ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamal. 15.201020.078. 2019. “ Strategi Pemasaran Pisang Kepok Desa Sungai Limau Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan”. dibimbing oleh Nia Kurniasih Suryana. Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh petani yang ada yakni pemasaran merupakan suatu usaha untuk menyampaikan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Sejauh ini pemasaran pisang yang ada di Desa Sungai Limau telah mencapai di negara tetangga (Malaysia). Dari sektor pemasaran menghadapi beberapa kendala dalam hal produk, harga, tempat, dan promosi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi pemasaran pisang kepok yang ada desa sungai limau kecamatan sebatik tengah. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Metode pengolahan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, Analisis data yang digunakan adalah Analisis SWOT (IFAS dan EFAS). Hasil menunjukkan Faktor strategi internal dan eksternal menunjukkan bahwa jumlah untuk faktor kekuatan sebesar 1.60 lebih kecil dari ada jumlah faktor kelemahan sebesar 1.75 keadaan ini mengidentifikasi bahwa faktor kekuatan untuk pemasaran pisang kepok yang ada disungai limau lebih kecil dari pada faktor kelemahan yang akan menghambatnya. Sedangkan Analisis kuadran didapatkan dengan melakukan pengurangan antara jumlah total faktor dengan jumlah total kemudian dibagi 2. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai X = 0.71 dan nilai Y = 1.07 Kesimpulan bahwa faktor internal, dari aspek kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Desa, yaitu: (1) produk berkualitas, (2) pengetahuan SDM yang baik tentang budidaya pisang kepok, (3) letak wilayah strategis. (4) modal usaha terbatas, (5) minimnya kegiatan promosi, (6) kemasan produk pisang kurang menarik, (7) saluran pemasaran yang panjang. Pada sektor eksternal dari aspek peluang dan ancaman yang dimiliki oleh desa, yaitu: (1) adanya bantuan dari dinas pertanian, (2) tersedianya pemasaran pisang kepok yang masih luas baik dalam negeri maupun luar negeri (3) adanya kemajuan teknologi informasi, (4) stabilitas nilai tukar mata uang, (5) sulitnya akses perizinan, (6) harga beli hasil pertanian ditetapkan oleh tengkulak, (7) pesaing dari desa lain. Adapun strategi yang ditetapkan yaitu: (1) memperluas jaringan pemasaran dengan memanfaatkan teknologi informasi, (2) meningkatkan sumber daya manusia (SDM) serta kerjasama dengan pihak dinas pertanian. Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini maka diberikan beberapa saran sebagai berikut: (1) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dengan cara membuat program workshop, pelatihan, studi banding poktan yang difasilitasi oleh pemerintah atau swasta, (2) Sebaiknya dilakukan pembimbingan dan pengawasan secara bertahap dari hasil alternatif strategi pemasaran pisang kepok di Desa Sungai Limau sesuai dengan prioritas sehingga tujuan dari pelaksanaan strategi tersebut dapat tercapai dan tepat sasaran (3) Disarankan pada peneliti berikutnya yang ingin melakukan penelitian dengan topik yang sama maka diharapkan dapat mengkaji lebih dalam masing-masing bagian dalam sistem strategi pemasaran pisang kepok.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum dan mekanisme penegakan kewajiban penggunaan Rupiah sebagai wujud kedaulatan moneter Indonesia serta menganalisis tantangan penegakan kedaulatan moneter terhadap penggunaan Ringgit di wilayah Sebatik, Kabupaten Nunukan dan tanggung jawab negara berdasarkan teori Welfare State. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan yang meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan metode deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewajiban penggunaan Rupiah telah memiliki dasar hukum yang kuat melalui UUD NRI Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif menggunakan metode deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan penggunaan Rupiah telah memiliki dasar hukum yang kuat melalui UUD NRI Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015. Namun, implementasinya di Sebatik masih menghadapi hambatan berupa faktor geografis, ketergantungan ekonomi terhadap Malaysia, kebiasaan penggunaan Ringgit, keterbatasan infrastruktur ekonomi dan layanan keuangan, serta lemahnya pengawasan. Berdasarkan teori Welfare State, negara bertanggung jawab tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pembangunan ekonomi, penguatan