ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KOMPOSISI JENIS IKAN PADA SAAT PASANG PURNAMA DAN PASANG PERBANI PADA AREA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KELURAHAN PANTAI AMAL, KOTA TARAKAN Abstak Pantai Amal, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, merupakan salah satu wilayah pesisir yang dimanfaatkan mansyarakat untuk budidaya rumput laut. Selain ideal untuk pertumbuhan rumput laut, kawasan ini secara ekologis memiliki peran sebagai habitat asuhan (Nursery ground) dan mencari makan (Feeding grounnd) untuk berbagai jenis ikan di area tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana komposisi jenis ikan di area budidaya rumput laut dengan membanding hasil tangkapan pada pasang tinggi dan pasang rendaah, serta mengetahui bagaiaman peran pasang perairan terhadap kompisis ikan dengan melakukan uji Anovad dan kontribusi faktor. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan lokasi penelitian di area budidaya rumput laut dan menggunakan alat tangkap jenis jaring insang (gillnet). Berdasarkan hasil tangkapan penelitian, diperoleh sebanyak 122 individu yang tergolong kedalam 13 spesies. Pada pasang tinggi diperoleh 9 jenis dengan total 93 individu (76,23%) dan pasang rendah 6 jenis dengan total 29 individu (23,77%). Komposis jenis ikan yang paling dominan pada pasang tinggi yaitu julung – julung (Hemirafus far) dengan 62 individu (68,48%) dan jenis ikan yang dominan saat pasang rendah yaitu Kipar (Scatophagus argus) degan 10 individu (37,04%). Hasil uji anova menunjukkan perbedaan rata rata kelimpahan jenis ikan yang signifikan antara pasang yaitu F-hitung = 24,48 > F-crit =5,99 dan nilai P = 0,02 0,05 yang menegaskan bahwa adanya pengaruh nyata kondisi pasang perairan terhadap hasil tangkapan. Dengan perhitungan kontribusi faktor, kondisi pasang perairan memberikan pengaruh sebesar 80,31% terhadap keberadaan ikan. Dengan hasil tersebut dapat menegaskan adanya pengaruh pasang tinggi dan pasang rendah terhadap komposisi jenis ikan yang berasosiasi dengan rumput laut di perairan Pantai Amal Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi jenis dan ukuran udang hasil tangkapan utama menggunakan alat tangkap trammel net di perairan sebatik, kabupaten nunukan, kalimantan utara, serta implikasinya terhadap pengelolaan berkelanjutan. penelitian ini di lakukan di perairan sebatik, kabupaten nunukan, selama tiga bulan, dari bulan mei hingga bulan juli 2025. pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan jumlah hasil tangkapan nelayan. Analisis meliputi identifikasi morfologis, perhitungan kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman, distribusi ukuran, hubungan panjang-berat, serta parameter populasi dan tingkat eksploitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi hasil tangkapan didominasi oleh udang windu (penaeus monodon) dan udang putih (litopenaeus vannamei) sebagai hasil tangkapan utama (31,96%), sementara hasil tangkapan sampingan mencapai (68,03%). Distribusi ukuran memperlihatkan sebagai besar udang tertangkap dalam kondisi juvenil atau belum mencapai ukuran matang gonad, yang mengindikasikan adanya potensi penangkapan berlebihan (overfishing). Nilai tingkat eksploitasi E sebesar 0,50-0,56 menunjukkan bahwa stok udang di perairan sebatik berada dapam kondisi fully exploited. Selain itu, berkelanjutan sumber daya udang sangat dipengaruhi oleh kondisi ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai daerah pemijahan, pembesaran, dan pencarian makan. Degradasi mangrove akibat ahli fungsi lahan dan polusi memperburuk tekanan terhadap stok udang. Oleh karena itu diperlukan strategi pengelolaan terpadu, seperti pembatasan ukuran tangkapan, modifikasi alat tangkap, penerapan musim penutupan, serta rehabilitas mangrove berbasis masyarakat untuk menjamin berkelanjutan perikanan udang di perairan sebatik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jaring insang (gillnet) memiliki nilai penting bagi produktivitas perikanan tangkap di Kota Tarakan. Sebagai salah satu kegiatan perikanan tangkap yang utama di Kota Tarakan, jaring insang gillnet penting bagi masyarakat Kota Tarakan, utamanya masyarakat nelayan di wilayah Timur Kota Tarakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dengan pendekatan analisis morfologis dan persentase tangkapan utama. Penelitian dilaksanakan Januari – Maret 2024. Metode dalam penelitian menggunakan purposive sampling pendekatan observasi dan survei. Pengumpulan data observasi secara keseluruhan sebanyak 12 kali. Analisis data pendekatan observasi morfologis sampel menggunakan acuan Marine Fisheries of South East Asia dan Market Fisheries of Indonesian. Analisis komposisi jenis menggunakan pendekatan nilai persentase. Tingkat keramahan lingkungan menggunakan pendekatan analisis 9 kriteria ramah lingkungan mengacu pada CCRF/FAO. Hasil penelitian menunjukkan secara morfologis dari hasil tangkapan gillnet terindikasi terdapat 5 jenis ikan (Eleutheronema sp., Lutjanus sp., Lates sp., Scomberomorus sp., dan Netuma sp.). Hasil tangkapan utama (HTU) mencapai 70.03% dan hasil tangkapan sampingan (HTS) mencapai 29.97%. Nilai komposisi hasil tangkapan berdasarkan persentase satuan berat yaitu hasil tangkapan paling tinggi adalah jenis ikan kurau (Eleutheronema sp.) sebanyak 55,40% dan paling sedikit adalah ikan manyung (Netuma sp.) sebanyak 5,96%. Tingkat keramahan lingkungan menurut CCRF/FAO secara keseluruhan tergolong kategori sangat ramah lingkungan dengan (nilai 28,54) berdasarkan sembilan kriteria ramah lingkungan CCRF FAO
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Alat tangkap pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik Desa Binalawan merupakan alat tangkap yang bersifat aktif. Alat tangkap tersebut dipergunakan oleh nelayan Sebatik dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan Sebatik. Tujuan penelitian adalah untuk pengenalan jenis ikan, menguraikan persentase komposisi jenis, menganalisis hubungan panjang dan berat serta kategori hasil tangkapan pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dilakukan pada bulan Januari – Maret 2024, dengan metode purposive sampling selama 18 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 jenis ikan hasil tangkapan pukat hela di perairan Sebatik selama penelitian Perak, Bawal putih, Tenggiri Papan, Talang-Talang, Gulama, Senangin, Kuro, Selangat, Tidur, Pari Sempak, Pari Jantan, Merah, Arut, Putih Cermin, Bawal Hitam, Tembang, Puput Magatan, Peperek, Beliak Mata dan Ubur - Ubur. Nilai persentase komposisi per jenis berdasarkan berat ikan yang paling tertinggi yaitu perak (18,3%) dan nilai yang terendah yaitu Tembang (0,4%). Berdasarkan ekor nilai yang tertinggi yaitu Puput Magatan (25,2%) dan nilai yang terendah didapatkan sebesar (0,1%) pada Pari Jantan. Kategori hasil tangkapan berdasarkan satuan berat tertinggi pada Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) sebesar 50% dan berdasarkan satuan individu (ekor) pada Hasil Tangkapan Buangan (HTB) sebesar 63%. Hal ini dapat dikatakan bahwa alat tangkap yang digunakan pada penelitian ini termasuk alat tangkap yang tidak selektif karena alat tangkap tersebut dapat menangkap segala jenis ikan dan ukuran sehingga dapat merusak lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perairan Juata Laut berpotensi menghasilkan sumberdaya laut yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi yaitu berupa ikan nomei (H. nehereus). Ikan nomei merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, oleh karena itu ikan nomei merupakan hasil tangkapan utama bagi nelayan Juata Laut. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menguraikan dan menerangkan karakteristik sumberdaya ikan nomei dengan pendekatan komposisi jenis, ciri morfologis, regresi nilai lingkungan perairan dan hasil tangkapan serta luaran sebaran lingkungan perairan (suhu, pH, kedalaman dan kecerahan) pada fishing ground ikan nomei di perairan Juata Laut kota Tarakan. Metode riset menggunakan pendekatan observasi dan pengukuran langsung terhadap sampel ikan nomei dan parameter lingkungan perairan pada operasi penangkapan ikan nomei. Hasil riset menunjukkan bahwa komposisi hasil tangkapan ikan nomei persentase 84,7% dan non-nomei menghasilkan persentase 15,3%. Karakter morfometrik pada sampel ikan nomei menghasilkan nilai rasio panjang total dengan karakter panjang cagak 1:0.82 (82.4%), panjang standar nilai rasio 1:0.69 (69.3%) dari panjang total, panjang kepala dengan nilai rasio 1:0.13 (13.0%) dari panjang total, panjang badan nilai rasio 1:0.65 (65.4%) dari panjang total dan panjang ekor dengan nilai rasio 1:0.22 (21.5%) dari panjang total. Karakteristik morfologi ikan nomei memiliki bentuk tubuh yang memanjang, sedikit pipih, sirip lengkap yaitu sirip punggung, sirip ekor, sirip dada, sirip perut, dan sirip dubur warna kulit atas berwarna coklat gelap sedangkan bagian perut putih cerah. Regresi parameter perairan dan ikan nomei menghasilkan persamaan luaran analisa uji t diketahui bahwa nilai ttabel sebesar 2,776 dan nilai thitung secara keseluruhan parameter lebih kecil dari nilai ttabel dan luaran uji F lainnya adalah nilai Fhitung sebesar 0,951 dan Ftabel sebesar 4,88. Nilai Fhitung leibh kecil dari nilai Ftabel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Alat tangkap tugu (stownet) merupakan alat tangkap yang bersifat pasif dan termasuk dalam alat tangkap perangkap, yang dalam pengoperasiannya memanfaatkan pasang surut atau arus dan ruaya ikan. Stownet alat tangkap yang terbuat dari jaring yang berbentuk kantong dan dipasang semi permanen menentang arus. Penelitian bertujuan menguraikan dan menjelaskan ciri morfologis hasil tangkapan serta persentase jumlah total dan jumlah perjenis hasil tangkapan dan menerangkan kategori hasil tangkapan utama, sampingan dan buangan (HTU, HTS, HTB), dalam satuan persentase jumlah individu dan berat di perairan Muara Ancam Kabupaten Bulungan. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif selama Januari - Maret 2022, dengan purposive sampling selama 8 kali sampling. Hasil penelitian menghasilkan jumlah sampel sebanyak 24 spesies dari 3 kelompok organisme yaitu 12 jenis ikan demersal (19,96%), 8 jenis ikan pelagis (10,84%), 1 jenis moluka (3%), 2 jenis krustase (170%). Total sampel sebanyak 83.10 ekor dengan total berat 71,739 kg. Kategori Hasil Tangkapan Utama (HTU) 69,44% (satuan berat) dan 64,38 % (satuan individu), Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) 6,09 % (satuan berat) dan 7,52 (satuan individu) dan Hasil Tangkapan Buangan (HTB) 24,47 % (satuan berat) dan 28,10 % (satuan individu).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sero (guiding barrier) merupakan alat tangkap ikan yang sifatnya menetap di daerah penangkapan (fishing ground). Hasil tangkapan guiding barrier di Perairan Muara Sesayap Kalimantan Utara mempunyai kelimpahan yang tinggi dalam jenis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan komposisi hasil tangkapan menggunakan alat tangkap Sero, meliputi kelimpahan hasil tangkapan, komposisi jenis dan ukuran hasil tangkapan alat tangkap Sero di Perairan Muara Sesayap Kalimantan Utara. Penelitian telah dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif selama 3 kali pengambilan sampel (sampling) dalam 2 bulan. Hasil identifikasi selama penelitian didapatkan sebanyak 30 spesies sebanyak 2.112 ekor dengan berat 112,688 kg. Hasil tangkapan Sero meliputi hasil tangkapan utama (HTU) sebesar 10%, hasil tangkapan sampingan (HTS) sebesar 70% dan hasil tangkapan buangan (HTB) sebesar 20%. Komposisi ukuran yang didapatkan pada ikan kakap putih (Lates sp) yaitu berkisar antara 13,5-29,3 cm dan memiliki 6 kelas, didominasi oleh ukuran 21,78-24,53 cm. Kisaran ukuran pada ikan kakap merah (Lutjanus sp) yaitu berkisar antara 9-31 cm dan memiliki 6 kelas, dominan pada kisaran ukuran 12,67-16,33 cm. Kisaran ukuran pada ikan bawal putih (Pampus sp) yaitu berkisar antara 13-16,5 cm dan memiliki 2 kelas dengan kisaran ukuran pada kelas pertama yaitu 13,0-14,75 cm dan pada kelas kedua yaitu berkisar 14,76-16,51 cm, kisaran ukuran yang didapatkan menunjukkan bahwa spesies yang tertangkap termasuk kedalam katagori yuwana.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan ukuran hasil tangkapan pada alat tangkap bubu dasar di perairan Muara Desa Tepian Sembakung. Alat tangkap bubu dasar (Bottom Fish Plots) di operasikan secara pasif dengan mengikuti arus. Unit penangkapan kapal yang digunakan pada penelitian ini yaitu kapal berjenis dimensi ( p x l x d ) berukuran (5,5 x 0,95 x 0,95 ) dan menggunakan mesin 5 PK. Ukuran panjang badan bubu yaitu 83 cm, lebar 24 cm, diameter lingkaran 23. Hasil tangkapan utama yaitu udang galah berdasarkan bobot 92% dan jumlah individu 97%, hasil tangkapan sampingan yaitu 0%, hasil tangkapan buangan terdiri dari tiga jenis denga total bobot 8% dan berdasarkan ukuran individu yaitu 3%. Hasil penelitian menunjukan bahwa bubu dasar di perairan muara Desa Tepian Sembakung termasuk dalam kategori selektif. Ukuran hasil tangkapan udang galah didominasi oleh yuwana yaitu 85% dan dewasa 15%. Disebabkan oleh ukuran mata jaring alat tangkap yang digunakan sangat kecil sehingga udang-udang yuwana yang masuk tidak dapat lolos keluar.