Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

34 hasil
Subjek: Pneumonia
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penerapan Teknik Pursed Lips Breathing melalui Media Pianika terhadap Perubahan Frekuensi Pernapasan pada Anak dengan Pneumonia

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama gangguan pernapasan pada anak yang ditandai dengan peningkatan frekuensi pernapasan akibat proses inflamasi pada paru sehingga menyebabkan pola napas tidak efektif. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diberikan untuk membantu memperbaiki pola napas adalah teknik Pursed Lips Breathing (PLB) melalui media pianika. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perubahan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia setelah penerapan teknik Pursed Lips Breathing melalui media pianika. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada dua anak usia 6 tahun dengan diagnosis medis pneumonia dan diagnosis keperawatan pola napas tidak efektif. Intervensi berupa teknik Pursed Lips Breathing melalui media pianika diberikan selama tiga hari. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah intervensi serta mengamati perubahan kondisi klinis pasien. Hasil menunjukkan adanya penurunan frekuensi pernapasan pada kedua pasien. Pada An. A, frekuensi pernapasan menurun dari 35 kali/menit menjadi 28 kali/menit, sedangkan pada An. M menurun dari 33 kali/menit menjadi 27 kali/menit. Selain itu, keluhan sesak napas berkurang, penggunaan otot bantu pernapasan menurun, anak tampak lebih rileks dan kooperatif selama latihan, serta masalah keperawatan pola napas tidak efektif teratasi. Penerapan teknik Pursed Lips Breathing melalui media pianika dapat menjadi intervensi keperawatan nonfarmakologis yang efektif untuk membantu menurunkan frekuensi pernapasan, memperbaiki pola napas, dan mendukung peningkatan fungsi respirasi pada anak dengan pneumonia.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penerapan Terapi Pursed Lips Breathing Tiup Kincir Terhadap Frekuensi Pernapasan Pada Anak Dengan Pneumonia

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar Belakang: Pneumonia masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak. Penyakit ini dapat menyebabkan penumpukan sekret, sesak napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan yang mengganggu fungsi ventilasi. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat membantu memperbaiki fungsi pernapasan adalah terapi pursed lips breathing (PLB) dengan media tiup kincir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi pursed lips breathing menggunakan media tiup kincir terhadap penurunan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada dua anak usia 5 tahun yang didiagnosis pneumonia. Intervensi diberikan selama 3×24 jam dan dievaluasi melalui pemantauan frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah terapi. Hasil: Hasil penerapan terapi pursed lips breathing selama 3×24 jam menunjukkan adanya penurunan frekuensi pernapasan pada An. C dari 32 kali/menit menjadi 22 kali/menit dan pada An. A dari 35 kali/menit menjadi 24 kali/menit, disertai perbaikan pola napas, berkurangnya ronki, sputum lebih mudah dikeluarkan, serta kondisi anak tampak lebih nyaman. Kesimpulan: Penerapan terapi pursed lips breathing menggunakan media tiup kincir efektif membantu menurunkan frekuensi pernapasan dan memperbaiki status pernapasan pada anak dengan pneumonia

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENERAPAN INHALASI DIFFUSER DENGAN AROMA TERAPI PEPPERMINT DALAM PENINGKATAN BERSIHAN JALAN NAFAS PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG ANGGREK B RSUD dr.H. JUSUF SK KOTA TARAKA

2026•

Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak di bawah usia 5 tahun, yang memicu peningkatan produksi sekret dan menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan napas. Terapi non-farmakologis, seperti penggunaan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint, berpotensi sebagai intervensi pendukung untuk mengencerkan sekret dan memperbaiki pola napas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint dalam menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Metode yang digunakan adalah deskriptif studi kasus dengan subjek dua pasien anak (An. N dan An. K, usia 5 tahun) yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas akibat pneumonia. Intervensi dilakukan selama tiga hari perawatan dengan durasi 15–20 menit per sesi menggunakan diffuser ultrasonik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi selama 3x24 jam, terjadi perbaikan klinis yang signifikan pada kedua pasien. Frekuensi pernapasan (RR) menurun dari rentang 42- 44x/menit menjadi 22x/menit (mendekati rentang normal), saturasi oksigen (SpO2) meningkat dari 94% menjadi 98%, serta suara napas tambahan ronchi berkurang drastis atau hilang. Sputum yang semula kental dan berwarna kuning kehijauan menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa penerapan inhalasi diffuser dengan aromaterapi peppermint efektif sebagai intervensi pendukung untuk meningkatkan bersihan jalan napas, mengencerkan sekret, dan menurunkan frekuensi pernapasan pada anak dengan pneumonia. Disarankan bagi tenaga keperawatan untuk mempertimbangkan intervensi ini sebagai bagian dari standar prosedur operasional (SPO) asuhan keperawatan komplementer pada kasus gangguan sistem respirasi anak.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemberian Terapi Bermain Pop-it Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Anak Usia Pra Sekolah Selama Terapi Inhalasi

