Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

21 hasil
Subjek: stunting
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6 - 23 Bulan Di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Tanjung Selor

2026•

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 6 - 23 BULAN DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS TANJUNG SELOR Abstrak Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 19,8%, yang masih berada di atas target nasional sebesar 14,2%. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor, prevalensi stunting masih bervariasi antar desa/kelurahan sehingga menunjukkan stunting masih menjadi masalah kesehatan di tingkat lokal. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan kejadian stunting, antara lain kualitas pelayanan antenatal care (ANC), berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, dan tingkat pengetahuan ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 93 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas ANC yang baik 67,7%, bayi lahir dengan berat badan normal 69,9%, tidak mendapatkan ASI eksklusif 69,9%, dan ibu memiliki tingkat pengetahuan rendah 44,1%. Mayoritas balita mengalami stunting 51,6%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas ANC p=0,049, berat badan lahir p=0,004, pemberian ASI eksklusif p=0,044, dan tingkat pengetahuan ibu p=0,001 dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan. Kesimpulan dari penelitian ini kualitas ANC, berat badan lahir, pemberian ASI eksklusif, dan tingkat pengetahuan ibu berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Selor. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas pelayanan ANC melalui skrining kesehatan ibu hamil secara komprehensif, pemantauan status gizi ibu dan janin, konseling gizi, promosi ASI eksklusif, serta peningkatan pengetahuan ibu sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING DIDAERAH PESISIR

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi jangka panjang. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup anak. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stunting adalah sanitasi lingkungan yang buruk, karena dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi berulang yang mengganggu penyerapan zat gizi. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui apakah ada hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Metode pada penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian case-control. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan teknik random sampling dengan rasio kasus dan kontrol 1:1, sehingga total sampel sebanyak 100 responden yang terdiri atas 50 kelompok kasus dan 50 kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p=0,001 (p0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi tidak memenuhi syarat memiliki risiko 87,1 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat (OR=87,1). Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting di daerah pesisir. Balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memenuhi syarat memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang memenuhi syarat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEANTIFAN PERAN KADER DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LONG BAWAN TAHUN 2026

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Upaya pencegahan stunting memerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kader kesehatan yang berperan dalam pemantauan pertumbuhan balita, edukasi gizi, penyuluhan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Keaktifan kader dalam menjalankan perannya diduga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki mengenai stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan keaktifan peran kader dalam upaya pencegahan stunting di wilayah kerja Puskesmas Long Bawan Kabupaten Nunukan tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 78 kader kesehatan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan dan keaktifan peran kader. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 43 orang (55,1%) dan keaktifan peran kader kategori cukup aktif sebanyak 39 orang (50,0%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value = 0,011 (p 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan keaktifan peran kader dalam upaya pencegahan stunting. Dapat disimpulkan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan kader, semakin tinggi pula keaktifan kader dalam menjalankan perannya dalam pencegahan stunting. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas kader secara berkelanjutan guna mendukung keberhasilan program pencegahan stunting, khususnya di wilayah perbatasan dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

