Abstrak
Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak di bawah usia 5 tahun, yang memicu peningkatan produksi sekret dan menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan napas. Terapi non-farmakologis, seperti penggunaan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint, berpotensi sebagai intervensi pendukung untuk mengencerkan sekret dan memperbaiki pola napas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint dalam menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Metode yang digunakan adalah deskriptif studi kasus dengan subjek dua pasien anak (An. N dan An. K, usia 5 tahun) yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas akibat pneumonia. Intervensi dilakukan selama tiga hari perawatan dengan durasi 15–20 menit per sesi menggunakan diffuser ultrasonik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi selama 3x24 jam, terjadi perbaikan klinis yang signifikan pada kedua pasien. Frekuensi pernapasan (RR) menurun dari rentang 42- 44x/menit menjadi 22x/menit (mendekati rentang normal), saturasi oksigen (SpO2) meningkat dari 94% menjadi 98%, serta suara napas tambahan ronchi berkurang drastis atau hilang. Sputum yang semula kental dan berwarna kuning kehijauan menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa penerapan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint efektif sebagai intervensi pendukung untuk meningkatkan bersihan jalan napas, mengencerkan sekret, dan menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Disarankan bagi tenaga keperawatan untuk mempertimbangkan intervensi ini sebagai bagian dari standar prosedur operasional (SPO) asuhan keperawatan komplementer pada kasus gangguan sistem respirasi anak.