2026•

Penerapan Terapi Bermain Pada Tingkat Kecemasan Pada Anak Pra Sekolah Selama Terapi Inhalasi Terapi inhalasi adalah pengobatan mukolitik dan bronkodilator dalam bentuk hirupan yang melonggarkan sekresi di saluran pernapasan yang dapat menyebabkan obstruksi saluran pernapasan. Terapi inhalasi ini umum digunakan pada anak-anak dan tidak menimbulkan rasa sakit, namun penggunaan masker dan terapi nebulizer yang berlangsung lama dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan memicu kecemasan pada anak. Kecemasan pada anak yang muncul karena prosedur terapi inhalasi dapat dicegah dan diminimalisir dengan beberapa penggunaan metode terapi non-farmakologis. Terapi non-farmakologis yang dapat digunakan ialah seperti bermain teraputik. Bermain terapeutik dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengurangi kecemasan pada anak saat menjalani prosedur medis dan pengobatan. Untuk mengurangi dampak kecemasan yang dialami anak usia prasekolah diperlukan media yang dapat mengurangi rasa cemas pada anak usia prasekolah, media tersebut bisa dengan cara terapi bermain menggambar, bercerita, mendengarkan musik, bermain puzzle, dan Pop-it. Berdasarkan hasil evaluasi pada kedua pasien, pemberian terapi bermain Pop-it selama 3 hari saat terapi inhalasi didapatkan penurunan pada score VFAS dari nilai tingkat kecemasan paling tinggi (5) menjadi tingkat kecemasan yang rendah (1). Dari hal tersebut menunjukkan terapi bermain mampu menurunkan tingkat kecemasan pada anak usia pra sekolah selama terapi inhalasi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN ANGGREK B RSUD DR. H. JUSUF SK KOTA TARAKAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN ANGGREK B RSUD DR. H. JUSUF SK ABSTRAK Pneumonia merupakan infeksi akut pada jaringan paru (alveoli) yang menjadi penyebab kematian menular terbesar pada anak di seluruh dunia. Provinsi Kalimantan Utara, Kota Tarakan tercatat sebagai daerah tertinggi yang terkena penyakit pneumonia pada anak. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif pada dua anak dengan pneumonia mulai dari pengkajian, perumusan diagnosis, perencanaan intervensi, pelaksanaan implementasi, hingga evaluasi, serta membandingkan hasil asuhan keperawatan pada kedua klien. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif studi kasus terhadap dua pasien anak di Ruang Anggrek B RSUD Dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan periode 27–29 April 2026. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik head-to-toe, dan telaah dokumen medis. Klien 1 (An. F, 4 tahun) ditegakkan tiga diagnosis: bersihan jalan napas tidak efektif, pola napas tidak efektif, dan gangguan rasa nyaman, seluruhnya teratasi pada hari ketiga. Klien 2 (An. A, 10 tahun) dengan diagnosis bersihan jalan napas tidak efektif, hipertermia, dan gangguan pola tidur, dua diagnosis teratasi, sedangkan bersihan jalan napas belum teratasi akibat produksi sputum tinggi dan wheezing yang masih terdengar. Asuhan keperawatan sistematis berbasis SDKI, SIKI, dan SLKI terbukti mendukung pemulihan pasien. Penyakit penyerta memengaruhi ketercapaian hasil intervensi secara signifikan. Laporan ini dapat menjadi acuan bagi mahasiswa dan tenaga keperawatan dalam menangani kasus serupa.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN ANGGREK B RSUD dr. H. JUSUF SK TARAKAN