SISTEM DETEKSI DINI STUNTING PADA BAYI BERBASIS SENSOR MULTIMODAL DAN DEEP LEARNING DENGAN ANTARMUKA DESKTOP

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting merupakan tantangan kesehatan nasional di Indonesia yang memerlukan pemantauan antropometri secara akurat, namun metode manual di Posyandu sering terhambat oleh faktor subjektivitas petugas dan ketidaknyamanan subjek. Penelitian ini mengembangkan sebuah sistem deteksi dini stunting otomatis berbasis sensor multimodal dan deep learning yang mengintegrasikan sensor load cell dan kamera pada Raspberry Pi 5 melalui antarmuka desktop. Sistem ini mengombinasikan algoritma YOLOv8n untuk lokalisasi objek dan MediaPipe Pose Estimation untuk mengekstraksi landmark tubuh guna mengukur panjang serta berat badan secara non-kontak. Dataset yang digunakan berjumlah 2.200 citra digital dengan pembagian 60% data latih (1.320 citra), 20% data validasi (440 citra), dan 20% data uji (440 citra). Hasil evaluasi model YOLOv8n yang mencapai titik optimal pada epoch ke-35 dengan nilai mAP50 sebesar 0,862, serta nilai precision, recall, dan F1-score dalam mendeteksi citra bayi masing-masing sebesar 86%, 75%, dan 80%. Kemudian hasil pengujian laboratorium dalam mengukur panjang badan manekin bayi dengan variasi posisi sudut, sistem mampu mencapai akurasi tinggi sebesar 98,47% untuk panjang badan (RMSE 1,079 cm). Sedangkan akurasi sensor berat badan yang divalidasi dengan menimbang kembali beban uji terhadap massa acuan menggunakan sensor terkalibrasi sebesar 96,56% untuk berat badan (RMSE 0.01543 kg). Pengujian fungsionalitas menggunakan metode black-box testing, menunjukkan 100% fitur antarmuka sistem berjalan sesuai dengan fungsi yang diharapkan. Penerapan integrasi sistem secara keseluruhan terhadap pengukuran bayi dan manekin secara realtime sebanyak 20 responden di lapangan, mendapatkan nilai akurasi sebesar 94% untuk panjang badan bayi (RMSE 4.87 cm) dan 92% untuk akurasi berat badan bayi (RMSE 0,64 kg), serta akurasi dalam mendeteksi stunting berdasarkan kategori Panjang Badan per Umur (PB/U) 70% dan Berat Badan Per Panjang Badan BB/PB = 35%. Selain itu, hasil skor SUS (System Usability Scale) antarmuka sistem sebesar 45 kategori "Not Acceptable" dengan Grade Scale "F". Hasil pengujian tersebut, menunjukkan bahwa antarmuka desktop masih kurang user-friendly bagi kader Posyandu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KEWENANGAN DESA DALAM PENCEGAHAN DAN PENURUNAN STUNTING DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

KEWENANGAN DESA DALAM PENCEGAHAN DAN PENURUNAN STUNTING DALAM UPAYA PERLINDUNGAN ANAK Oleh R o n i 24674171133 Stunting merupakan bentuk pelanggaran hak anak karena berdampak langsung terhadap tumbuh kembang dan kualitas hidup anak. Dalam perspektif hukum, stunting tidak hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga persoalan hak asasi manusia karena berkaitan dengan pemenuhan hak anak atas hidup, tumbuh, dan berkembang sebagaimana diamanatkan Pasal 28B ayat (2) UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kewenangan desa dalam pencegahan dan penurunan stunting serta konvergensi kebijakan di tingkat desa dalam rangka perlindungan anak. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan konseptual (conseptual approach). Bahan hukum primer meliputi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa beserta perubahannya, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, serta Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Analisis dilakukan terhadap sinkronisasi regulasi dan efektivitas implementasi kewenangan desa dalam kebijakan nasional pencegahan stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa memiliki kewenangan hukum dan administratif yang kuat dalam pencegahan dan penurunan stunting melalui perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program berbasis Dana Desa. Pendekatan konvergensi lintas sektor yang melibatkan pemerintah desa, puskesmas, kader posyandu, dan masyarakat terbukti efektif dalam menurunkan angka stunting. Studi kasus di beberapa desa seperti Bukit Makmur, Plumbangan, dan Bakungan memperlihatkan keberhasilan signifikan melalui sinergi dan partisipasi masyarakat. Sejumlah putusan pengadilan juga memperkuat tanggung jawab hukum desa dalam pemanfaatan Dana Desa secara akuntabel untuk perlindungan anak. Dengan demikian, kewenangan desa merupakan instrumen strategis dalam perlindungan hak anak. Penguatan kapasitas aparatur, sinkronisasi kebijakan, dan transparansi pengelolaan program menjadi kunci keberhasilan pencegahan stunting di tingkat desa.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan dengan Status Gizi Stunting Balita Usia 0-59 Bulan Di Wilayah Pesisir Pantai Amal Kota Tarakan

2025•

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat, khususnya pada balita di wilayah pesisir. Kondisi sanitasi lingkungan yang kurang memadai dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi yang berdampak pada gangguan pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sarana air bersih, sarana jamban, sarana saluran pembuangan air limbah, sarana pembuangan sampah dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan tahun 2026. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross-sectional, melibatkan 71 sampel yang diambil dengan teknik random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan sarana air bersih (p=0,399>p=0,05) dan sarana jamban (p=0,965>p=0,05) dengan kejadian stunting. Terdapat hubungan signifikan sarana pengelolaan sampah (p=0,002

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN STATUS EKONOMI TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS PANTAI AMAL

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Balita berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang krusial, membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Malnutrisi pada usia ini dapat terjadi karena keterbatasan pengetahuan ibu tentang makanan bergizi dan kondisi ekonomi keluarga yang kurang baik. Kedua faktor tersebut berkontribusi signifikan terhadap risiko stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keterkaitan antara tingkat pengetahuan ibu dan status ekonomi keluarga dengan kejadian stunting pada balita di area kerja Puskesmas Pantai Amal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 85 responden dijadikan sampel melalui teknik total sampling, dan analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman rank untuk mengevaluasi hubungan antarvariabel. Hasil dari 85 responden yang diteliti, sebagian besar ibu berada pada rentang usia 26 –35 tahun (80,0%), dengan mayoritas balita berusia 2 tahun (30,6%) dan berjenis kelamin perempuan (51,8%). Berdasarkan penilaian pengetahuan, 63 ibu (74,1%) tergolong memiliki pengetahuan baik. Sementara itu, sebagian besar keluarga (55 orang atau 64,7%) termasuk dalam kategori ekonomi cukup. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu serta status ekonomi keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal. Toddlers are at a critical stage of growth and development and require adequate nutritional intake to meet their physiological needs. Malnutrition at this age may occur due to limited maternal knowledge regarding nutritious foods and unfavorable family economic conditions. Both factors contribute significantly to the risk of stunting. This study aimed to assess the relationship between maternal knowledge level and family socioeconomic status and the incidence of stunting among toddlers in the service area of Pantai Amal Primary Health Center. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 85 respondents were included using a total sampling technique, and data analysis was conducted using the Spearman rank correlation test to evaluate the relationships among variables. Of the 85 respondents, most mothers were aged 26–35 years (80.0%), while the majority of toddlers were 2 years old (30.6%) and female (51.8%). Based on the assessment of maternal knowledge, 63 mothers (74.1%) were categorized as having good knowledge. Meanwhile, most families (55 respondents or 64.7%) were classified as having a moderate socioeconomic status. The findings indicate a significant relationship between maternal knowledge level and family socioeconomic status and the incidence of stunting among toddlers in the service area of Pantai Amal Primary Health Center.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pola Asuh, Kepatuhan Kunjungan Posyandu, Dan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Amal Kota Tarakan

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak serius terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Kondisi ini sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya pola asuh yang kurang tepat, rendahnya kepatuhan orang tua dalam membawa anak ke posyandu, serta buruknya sanitasi lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola asuh, kepatuhan kunjungan Posyandu, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian menggunakan metode analitik korelasi dengan desain cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita Usia 12-59 bulan sebanyak 46 responden dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen pengumpulan data meliputi kuesioner untuk menilai pola asuh ibu, buku KMS untuk melihat kepatuhan kunjungan Posyandu, dan checklist sanitasi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel dengan nilai p-Value 0,05 dimana pola asuh dengan kejadian stunting (p = 0,000), kepatuhan kunjungan Posyandu dengan kejadian stunting (p = 0,005), dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting (p = 0,000). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh, kepatuhan kunjungan Posyandu, dan sanitasi lingkungan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Oleh karena itu, disarankan agar tenaga kesehatan meningkatkan penyuluhan kepada ibu balita mengenai pentingnya pola asuh yang tepat, kunjungan rutin ke Posyandu, dan menjaga kebersihan lingkungan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Pernikahan Dini Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mansalong Kecamatan Lumbis

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Saat ini, stunting merupakan salah satu tantangan gizi terbesar dunia, terutama di negara berkembang. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada anak, yang disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dalam jangka waktu yang lama. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan adanya hubungan pernikahan usia dini ibu dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Mansalong Kecamatan Lumbis, metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non experiment dengan metode survei analitik dan pendekatan case control yang dimana sampel balita stunting sebanyak 57 responden dan sampel balita tidak stunting juga berjumlah 57 responden. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel indenpenden yaitu pernikahan dini ibu dan variabel dependen adalah stunting. Berdasarkan hasil uji korelasi menggunakan uji Chi–square didapatkan hasil tidak signifikan dengan p-value sebesar 0.430, oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho diterima yang artinya tidak ada hubungan antara pernikahan dini ibu dengan kejadian stunting pada balita

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KETAHANAN PANGAN TERHADAP TINGKAT KERAWANAN PANGAN DI KABUPATEN BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA

2024•

Penelitian ini bertujuan mengetahui rasio indikator tingkat ketahanan pangan di Kabupaten Bulungan, dan mengetahui tingkat ketahanan pangan di Kabupaten Bulungan. Penelitian dilakukan di semua kecamatan di kabupaten Bulungan menggunakan metode survey instansional. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Indikator tingkat ketahanan pangan di Kabupaten Bulungan terdiri dari 9 indikator yaitu rasio konsumsi normatif per kapita terhadap produksi bersih dengan bobot indicator sebesar 0,47; persentase penduduk di bawah garis kemiskinan sebesar 0,13; persentase rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk pangan lebih dari 65 persen terhadap total pengeluaran sebesar 0,49; persentase rumah tangga tanpa akses listrik sebesar 0,33; Rata-rata lama sekolah perempuan di atas 15 tahun sebesar 0,12; Persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih sebesar 0,16; Rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap tingkat kepadatan penduduk sebesar 0,17; Persentase balita dengan tinggi badan di bawah standar (stunting) sebesar 0,31; dan Angka harapan hidup pada saat lahir) bobot terbesar yaitu 0,16. Tingkat ketahanan pangan di Kabupaten Bulungan sebesar 0,26 dan masuk dalam kategori tahan pangan. Strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi meningkatkan ketahanan pangan adalah : (1) regulation; (2) acquisition and management; dan (3) incentive and charge

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA BALITA STUNTING USIA 12 - 59 BULAN DI PUSKESMAS SEBENGKOK

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA BALITA STUNTING USIA 12 – 59 BULAN DI PUSKESMAS SEBENGKOK Abstrak Latar belakang: Pemberian makanan tambahan (PMT) atau suplementasi gizi khususnya bagi balita merupakan salah satu strategi peningkatan akses pangan bergizi untuk pemenuhan kebutuhan balita dalam mengatasi masalah gizi. Karena berdasarkan data Survei Diet Total (SDT) tahun 2014 menunjukan masih kurangnya konsumsi harian balita dari kebutuhannya berdasarkan angka kecukupan gizi. Lebih dari separuh balita (55,7%) mempunyai asupan energi yang kurang dari Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan (Kemenkes, 2019). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan tambahan dengan perubahan berat badan pada balita stunting usia 12 – 59 bulan di Puskesmas Sebengkok. Metode: Penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan kasus Cross Sectional dengan tehnik pengambilan sampel dengan Total Sampling. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 135 Balita Pengambilan sampel dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sebengkok bulan Mei 2024. Analisis yang digunakan adalah analisis Chi-Square. Hasil: Hasil Penelitian dengan perhitungan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai p-value (kemaknaan) sebesar 0,001. Oleh karena itu, nilai p-value menunjukkan kemaknaan atau p 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian makanan tambahan dengan perubahan berat badan pada balita stunting usia 12–59 bulan. Kesimpulan: Terdapat Hubungan pemberian makanan tambahan dengan perubahan berat badan pada balita stunting usia 12 – 59 bulan dengan hasil nilai kenaikan BB setelah diberikan PMT dengan persentase 79,3% dan nilai p-value (kemaknaan) sebesar 0,001 ( p 0,005). Kata Kunci: PMT, Balita, Stunting

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Orang Tua Tentang Imunisasi Anak Usia Balita Yang Stunting Dan Berisiko Stunting

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Imunisasi merupakan pencegahan primer terhadap penyakit infeksi yang paling efektif dan murah serta juga dapat menghindarkan terjadinya penyakit menular. Imunisasi yang dilakukan tepat waktu dapat mengurangi risiko stunting karena dapat mencegah penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan kepatuhan orang tua tentang imunisasi anak usia balita yang stunting dan berisiko stunting. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pra eksperimen dengan menggunakan desain one group post-test only design. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 21 responden yang merupakan orang tua balita (ibu atau ayah). Data dianalisa secara univariat dan bivariat. Hasil uji One Sample T-Test menunjukkan pendidikan kesehatan tidak efektif memengaruhi pengetahuan orang tua mengenai imunisasi anak (p=0,232). Hasil uji Chi-Square menunjukkan semakin baik pengetahuan, maka tidak berarti semakin patuh juga orang tua dalam melakukan imunisasi setelah diberikan pendidikan kesehatan melalui sosialisasi dan orang tua yang memiliki pengetahuan kurang baik setelah diberikan pendidikan kesehatan akan berisiko tidak patuh 2,25 kali dibandingkan yang pengetahuannya baik (p=0,378;OR=2,250). Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan tidak memengaruhi pengetahuan orang tua tentang imunisasi dan tidak ada hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan kepatuhan imunisasi. Diharapkan perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya imunisasi menggunakan media yang menyesuaikan karakteristik sasaran secara aktif dan rutin agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan berpengaruh positif terhadap pengetahuan maupun kepatuhan sasaran dalam melaksanakan imunisasi serta lebih menyeluruh.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH EDUKASI TENTANG ASI EKSKLUSIF TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Salah satu penyebab stunting pada balita yaitu pemberian ASI eksklusif yang tidak diberikan selama 6 bulan karena ASI sangat dibutuhkan dalam masa pertumbuhan bayi agar kebutuhan gizinya tercukupi. Penelitian ini berbentuk penyuluhan edukasi tentang ASI Ekslusif dengan menggunakan media leaflet dan flip chart dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang ASI Ekslusif terhadap tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil sebagai upaya dalam pencegahan stunting. Kegiatan ini dilakukan di Posyandu Sumber Kasih Kelurahan Tanjung Selor Hilir. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan hasil pre-test dan post-test. Pengumpulan data menggunakan kuisioner pengetahuan sebanyak 15 soal dan sikap sebanyak 5 soal. Dari total 20 responden berdasarkan hasil uji wilcoxon didapatkan rata-rata tingkat pengetahuan post test (2,90) lebih tinggi dari pada nilai rata-rata pre test (1,30) dengan nilai P Value 0,000 atau P 0,005 dan nilai rata-rata sikap post test (14,85) lebih tinggi dari nilai rata-rata pre test (8,85) dengan nilai P Value 0,077 atau P 0,005. Hasil analisis menggunakan uji wilcoxon didapatkan signifikasi P = 0.000 atau P0.005. Hasil analisis tersebut bermakna bahwa Hο ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat pengaruh mengenai edukasi ASI Ekslusif terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil sebagai upaya pencegahan stunting. Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan isi dari kuesioner penelitian dan menambah jumlah sampel yang digunakan agar lebih bervariasi, sehingga peningkatan nilai pengetahuan dan kesiapan ibu hamil mengenai ASI Ekslusif dapat lebih signifikan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS EDUKASI DENGAN MEDIA BOOKLET TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN SISWA TENTANG PENCEGAHAN STUNTING DI SMK NEGERI 1 TANJUNG SELOR

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting merupakan kondisi status kurang gizi yang menjadi permasalahan kekurangan gizi dalam waktu lama terutama 1000 hari pertama kehidupan dapat menimbulkan kegagalan pertumbuhan. Adapun di Provinsi Kalimantan Utara, prevalensi balita stunting pada tahun 2018 sebesar 30,8%. khususnya kabupaten Bulungan pada tahun 2020 sebanyak 19,28% dan tahun 2022 18,9%. Upaya pencegahan stunting dapat dilakukan pada siklus daur hidup di tahap remaja, Melalui pendidikan kesehatan remaja akan mampu membentuk pemahaman yang baik terkait perilaku sadar gizi untuk pencegahan stunting. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan Pre Experimental Design dengan One Group Pre-Post Test Design. Sampel pada penelitian ini adalah siswa/I SMK Negeri 1 Tanjung Selor Kabupaten Bulungan yang berjumlah 31 Orang. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Deskriptif. Berdasarkan intevensi yang telah diberikan sebelum dan sesudah didapatkan hasil rara-rata pengetahuan sebelum 60,97 dan sesudah 83,23 sedangkan rata-rata skor sikap sebelum 31,19 dan sesudah 39,03. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat efektivitas edukasi dengan media cetak booklet terhadap tingkat pengetahuan dan sikap siswa/siswi SMK Negeri 1 Tanjung Selor Kabupaten Bulungan. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pilihan alternatif intervensi kesehatan untuk promotor kesehatan dalam menyampaikan informasi tentang pencegahan stunting sehingga dapat menekankan kejadian stunting.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMBERIAN EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING MELALUI MEDIA VIDEO PADA REMAJA PUTRI DESA WISATA LONG LOREH

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) -2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/ stunted) dan -3 SD (sangat pendek / severely stunted). Penyebab stunting antara lain yaitu asupan gizi dan status kesehatan yang meliputi ketahanan pangan . Berdasarkan penelitian ini didasarkan pada proses pemberian edukasi pencegahan Stunting remaja putri yang dimana remaja putri di berikan edukasi sehingga mendapatkan peningkatan pengetahun tentang pencegahan Stunting. Pengetahuan adalah bagian esensial dari eksistensi manusia, karena pengetahuan merupakan buah dan aktivitas berfikir yang dilakukan oleh manusia

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Gambaran Tingkat Pengetahuan Kader dalam Pendampingan Program Stunting

2023•

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius di berbagai negara termasuk Indonesia. Stunting dapat berdampak buruk terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan sosial anak, serta dapat mengganggu potensi ekonomi suatu negara. Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya untuk mengatasi masalah stunting melalui berbagai program dan kebijakan. Dalam pelaksanaan program tersebut, kader kesehatan memiliki peranan penting dalam pendampingan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dalam upaya pencegahan stunting. Tingkat pengetahuan kader kesehatan dalam pendampingan program stunting menjadi faktor yang sangat krusial dalam keberhasilan program tersebut. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai tingkat pengetahuan kader dalam pendampingan program stunting, dapat dilakukan upaya yang lebih efektif dalam mengatasi masalah stunting. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan gambaran tingkat pengetahuan kader dalam pendampingan program stunting di Wilayah Kelurahan Nunukan Barat. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh kader posyandu yang ada di Wilayah Kelurahan Nunukan Barat sebanyak 45 kader. Sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 41 responden. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis univariat berupa distribusi frekuensi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pengetahuan responden yaitu baik sebanyak 39 orang (95.1%) dan minoritas pengetahuan responden yaitu cukup sebanyak 2 orang (4.9%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah gambaran tingkat pengetahuan kader dalam pendampingan program stunting di Wilayah Kelurahan Nunukan Barat mayoritas dalam kategori baik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MEMILIKI BALITA DALAM PENCEGAHAN STUNTING

