Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Penulis: MARIYOGA SAPUTRA
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

PENERAPAN KOMBINASI FISIOTERAPI DADA DAN INHALASI AROMATHERAPI MINYAK KAYU PUTIH TERHADAP PERBAIKAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DENGAN SESAK

2026•

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi pernapasan akibat penumpukan sekret di jalan napas. Penumpukan sekret pada saluran pernapasan dapat menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan napas yang ditandai dengan batuk, sesak, dan kesulitan mengeluarkan dahak. Salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diberikan adalah fisioterapi dada yang dikombinasikan dengan inhalasi aromaterapi minyak kayu putih untuk membantu mobilisasi sekret, meningkatkan kenyamanan, dan memperbaiki pola pernapasan. Penerapan fisioterapi dada yang dikombinasikan dengan aromaterapi minyak kayu putih dilakukan pada dua pasien dengan diagnosis TB paru masing – masing dilakukan 1 kali sehari dengan durasi waktu 10 menit dan dilakukan selama 3 hari berturut – turut. Hasil pengkajian awal pasien pertama sebelum dilakukan inttervensi frekuensi pernapasan 32 kali/menit setelah dilakukan intervensi selama 3 hari berturut – urut frekuensi napas menjadi 27 kali/menit dan pada pasien kedua dari 28 kali/menit menjadi 24 kali/menit. Intervensi memberikan hasil yang baik dalam membantu memperbaiki bersihan jalan napas dan memperbaiki frekuensi pernapasan pada pasien TB paru. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai terapi pendukung dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan napas akibat TB paru

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENERAPAN KOMBINASI FISIOTERAPI DADA DAN INHALASI AROMATHERAPI MINYAK KAYU PUTIH TERHADAP PERBAIKAN FREKUENSI PERNAPASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DENGAN SESAK

2026•

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi pernapasan akibat penumpukan sekret di jalan napas. Penumpukan sekret pada saluran pernapasan dapat menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan napas yang ditandai dengan batuk, sesak, dan kesulitan mengeluarkan dahak. Salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diberikan adalah fisioterapi dada yang dikombinasikan dengan inhalasi aromaterapi minyak kayu putih untuk membantu mobilisasi sekret, meningkatkan kenyamanan, dan memperbaiki pola pernapasan. Penerapan fisioterapi dada yang dikombinasikan dengan aromaterapi minyak kayu putih dilakukan pada dua pasien dengan diagnosis TB paru masing – masing dilakukan 1 kali sehari dengan durasi waktu 10 menit dan dilakukan selama 3 hari berturut – turut. Hasil pengkajian awal pasien pertama sebelum dilakukan inttervensi frekuensi pernapasan 32 kali/menit setelah dilakukan intervensi selama 3 hari berturut – urut frekuensi napas menjadi 27 kali/menit dan pada pasien kedua dari 28 kali/menit menjadi 24 kali/menit. Intervensi memberikan hasil yang baik dalam membantu memperbaiki bersihan jalan napas dan memperbaiki frekuensi pernapasan pada pasien TB paru. Intervensi ini dapat dijadikan sebagai terapi pendukung dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan ketidakefektifan bersihan jalan napas akibat TB paru

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pernikahan Dini Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mansalong Kecamatan Lumbis

2025•Koleksi Perpustakaan

Saat ini, stunting merupakan salah satu tantangan gizi terbesar dunia, terutama di negara berkembang. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada anak, yang disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dalam jangka waktu yang lama. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan adanya hubungan pernikahan usia dini ibu dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Mansalong Kecamatan Lumbis, metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non experiment dengan metode survei analitik dan pendekatan case control yang dimana sampel balita stunting sebanyak 57 responden dan sampel balita tidak stunting juga berjumlah 57 responden. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel indenpenden yaitu pernikahan dini ibu dan variabel dependen adalah stunting. Berdasarkan hasil uji korelasi menggunakan uji Chi–square didapatkan hasil tidak signifikan dengan p-value sebesar 0.430, oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho diterima yang artinya tidak ada hubungan antara pernikahan dini ibu dengan kejadian stunting pada balita

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pernikahan Dini Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mansalong Kecamatan Lumbis

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Saat ini, stunting merupakan salah satu tantangan gizi terbesar dunia, terutama di negara berkembang. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada anak, yang disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dalam jangka waktu yang lama. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan adanya hubungan pernikahan usia dini ibu dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Mansalong Kecamatan Lumbis, metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non experiment dengan metode survei analitik dan pendekatan case control yang dimana sampel balita stunting sebanyak 57 responden dan sampel balita tidak stunting juga berjumlah 57 responden. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel indenpenden yaitu pernikahan dini ibu dan variabel dependen adalah stunting. Berdasarkan hasil uji korelasi menggunakan uji Chi–square didapatkan hasil tidak signifikan dengan p-value sebesar 0.430, oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho diterima yang artinya tidak ada hubungan antara pernikahan dini ibu dengan kejadian stunting pada balita

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail