BookOpen AccessMetadata saja
2026•
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi jangka panjang. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup anak. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stunting adalah sanitasi lingkungan yang buruk, karena dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi berulang yang mengganggu penyerapan zat gizi. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui apakah ada hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Metode pada penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case-control. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik random sampling dengan rasio kasus dan kontrol 1:1, sehingga total sampel sebanyak 100 responden yang terdiri atas 50 kelompok kasus dan 50 kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p=0,001 (p0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi tidak memenuhi syarat memiliki risiko 87,1 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat (OR=87,1). Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi jangka panjang. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup anak. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stunting adalah sanitasi lingkungan yang buruk, karena dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi berulang yang mengganggu penyerapan zat gizi. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui apakah ada hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Metode pada penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case-control. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik random sampling dengan rasio kasus dan kontrol 1:1, sehingga total sampel sebanyak 100 responden yang terdiri atas 50 kelompok kasus dan 50 kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p=0,001 (p0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi tidak memenuhi syarat memiliki risiko 87,1 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat (OR=87,1). Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Glomerulonefritis merupakan suatu penyakit peradangan pada ginjal. Tarutama menyerang anak pada masa awal usia sekolah (2-12 tahun), jarang di bawah 2 tahun dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada wanita dengan rasio 2:1. Glomerulonefritis ini biasanya didahului oleh infeksi saluran napass satu hingga dua minggu sebelumnya atau infeksi kulit dua hingga empat minggu sebelumnya. Tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk memperoleh pengalaman dan gambaran perawatan klien An. E dengan Glomerulonefrittis akut secara komprehensif dengan menggunakan proses keperawata dengan metode penulisan kualitatif melalui studi kasus dengan teknik pengumpulan data, melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Sedangkan dalam pemberian asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, pelaksanaan tindakan keperawatan dan evaluasi. Pengkajian yang dilaksanakan mencakup identitas klien, riwayat kesehatan masa lalu dan sekarang, tumbuh kembang, pengkajian kesehatan secara keseluruhan, serta pemeriksaan sistem perkemihan. Diagnosa yang ada pada An. E adalah resiko perfusi renal tidak efektif, gangguan rasa nyaman, resiko gangguan integritas kulit/jaringan, dan gangguan pola tidur. Pelaksaanaan asuhan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Evaluasi yang didapat adalah ke 4 diagnosa tersebut tidak teratasi.