ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 6 - 23 BULAN DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS TANJUNG SELOR Abstrak Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 19,8%, yang masih berada di atas target nasional sebesar 14,2%. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor, prevalensi stunting masih bervariasi antar desa/kelurahan sehingga menunjukkan stunting masih menjadi masalah kesehatan di tingkat lokal. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan kejadian stunting, antara lain kualitas pelayanan antenatal care (ANC), berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, dan tingkat pengetahuan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 93 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas ANC yang baik 67,7%, bayi lahir dengan berat badan normal 69,9%, tidak mendapatkan ASI eksklusif 69,9%, dan ibu memiliki tingkat pengetahuan rendah 44,1%. Mayoritas balita mengalami stunting 51,6%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas ANC p=0,049, berat badan lahir p=0,004, pemberian ASI eksklusif p=0,044, dan tingkat pengetahuan ibu p=0,001 dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan. Kesimpulan dari penelitian ini kualitas ANC, berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, dan tingkat pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan ANC melalui skrining kesehatan ibu hamil secara komprehensif, pemantauan status gizi ibu dan janin, konseling gizi, promosi ASI eksklusif, serta peningkatan pengetahuan ibu sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi jangka panjang. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup anak. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stunting adalah sanitasi lingkungan yang buruk, karena dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi berulang yang mengganggu penyerapan zat gizi. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui apakah ada hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Metode pada penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case-control. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik random sampling dengan rasio kasus dan kontrol 1:1, sehingga total sampel sebanyak 100 responden yang terdiri atas 50 kelompok kasus dan 50 kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p=0,001 (p0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi tidak memenuhi syarat memiliki risiko 87,1 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat (OR=87,1). Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Underweight masih menjadi salah satu permasalahan gizi pada balita yang dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Status gizi ibu selama kehamilan merupakan salah satu faktor yang diduga berperan dalam mendukung pertumbuhan janin dan berpotensi memengaruhi status gizi anak pada masa balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status gizi ibu selama kehamilan dengan underweight pada balita di Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian berjumlah 67 balita usia 12–59 bulan dengan kategori underweight dan severely underweight yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari buku kohort ibu hamil, buku register ibu hamil, dan rekam medis balita underweight periode tahun 2020–2025. Status gizi ibu selama kehamilan diukur menggunakan Lingkar Lengan Atas (LILA) dan dikategorikan menjadi Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan tidak KEK, sedangkan tingkat keparahan underweight ditentukan berdasarkan indikator Berat Badan menurut Umur (BB/U). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 ibu (59,7%) mengalami KEK dan 27 ibu (40,3%) tidak mengalami KEK. Sebanyak 43 balita (64,2%) termasuk kategori underweight dan 24 balita (35,8%) termasuk kategori severely underweight. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi ibu selama kehamilan dengan tingkat keparahan underweight pada balita. Disimpulkan bahwa status gizi ibu selama kehamilan berdasarkan pengukuran LILA tidak berhubungan secara signifikan dengan underweight pada balita.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Sosial ekonomi menjadi salah satu penyebab tidak langsung yang menyebabkan gangguan gizi, terutama pada anak balita. Komponen faktor sosial ekonomi terdiri dari pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan. Penelitian ini akan meneliti ketiga indikator utama, yaitu pendidikan orang tua, pekerjaan ibu, dan penghasilan keluarga karena ketiga komponen ini memiliki peran signifikan dan saling berhubungan dalam menentukan kualitas gizi balita. Penelitian dilakukan dengan metode non eksperimental kuantitatif menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional di Posyandu Padaidi Kelurahan Selumit Pantai Kota Tarakan. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non Probability Sampling dengan pendekatan Accidental Sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar karakteristik dengan pengukuran sosial ekonomi yang meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan ibu, dan penghasilan keluarga. Serta, status gizi balita yang diambil berdasarkan perbandingan berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan Uji Fisher's Exact Test. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ayah (p=0,394), pendidikan ibu (p=0,602), dan pekerjaan ibu (p=0,638) dengan status gizi balita di Posyandu Padaidi Kelurahan Selumit Pantai Kota Tarakan. Faktor penghasilan berhubungan dengan status gizi balita di Posyandu tersebut dengan nilai p=0,034. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan pengetahuan mengenai pemilihan bahan makanan bergizi, pengolahan makanan, dan variasi makanan yang sesuai dengan kemampuan keluarga untuk meningkatkan gizi balita.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat, khususnya pada balita di wilayah pesisir. Kondisi sanitasi lingkungan yang kurang memadai dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi yang berdampak pada gangguan pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sarana air bersih, sarana jamban, sarana saluran pembuangan air limbah, sarana pembuangan sampah dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan tahun 2026. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross-sectional, melibatkan 71 sampel yang diambil dengan teknik random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sarana air bersih (p=0,399>p=0,05) dan sarana jamban (p=0,965>p=0,05) dengan kejadian stunting. Terdapat hubungan signifikan sarana pengelolaan sampah (p=0,002
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Balita berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang krusial, membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Malnutrisi pada usia ini dapat terjadi karena keterbatasan pengetahuan ibu tentang makanan bergizi dan kondisi ekonomi keluarga yang kurang baik. Kedua faktor tersebut berkontribusi signifikan terhadap risiko stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keterkaitan antara tingkat pengetahuan ibu dan status ekonomi keluarga dengan kejadian stunting pada balita di area kerja Puskesmas Pantai Amal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 85 responden dijadikan sampel melalui teknik total sampling, dan analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman rank untuk mengevaluasi hubungan antarvariabel. Hasil dari 85 responden yang diteliti, sebagian besar ibu berada pada rentang usia 26 –35 tahun (80,0%), dengan mayoritas balita berusia 2 tahun (30,6%) dan berjenis kelamin perempuan (51,8%). Berdasarkan penilaian pengetahuan, 63 ibu (74,1%) tergolong memiliki pengetahuan baik. Sementara itu, sebagian besar keluarga (55 orang atau 64,7%) termasuk dalam kategori ekonomi cukup. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu serta status ekonomi keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal. Toddlers are at a critical stage of growth and development and require adequate nutritional intake to meet their physiological needs. Malnutrition at this age may occur due to limited maternal knowledge regarding nutritious foods and unfavorable family economic conditions. Both factors contribute significantly to the risk of stunting. This study aimed to assess the relationship between maternal knowledge level and family socioeconomic status and the incidence of stunting among toddlers in the service area of Pantai Amal Primary Health Center. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 85 respondents were included using a total sampling technique, and data analysis was conducted using the Spearman rank correlation test to evaluate the relationships among variables. Of the 85 respondents, most mothers were aged 26–35 years (80.0%), while the majority of toddlers were 2 years old (30.6%) and female (51.8%). Based on the assessment of maternal knowledge, 63 mothers (74.1%) were categorized as having good knowledge. Meanwhile, most families (55 respondents or 64.7%) were classified as having a moderate socioeconomic status. The findings indicate a significant relationship between maternal knowledge level and family socioeconomic status and the incidence of stunting among toddlers in the service area of Pantai Amal Primary Health Center.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Gizi buruk adalah masalah serius yang bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Di Kota Tarakan, data dari EPPGBM 2020 menunjukkan angka gizi buruk sebesar 9.1% untuk anak yang kurus, 14% anak dengan gizi buruk, dan 4.0% anak yang mengalami wasting. Penelitian ini bertujuan membuat aplikasi mobile berbasis Android untuk mengklasifikasikan kondisi gizi buruk pada balita dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang diintegrasikan dengan standar WHO. Penelitian ini menggunakan metode R&D model Borg and Gall. Aplikasi dikembangkan menggunakan Flutter, Dart, dan database Hive. Aplikasi ini mengintegrasikan perhitungan Z-Score sesuai standar WHO dan analisis kuesioner gejala berdasarkan pedoman MTBS. Uji coba dilakukan pada 20 sampel balita, hasilnya menunjukkan aplikasi mampu mendeteksi 70% kasus malnutrisi, terdiri dari 40% kasus gizi buruk dan 30% kasus gizi kurang. Dengan metode AHP, gejala pernapasan dan dehidrasi diberi bobot prioritas tertinggi sebesar 0.248 dengan Consistency Ratio 0.061. Evaluasi kesan pengguna dari 20 responden menunjukkan rata-rata kepuasan sebesar 4.5 hingga 4.65 dari skala 5, dengan kemudahan penggunaan yang tertinggi yaitu 4.65. Uji Blackbox menunjukkan semua fitur aplikasi berjalan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Aplikasi ini bisa memudahkan deteksi dini gizi buruk pada balita dan mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi angka gizi buruk pada anak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pneumonia merupakan infeksi akut yang menyerang alveoli, menyebabkan sesak napas dan peningkatan frekuensi napas akibat peradangan paru secara tiba- tiba. Kasus pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Palas, Kalimantan Utara, menunjukkan peningkatan signifikan pada tahun 2022–2023. Faktor utama adalah lingkungan yang kurang sehat, seperti kondisi padat penduduk dan penggunaan rumah kayu yang tidak layak di Kabupaten Bulungan. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian pneumonia balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Palas. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain Case Control. Penelitian ini melibatkan kelompok kasus yang terdiagnosa pneumonia dan kelompok kontrol yang terdiri dari balita yang tidak terdiagnosa pneumonia. Jumlah sampel penelitian ini adalah 72 responden balita di Puskesmas Tanjung Palas dengan teknik Probability Sampling. Hasil Penelitian ini sebagian besar memiliki responden berusia 12-23 bulan dan sebagian besar berjenis kelamin Laki-laki. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antaran kepadatan hunian dengan kejadian pneumonia pada balita p-value=0.91 (p>0,05), Ada hubungan yang signifikan antara jenis lantai dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p- value=0.00 (p0,05), Ada hubungan yang signifikan antara jenis dinding dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p-value=0.00 (p0,05), Ada hubungan yang signifikan antara luas ventilasi dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p-value=0.00 (p0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antaran luas jendela dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.058 (p>0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antara atap dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.192 (p>0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antara pencahayaan dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.567 (p>0,05), Tidak ada hubungan yang signifikan antara suhu dengan kejadian pneumonia pada balita dengan p-value=0.394 (p>0,05), Ada hubungan yang signifikan antara langit-langit rumah dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai p-value=0,034 (p0,05) maka Ho ditolak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Partisipasi ibu balita ke Posyandu merupakan salah satu indikator penting dalam perkembangan anak, namun tingkat kunjungan yang belum merata menunjukkan bahwa masih terdapat ibu yang belum sepenuhnya memanfaatkan layanan ini secara rutin. Berbagai faktor seperti kesibukan, kurangnya informasi, atau persepsi terhadap manfaat Posyandu dapat memengaruhi partisipasi tersebut. Keterlibatan ibu dalam kegiatan Posyandu berperan penting dalam deteksi dini dan pencegahan gangguan perkembangan balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara partisipasi ibu dalam kegiatan Posyandu dengan perkembangan balita di wilayah Puskesmas Tideng Pale. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan metode observasional analitik korelatif. Sampel berjumlah 149 responden, ditentukan menggunakan rumus Slovin dan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner partisipasi ibu dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang aktif dalam kegiatan Posyandu memiliki balita dengan perkembangan sesuai usia. Terdapat hubungan yang signifikan antara partisipasi ibu dan perkembangan balita (p 0,05). Berdasarkan temuan ini, penting bagi puskesmas dan kader posyandu untuk meningkatkan partisipasi ibu melalui edukasi dan pelayanan yang lebih menarik agar perkembangan pada balita dapat terpantau optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Saat ini, stunting merupakan salah satu tantangan gizi terbesar dunia, terutama di negara berkembang. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada anak, yang disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dalam jangka waktu yang lama. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan adanya hubungan pernikahan usia dini ibu dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Mansalong Kecamatan Lumbis, metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non experiment dengan metode survei analitik dan pendekatan case control yang dimana sampel balita stunting sebanyak 57 responden dan sampel balita tidak stunting juga berjumlah 57 responden. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel indenpenden yaitu pernikahan dini ibu dan variabel dependen adalah stunting. Berdasarkan hasil uji korelasi menggunakan uji Chi–square didapatkan hasil tidak signifikan dengan p-value sebesar 0.430, oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho diterima yang artinya tidak ada hubungan antara pernikahan dini ibu dengan kejadian stunting pada balita
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu upaya yang dilakukan dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita yaitu dengan meningkatkan program kesehatan anak, salah satunya adalah mengadakan kelas ibu balita. Kegiatan kelas ibu balita adalah media untuk belajar dalam kelompok tatap muka tentang kesehatan ibu dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu tentang perawatan pada anak usia 0-5 tahun dan perawatan bayi baru lahir melalui praktik menggunakan buku KIA (Maternal and Child) Kesehatan). Di Puskesmas Long Loreh masih kurangnya partisipasi ibu dalam kegiatan kelas ibu balita sehingga kelas menjadi kurang efektif. Selama ini tingkat kehadiran ibu balita pada saat penyelenggaraan kelas hanya sekitar 7 orang (50% ) yang hadir dari total ideal jumlah peserta yaitu 15 peserta. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan keikutsertaan ibu pada kelas ibu balita. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Long Loreh, dengan metode penelitian bersifat kuantitatif. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan design cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Long Loreh sejumlah 86 ibu. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan random sampling. Sehingga didapatkan responden sebanyak 46 ibu. Responden diberikan kuesioner untuk menilai tingkat pengetahuan ibu tentang kelas ibu balita, analisis bivariat menggunakan chis square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pengetahuan ibu tentang kelas ibu balita dengan keikutsertaan ibu dalam kelas ibu balita dengan menilai P-Value 0,0010,05. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi terhadap petugas kesehatan khususnya puskesmas hendaknya melakukan sosialisasi kepada masyarakat khususnya ibu balita agar mengikuti kelas ibu balita untuk meningkatkan pengetahuan ibu dalam merawat dan mengasuh anaknya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pendahuluan: Puskesmas Malinau Seberang masih ditemukan 34 balita stunting, sehingga langkah pencegahan harus segera dilakukan oleh tenaga kesehatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memastikan pemberian makanan pendamping ASI yang adekuat dan benar dengan memberikan video edukasi dan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan ibu yang memiliki anak balita. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis Perbandingan Metode Kelas Ibu Balita dengan penyuluhan Home visit terhadap pengetahuan ibu balita tetang makanan pendamping ASI (MPASI) Puskesmas malinau seberang Kalimantan Utara. Subjek dan Metode: Desain penelitian quasy eksperiment dilaksanakan pada bulan Mei - Juni tahun 2024 dan berlokasi di wilayah Malinau Seberang, Kalimantan Utara. Sampel penelitian 30 orang yang terbagi menjadi 15 kelompok Kelas ibu balita dan 15 kelompok Home visit. Outcome adalah pengetahuan ibu tentang pemberian MPASI. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis statistic adalah Mann Whitney. Hasil: Analisis Mann- Whitney menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok ibu balita dan kelompok home visit karena nilai p value 0.169 > 0.05. Meski demikian pada kelompok home visit rerata nilai lebih tinggi dari kelompok kelas ibu balita. Kesimpulan: Hasil ini menginterpretasikan bahwa pemberian kelas ibu balita ataupun home visit sama-sama dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang MP ASI.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pneumonia adalah radang jaringan paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan juga parasit. Penyakit pneumonia banyak terjadi pada anak usia 5 tahun. Balita adalah anak yang sudah menginjak usia satu sampai lima tahun. Sekitar 19.000 anak di Indonesia mengalami kematian pada tahun 2018 yang disebabkan oleh pneumonia. Jumlah kasus pneumonia wilayah kota Tarakan sendiri mencapai 553 kasus. Status imunisasi dasar yang tidak lengkap merupakan salah satu faktor risiko penyebab pneumonia pada balita Capaian imunisasi dasar di Kota Tarakan menurut data terakhir dari Dinas Kesehatan Kota Tarakan tahun 2023 baru mencapai 72% yang artinya masih dibawah target capaian imunisasi nasional yaitu 90%, dengan demikian resiko balita terkena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Kota Tarakan masih sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian Pneumonia pada balita di Kota Tarakan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus kontrol (Case control study) dengan teknik pendekatan retrospektif. Sampel diambil dengan teknik uji hipotesis 2 proporsi sebanyak 36 balita kelompok control dan 36 balita kelompok kasus. Data balita dengan pneumonia dan bukan pneumonia diperoleh dari rekam medis dan untuk catatan imunisasi dasar diperoleh dari catatan rekam medis serta buku KIA (kesehatan Ibu dan Anak). Analisis data menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan 32 dari 36 balita yang terdiagnosis pneumonia memiliki riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap. Hasil analisis menunjukan adanya hubungan antara status imunisasi dasar dengan kejadian pneumonia pada balita di kota Tarakan dengan nilai p value 0.001 (0.05). Diharapkan anak-anak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap untuk mencegah pneumonia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA BALITA STUNTING USIA 12 – 59 BULAN DI PUSKESMAS SEBENGKOK Abstrak Latar belakang: Pemberian makanan tambahan (PMT) atau suplementasi gizi khususnya bagi balita merupakan salah satu strategi peningkatan akses pangan bergizi untuk pemenuhan kebutuhan balita dalam mengatasi masalah gizi. Karena berdasarkan data Survei Diet Total (SDT) tahun 2014 menunjukan masih kurangnya konsumsi harian balita dari kebutuhannya berdasarkan angka kecukupan gizi. Lebih dari separuh balita (55,7%) mempunyai asupan energi yang kurang dari Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan (Kemenkes, 2019). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan tambahan dengan perubahan berat badan pada balita stunting usia 12 – 59 bulan di Puskesmas Sebengkok. Metode: Penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan kasus Cross Sectional dengan tehnik pengambilan sampel dengan Total Sampling. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 135 Balita Pengambilan sampel dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sebengkok bulan Mei 2024. Analisis yang digunakan adalah analisis Chi-Square. Hasil: Hasil Penelitian dengan perhitungan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai p-value (kemaknaan) sebesar 0,001. Oleh karena itu, nilai p-value menunjukkan kemaknaan atau p 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian makanan tambahan dengan perubahan berat badan pada balita stunting usia 12–59 bulan. Kesimpulan: Terdapat Hubungan pemberian makanan tambahan dengan perubahan berat badan pada balita stunting usia 12 – 59 bulan dengan hasil nilai kenaikan BB setelah diberikan PMT dengan persentase 79,3% dan nilai p-value (kemaknaan) sebesar 0,001 ( p 0,005). Kata Kunci: PMT, Balita, Stunting
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Pola makan ialah cara dalam mengatur jumlah dan jenis makanan yang seimbang dengan porsi cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan status gizi balita. Pengetahuan ibu tentang pola makan berpengaruh terhadap pemberian pola makan yang sehat pada balita, hal ini dikarenakan ibu pemegang peran penting dalam menyediakan makanan untuk keluarga terutama balita. Tujuan: Tujuan penilitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi pola makan sehat terhadap tingkat pengetahuan ibu balita dalam upaya peningkatan status gizi balita. Metode: Desain penelitian ini menggunakan pretest yang digunakan sebelum diberi perlakuan dan posttest yang digunakan setelah perlakuan, dengan metode penelitian Pre Experimental Study yang memiliki rancangan One Group Pre-Test Post-Test. Total sampel dalam penelitian ini sebanyak 32 responden. Dengan tekink pengambilan sampel purposive sampling. Hasil: Ada perbedaan antara pengetahuan sebelum dan setelah diberikan edukasi dengan nilai p-value 0,000(0,05) yang artinya ada perbedaan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang pola makan dengan status gizi balita di Posyandu Mawar Kelurahan Juata Laut. Oleh karena itu, diperlukan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pola makan melalui penyuluhan agar ibu dapat memberikan pola makan yang sehat dengan memantau status gizi balita secara teratur guna menjaga status gizi yang baik dan mencegah terjadinya masalah status gizi pada balita.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Masa balita merupakan masa kritis yang sering dikaitkan dengan masalah kebutuhan gizi balita. Ibu sebagai pengasuh memiliki peranan yang penting dalam pemenuhan gizi pada balita mulai dari pemberian ASI, pemilihan makanan dan pola makan serta pemantauan pertumbuhan dan kesehatan balita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran perilaku ibu terhadap pemenuhan gizi pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Deskriptif Analitik. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 55 orang ibu dengan anak berusia 1-5 tahun. Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan teknik accidental sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil ibu balita yang memiliki perilaku baik dalam pemberian ASI Eksklusif, pemberian pola makan anak dan perilaku ibu terhadap tugas kesehatan keluarga sebanyak 54 orang (98,2%). Gambaran perilaku ibu terhadap pemenuhan gizi balita berada pada kategori positif. Peneliti selanjutnya direkomendasikan menggunakan sampel yang lebih banyak serta menghubungkan faktor perilaku ibu terhadap tugas kesehatan keluarga dalam pemenuhan gizi balita.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stunting merupakan kondisi dimana balita dinyatakan memiliki panjang atau tinggi yang pendek dibanding dengan umur. Faktor penyebab stunting antara lain ; kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat kehamilan serta setelah persalinan, postur tubuh ibu (pendek), jarak kehamilan yang terlalu dekat, ibu yang terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, serta asupan nutrisi yang kurang pada saat kehamilan, tidak terlaksananya Inisiasi Menyusui Dini (IMD), gagalnya pemberian ASI Eksklusif, dan proses penyapihan dini, kuantitas, kualitas, dan keamanan pangan MP-ASI yang diberikan dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting (Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia, 2018). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubugan Asi ekslusif dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Sebengkok Kota Tarakan. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik, dengan pendekatan dengan cross sectional. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 46 balita dan sampel 31 balita dengan menggunakan teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling yaitu dengan cara purposive sampling. Dari penelitian yang penulis lakukan terdapat 23 balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif kemudian 8 balita yang diberikan ASI Eksklusif sehingga dari hasil uji chi-square terdapat hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas sebengkok yang didapatkan hasil p-value = 0,000 yang memiliki arti H1 diterima.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
ABSTRAK Balita adalah anak yang berumur 0-59 bulan, pada masa ini ditandai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan disertai dengan perubahan yang memerlukan zat-zat gizi yang jumlahnya lebih banyak dengan kualitas yang tinggi (Ariani, 2017). Balita sangat rentan terhadap kelainan gizi karena pada saat ini mereka membutuhkan nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita yaitu faktor secara langsung yakni, kurangnya asupan makanan, dan penyakit infeksi yang mungkin di derita si Anak dan faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung yaitu: pendapatan orang tua, ketersediaan pangan dalam rumah tangga, pola makan, sanitasi lingkungan, pelayanan kesehatan, pekerjaan orang tua, dan pengetahuan. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu mengenai status gizi pada balita usia 3 – 5 tahun menurut BB/TB.penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Teknik pengambilan Sampel dalam penelitian ini menggunakan Purposive Sampling, populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 3 - 5 tahun dengan jumlah sampel 67 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner yang diedarkan secara tertulis berupa formulir untuk mendapatkan tanggapan, informasi dan jawaban. Berdasarkan hasil penelitian terdapa 55 responden yang memiliki pengetahuan baik (82%), 11 responden yang memiliki pengetahuan cukup (16%), 0 responden yang memiliki pengetahuan kurang (0%).Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan wawasan terkait tentang status gizi balita disegala .