2026•

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN ANGGREK B RSUD dr. H. JUSUF SK TARAKAN Pneumonia pada anak masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius karena menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan asuhan keperawatan secara komprehensif pada dua pasien anak dengan diagnosis medis pneumonia di Ruang Perawatan Anggrek B RSUD dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara keluarga pasien, observasi langsung, pemeriksaan fisik head-to-toe, dan telaah catatan medis. Asuhan keperawatan diterapkan melalui lima tahapan, yaitu pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan intervensi, implementasi, dan evaluasi. Hasil studi menunjukkan bahwa kedua pasien mengalami diagnosis keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif dan hipertermia, dengan perbedaan pada diagnosis ketiga yaitu nausea pada klien usia 9 bulan dan gangguan rasa nyaman pada klien 2 usia 7 bulan. Intervensi yang diberikan meliputi manajemen jalan napas, regulasi temperatur, manajemen muntah, edukasi termoregulasi, dan pengaturan posisi. Evaluasi setelah tiga hari perawatan menunjukkan perbaikan kondisi klinis yang signifikan pada kedua pasien. Asuhan keperawatan yang sistematis, tepat, dan sesuai standar terbukti efektif dalam mendukung pemulihan anak dengan pneumonia, sehingga diharapkan laporan ini dapat menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa dan tenaga keperawatan dalam memberikan pelayanan keperawatan anak yang lebih optimal. Secara klinis menekankan pentingnya pendekatan individual berbasis manifestasi klinis, secara pendidikan memberikan contoh nyata penerapan proses keperawatan bagi mahasiswa, serta secara kebijakan mendorong peningkatan kompetensi perawat dan penguatan edukasi keluarga pasien demi mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PNEUMONIA DI RUANG DAHLIA B RSUD dr. H. JUSUF SK TARAKAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia merupakan infeksi paru yang menyebabkan peradangan alveoli sehingga mengganggu pertukaran gas dan pemenuhan kebutuhan oksigen. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada pasien pneumonia melalui lima tahapan proses keperawatan yaitu pengkajian, penegakan diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada dua pasien dengan pneumonia. Lokasi penelitian di RSUD. dr. H. Jusuf. SK. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil pengkajian menunjukkan kedua pasien mengalami sesak napas, peningkatan frekuensi pernapasan, penggunaan otot bantu napas, pola napas torakoabdominal, serta ronki. Pada kondisi tersebut dapat menyebabkan munculnya berbagai masalah keperawatan, antara lain pola napas tidak efektif, hipervolemia, hipertermia, gangguan pola tidur, dan intoleransi aktivitas. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tindakan keperawatan yang diberikan mampu membantu memperbaiki kondisi pasien, ditandai dengan adanya penurunan keluhan, peningkatan kemampuan aktivitas, serta perbaikan pola nafas secara bertahap. Selain itu, analisis komparatif pada kedua pasien menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan dalam respon pasien terhadap asuhan keperawatan yang diberikan. Penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif melalui lima tahapan proses keperawatan membantu mengatasi masalah keperawatan dan meningkatkan kondisi kesehatan pasien secara bertahap.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PNEUMONIA DI RSUD dr. H. JUSUF SK TARAKAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan dan berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar pasien. Kondisi ini sering menimbulkan keluhan sesak napas, batuk berdahak, peningkatan frekuensi napas, serta penurunan toleransi aktivitas sehingga memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan yang tepat. Laporan Tugas Akhir ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada dua pasien dengan diagnosis medis Pneumonia di ruang rawat inap Anggrek A RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penegakan diagnosis keperawatan, penyusunan intervensi, implementasi, dan evaluasi berdasarkan standar SDKI, SIKI, dan SLKI. Hasil pengkajian menunjukkan perbedaan keluhan utama pada kedua pasien, yaitu pasien 1 mengeluh batuk berdahak disertai sesak napas, sedangkan pasien 2 mengeluh sesak napas. Kesamaan data yang ditemukan pada kedua pasien meliputi takipnea, peningkatan kadar leukosit dan neutrofil, penurunan hemoglobin, serta kadar natrium rendah. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan meliputi bersihan jalan napas tidak efektif, pola napas tidak efektif, intoleransi aktivitas, nyeri akut, risiko defisit nutrisi, gangguan integritas kulit, gangguan mobilitas fisik, defisit perawatan diri, dan gangguan pola tidur. Intervensi keperawatan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien, meliputi manajemen jalan napas, manajemen nyeri, manajemen energi, pemantauan nutrisi, perawatan luka, dukungan mobilisasi, dukungan perawatan diri, dan dukungan tidur. Hasil evaluasi menunjukkan pada pasien 1 diagnosis risiko defisit nutrisi tidak terjadi selama masa perawatan, sedangkan diagnosis bersihan jalan napas tidak efektif, intoleransi aktivitas, dan nyeri akut belum teratasi. Pada pasien 2, diagnosis pola napas tidak efektif, defisit perawatan diri dan gangguan pola tidur berhasil teratasi, sedangkan diagnosis yang belum teratasi yaitu gangguan mobilitas fisik dan gangguan integritas kulit. Penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif dan terstruktur sesuai standar keperawatan diperlukan untuk membantu meningkatkan kondisi kesehatan pasien pneumonia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA