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting adalah permasalahan gagal tumbuh pada balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak memiliki ukuran tubuh terlalu pendek untuk usianya. Meningkatkan pengetahuan ibu dalam pencegahan stunting dapat menekan angka kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu memiliki balita dalam pencegahan stunting di Desa Tideng Pale Induk, Kabupaten Tana Tidung. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan jumlah populasi sebanyak 60 ibu balita. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 60 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian kemudian dikelompokkan menjadi kelompok responden dengan pengetahuan baik, cukup, dan kurang. Hasil penelitian menujukkan bahwa 50% responden memiliki pengetahuan cukup. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan ibu dalam pencegahan stunting di Desa Tideng Pale Induk, Kabupaten Tana Tidung masih dalam kategori cukup. Perlunya peningkatan peran puskesmas dalam melakukan edukasi secara konsisten untuk menunjang program pencegahan stunting.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Edukasi Pola Asuh Terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Sebagai Upaya Pencegahan Stunting

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Stunting kerap kali dikaitkan sebagai penyebab perkembangan sel otak anak yang tidak maksimal. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kalimantan Utara berada pada angka 27.5% pada tahun 2021 dan menjadi 22.1% pada tahun 2022 dengan salah satu penyumbang angka stunting tertinggi berasa dari Kabupaten Nunukan yang mencapai persentase sebesar 30.5% pada tahun 2022. Angka stunting yang tinggi tidak lepas dari peran orang tua terutama ibu hamil dan ibu menyusui. Salah satu penyebab terjadinya stunting pada anak adalah karena kurangnya pengetahuan mengenai pola asuh dalam memenuhi asupan nutrisi pada ibu hamil dan ibu menyusui. Edukasi adalah kunci dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan ibu menyusui mengenai pola asuh yang baik dan benar sebagai salah satu upaya pencegahan stunting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh dari pemberian edukasi pola asuh terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil dan ibu menyusui. Penelitian ini menggunakan pre-experimental design jenis one-group pre-post test design. Jumlah sampel penelitian ini adalah 100 responden ibu hamil dan ibu menyusui diwilayah kelurahan nunukan tengah. Hasil analisis uji wilcoxon untuk mengetahui pengaruh edukasi didapatkan nilai signifikasi P = 0.000 atau P0.005. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi pola asuh pada ibu hamil dan ibu menyusui sebagai upaya pencegahan stunting berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil dan ibu menyusui dalam upaya pencegahan stunting.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh edukasi perawatan bayi baru lahir terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam mencegah terjadinya stunting

2023•

Perawatan bayi baru lahir merupakan perawatan yang harus diberikan kepada bayi segera setelah dilahirkan. Permasalahan pada bayi baru lahir yaitu rentan terjadinya infeksi. Ibu yang merawat bayi baru lahir di rumah memerlukan penanganan dan perawatan yang tepat. Pengetahuan tentang perawatan bayi baru lahir sangat diperlukan bagi ibu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi perawatan bayi baru lahir terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam mencegah terjadinya stunting. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan metode pretest dan postest yang menggunakan kuesioner, metode ceramah dan diskusi tanya jawab antara penyuluh dan responden. Terdapat pengaruh edukasi kesehatan perawatan bayi baru lahir terhadap tingkat pengetahuan ibu dalam mencegah terjadinya stunting ditandai dengan meningkatnya pengetahuan ibu mengenai perawatan bayi baru lahir sehingga tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan BBL merupakan faktor penting yang mempengaruhi keterlibatan ibu untuk meningkatkan keberhasilan harapan hidup bayi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail