKAU (SCYLLA SP) DI PERAIRAN DESA SALIMBATU KABUPATEN BULUNGAN

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Bubu kubah merupakan alat tangkap yang biasanya digunakan oleh nelayan Desa Salimbatu untuk menangkap kepiting bakau. Penangkapan kepiting bakau menggunakan umpan yang berbeda, tetapi belum diketahui jenis umpan yang terbaik. Penelitian ini dilakukan di Desa Salimbatu pada bulan Februari-Maret 2021. Umpan yang digunakan ikan Gabus (Channa striata), ikan Otek (Arius thalassinus) dan ikan Sumpit (Toxotes). Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 8 kali menggunakan alat tangkap bubu kubah dengan metode eksperimental fishing. Hasil tangkapan dianalisa dengan analisa sidik ragam (Anova) berdasarkan jenis umpan. Hasil tangkapan dengan umpan ikan Gabus, ikan Otek dan ikan Sumpit berturut-turut 3 ± 0,8; 2,3 ± 0,7 dan 1,5 ± 0,5. Hasil tangkapan terbanyak dengan menggunakan umpan ikan Gabus. Nilai signifikansi antar umpan adalah 0,001 yang berarti hasil tangkapan berbeda nyata antar umpan. Uji LSD antara umpan ikan Gabus dan ikan Otek, ikan Gabus dan ikan Sumpit, serta ikan Otek dan ikan Sumpit berturut-turut menunjukkan signifikansi 0,037; 0,00 dan 0,037.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Efektivitas Penambahan Formula Oil Crab Terhadap Lama Waktu Moulting Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Di Tambak Tradisional Kota Tarakan Kalimantan Utara

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

EFEKTIVITAS PENAMBAHAN FORMULA OIL CRAB TERHADAP LAMA WAKTU MOULTING KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI TAMBAK TRADISIONAL KOTA TARAKAN KALIMANTAN UTARA ABSTRAK Kota Tarakan sebagai kota yang memiliki luas seluruhnya 677,53 km² dimana sekitar 61,85% atau 406,53² km terdiri dari lautan yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar.. Tambak tradisional yang ada di wilayah Tarakan umumnya merupakan wadah budidaya udang dan ikan yang umumnya berasal dari pembukaan lahan mangrove. Seiring berjalanya waktu tambak tradisional wilayah Tarakan mengalami penurunan dan tidak dimanfaatkan secara optimal, mengatasi hal tersebut maka dilakukan usaha budidaya kepiting bakau, salah satunya adalah budidaya kepiting soka. Salah satu faktor yang berperan dalam proses molting kepiting bakau terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Formula Oil Crab dapat merangsang tubuh kepiting bakau melakukan pergantian kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama waktu molting kepiting bakau dengan menggunakan metode penambahan formula Oil Crab. Metode penelitian dengan menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan 4 ulangan. Perlakuan A (Kontrol), Perlakuan B penambahan formula Oil Crab (0,1 ml/ekor), Perlakuan C (0,4 ml/ekor) dan perlakuan D (0,7 ml/ekor). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil pada perlakuan dengan dosis 0,4 ml/ekor berbeda nyata dengan perlakuan kontrol dan 0,1 ml/ekor sedangkan antara perlakuan konrol dan 0,1 ml/ekor tidak berbeda nyata. Sedangkan kepiting bakau yang dapat molting seluruhnya yaitu pada perlakuan C (0,4 ml/ekor) pada hari ke 14-19, dengan pertumbuhan berat badan mutlak mencapai rata-rata 21,75 gram, sedangkan pada perlakuan dosis 0,1 ml/ekor tidak memadai untuk kepiting bakau melakukan molting, pada dosis 0,7 ml/ekor diduga dosis tersebut terlalu tinggi sehingga meningkatkan hormon ketidak seimbangan atau stress sehingga menyebabkan kematian. Data kualitas air selama penelitian menunjukkan suhu berkisar 28-30oC, DO 6,4 -7,5 mg/l, salinitas10-20 ppt dan pH 7.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail