ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This research on the validation of the species for seluang parang fish used COI gene markers. Sampling was carried out in Sekatak Bengara village, as well as morphologigal identification at the Fisheries Biology Laboratory of FPIK-UBT and molecular identification at Aquatic Molecular Biology of FPIK-IPB. Molecular identification began with DNA isolation process using a commercial Gene Aid Kit, the result pure DNA was amplified using universal COI primers and sequenced. The results of molecular identification showed a close relationship between sample in GenBank, namely Nematabramis everetti, which was found in the waters of Sabah, Malaysia with a genetic distance of 0,024.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan cupang merupakan salah satu ikan yang sangat digemari oleh masyarakat terkait dengan memiliki tubuh yang unik dan mudah untuk dipelihara. Keunikannya menjadi bagian yang harus diekplor lebih jauh, karena jenis ini memiliki keragaman yang cukup tinggi di Indonesia. Salah satu upaya mempertahankan keragaman dengan menelaah tingkat kekerabatan. Ikan cupang lokal Desa Sebidai secara morfologis diduga memiliki kekerabatan dengan ikan cupang Tanjung Batu Kota Tarakan. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis ikan cupang lokal yang di temukan di perairan rawa Sebidai Kabupaten Tana Tidung, untuk mengetahui karakter morfologis ikan cupang lokal, dan untuk mengetahui jarak genetik dan tingkat kekerabatan ikan cupang lokal berdasarkan penanda molekuler gen COI. Jenis yang akan dikaji tingkat kekerabantannya adalah ikan cupang di Desa Sebidai dan Tanjung Batu, Kota Tarakan. Metode pendekatan dilakukan berdasarkan penanda molekuler gen COI. Secara teknis hasil tersebut akan divalidasi dengan menggunakan GenBank. Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 2020. Sampel empat spesies diambil dari masing-masing lokasi, dan GenBank dengan menggunakan software MEGA X. Hasil analisis menunjukkan bahwa 4 contoh sampel ikan tidak memiliki hubungan dengan spesies yang bersal dari GenBank (Betta pi, Betta pugnax, Betta spelendens, Betta imbelis) dengan nilai homologi 86,81%. Hasil analisis jarak genetik dari 4 sampel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan karakter molekuler ikan dari perairan Sungai Mentarang Hulu, Desa Long Berang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara menggunakan metode DNA barcoding dengan penanda gen mitokondria Cytochrome c Oxidase Subunit I (COI). Sampel yang dianalisis terdiri atas enam sekuen dengan kode RA1, RA2, RA4, RA5, RA9, dan RA11. Analisis dilakukan melalui ekstraksi DNA, PCR, elektroforesis, sekuensing, pencocokan sekuen pada database GenBank, analisis jarak genetik, dan filogenetik. Hasil pencocokan menunjukkan tingkat kemiripan sebesar 93,24–100%, dengan kemiripan tertinggi RA1 dengan Tor douronensis, RA2 dengan Lobocheilos erinaceus, RA4 dengan Cyclocheilichthys repasson, RA5 dengan Parachela oxygastroides, RA9 dengan Hemibagrus fortis, dan RA11 dengan Gastromyzon ornaticauda. Jarak genetik terendah ditemukan pada RA5 dengan P. oxygastroides sebesar 0,000. Analisis filogenetik menunjukkan adanya pengelompokan sampel berdasarkan kedekatan genetik dengan sekuen pembanding. Berdasarkan hasil tersebut, DNA barcoding gen COI dapat digunakan untuk membantu menentukan identitas jenis serta mengetahui hubungan kekerabatan genetik ikan dari perairan Sungai Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Informasi parameter genetik merupakan aspek penting dalam program pemuliaan tanaman karena menjadi dasar dalam menentukan karakter seleksi yang efektif. Nilai duga parameter genetik meliputi keragaman genetik, heritabilitas, kemajuan genetik, dan korelasi antar karakter. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai parameter genetik beberapa karakter pada 6 genotipe kailan serta mendapatkan karakter yang bisa digunakan sebagai kriteria seleksi dalam pemuliaan tanaman kailan. Penelitian menggunakan 6 genotipe kailan yaitu P1 (Winsa), P2 (Sakura F1), P3 (New Veg In), P4 (Full White), P5 (Nemo) dan P6 (Nita) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, diameter batang, luas daun, kehijauan daun, berat basah tanaman dan berat basah per ha. Hasil nilai duga parameter genetik menunjukkan karakter yang bisa dijadikan kriteria seleksi langsung karena memiliki nilai heritabilitas dan kemajuan genetik tinggi yaitu tinggi tanaman (h2 = 0,864 dan KG = 58,603), diameter batang (h2 = 0,744 dan KG = 23,400) dan berat basah tanaman (h2 = 0,537 dan KG = 18,869). Sedangkan karakter yang bisa digunakan sebagai kriteria seleksi tidak langsung karena memiliki nilai korelasi positif nyata dengan berat basah tanaman adalah tinggi tanaman (rG = 0,836**) dan diameter batang (rG = 0,943**).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA TERHADAP KONSUMEN KOSMETIK BERLABEL BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN (BPOM) YANG TIDAK MEMENUHI STANDAR KEAMANAN Penelitian ini dilatarbelakangi oleh temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yaitu berupa kosmetik berlabel BPOM yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang. Kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan antara jaminan normatif melalui izin edar dan keamanan aktual produk yang beredar. Penelitian ini bertujuan menganalisis tanggung jawab pelaku usaha terhadap konsumen kosmetik berlabel BPOM yang tidak memenuhi standar keamanan serta bentuk perlindungan hukum bagi konsumen yang dirugikan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Bahan hukum dianalisis secara deskriptif, evaluatif, dan preskriptif dengan mengkaji Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, peraturan BPOM, serta kasus Pinkflash dan MH Cosmetic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha, baik produsen, importir, maupun pemegang nomor notifikasi, tetap bertanggung jawab atas keamanan produk yang diproduksi atau diedarkannya. Tanggung jawab tersebut meliputi kewajiban memberikan ganti rugi dan dapat dikenakan dalam ranah perdata, administratif, dan pidana. Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) lebih relevan digunakan karena menitikberatkan pertanggungjawaban pada produk tidak aman dan timbulnya kerugian atau risiko bagi konsumen. Perlindungan hukum bagi konsumen tersedia dalam dua bentuk, yaitu preventif (pengawasan, edukasi, dan inspeksi mendadak) dan represif (sanksi administratif, BPSK, litigasi, dan pidana).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Hiu lontar (Rhynchobatus australiae) merupakan salah satu spesies Elasmobranchii yang berperan penting dalam ekosistem perairan pesisir dan berstatus Sangat Terancam Punah (Critically Endangered) menurut IUCN akibat tingginya tekanan penangkapan dan degradasi habitat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis dan karakter molekuler hiu lontar dari Perairan Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, menggunakan pendekatan morfologi dan DNA barcoding. Penelitian dilaksanakan pada Maret - Mei 2026 menggunakan tiga sampel yang diperoleh dari hasil tangkapan pukat hela. Analisis morfologi dilakukan berdasarkan karakter morfologi dan morfometrik, sedangkan analisis molekuler meliputi ekstraksi DNA, amplifikasi PCR, sekuensing, analisis BLAST, perhitungan jarak genetik, dan konstruksi pohon filogenetik. Analisis DNA barcoding menghasilkan panjang sekuens 602–714 bp dengan tingkat kemiripan 99,84–100% terhadap data referensi GenBank. Nilai jarak genetik antar sampel sebesar 0,000 menunjukkan hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Analisis filogenetik membentuk dua clade, yaitu in-group yang terdiri atas sampel penelitian dan sekuens referensi R. australiae dari perairan lainnya, serta out-group yang terdiri atas Carcharodon carcharias. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa hiu lontar yang ditemukan di Perairan Tanah Kuning merupakan spesies Rhynchobatus australiae. Informasi genetik yang diperoleh diharapkan dapat mendukung upaya konservasi, pengelolaan, dan perlindungan hiu lontar secara berkelanjutan di Indonesia. Identification of the species and molecular characteristics of the spadenose shark from Tanah Kuning waters using DNA barcoding
