ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perairan pulau Sebatik merupakan wilayah perairan yang terindikasi sangat tinggi potensi perikanannya, masyarakat Pulau Sebatik dominan berprofesi sebagai nelayan dengan menggunakan alat tangkap pukat hela (trawl). Alat tangkap pada pukat hela (trawl) merupakan jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan karena alat tangkap pukat hela (trawl) termasuk alat tangkap yang menangkap berbagai jenis ikan yang termasuk kategori ikan-ikan ekonomis tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan dan menjelaskan katagori jenis hasil tangkapan, nilai efektifitas hasil tangkapan pada pengoperasian pukat hela (trawl) dengan perlakuan penambahan pelampung pada bagian otterboad, headrope dan codend terhadap hasi tangkapan. Penelitian ini menggunakan metode experimental fishing dengan perlakuan terkait pemasangan pelampung yaitu perlakuan A (pelampung pada otterboad), perlakuan B (pelampung pada otterboad, headrope), perlakuan C (pelampung pada otterboad, headrope dan codend). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa jenis ikan tertangkap ialah ikan demersal dan ikan palagis yang meliputi ikan perak, bawal putih, tenggiri papan, bawal hitam,senangin, tembang, talang-talang, selangat, putih, kerong-kerong, kipper, gulama batu, udang, layur, sotong, beliak mata, peperek, buntal, puput magetan, ubur-ubur. Hasil analisa efektifitas hasil tangkapan menunjukkan bahwa perlakuan A memiliki nilai efektifitas sebesar 59% (HTU), 22,4% (HTS) dan 18,6% (HTB), perlakuan B mendapatkan nilai efektifitas sebesar 46,4% (HTU), 32,2% (HTS), dan 21,5% (HTB), Perlakuan C mendapatkan nilai efektifitas sebesar 45%, 20,5%, dan 34,6%.Hasil uji (ANOVA) data perlakuan pemasangan pelampung terhadap hasil tangkapan pada alat tangkap pukat trawl, menghasilkan bahwa perlakuan pemasangan pelampung yang berbeda berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan baik pada satuan berat dan individu berat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Alat tangkap pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik Desa Binalawan merupakan alat tangkap yang bersifat aktif. Alat tangkap tersebut dipergunakan oleh nelayan Sebatik dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di perairan Sebatik. Tujuan penelitian adalah untuk pengenalan jenis ikan, menguraikan persentase komposisi jenis, menganalisis hubungan panjang dan berat serta kategori hasil tangkapan pukat hela permukaan (surface trawl) di perairan Sebatik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dilakukan pada bulan Januari – Maret 2024, dengan metode purposive sampling selama 18 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 jenis ikan hasil tangkapan pukat hela di perairan Sebatik selama penelitian Perak, Bawal putih, Tenggiri Papan, Talang-Talang, Gulama, Senangin, Kuro, Selangat, Tidur, Pari Sempak, Pari Jantan, Merah, Arut, Putih Cermin, Bawal Hitam, Tembang, Puput Magatan, Peperek, Beliak Mata dan Ubur - Ubur. Nilai persentase komposisi per jenis berdasarkan berat ikan yang paling tertinggi yaitu perak (18,3%) dan nilai yang terendah yaitu Tembang (0,4%). Berdasarkan ekor nilai yang tertinggi yaitu Puput Magatan (25,2%) dan nilai yang terendah didapatkan sebesar (0,1%) pada Pari Jantan. Kategori hasil tangkapan berdasarkan satuan berat tertinggi pada Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) sebesar 50% dan berdasarkan satuan individu (ekor) pada Hasil Tangkapan Buangan (HTB) sebesar 63%. Hal ini dapat dikatakan bahwa alat tangkap yang digunakan pada penelitian ini termasuk alat tangkap yang tidak selektif karena alat tangkap tersebut dapat menangkap segala jenis ikan dan ukuran sehingga dapat merusak lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pulau Bunyu merupakan potensi perikanan yang terindikasi sangat potensial. Potensi perikanannya dari sektor perikanan tangkap. Masyarakat pulau Bunyu dominan berprofesi sebagai nelayan dengan menggunakan alat tangkap bubu. Alat tangkap pada bubu merupakan jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan karena alat tangkap bubu tersebut ramah lingkungan dengan bahan yang digunakan terbuat dari bambu teranyam dan menghasilkan tangkapan beragam jenis ikan yang masuk kategori ikan – ikan ekonomis tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan dan menjelaskan nilai efektifitas hasil tangkapan pada pengoperasian bubu dengan perlakuan umpan dan dapat menguraikan pengaruh perlakuan umpan terhadap hasil tangkapan. Penelitian ini menggunakan metode experimental fishing dengan perlakuan terkait umpan yaitu perlakuan A (tanpa umpan), perlakuan B (umpan ikan rucah) dan perlakuan C (umpan kelapa bakar). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa jenis ikan yang tertangkap iala ikan demersal meliputi: Baronang (Siganus sp.), Depak (Lutjanus sp.), Nupin (Lethrinus sp.), Rebanu (Lutjanus sp.), dan Kerapu (Epinephalus sp.). Kesimpulan hasil nilai efektifitas terbesar pada perlakuan umpan ikan rucah (100%) dan efektifitas terendah pada perlakuan umpan kelapa bakar (23%). Hasil uji analisa varian (ANOVA) data perlakuan umpan terhadap hasil tangkapan pada alat tangkap bubu, menghasilkan bahwa perlakuan umpan berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan baik pada satuan berat dan individu ekor.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Wilayah pesisir kabupaten Bulungan memiliki ragam hasil tangkapan ikan pelagis dan ikan demersal, salah satunya berada di perairan muara Ancam. Unit penangkapan dominan di wilayah perairan muara Ancam yaitu unit penangkapan tugu (stowner) Nilai produktivitas perikanan tangkap di wilayah kabupaten Bulungan dipengaruhi oleh produktivitas perikanan tugu. Alat tangkap tugu termasuk kategori alat tangkap perangkap yang memanfaatkan arus pasang dan surut perairan laut. Aspek penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan nilai ekonomis bagi masyarakat adalah faktor efektivitas dengan adanya informasi ilmiah tentang kelimpahan dan struktur hasil tangkapan (jenis dan ukuran). Penelitian bertujuan menerangkan kelimpahan hasil tangkapan utama, komposisi hasil tangkapan dan distribusi frekuensi ukuran panjang dan berat. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif pendekatan observasi terhadap sampel Hasil tangkapan Utama (HTU) selama Januari Februari 2022, dengan purposive sampling selama 8 kali sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 8 jenis Hasil Tangkapan Utama (HTU) yaitu udang yellow. udang dogol, udang mantis, udang merah, udang putih, udang loreng, udang windu dan udang pistol dengan total tangkapan 49.74 kg dan rata rata kelimpahannya 49.48%. Jenis udang dengan nilai kelimpahan terbesar dan dominan tertangkap adalah udang putih. Persentase komposisi jenis hasil tangkapan utama tugu yaitu udang yellow 11% dengan struktur ukuran rerata Panjang Total (PT) 8.18 cm dan rerata Berat Total (BT) 6.67 gram; udang brown 7% dengan 9.23 cm dan 9.05 gram: udang mantis 7% dengan 10.84 cm dan 10.51 gram; udang merah 6% dengan 8.85 cm dan 7.60 gram, udang putih 51% dengan 8.92 cm dan 8.15 gram; udang loreng 18% dengan 10.62 cm dan 11.15 gram; udang windu 11% dengan 9.94 cm dan 8.67 gram, serta udang tembak 0,28% dengan 8.05 cm dan 7.60 gram.