infrastruktur perbatasan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat guna mendukung efektivitas penggunaan Rupiah sebagai wujud kedaulatan moneter Indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Literasi sains merupakan kemampuan peserta didik dalam memahami konsep sains, menggunakan pengetahuan ilmiah, serta mengambil keputusan berdasarkan bukti ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Karena pentingnya literasi sains maka diperlukan penelitian untuk mendeskripsikan kemampuan literasi sains peserta didik kelas VIII SMP/MTs di Pulau Sebatik. Pada penelitian ini kemampuan literasi sains siswa diukur pada dimensi kompetensi sains. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, sampel penelitian ini ditentukan dengan teknik cluster random sampling. Terdapat 480 peserta didik kelas VIII yang berasal dari enam SMP/MTs di Pulau Sebatik yang dipilih secara random. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen literasi yang memiliki 25 butir soal. Soal ini mengacu pada kerangka Programme for International Student Assesment (PISA) dan meliputi tiga indikator kompetensi sains, yaitu menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah, serta menafsirkan data dan bukti secara ilmia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata peserta didik hanya mampu menjawab kurang dari 50% jumlah soal literasi sains yang diberikan. Ditinjau dari indikator kompetensi sains, kemampuan siswa dalam menjelaskan fenomena secara ilmiah menunjukkan capaian yang lebih baik dibandingkan dengan kemampuan mengevaluasi dan merancang penyelidikan ilmiah serta menafsirkan data dan bukti ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains peserta didik masih perlu ditingkatkan melalui pembelajaran yang kontekstual, berbasis penyelidikan, dan berorientasi pada pengembangan keterampilan ilmiah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ketersediaan energi listrik yang andal dan berkualitas merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat, termasuk di wilayah kepulauan seperti Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Salah satu tantangan teknis yang kerap dihadapi dalam sistem distribusi adalah jatuh tegangan, yakni penurunan nilai tegangan sepanjang saluran akibat interaksi antara arus beban dan impedansi penghantar. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab dan besaran jatuh tegangan pada Penyulang 1, 2, 3, 4, dan 6 milik PT PLN KP Sebatik menggunakan pemodelan single line diagram pada Digsilent PowerFactory dengan metode simulasi Newton-Raphson. Jatuh tegangan hasil simulasi akan dilakukan perbandingan dengan jatuh tegangan hasil perhitungan, dimana seluruh penyulang menunjukkan kesesuaian yang sangat baik kecuali Penyulang 3 yang memiliki selisih sebesar 0,0018 kV (0,0088%). Penyulang 4 mencatatkan jatuh tegangan sebesar 0,2409 kV (1,2043%), Penyulang 1 sebesar 0,2345 kV (1,1721%), Penyulang 3 sebesar 0,1129 kV (0,5644%), Penyulang 2 sebesar 0,0562 kV (0,2811%), dan Penyulang 6 sebesar 0,0102 kV (0,0509%). Variasi nilai jatuh tegangan antar penyulang ini dipengaruhi langsung oleh besar arus beban yang ditanggung serta nilai impedansi total saluran pada masing-masing jalur distribusi. Secara keseluruhan, seluruh nilai jatuh tegangan yang teridentifikasi masih berada jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan SPLN No. 72/1987 sebesar 5%, sehingga jaringan distribusi PT PLN KP Sebatik dapat dinyatakan beroperasi dalam kondisi yang andal dan layak secara teknis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ketersediaan energi listrik yang andal dan berkualitas merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat, termasuk di wilayah kepulauan seperti Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Salah satu tantangan teknis yang kerap dihadapi dalam sistem distribusi adalah jatuh tegangan, yakni penurunan nilai tegangan sepanjang saluran akibat interaksi antara arus beban dan impedansi penghantar. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab dan besaran jatuh tegangan pada Penyulang 1, 2, 3, 4, dan 6 milik PT PLN KP Sebatik menggunakan pemodelan single line diagram pada Digsilent PowerFactory dengan metode simulasi Newton-Raphson. Jatuh tegangan hasil simulasi akan dilakukan perbandingan dengan jatuh tegangan hasil perhitungan, dimana seluruh penyulang menunjukkan kesesuaian yang sangat baik kecuali Penyulang 3 yang memiliki selisih sebesar 0,0018 kV (0,0088%). Penyulang 4 mencatatkan jatuh tegangan sebesar 0,2409 kV (1,2043%), Penyulang 1 sebesar 0,2345 kV (1,1721%), Penyulang 3 sebesar 0,1129 kV (0,5644%), Penyulang 2 sebesar 0,0562 kV (0,2811%), dan Penyulang 6 sebesar 0,0102 kV (0,0509%). Variasi nilai jatuh tegangan antar penyulang ini dipengaruhi langsung oleh besar arus beban yang ditanggung serta nilai impedansi total saluran pada masing-masing jalur distribusi. Secara keseluruhan, seluruh nilai jatuh tegangan yang teridentifikasi masih berada jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan SPLN No. 72/1987 sebesar 5%, sehingga jaringan distribusi PT PLN KP Sebatik dapat dinyatakan beroperasi dalam kondisi yang andal dan layak secara teknis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji komposisi ukuran, sebaran panjang, hubungan panjang–berat, dan faktor kondisi ikan demersal hasil tangkapan rawai dasar di perairan Pulau Sebatik, Indonesia. Pengukuran panjang total dan bobot tubuh dilakukan pada ikan yang ditangkap oleh nelayan skala kecil, dan data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi ukuran, model panjang–berat W = aLᵇ, serta faktor kondisi Fulton (K). Hasil tangkapan didominasi oleh spesies dari famili Lutjanidae, Haemulidae, Serranidae, Polynemidae, dan Carangidae, yang umum ditemukan pada komunitas ikan demersal perairan tropis. Sebaran ukuran bervariasi antarspesies, dengan dominasi individu berukuran sedang, menunjukkan struktur populasi yang relatif stabil. Nilai eksponen b pada sebagian besar spesies mendekati 3, menandakan pola pertumbuhan isometrik, sementara beberapa spesies menunjukkan kecenderungan alometrik positif. Nilai faktor kondisi umumnya berada pada kategori baik, mencerminkan kondisi fisiologis ikan yang sehat serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan informasi dasar yang penting mengenai karakteristik populasi ikan demersal di perairan Sebatik dan berkontribusi pada pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di wilayah Indonesia timur
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Alat tangkap longline atau rawai merupakan salah satu metode penangkapan ikan yang umum digunakan dalam perikanan komersial. Longline terdiri dari tali utama yang panjang dengan banyak cabang yang terhubung ke kail. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis umpan terhadap hasil tangkapan menggunakan alat tangkap rawai (longline) di perairan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Metode yang digunakan adalah percobaan penangkapan (experimental fishing) dengan lima perlakuan umpan, yaitu ikan otek (Puntius binotatus), ikan puput (Rasbora spp.), ikan tembang (Sardinella lemuru), kelapa (Cocos nucifera), dan belut (Gymnothorax dorsalis). Penelitian dilaksanakan selama bulan November 2024–Januari 2025 dengan total 12 kali ulangan. Data hasil tangkapan dianalisis melalui komposisi jenis, nilai efektivitas, dan sidik ragam satu arah (ANOVA) menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat delapan spesies ikan yang tertangkap, dengan komposisi tertinggi pada ikan pari (28,2%), di ikuti ikan putih (23,5%), dan kakap (18,0%). Nilai efektivitas penangkapan tertinggi diperoleh pada umpan puput (17,3%), di ikuti belut (10,7%), dan kelapa (8,0%), sedangkan otek dan tembang masing-masing 5,3%. Uji ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan tidak memberikan pengaruh signifikan (p > 0,05) terhadap hasil tangkapan baik berdasarkan jumlah jenis maupun biomassa. Meskipun demikian, secara deskriptif penggunaan puput dan kelapa cenderung menghasilkan biomassa yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam pemilihan umpan bagi nelayan serta sebagai dasar pengembangan teknologi penangkapan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu sumber penghasilan masyarakat di pulau Sebatik yaitu budidaya rumput laut. Usaha rumput laut semakin meningkat dan berkembang disepanjang pesisir Kecamatan Sebatik Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii di perairan Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menggunakan metode scoring berdasarkan parameter kualitas perairan. Penelitian dilakukan pada bulan April hingga Mei 2025 di tiga lokasi pesisir yaitu Desa Setabu, desa Binalawan, dan Desa Liang Bunyu. Parameter yang diamati meliputi suhu, kecerahan, salinitas, pH, kecepatan arus, kandungan nitrat, dan fosfat. Analisis data menggunakan metode skor berjenjang. Skor