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Genetika merupakan salah satu materi biologi yang dianggap sulit oleh siswa karena sifatnya yang abstrak, terminologinya yang kompleks, serta mekanisme-mekanismenya yang sulit divisualisasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa kelas XII Kesehatan SMAS Muhammadiyah Tarakan terhadap tantangan dalam pelajaran genetika. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur terhadap sepuluh siswa yang dipilih secara purposive berdasarkan kategori hasil belajar. Data sekunder dalam penelitian ini berupa buku, jurnal, dokumen kurikulum, dan nilai siswa. Analisis data menggunakan analisis tematik berdasarkan enam tahapan Braun dan Clarke. Keabsahan data hasil penelitian dilakukan untuk memastikan reliabilitas data melalui member checking dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan lima tema tantangan, yaitu kognitif, emosional dan motivasi, lingkungan, sosial, dan fisik. Tantangan kognitif menjadi yang paling dominan, terutama dalam memahami konsep abstrak, istilah ilmiah, mekanisme genetika, dan mengingat materi. Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran genetika yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi maupun kerja insulin. Selain terapi farmakologis, terapi nonfarmakologis seperti senam kaki diabetik dan terapi murottal Al-Qur'an dapat digunakan sebagai terapi komplementer untuk membantu mengendalikan kadar glukosa darah. Memperoleh penerapan senam kaki dengan terapi murottal Al-Qur’an terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada dua pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa kombinasi senam kaki diabetik dan terapi murottal Al-Qur'an diberikan selama empat hari berturut-turut, satu kali sehari, dengan durasi 15 menit setiap sesi. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran kadar glukosa darah sewaktu sebelum dan sesudah intervensi setiap hari. Pada kasus pertama terjadi penurunan kadar glukosa darah dari 297 mg/dL menjadi 131 mg/dL dengan penurunan total sebesar 144 mg/dL. Rata-rata penurunan kadar glukosa darah setelah setiap sesi intervensi adalah 63,25 mg/dL per hari. Pada kasus kedua terjadi penurunan kadar glukosa darah dari 245 mg/dL menjadi 140 mg/dL dengan penurunan total sebesar 105 mg/dL dan rata-rata penurunan sebesar 46 mg/dL per hari. Kedua pasien menunjukkan respons yang baik selama pelaksanaan intervensi tanpa ditemukan hambatan berarti. Penerapan kombinasi senam kaki diabetik dan terapi murottal Al-Qur'an sebagai terapi komplementer yang diberikan bersamaan dengan terapi farmakologis menunjukkan penurunan kadar glukosa darah sewaktu pada kedua pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Intervensi ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif terapi nonfarmakologis dalam pendampingan terapi farmakologis untuk pengendalian kadar glukosa darah
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ibu nifas post sectio caesarea sering mengalami nyeri pada area luka operasi akibat insisi pada dinding abdomen dan uterus. Nyeri umumnya mulai dirasakan ketika efek anestesi spinal berkurang, terutama pada 6–12 jam pertama pascaoperasi. Nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu mobilisasi dini, kenyamanan, istirahat, proses laktasi, serta pemulihan ibu pada masa nifas. Salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kenyamanan dan mengurangi persepsi nyeri adalah aromaterapi lavender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemberian aromaterapi lavender dengan intensitas nyeri pada ibu nifas post sectio caesarea 6–12 jam pertama di Rumah Sakit Pertamina Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan desain eksperimen semu (quasi experiment) menggunakan rancangan post-test only control group design. Sampel penelitian berjumlah 20 ibu nifas post sectio caesarea 6–12 jam pertama yang dibagi menjadi 10 responden kelompok intervensi dan 10 responden kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan terapi standar rumah sakit berupa analgetik ditambah aromaterapi lavender, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan terapi standar rumah sakit tanpa aromaterapi lavender. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi terdapat 3 responden (30,0%) mengalami nyeri ringan, 7 responden (70,0%) nyeri sedang, dan tidak terdapat responden nyeri berat. Pada kelompok kontrol, tidak terdapat responden nyeri ringan, 7 responden (70,0%) mengalami nyeri sedang, dan 3 responden (30,0%) nyeri berat. Hasil uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test diperoleh nilai p-value = 0,048. Kesimpulannya, terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian aromaterapi lavender dengan intensitas nyeri pada ibu nifas post sectio caesarea 6–12 jam pertama.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan serta mekanisme penegakan Kode Etik Profesi Polri terhadap anggota yang terlibat homoseksual. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada adanya pelanggaran kode etik oleh anggota Polri yang menimbulkan polemik masyarakat, khususnya terkait ketidakkonsistenan dalam penjatuhan sanksi terhadap pelanggaran yang memiliki karakteristik serupa, sebagaimana terjadi dalam kasus di Polda Kalimantan Utara. Permasalahan ini menimbulkan pertanyaan mengenai kepastian hukum, keadilan, serta kesetaraan dalam penegakan kode etik di lingkungan Polri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan non-hukum yang dianalisis secara kualitatif dengan metode desktiptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara normatif, pengaturan mengenai kewajiban dan pelanggaran anggota Polri telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Disiplin Anggota Polri, serta Peraturan Polri Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Polri. Mekanisme penegakan kode etik dilakukan melalui tahapan pengaduan, pemeriksaan oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam), pemberkasan, hingga sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri (KKEP) dengan penjatuhan sanksi yang bersifat etik dan administratif. Hal ini disebabkan karena homoseksual tidak dikualifikasikan sebagai tindak pidana dalam hukum positif Indonesia. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan ketidakkonsistenan dalam penjatuhan sanksi terhadap pelanggaran yang relatif serupa, sehingga belum sepenuhnya memenuhi asas kepastian hukum, keadilan, dan kesetaraan di hadapan hukum. Selain itu, penegakan kode etik juga dihadapkan pada tantangan dalam menyeimbangkan antara kepentingan menjaga moralitas dan citra institusi dengan perlindungan terhadap hak individu. Oleh karena itu, diperlukan penguatan melalui penyusunan parameter yang jelas, objektif, dan terukur dalam penjatuhan sanksi, serta peningkatan konsistensi penerapan kode etik agar tercipta penegakan hukum yang adil, transparan, dan menjamin kepastian hukum.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Perkembangan media digital seiring dengan perkembangan zaman terus melesat dan pesat. Praktik jurnalistik menghadapi berbagai tantangan yang perlu ditanggapi dengan bijak. Tesis ini berisikan bagaimana penegakan hukum dan menghadapi problematika penegakan Kode Etik Jurnalistik, yang semakin hari semakin menemukan tantang baru. Seperti halnya bagaimana seorang jurnalis yang masih saja menjadi korban laporan lngsung ke pihak kepolisian. Padahal sebenarnya, di dalam Undang-Undang Nomo 40 Tahun 1999 tentang Pers mengamanahkan, Penyelesaian sengketa jurnalistik hanya bisa dilakukan di ruang Dewan Pers, sebagai satu-satunya pihak yang bisa menyelesaikan sengketa pers. Sedangkan, untuk menyelesaikan sengketa pers di institusi lain. Seperti di kepolisian, hingga diadili di pengadilan tidak bisa dilakukan. Hal tersebut sudah disepakati oleh para pihak melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB), dan juga MoU antara Dewan Pers dengan Polri dan Kejaksaan selaku penyidik, Proses pengaduan, hingga penyelesaian sengketa di Dewan Pers juga cukup jelas disampaikan dalam tesis ini, dengan menyampaikan beberapa contoh kasus sengketa jurnalistik yang baru saja terjadi di Indonesia. Apa saja yang harus dilakukan kantor berita yang diadukan, ketika gugatan pelapor dikabulkan oleh Dewan Pers. Semua tentu saja berdasarkan peraturan perundang-undangan, Dewan Pers dalam beberapa kasus yang tercantum di dalam tesis ini juga selalu melakukan koordinasi dalam menyelesaikan sengketa jurnalistik. Kemudian, dalam tesis ini juga, penulis menjelaskan bagaimana mekanisme dalam melaporkan jurnalis yang bekerja tidak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik. Bila terbukti melakukan hal tersebut, bagaimana tindakan-tindakan yang akan diambil dalam memberikan sanksi kepada jurnalis tersebut. Sehingga, antara jurnalis, narasumber dan penerima produk jurnalistik terlindungi hak-haknya dalam mengkonsumsi berita. Dalam tesis ini pula, penulis menyampaikan perlunya modernisasi Undang-Undang Pers, dan juga Kode Etik Jurnalistik, karena pesatnya perkembangan dunia digital dan tekhnologi informasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian berjudul “Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Usaha Kosmetik Pemutih Badan Yang Mengandung Bahan Berbahaya Di Kota Tarakan (Studi Kasus Putusan Nomor 341/Pid.Sus/2024/PN Tar)” Penelitian ini membahas pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku usaha yang memperdagangkan kosmetik pemutih badan yang mengandung bahan berbahaya di Kota Tarakan, dengan fokus analisis pada Putusan Nomor 341/ Pid.Sus/ 2024/ PN Tar. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana ketentuan hukum positif mengatur pertanggungjawaban pidana bagi pelaku usaha serta bagaimana penerapan hukum oleh hakim dalam putusan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan, yang meliputi peraturan perundang-undangan, literatur, jurnal hukum, serta putusan pengadilan yang relevan dengan permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, pelaku usaha yang memperdagangkan kosmetik mengandung bahan berbahaya dapat dimintai pertanggungjawaban pidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, serta ketentuan pidana dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun dalam praktiknya, hakim dalam perkara ini menjatuhkan pidana penjara yang tergolong ringan, yaitu enam (6) bulan, dengan mempertimbangkan faktor yuridis dan non-yuridis, seperti kondisi terdakwa, dampak perbuatan, serta asas keadilan yang hidup di masyarakat. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku usaha kosmetik berbahaya di Kota Tarakan telah diterapkan, namun putusan yang dijatuhkan belum sepenuhnya memberikan efek jera. Oleh karena itu, diperlukan penegakan hukum yang lebih tegas, pengawasan intensif oleh BPOM, serta peningkatan kesadaran hukum masyarakat untuk menekan peredaran kosmetik berbahaya di pasaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian berjudul “Penegakan Hukum Pidana terhadap Pelaku Peredaran Kosmetik Ilegal di Kota Tarakan” ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya peredaran kosmetik ilegal di wilayah perbatasan, khususnya Kota Tarakan yang memiliki posisi strategis dan rawan menjadi jalur masuk produk tanpa izin edar. Kosmetik ilegal kerap mengandung bahan berbahaya dan tidak memenuhi standar keamanan yang ditetapkan, sehingga membahayakan kesehatan masyarakat serta melanggar ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana proses penegakan hukum pidana dijalankan terhadap peredaran kosmetik ilegal di Kota Tarakan, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi oleh aparat penegak hukum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode hukum empiris dengan pendekatan kualitatif, yang diperoleh melalui wawancara dengan pihak BPOM dan kepolisian setempat, serta analisis terhadap regulasi yang mengatur pengawasan peredaran kosmetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum dilakukan melalui langkah preventif seperti edukasi dan pengawasan, serta tindakan represif seperti penyelidikan, penyitaan, dan penindakan hukum. Namun, efektivitasnya masih terkendala oleh berbagai faktor, antara lain lemahnya koordinasi antarinstansi, terbatasnya sumber daya manusia dan sarana pendukung, kurangnya kesadaran masyarakat, serta kondisi geografis Tarakan yang memudahkan masuknya produk ilegal dari luar negeri. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang menyeluruh dan berkelanjutan melalui penguatan regulasi, peningkatan kolaborasi lintas lembaga, pemanfaatan teknologi dalam pengawasan distribusi, serta sosialisasi intensif kepada masyarakat mengenai bahaya penggunaan kosmetik ilegal demi perlindungan konsumen yang lebih optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Hammerhead shark is a species of shark with a distinctive hammer-like head shape and it is known as a top predator in the marine ecosystem. Its existence is important in maintaining the balance of the food chain, but its population is threatened by excessive exploitation. The purpose of this study was to identify the types and molecular characteristics of hammerhead sharks (Sphyrna sp.) from the waters of Tanah Kuning, Bulungan Regency, North Kalimantan, using morphological and molecular approaches through the DNA barcoding method. The study was conducted from December 2024 to March 2025 through a purposive sampling method, by taking five hammerhead shark specimens using a trawl. Identification was carried out through two approaches: (1) morphological analysis including morphometric including total length, head length, and fin shape; and (2) molecular analysis through the stages of DNA extraction, purity measurement, and mitochondrial COI gene amplification with PCR, electrophoresis, and DNA sequencing. Genetic validation was carried out using BLAST analysis and genetic distance calculations using the Tamura 3-Parameter model. The results of morphological identification showed that all samples had the characteristics of the Sphyrna lewini species. Molecular validation through BLAST showed a similarity level of 99.54-100% with GenBank data for Sphyrna lewini, and genetic distance analysis indicated a very close relationship between individuals. This study proved that DNA barcoding was effective for identifying hammerhead shark species and had the potential to support conservation and sustainable management of shark resources in Tanah Kuning waters.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui metode Struktural Analitik dan Sintetik. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di SDN 032 Tanjung Batu Tarakan. Adapun subjek penelitian ini yang terdiri dari 30 siswa dengan jumlah siswa laki-laki 15 siswa dan siswa perempuan sebanyak 15 siswa. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak II siklus. Prosedur tiap siklus yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Struktural Analitik dan Sintetik (SAS) dapat meningkatkan kemampuan membaca huruf dan kata dalam membaca permulaan siswa kelas II A SDN 032 Tanjung Batu Tarakan. Pada siklus I hasil tes kemampuan membaca permulaan diperoleh data sebesar 70% siswa yang tuntas atau masuk dalam level pembaca berkembang dan mandiri dari jumlah keseluruhan siswa, pada aspek afektif siswa diperoleh data sebesar 57% siswa yang tuntas dan pada aspek psikomotorik siswa diperoleh data sebesar 50% siswa yang tuntas. Kemudian pada siklus II mengalami peningkatan, hasil tes kemampuan membaca permulaan diperoleh data sebesar 80% siswa yang tuntas atau masuk dalam level pembaca mandiri, pada aspek afektif siswa diperoleh data sebesar 83% siswa yang tuntas dan pada aspek psikomotorik siswa diperoleh data sebesar 87% siswa yang tuntas. Hasil penilaian tes kemampuan membaca permulaan siswa telah mencapai indikator keberhasilan sehingga peneliti menghentikan siklus dalam penelitian ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Guru bimbingan dan konseling memiliki peran membimbing atau mengarahkan siswa tentang etika pergaulan, munculnya rasa saling mengagumi satu sama lain, rasa tolong menolong dan empati terhadap sesama sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, rukun dan tanpa kekerasan selanjutnya diharapkan muncul kedisiplinan yang baik di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam membimbing etika pergaulan siswa di SMAN Terpadu Unggulan 1 Tana Tidung, serta implikasinya pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Subjek penelitian terdiri dari tiga guru BK dan dua siswa yang terlibat dalam bimbingan. Analisis data menggunakan Miles dan Huberman dimana terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru BK melakukan berbagai upaya dengan pencegahan di keluarga yaitu bimbingan kelompok, sekolah layanan klasikal dan individual, masyarakat bimbingan individual selanjutnya penanganan di keluarga memberikan layanan, di sekolah memberikan arahan, di masyarakat sama halnya juga memberikan arahan. Dalam konteks keluarga, guru BK bekerja sama dengan orang tua untuk memberikan arahan mengenai etika bergaul yang baik, meskipun tidak ada materi khusus yang diberikan secara formal. Di sekolah, upaya yang dilakukan termasuk pemberian materi etika bergaul kepada siswa secara klasikal maupun individual. Sedangkan di masyarakat, guru BK memberikan bimbingan yang lebih bersifat situasional, baik dalam bentuk layanan bimbingan individual maupun kelompok. Upaya-upaya tersebut bertujuan untuk menanamkan nilai moral dan norma sosial yang dapat membentuk perilaku positif siswa dalam kehidupan sehari-hari.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan bunyi bahasa karena terjadinya interferensi fonetik penutur Bahasa Jepang terhadap penggunaan Bahasa Indonesia dalam channel youtube Yusuke [wasedaboys]. Penelitian yang dilakukan ini termasuk jenis penelitian yang menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh berasal dari tuturan Yusuke yang merupakan penutur bahasa pertamanya Bahasa Jepang saat menuturkan Bahasa Indonesia sesuai batasan masalah yang telah ditentukan oleh peneliti. Penelitian ini menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung (BUL) dan menyajikan ciri distingtif bunyi bahasa sesuai data yang telah dikumpulkan. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat 44 data yang mengalami interferensi bunyi bahasa perubahan bunyi [n] menjadi [m], perubahan bunyi [ǝ] menjadi [u], perubahan bunyi [a] menjadi [ǝ], perubahan bunyi [i] menjadi [Ɛ], perubahan bunyi [o] menjadi [u], pelesapan [u] dan [ǝ] ditengah kata, perubahan bunyi [ai] menjadi [e], perubahan akhiran bunyi [n] menjadi [ŋ], perubahan akhiran bunyi [ŋ] menjadi [m], penambahan bunyi vokal [ǝ] dan [u] diakhir kata setelah /r/, penambahan bunyi [h] diakhir setelah /a/, penambahan bunyi [u] dan [o] diakhir setelah /t/, penambahan /g/ diantara /ŋ/ dengan vokal /a/, /e/ dan /u/, perubahan [au] menjadi [o], perubahan [l] menjadi [r], perubahan [Ɛ] menjadi [a], penambahan [e] diakhir /s/, dan pelesapan bunyi /s/ diawal kata. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan jenis perubahan bunyi bahasa pada data yang mengalami interferensi fonetik yaitu asimilasi, zeroisasi sinkop, paragog, epentesis, dan zeroisasi afresis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pemalsuan produk kosmetik merupakan masalah yang semakin meresahkan dan berdampak signifikan pada berbagai aspek, termasuk kesehatan masyarakat, pemilik suatu merek kosmetik yang telah terdaftar, serta stabilitas pasar. Pemalsuan kosmetik ini juga memberikan kesempatan bagi oknum pelaku usaha untuk memalsukan suatu produk kosmetik agar medapatkan keuntungan yang besar. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menjelasakan bentuk-bentuk dalam pemalsuan kosmetik yang sering terjadi di masyarakat dan menganalisis pertanggungjawaban pidana bagi pelaku pemalsuan produk kosmetik. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (Statue Approach), konseptual (Conceptual Approach), dan kasus (Case Approach). Berdasarkan penelitian ini, diperoleh hasil pertama, pemalsuan kosmetik memiliki beberapa jenis atau bentuk dalam kasus pemalsuannya yaitu pemalsuan pada isi kosmetik yang menggunakan beberapa jenis bahan kimia berbahaya yang menimbulkan efek buruk bagi kesehatan dan pemalsuan pada merek kosmetik yang melakukan penyalinan penampakan fisik dari produk aslinya, adanya ketentuan atau peraturan terkait pemalsuan kosmetik memberikan jaminan perlindungan kesehatan terkait penggunaan kosmetik bagi masyarakat serta melindungi pelaku usaha dari kerugian akibat pemalsuan kosmetik. Kedua, berdasarkan dua kasus, yaitu putusan pengadilan nomor 1517/Pid.Sus.2023/PN Sby dan putusan pengadilan Nomor 537/Pid.B/2022/PN Jkt.Brt, menunjukkan bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku pemalsuan produk kosmetik cenderung tidak setimpal dengan dampak yang ditimbulkan. Selain itu, masyarakat atau konsumen yang masih kurang kesadaran akan bahayanya penggunakan kosmetik palsu juga menjadi salah satu faktornya, serta penggunaan delik aduan yang juga menjadi faktor kurangnya pengaduan terhadap kasus pemalsuan kosmetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. Perlindungan konsumen ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentignya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha seperti halnya produk kosmetik yang tidak memiliki izin edar. Tujuan penelitian ini adalah bentuk perlindungan hukum bagi konsumen terhadap beredarnya produk kosmetik yang tidak memiliki izin edar dan tanggung jawab toko online terhadap barang-barang yang dijual yang tidak memiliki izin edar. Metode dari penelitian ini menggunakan metode pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) dan pendekatan kasus (Case Approach). Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk perlindungan konsumen yang memiliki dasar hukum yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang perlindungan konsumen sebagai mana dalam pasal 7 huruf b dan d mengacu pada kewajiban pelaku usaha yang memastikan barang dan/atau jasa harus memberikan informasi yang benar dan jelas serta menjamin standar mutu barang. Tanggung jawab toko online terhadap barang yang di jual mengacu pada pasal 48 Ayat (3) PP PSTE (Peraturan Pemerintah Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik) yang membrikan tanggung jawab kepada pelaku usaha dalam berjualan diplatform yang sesuai dengan kebijakan atau ketentuan yang disediakan dan tanggung jawab ini berupa prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability). Oleh karena itu penting bagi konsumen lebih berhati-hati dalam memilih produk kosmetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kosmetik ilegal adalah salah satu penunjang yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Namun, banyak masyarakat yang belum mengetahui bahan-bahan kosmetik yang baik untuk digunakan. Karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahanya penggunaan kosmetik sehingga banyak pelaku usaha yang menjual kosmetik yang dapat membahayakan kesehatan. Karena pelaku usaha sekarang banyak yang tidak memberikan informasi tentang bahan yang ada dalam kosmetiknya. Dalam Undang-Undang 36 Tahun 2009 pasal 197 dan Peraturan BPOM RI Tahun 2008 pasal 7 ayat (1) dan (2) tentang saksi administrasi. Dilihat kembali banyak kasus tentang perdagangan kosmetik ilegal di kota tarakan yang belum mendapatkan tindakan baik dari pihak Polres dan juga dari pihak Balai POM sehingga membuat para pedagang kosmetik ilegal tidak memiliki rasa takut untuk menjualnya. Sehingga kasus perdagangan kosmetik ilegal di Kota Tarakan masih kurang efektif karena sehingga banyak para pedagang yang masih menjual kosmetik ilegal tersebut. Padahal kita ketahui kosemtik ilegal dapat membahayakan para pengunanya yang dimana sudah diatur dalam pasal 28 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1998. Pelaku usaha yang menjual kosmetik ilegal yang memiliki dampak berbaya dan tidak meimiliki surat izin edar akan dijerat dengan Pasal 197 dan 198 Undang-Undang Kesehatan No 36 Tahun 2009. Maka dari itulah pihak Polres dan Balai POM harus lebih ketat dalam menangani kasus Perdagangan kosmetik ilegal yang ada di kota Tarakan. 1) Penegakan hukum terhadap kasus perdagangan kosmetik ilegal, 2) faktor penghambat dalam implementasi penegakan hukum atas perdagangan kosmetik ilegal. Sehingga, tidak ada lagi korban dari penggunaan kosmetik ilegal tersebut. Karena hasil penelitian ini menyimpulkan bahwasanya kurang efektifnya penegakan hukum dalam menangani kasus perdagangan kosmetik ilegal tersebut sehingga membuat para pelaku usaha tidak takut untuk memperdagangkan kosmetik ilegal tersebut.