2026 · Book ·
Diare masih menjadi masalah kesehatan utama khususnya pada anak, karena berisiko menimbulkan dehidrasi, gangguan elektrolit, dan malnutrisi. Penatalaksanaan standar diare meliputi pemberian oralit, zinc, dan ASI, namun pada beberapa kasus frekuensi buang air besar (BAB) masih tinggi sehingga diperlukan terapi komplementer. Madu diketahui memiliki efek antibakteri, antiinflamasi, dan prebiotik yang berpotensi membantu mempercepat pemulihan diare. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penerapan pemberian madu terhadap penurunan frekuensi BAB pada anak dengan diare. Penelitian menggunakan desain laporan kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada dua anak usia prasekolah yang mengalami diare. Data dikumpulkan melalui pengkajian keperawatan, observasi, wawancara dengan orang tua, dan pemantauan frekuensi serta konsistensi feses selama tiga hari. Intervensi inovatif berupa pemberian madu murni dosis 2,5 cc yang dilarutkan dalam 10 cc air hangat, diberikan tiga kali sehari selama 3 hari. Hasil menunjukkan adanya penurunan frekuensi BAB dan perbaikan konsistensi feses pada kedua klien. Disimpulkan bahwa pemberian madu efektif sebagai terapi komplementer dalam menurunkan frekuensi diare pada anak.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diare masih menjadi masalah kesehatan utama khususnya pada anak, karena berisiko menimbulkan dehidrasi, gangguan elektrolit, dan malnutrisi. Penatalaksanaan standar diare meliputi pemberian oralit, zinc, dan ASI, namun pada beberapa kasus frekuensi buang air besar (BAB) masih tinggi sehingga diperlukan terapi komplementer. Madu diketahui memiliki efek antibakteri, antiinflamasi, dan prebiotik yang berpotensi membantu mempercepat pemulihan diare. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penerapan pemberian madu terhadap penurunan frekuensi BAB pada anak dengan diare. Penelitian menggunakan desain laporan kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada dua anak usia prasekolah yang mengalami diare. Data dikumpulkan melalui pengkajian keperawatan, observasi, wawancara dengan orang tua, dan pemantauan frekuensi serta konsistensi feses selama tiga hari. Intervensi inovatif berupa pemberian madu murni dosis 2,5 cc yang dilarutkan dalam 10 cc air hangat, diberikan tiga kali sehari selama 3 hari. Hasil menunjukkan adanya penurunan frekuensi BAB dan perbaikan konsistensi feses pada kedua klien. Disimpulkan bahwa pemberian madu efektif sebagai terapi komplementer dalam menurunkan frekuensi diare pada anak.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pola makan ialah cara dalam mengatur jumlah dan jenis makanan yang seimbang dengan porsi cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan status gizi balita. Pengetahuan ibu tentang pola makan berpengaruh terhadap pemberian pola makan yang sehat pada balita, hal ini dikarenakan ibu pemegang peran penting dalam menyediakan makanan untuk keluarga terutama balita. Tujuan: Tujuan penilitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi pola makan sehat terhadap tingkat pengetahuan ibu balita dalam upaya peningkatan status gizi balita. Metode: Desain penelitian ini menggunakan pretest yang digunakan sebelum diberi perlakuan dan posttest yang digunakan setelah perlakuan, dengan metode penelitian Pre Experimental Study yang memiliki rancangan One Group Pre-Test Post-Test. Total sampel dalam penelitian ini sebanyak 32 responden. Dengan tekink pengambilan sampel purposive sampling. Hasil: Ada perbedaan antara pengetahuan sebelum dan setelah diberikan edukasi dengan nilai p-value 0,000(0,05) yang artinya ada perbedaan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang pola makan dengan status gizi balita di Posyandu Mawar Kelurahan Juata Laut. Oleh karena itu, diperlukan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pola makan melalui penyuluhan agar ibu dapat memberikan pola makan yang sehat dengan memantau status gizi balita secara teratur guna menjaga status gizi yang baik dan mencegah terjadinya masalah status gizi pada balita.
2023 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Pola makan ialah cara dalam mengatur jumlah dan jenis makanan yang seimbang dengan porsi cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan status gizi balita. Pengetahuan ibu tentang pola makan berpengaruh terhadap pemberian pola makan yang sehat pada balita, hal ini dikarenakan ibu pemegang peran penting dalam menyediakan makanan untuk keluarga terutama balita. Tujuan: Tujuan penilitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi pola makan sehat terhadap tingkat pengetahuan ibu balita dalam upaya peningkatan status gizi balita. Metode: Desain penelitian ini menggunakan pretest yang digunakan sebelum diberi perlakuan dan posttest yang digunakan setelah perlakuan, dengan metode penelitian Pre Experimental Study yang memiliki rancangan One Group Pre-Test Post-Test. Total sampel dalam penelitian ini sebanyak 32 responden. Dengan tekink pengambilan sampel purposive sampling. Hasil: Ada perbedaan antara pengetahuan sebelum dan setelah diberikan edukasi dengan nilai p-value 0,000(0,05) yang artinya ada perbedaan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang pola makan dengan status gizi balita di Posyandu Mawar Kelurahan Juata Laut. Oleh karena itu, diperlukan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pola makan melalui penyuluhan agar ibu dapat memberikan pola makan yang sehat dengan memantau status gizi balita secara teratur guna menjaga status gizi yang baik dan mencegah terjadinya masalah status gizi pada balita.