total yang diperoleh kemudian diklasifikasikan dalam tiga kategori: Sesuai (S1) jika skor 66–90, Cukup Sesuai (S2) jika skor 42–65, dan Tidak Sesuai (N) jika skor 18–41. Hasil penelitian menunjukkan ketiga lokasi berada dalam kategori cukup sesuai (S2) dengan skor total berturut-turut Desa Setabu sebesar 62, Desa Liang Bunyu sebesar 57 dan Desa Binalawan sebesar 50. Faktor pembatas utama yang ditemukan adalah kecepatan arus yang melebihi batas optimal dan kandungan nitrat yang tinggi, terutama di lokasi yang berdekatan dengan pemukiman (Desa Setabu). Parameter lain seperti suhu (30–31°C), salinitas (29–31 ppt), pH (7,7–8,3), kecerahan (1–1,7 m), dan fosfat (0,009–0,050 mg/L) berada dalam kisaran SNI 2011 tentang kualitas air untuk pertumbuhan rumput laut. Kesimpulan, perairan Sebatik Barat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya rumput laut secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penegakan hukum terhadap warga negara asing yang melakukan tindak pidana narkotika di Pulau Sebatik. Serta untuk mengetahui faktor – faktor yang memengaruhi penegakan hukum terhadap warga negara asing yang melakukan tindak pidana narkotika di Pulau Sebatik. Seluruh data yang diperoleh dalam penelitian, baik data primer dan data sekunder akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif. Selain itu dideskripsikan, dengan menelaah permasalahan yang ada, menggambarkan, menguraikan hingga menjelaskan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penelitian ini. Penggunaan metode deskriptif ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang baik , jelas dan dapat memberikan data sedetail mungkin tentang objek yang diteliti, dalam hal ini mengambarkan bagaimana penegakan hukum terhadap warga negara asing yang melakukan tindak pidana narkotika di Pulau Sebatik. Pada penelitian ini penulis memilih lokasi penelitian yang melibatkan instansi Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalimantan Utara yang berlokasi di Kota Tarakan, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Nunukan di Kabupaten Nunukan, Kepolisian Resor Nunukan di Kabupaten Nunukan, dan Kepolisian Sektor Sebatik Timur yang terletak di Pulau Sebatik. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis berkesimpulan bahwa Penegakan hukum pidana terhadap warga negara asing dalam perkara narkotika di wilayah Pulau Sebatik telah berlangsung secara efektif dan sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tanpa adanya pembedaan perlakuan antara warga negara Indonesia dan asing. Meski demikian, efektivitas penegakan hukum tersebut masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain kondisi geografis perbatasan, kurangnya koordinasi dan kerja sama antara aparat penegak hukum, keterbatasan sarana dan prasarana, serta lemahnya pengawasan terhadap jalur-jalur tidak resmi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HUBUNGAN KEKERASAN VERBAL TERHADAP RASA PERCAYA DIRI ANAK DI WILAYAH PERBATASAN SEBATIK ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh kekerasan verbal terhadap rasa percaya diri anak di wilayah perbatasan Sebatik. Kekerasan verbal yang sering terjadi dalam konteks keluarga dan lingkungan sosial, dapat mempengaruhi perkembangan psikologis anak, khususnya dalam hal terbentuknya rasa percaya diri. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan melibatkan 120 anak berusia 7-11 tahun sebagai sampel yang ditentukan dengan menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat spearmen rank. Hasil penelitian: terdapat hubungan antara kekerasan verbal dengan rasa percaya diri anak di wilayah perbatasan Sebatik dengan tingkat keeratan yang cukup sebesar -0,376 dan p value 0.05. Kesimpulan pada penelitian ini adalah bahwa kekerasan verbal memiliki hubungan yang signifikan dengan rasa percaya diri anak. Temuan ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap masalah kekerasan verbal di wilayah perbatasan serta pentingnya dukungan psikologis untuk membantu anak-anak membangun rasa percaya diri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan positif anak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Literasi sains telah menjadi istilah yang digunakan secara luas sebagai karakteristik penting yang harus dimiliki oleh setiap warga negara dalam masyarakat modern. Literasi sains merupakan kemampuan yang sangat penting dalam menghadapi tantangan global, namun data PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains siswa di Indonesia masih tergolong rendah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil kemampuan literasi sains siswa kelas XI IPA SMA/MA di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dengan menggunakan metode dan pengumpulan data menggunakan soal tes literasi sains. Soal ini terdiri dari soal pilihan ganda dan uraian. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA di beberapa sekolah di Pulau Sebatik yang dipilih melalui purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki kemampuan literasi sains yang rendah, baik pada aspek konten maupun konteks. Selain itu, sebagian besar siswa memiliki kemampuan literasi sains yang termasuk dalam kategori "sangat kurang". Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi guru untuk dapat menerapkan metode pengajaran kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa untuk mendukung peningkatan kemampuan literasi sains.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembelajaran di dalam kelas (Indoor study) merupakan pembelajaran yang memanfaatkan ruang kelas ataupun laboratorium. Pembelajaran di luar kelas (Outdoor study) merupakan metode pembelajaran yang mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbandingan minat belajar siswa menggunakan metode pembelajaran berbasis Indoor Study dan Outdoor Study siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Sebatik Jenis penelitian yang digunakan yaitu komparatif. Penelitian ini telah dilakukan di SMA Negeri 1 Sebatik. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa Kelas XI yang berjumlah 7 kelas. Teknik yang digunakan yaitu teknik purposive sampling penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sampel yang diambil pada penelitian yaitu kelas XI PSP 1dan XI PSP 7, instrumen penelitian yang dikalukan yaitu angket minat belajar dan dokumentasi, data diolah dan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS 26.0 for Windows. Berdasarkan hasil perhitungan dari tabel Uji independent t-test bahwa diperoleh nilai signifikasi Sig. (2-tailend) sebesar 0.044 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan minat belajar biologi siswa antara menggunakan metode indoor study dan outdoor study di SMA Negeri 1 Sebatik. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa penerapan metode Outdoor Study dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran Biologi. Oleh karena itu, sekolah dapat mempertimbangkan untuk mengadopsi metode ini sebagai bagian dari strategi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, guru dapat lebih sering menggunakan lingkungan luar kelas sebagai sumber belajar yang efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesulitan belajar adalah keadaan dimana seorang siswa mengalami kesulitan, kendala, atau gangguan yang menghambat untuk mencapai tujuan akademik. Hambatan yang dihadapi tersebut dapat menyebabkan seseorang gagal mencapai tujuan pembelajaran. Kesulitan belajar yang dihadapi setiap orang berbeda-beda. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor kesulitan belajar biologi siswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Sebatik menggunakan purposive sampling adalah metode pengambilan sampel data yang didasarkan pada pertimbangan tertentu. Peneliti menggunakan angket kesulitan belajar biologi, jumlah angket yang diberikan berjumlah 20 item pertanyaan yang berarti siswa diminta untuk memilih salah satu jawaban yang sesuai dengan keputusan peneliti. Siswa SMA Negeri 1 sebatik mengalami kesulitan belajar yang tergolong cukup disebabkan oleh faktor eksternal yaitu faktor keluarga sebesar 71% adapun faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar yaitu faktor orang tua yaitu cara mendidik anak, perhatian dan arahan orang tua, hubungan orang tua dengan anak dan bimbingan dari orang tua dan faktor sekolah sebesar 70% adapun faktor yang mempengaruhi pada faktor sekolah yaitu guru dapat menjadi kesulitan belajar jika gurunya tidak berkualitas, hubungan kurang baik dengan siswa. Faktor eksternal lainnya yaitu faktor masyarakat dan faktor internal seperti fisiologi dan psikologis tidak menyebabkan kesulitan belajar (persentase 73%). Temuan dari penelitian ini berimplikasi guru dapat mengoptimalkan belajar mengajar yang bermakna dan bervariasi agar dapat meminimalisir kesulitan belajar siswa. Guru sebaiknya memberikan pelajaran yang bervariatif, menjadi fasilitator yang bijaksana untuk keaktifan siswa meningkatkan pengetahuan yang luas dan dapat memberikan media yang tepat sehingga proses belajar siswa menjadi bermakna.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
PENGARUH UKURAN PELAMPUNG YANG BERBEDA PADA ALAT TANGKAP PUKAT HELA SISTEM FLOATING OTTERBOARD TERHADAP HASIL TANGKAPAN DI PERAIRAN SEBATIK ABSTRAK Pulau Sebatik memiliki potensi sumberdaya perikanan sebesar 478,765 ton/tahun akan tetapi salah satu alat tangkap, pukat hela kurang efektif dalam penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas pengaruh ukuran pelampung yang berbeda pada alat tangkap pukat hela dengan sistem floating otterboard terhadap hasil tangkapan ikan di perairan Sebatik. Penelitian ini menggunakan metode percobaan penangkapan (experimental fishing) pada alat tangkap pukat hela dengan sistem otterboard floating dengan pengamatan langsung dan pengumpulan data hasil tangkapan selama 18 kali trip penangkapan dengan variasi ukuran pelampung yang digunakan yaitu 20 Liter, 30 Liter, dan 40 Liter. Hasil penelitian dengan nilai efektifitas pada perlakuan A (20 Liter) dengan nilai yang tinggi terdapat pada Hasil Tangkapan Buangan (HTB) dengan nilai persentase 48.05%, pada perlakuan B (30 Liter) menunjukkan nilai efektifitas terdapat pada Hasil Tangkapan Utama (HTU) dengan nilai 39.74 %, pada perlakuan C (40 Liter) menunjukkan nilai efektifitas yang tinggi terdapat pada Hasil tangkapan Utama dengan nilai 34.61%. Hal ini menunjukkan pengoperasian pukat hela dengan sistem otterboard floating menghasilkan nilai efektifitas yang paling tinggi yaitu perlakuan A, dengan hasil tangkapan buangan 48.05%. Kata Kunci: Efektifitas Penangkapan, Pukat hela, Sebatik
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian terkait reproduksi ikan khususnya tentang ukuran pertama kali matang gonad (Lm) dan ukuran pertama kali tertangkap (Lc) pada ikan senangin (Eleutheronema tetradactylum) yang didaratkan di tangkahan CV. Mentari Pagi Sebatik perlu dilakukan pengkajian, guna menjaga kelestarian dan keberadaan populasi ikan yang ada di perairan. Tujuan penelitian untuk menerangkan sex ratio atau nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad ikan dan ukuran pertama kali matang gonad serta ukuran pertama kali tertangkap pada ikan senangin yang didaratkan di tangkahan CV. Mentari Pagi Sebatik. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi dengan pengamatan dan pengukuran ikan senangin. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan metode random sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember – Februari 2024. Total sampel penelitian sebanyak 300 ekor yang terdiri dari 294 ekor jantan dan 6 ekor betina. Sampel diukur panjangnya menggunakan penggaris. Pengamatan jenis kelamin dilakukan secara anatomi dengan melihat gonad ikan. Sex ratio sampel ikan senangin selama penelitian yaitu 1 : 0,02. Tingkat kematangan gonad ikan senangin jantan dan betina dominan TKG III. Hasil pengukuran Lm dan Lc sampel ikan senangin diperoleh nilai Lc > Lm (Lm = 28,920 cm; Lc = 48,695 cm), artinya sebagian besar ikan yang tertangkap di perairan Sebatik memiliki peluang untuk melakukan pemijahan dan ikan yang tertangkap sudah layak untuk ditangkap sehingga hal tersebut dapat menambah populasi ikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan bawal putih merupakan salah satu ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di perairan Sebatik yang ditangkap menggunakan alat tangkap jaring insang (gillnet) di daerah penangkapan di perairan Sei. Taiwan Sebatik. Analisis model dan sifat pertumbuhan Ikan bawal putih (P. argenteus) di pulau Sebatik diperlukan untuk kelengkapan data ilmiah tentang sumberdaya ikan di pulau Sebatik. Tujuan penelitian adalah untuk menguraikan dan menjelaskan model pertumbuhan Von Bertalanffy dan sifat pertumbuhan terkait dengan panjang berat pada ikan bawal putih (P. argenteus) yang didaratkan di pos pembelian ikan CV. Mentari Pagi Sebatik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi. Tahapan penelitian dimulai dengan pengukuran panjang dan berat sampel ikan bawal putih hingga pengolahan data panjang berat ikan sehingga menghasilkan model dan sifat pertumbuhan Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2023-Maret 2024, dengan metode purposive sampling selama 24 kali sampling. Hasil penelitian didapatkan model pertumbuhan ikan bawal putih (P. argenteus) menghasilkan persamaan Lt = 66,672 {1 - 2.71828 -0.0183 (t - 0.909)} dengan parameter pertumbuhan panjang infinitive atau dugaan ukuran panjang maksimal ikan yang mampu dicapai (L∞) = 66,672 cm, koefisien pertumbuhan K = 0,0183 cm/hari dan nilai dugaan umur teoritis pada panjang nol (t0) = -0,909 hari. Hubungan panjang berat ikan bawal putih (P. argenteus) bersifat allometric negative yaitu pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan berat dengan nilai faktor kondisi (Kn) sebesar 0,443-2,900 yang apabila nilai Kn diatas 1 maka faktor kondisi ikan bawal putih (P. argenteus) dalam kondisi yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Alat tangkap pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik Desa Binalawan merupakan alat tangkap yang bersifat aktif. Alat tangkap tersebut dipergunakan oleh nelayan Sebatik dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan Sebatik. Tujuan penelitian adalah untuk pengenalan jenis ikan, menguraikan persentase komposisi jenis, menganalisis hubungan panjang dan berat serta kategori hasil tangkapan pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dilakukan pada bulan Januari – Maret 2024, dengan metode purposive sampling selama 18 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 jenis ikan hasil tangkapan pukat hela di perairan Sebatik selama penelitian Perak, Bawal putih, Tenggiri Papan, Talang-Talang, Gulama, Senangin, Kuro, Selangat, Tidur, Pari Sempak, Pari Jantan, Merah, Arut, Putih Cermin, Bawal Hitam, Tembang, Puput Magatan, Peperek, Beliak Mata dan Ubur - Ubur. Nilai persentase komposisi per jenis berdasarkan berat ikan yang paling tertinggi yaitu perak (18,3%) dan nilai yang terendah yaitu Tembang (0,4%). Berdasarkan ekor nilai yang tertinggi yaitu Puput Magatan (25,2%) dan nilai yang terendah didapatkan sebesar (0,1%) pada Pari Jantan. Kategori hasil tangkapan berdasarkan satuan berat tertinggi pada Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) sebesar 50% dan berdasarkan satuan individu (ekor) pada Hasil Tangkapan Buangan (HTB) sebesar 63%. Hal ini dapat dikatakan bahwa alat tangkap yang digunakan pada penelitian ini termasuk alat tangkap yang tidak selektif karena alat tangkap tersebut dapat menangkap segala jenis ikan dan ukuran sehingga dapat merusak lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan bunyi interferensi bahasa Bugis terhadap bahasa Indonesia di desa Sei Batang Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah teknik simak libat cakap, teknik rekam dan teknik catat. Data pada penelitian ini berupa tuturan lisan masyarakat, sedangkan sumber datanya yaitu masyarakat desa Sei batang Kecamatan Sebatik kabupaten Nunukan Kalimantan Utara. Berdasarkan hasil dari penelitian ini ditemukan tiga belas bentuk interferensi. Bentuk interferensi tersebut yaitu Interferensi fonem vokal /a/ (2 kata), Interferensi fonem vokal /e/ (7 kata), Interferensi fonem vokal /i/ (1 kata), Interferensi fonem vokal /o/ (2 kata), Interferensi fonem vokal /u/ (1 kata), Interferensi Asimilasi Fonem (2 kata), Interferensi Fonem Monoftongisasi (7 kata), Interferensi Fonemis Zerosiasi (4 kata), Interferensi fonem glotal stop /?/ (57 kata), Interferensi fonem /n/ diubah menjadi /ng/ (56 kata), interferensi fonem /m/ diubah menjadi /ng/ (16 kata), Interferensi penggantian vokal dan konsonan (5 kata), dan Interferensi penambahan fonem (13 kata), sehingga jumlah kata yang mengalami interferensi ini sebanyak 173 data. Bentuk interferensi ini berupa interferensi fonologi, yaitu pada pengurangan bunyi fonem, penambahan fonem, perubahan fonem /n/ menjadi /ŋ/, perubahan fonem /m/ menjadi /ŋ/, dan perubahan bunyi vokal. Faktor penyebab terjadinya interferensi karena terbawanya kebiasaan atau masih adanya pengaruh dari bahasa Bugis. This research aimed to describe changes in the sound of Bugis language interference with Indonesian in Set Batang village, Sebatik District, Nunukan Regency, North Kalimantan. This research used descriptive qualitative methods In this research, the data collection techniques used by the author were skillful listening, recording and note-taking techniques The data in this research is in the form of oral speech from the community, while the data source is the community of Sei Batang village, Sebatik subdistrict, Nunukan district, North Kalimantan Based on the results of this research, thirteen forms of interference were found. The forms of interference were vowel phoneme interference /a/ (2 words), vowel phoneme interference /e/ (7 words), vowel phoneme interference /i/ (1 word), vowel phoneme interference /o/ (2 words), phoneme interference vowel /u/ (1 word), Phoneme Assimilation Interference (2 words), Monophthongization Phoneme Interference (7 words), Zerosiation Phonemic Interference (4 words), Glottal stop phoneme interference/7/ (57 words), Phoneme interference /n/ changed to /n/ (56 words), phoneme interference /m/ changed to /n/ (16 words), Vowel and consonant replacement interference (5 words), and Phonetne addition interference (13 words). So, the number of words experiencing interference was 173 The interference was in the form of phonology, namely reducing phoneme sounds, adding phonemes, changing the phoneme /n/ to /p/, changing the phoneme /m/ to /n/, and changing vowel sounds. Factors causing interference were carried over by habits or the influence of the Bugis language
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK PENGGUNAAN MATA UANG GANDA (RINGGIT-RUPIAH) TERHADAP PELAKU KEGIATAN EKONOMI MASYARAKAT PULAU SEBATIK Devina Amalia 1940402094 Dr.Pither Palungan, S.E., M.Si Email : [email protected] Indonesia dan Malaysia adalah dua negara tetangga yang memiliki perbatasan darat dan laut. Salah satu perbatasan antar negara adalah sebuah pulau kecil yaitu Pulau Sebatik.Pemenuhan kebutuhan sehari hari warga Sebatik sangat ketergantungan di Negara Malaysia karena sangat dekat jika dibandingkan dengan jarak ke Nunukan. penelitian ini mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui bagaimana penggunaan mata uang ganda terhadap pelaku kegiatan ekonomi pulau Sebatik. Desain yang dilakukan pada penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Disebut penelitian deskriptif karena objek dari penelitian ini merupakan fenomena alam dan peristiwa sosial yang terjadi dilingkungan masyarakat. Metode deskriptif kualitatif adalah suatu riset yang bentuk deskriptifnya menggunakan fakta atau fenomena yang didapatkan dari data secara apa adanya, desain berupa gambaran dengan kalimat-kalimat mengenai pendapat masyarakat. Agar peneliti dapat mengetahui fokus penelitian maka terdapat 4 hal yang merupakan indikator dalam analisis data ini, yaitu: 1. Faktor yang melandasi penjualan menggunakan uang ganda. 2. Sistem penjualan dan pembayaran menggunakan uang ganda. 3. Pengelolaan pembelanjaan barang toko dan tempat pembelian barang. 4. pendapatan dan pengeluaran toko. Indikator tersebut menjawab bahwa penggunaan mata uang ringgit lebih dominan digunakan daripada uang rupiah, ini dibuktikan dengan hasil wawancara pelaku usaha yang merupakan objek yang telah dipih untuk perwakilan setiap kecamatan di Pulau Sebatik. Dimana narasumber mengatakan bahwa transaksi yang dilakukan masyarakat lebih dominan menggunakan ringgit karena barang-barang yang mereka dapatkan juga sebagian besar adalah barang Malaysia. Kata Kunci : Penggunaan Mata Uang Ganda, Pelaku Ekonomi Masyarakat Pulau Sebatik
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Sebatik merupakan pulau terkecil terluar yang terletak di provinsi Kalimantan utara yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga yaitu Malaysia. Nelayan di pulau Sebatik menangkap atau mengeksploritasi hasil perikanan dengan berbagai macam alat tangkap. Salah satu alat tangkap yang banyak digunakan yaitu jaring insang bawal (Gill net) untuk menangkap ikan bawal sebagai tangkapan utama , selain itu banyak jenis ikan lain yang tertangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keramahan lingkungan dan pendapatan nelayan jaring insang bawal (Gill net). Penelitian ini di lakukan 3 bulan dimulai pada bulan Febuari sampai April 2020. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deksriptif kuantitatif dengan pendekatan suvey yaitu menggunakan teknik wawancara terhadap nelayan untuk mengetahui tingkat ramah lingkungan dan hasil pendapatan nelayan jaring insang bawal (Gill net). Survey yang dilakukan dengan wawancara untuk menentukan jumlah nelayan yang menggunakan alat tangkap jaring insang bawal yang terdapat di pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap 10 responden bahwa alat tangkap jaring insang bawal (Gill net) terdapat nilai skoring 29,40 termasuk dalam kategori ramah lingkungan dan sangat ramah lingkungan. Adapun hasil pendapatan nelayan jaring insang bawal (Gill net) menghasilkan keuntungan perbulan sebesar Rp.6.039.421, dengan hasil tangkapan utama didapatkan 63 kg/bulan.