Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

LAILATUL FAUZIAH

4 karya publik ditemukan.

2025: 22024: 2

PERBANDINGAN PEMBERIAN INTERVENSI WATER TEPID SPONGE DAN PLESTER KOMPRES DEMAM PADA ANAK DENGAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN HIPERTERMIA

2025 · Book ·

Latar belakang: Masa tumbuh kembang anak sangat rentan diserang berbagai penyakit. Sistem imun yang rendah menyebabkan anak kerap mengalami penyakit seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Penyebab dari penyakit infeksi saluran pernafasan akut yaitu virus, jamur dan bakteri. Ketika tubuh terinfeksi oleh mikroorganisme seperti virus dan bakteri, proses infeksi tersebut akan merangsang pembentukan IL-1 dan IL-2 yang bertanggungjawab atas peningkatan sel T-helper dan memulai produksi prostaglandin di hipotalamus. Sel T-helper bekerja memberantas infeksi, prostaglandin bertangung jawab menyebabkan demam. Demam adalah sinyal yang diberikan oleh tubuh saat terjadi infeksi ditandai dengan peningkatkan suhu tubuh >37.5 ⸰C. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam pada anak yaitu dengan tindakan farmakologi dan nonfarmakologi. Pemberian intervensi water tepid sponge dan plester kompres demam merupakan contoh dari tindakan normafakolgi dalam menurunkan suhu tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penerapan intervensi water tepid sponge dengan plester kompres demam pada anak dengan diagnosis keperawatan hipertermia. Metode penulisan menggunakan studi kasus. Jumlah sampel 2 responden. Hasil: Hasil penerapan intervensi selama 3×24 jam pada An. R dan An. S menunjukkan selisih rata-rata penurunan suhu tubuh anak dengan intervensi water tepid sponge yaitu 0,75 ⸰C dan pemberian plester kompres demam adalah 0,35 ⸰C. Kesimpulan: pemberian intervensi water tepid sponge lebih efektif dibandingkan dengan plester kompres demam dalam menurunkan suhu tubuh pada anak dengan hipetermia.

PERBANDINGAN PEMBERIAN INTERVENSI WATER TEPID SPONGE DAN PLESTER KOMPRES DEMAM PADA ANAK DENGAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN HIPERTERMIA

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang: Masa tumbuh kembang anak sangat rentan diserang berbagai penyakit. Sistem imun yang rendah menyebabkan anak kerap mengalami penyakit seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Penyebab dari penyakit infeksi saluran pernafasan akut yaitu virus, jamur dan bakteri. Ketika tubuh terinfeksi oleh mikroorganisme seperti virus dan bakteri, proses infeksi tersebut akan merangsang pembentukan IL-1 dan IL-2 yang bertanggungjawab atas peningkatan sel T-helper dan memulai produksi prostaglandin di hipotalamus. Sel T-helper bekerja memberantas infeksi, prostaglandin bertangung jawab menyebabkan demam. Demam adalah sinyal yang diberikan oleh tubuh saat terjadi infeksi ditandai dengan peningkatkan suhu tubuh >37.5 ⸰C. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam pada anak yaitu dengan tindakan farmakologi dan nonfarmakologi. Pemberian intervensi water tepid sponge dan plester kompres demam merupakan contoh dari tindakan normafakolgi dalam menurunkan suhu tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penerapan intervensi water tepid sponge dengan plester kompres demam pada anak dengan diagnosis keperawatan hipertermia. Metode penulisan menggunakan studi kasus. Jumlah sampel 2 responden. Hasil: Hasil penerapan intervensi selama 3×24 jam pada An. R dan An. S menunjukkan selisih rata-rata penurunan suhu tubuh anak dengan intervensi water tepid sponge yaitu 0,75 ⸰C dan pemberian plester kompres demam adalah 0,35 ⸰C. Kesimpulan: pemberian intervensi water tepid sponge lebih efektif dibandingkan dengan plester kompres demam dalam menurunkan suhu tubuh pada anak dengan hipetermia.

HUBUNGAN STATUS IMUNISASI DASAR DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI KOTA TARAKAN

2024 · Book ·

Pneumonia adalah radang jaringan paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan juga parasit. Penyakit pneumonia banyak terjadi pada anak usia 5 tahun. Balita adalah anak yang sudah menginjak usia satu sampai lima tahun. Sekitar 19.000 anak di Indonesia mengalami kematian pada tahun 2018 yang disebabkan oleh pneumonia. Jumlah kasus pneumonia wilayah kota Tarakan sendiri mencapai 553 kasus. Status imunisasi dasar yang tidak lengkap merupakan salah satu faktor risiko penyebab pneumonia pada balita Capaian imunisasi dasar di Kota Tarakan menurut data terakhir dari Dinas Kesehatan Kota Tarakan tahun 2023 baru mencapai 72% yang artinya masih dibawah target capaian imunisasi nasional yaitu 90%, dengan demikian resiko balita terkena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Kota Tarakan masih sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian Pneumonia pada balita di Kota Tarakan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus kontrol (Case control study) dengan teknik pendekatan retrospektif. Sampel diambil dengan teknik uji hipotesis 2 proporsi sebanyak 36 balita kelompok control dan 36 balita kelompok kasus. Data balita dengan pneumonia dan bukan pneumonia diperoleh dari rekam medis dan untuk catatan imunisasi dasar diperoleh dari catatan rekam medis serta buku KIA (kesehatan Ibu dan Anak). Analisis data menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan 32 dari 36 balita yang terdiagnosis pneumonia memiliki riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap. Hasil analisis menunjukan adanya hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian pneumonia pada balita di kota Tarakan dengan nilai p value 0.001 (0.05). Diharapkan anak-anak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap untuk mencegah pneumonia.

HUBUNGAN STATUS IMUNISASI DASAR DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI KOTA TARAKAN

2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pneumonia adalah radang jaringan paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan juga parasit. Penyakit pneumonia banyak terjadi pada anak usia 5 tahun. Balita adalah anak yang sudah menginjak usia satu sampai lima tahun. Sekitar 19.000 anak di Indonesia mengalami kematian pada tahun 2018 yang disebabkan oleh pneumonia. Jumlah kasus pneumonia wilayah kota Tarakan sendiri mencapai 553 kasus. Status imunisasi dasar yang tidak lengkap merupakan salah satu faktor risiko penyebab pneumonia pada balita Capaian imunisasi dasar di Kota Tarakan menurut data terakhir dari Dinas Kesehatan Kota Tarakan tahun 2023 baru mencapai 72% yang artinya masih dibawah target capaian imunisasi nasional yaitu 90%, dengan demikian resiko balita terkena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Kota Tarakan masih sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian Pneumonia pada balita di Kota Tarakan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus kontrol (Case control study) dengan teknik pendekatan retrospektif. Sampel diambil dengan teknik uji hipotesis 2 proporsi sebanyak 36 balita kelompok control dan 36 balita kelompok kasus. Data balita dengan pneumonia dan bukan pneumonia diperoleh dari rekam medis dan untuk catatan imunisasi dasar diperoleh dari catatan rekam medis serta buku KIA (kesehatan Ibu dan Anak). Analisis data menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan 32 dari 36 balita yang terdiagnosis pneumonia memiliki riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap. Hasil analisis menunjukan adanya hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian pneumonia pada balita di kota Tarakan dengan nilai p value 0.001 (0.05). Diharapkan anak-anak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap untuk mencegah pneumonia.