2026•

ABSTRAK Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, khususnya balita. Penyakit ini menyebabkan gangguan pertukaran gas akibat peradangan jaringan paru sehingga memerlukan asuhan keperawatan yang komprehensif. Studi ini bertujuan menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada dua anak dengan pneumonia melalui pendekatan proses keperawatan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua pasien anak yang didiagnosis pneumonia di Ruang Anggrek B RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan tahapan pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Kedua pasien menunjukkan diagnosis keperawatan berupa bersihan jalan napas tidak efektif, intoleransi aktivitas, hipertermia, nausea, risiko defisit nutrisi, dan gangguan pola tidur. Intervensi keperawatan mengacu pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), meliputi manajemen jalan napas, pemberian oksigen, pemantauan tanda vital, manajemen nutrisi, manajemen hipertermia, serta edukasi kepada keluarga. Setelah dilakukan implementasi selama masa perawatan, kondisi pasien menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan berkurangnya sesak napas, penurunan suhu tubuh, peningkatan toleransi aktivitas, serta membaiknya pola tidur dan nafsu makan. Penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif, sistematis, dan berkelanjutan mampu meningkatkan kondisi klinis anak dengan pneumonia serta mendukung kualitas pelayanan keperawatan pada pasien anak. Diharapakan dapat dilakukan pelatihan teknik batuk efektif pada orang tua dan tenaga kesehatan khususnya perawat dan selalu update ilmu-ilmu terbaru terkait teknik batuk efektif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN CEMARA RUMAH SAKIT UMUM KOTA TARAKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PPneumonia merupakan infeksi akut pada saluran napas bawah yang dapat mengakibatkan kesakitan bahkan kematian pada anak. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan secara menyeluruh proses asuhan keperawatan pada dua pasien anak dengan pneumonia, mulai dari pengkajian, menetapkan diagnosis keperawatan, perumusan tujuan, intervensi, hingga hasil evaluasi. Metode yang digunakan adalah studi kasus (case study) dengan pendekatan observasional analitik, pelaksanaan asuhan keperawatan dilaksanakan selama tiga hari pada dua pasien anak laki-laki dengan diagnosis medis pneumonia. Pengkajian menunjukan bahwa kedua pasien mengalami gejala utama berupa sesak napas dan batuk berdahak. Diagnosis keperawatan yang sama ditemukan pada kedua pasien meliputi: bersihan jalan napas tidak efektif dan defisit pengetahuan. Diagnosis keperawatan yang berbeda: pola napas tidak efektif, dan gangguan rasa nyaman. Intervensi keperawatan dan implementasi yang diberikan disesuaikan dengan permasalahan yang dialami pasien. Evaluasi akhir didapatkan pasien 1 dan pasien 2 dengan tiga diagnosis keperawatan semua dapat teratasi, pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan secara profesional dapat mengatasi permasalahan yang dialami oleh pasien.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN CEMARA RUMAH SAKIT UMUM KOTA TARAKAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PPneumonia merupakan infeksi akut pada saluran napas bawah yang dapat mengakibatkan kesakitan bahkan kematian pada anak. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan secara menyeluruh proses asuhan keperawatan pada dua pasien anak dengan pneumonia, mulai dari pengkajian, menetapkan diagnosis keperawatan, perumusan tujuan, intervensi, hingga hasil evaluasi. Metode yang digunakan adalah studi kasus (case study) dengan pendekatan observasional analitik, pelaksanaan asuhan keperawatan dilaksanakan selama tiga hari pada dua pasien anak laki-laki dengan diagnosis medis pneumonia. Pengkajian menunjukan bahwa kedua pasien mengalami gejala utama berupa sesak napas dan batuk berdahak. Diagnosis keperawatan yang sama ditemukan pada kedua pasien meliputi: bersihan jalan napas tidak efektif dan defisit pengetahuan. Diagnosis keperawatan yang berbeda: pola napas tidak efektif, dan gangguan rasa nyaman. Intervensi keperawatan dan implementasi yang diberikan disesuaikan dengan permasalahan yang dialami pasien. Evaluasi akhir didapatkan pasien 1 dan pasien 2 dengan tiga diagnosis keperawatan semua dapat teratasi, pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan secara profesional dapat mengatasi permasalahan yang dialami oleh pasien.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN PERILAKU MEROKOK ORANGTUA PADA BALITA YANG TERKENA PNEUMONIA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, terutama pada usia balita. Salah satu faktor risiko yang signifikan namun sering diabaikan adalah paparan asap rokok di lingkungan rumah tangga. Orangtua yang merokok dapat meningkatkan risiko anak terkena pneumonia, baik melalui paparan langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku merokok orangtua pada anak yang terkena pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo, Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 163 responden yang merupakan orangtua dari anak usia 1–5 tahun yang mengalami pneumonia. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan instrumen berupa kuesioner yang mencakup aspek durasi, frekuensi, dan intensitas merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua (89,0%) berada dalam kategori perilaku merokok sedang, 7,4% rendah, dan 3,6% tinggi. Mayoritas anak yang terkena pneumonia berusia 1–4 tahun (84,0%) dan sedikit lebih banyak berjenis kelamin laki-laki (50,3%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perilaku merokok orangtua di rumah memiliki potensi besar sebagai faktor risiko pneumonia pada anak, terutama di usia balita. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis edukasi kesehatan kepada orangtua untuk menurunkan paparan asap rokok di lingkungan rumah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI UPT PUSKESMAS TANJUNG PALAS

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia merupakan infeksi akut yang menyerang alveoli, menyebabkan sesak napas dan peningkatan frekuensi napas akibat peradangan paru secara tiba- tiba. Kasus pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Palas, Kalimantan Utara, menunjukkan peningkatan signifikan pada tahun 2022–2023. Faktor utama adalah lingkungan yang kurang sehat, seperti kondisi padat penduduk dan penggunaan rumah kayu yang tidak layak di Kabupaten Bulungan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian pneumonia balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Palas. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain Case Control. Penelitian ini melibatkan kelompok kasus yang terdiagnosa pneumonia dan kelompok kontrol yang terdiri dari balita yang tidak terdiagnosa pneumonia. Jumlah sampel penelitian ini adalah 72 responden balita di Puskesmas Tanjung Palas dengan teknik Probability Sampling. Hasil Penelitian ini sebagian besar memiliki responden berusia 12-23 bulan dan sebagian besar berjenis kelamin Laki-laki. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antaran kepadatan hunian dengan kejadian pneumonia pada balita p-value=0.91 (p>0,05), Ada hubungan yang signifikan antara jenis lantai dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p- value=0.00 (p0,05), Ada hubungan yang signifikan antara jenis dinding dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p-value=0.00 (p0,05), Ada hubungan yang signifikan antara luas ventilasi dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p-value=0.00 (p0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antaran luas jendela dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.058 (p>0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antara atap dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.192 (p>0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antara pencahayaan dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.567 (p>0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antara suhu dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.394 (p>0,05), Ada hubungan yang signifikan antara langit-langit rumah dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p-value=0,034 (p0,05) maka Ho ditolak.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN STATUS IMUNISASI DASAR DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI KOTA TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia adalah radang jaringan paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan juga parasit. Penyakit pneumonia banyak terjadi pada anak usia 5 tahun. Balita adalah anak yang sudah menginjak usia satu sampai lima tahun. Sekitar 19.000 anak di Indonesia mengalami kematian pada tahun 2018 yang disebabkan oleh pneumonia. Jumlah kasus pneumonia wilayah kota Tarakan sendiri mencapai 553 kasus. Status imunisasi dasar yang tidak lengkap merupakan salah satu faktor risiko penyebab pneumonia pada balita Capaian imunisasi dasar di Kota Tarakan menurut data terakhir dari Dinas Kesehatan Kota Tarakan tahun 2023 baru mencapai 72% yang artinya masih dibawah target capaian imunisasi nasional yaitu 90%, dengan demikian resiko balita terkena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Kota Tarakan masih sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian Pneumonia pada balita di Kota Tarakan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus kontrol (Case control study) dengan teknik pendekatan retrospektif. Sampel diambil dengan teknik uji hipotesis 2 proporsi sebanyak 36 balita kelompok control dan 36 balita kelompok kasus. Data balita dengan pneumonia dan bukan pneumonia diperoleh dari rekam medis dan untuk catatan imunisasi dasar diperoleh dari catatan rekam medis serta buku KIA (kesehatan Ibu dan Anak). Analisis data menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan 32 dari 36 balita yang terdiagnosis pneumonia memiliki riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap. Hasil analisis menunjukan adanya hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian pneumonia pada balita di kota Tarakan dengan nilai p value 0.001 (0.05). Diharapkan anak-anak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap untuk mencegah pneumonia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail