ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Okra (Abelmoschus esculentus L.) merupakan komoditas hortikultura yang penting, dan peningkatan produksinya dapat dilakukan melalui intensifikasi teknik budidaya seperti pemangkasan daun. Efektivitas pemangkasan sangat bergantung pada penentuan waktu yang tepat agar mampu memaksimalkan hasil dan mencegah penurunan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pemangkasan daun terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman okra, serta menentukan waktu pemangkasan daun yang paling optimal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan 5 perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali, menghasilkan 25 unit percobaan. Perlakuan yang diuji meliputi: Tanpa Pemangkasan (P0), Pemangkasan 3 Minggu Setelah Tanam (MST) (P1), Pemangkasan 5 MST (P2), Pemangkasan 7 MST (P3), dan Pemangkasan 9 MST (P4).Parameter yang diamati meliputi seluruh aspek pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang) dan generatif (umur berbunga, jumlah buah, dan bobot buah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan daun memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan vegetatif maupun generatif tanaman okra. Perlakuan P2 (Pemangkasan Daun pada usia 5 MST) terbukti menjadi perlakuan yang paling optimal dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman okra. Perlakuan P2 menghasilkan rata-rata jumlah daun tertinggi (27,28 helai) , diameter batang terbesar (2,53 cm) , umur berbunga tercepat 40 hst, serta mencapai jumlah buah (16,19 buah) dan bobot buah (252,79 g) tertinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh permainan gobak sodor terhadap kerjasama siswa kelas VIII di SMP Negeri 13 Tarakan. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif model Pre-Experimental Designs dengan desian One Grup Pretest-Posttest Desaign. Populasi penelitain sebanyak 95 dan pengambilan sampel penelitian menggunakan purposive sampling, yaitu sebanyak 12 siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif dan inferensial dengan uji wilcoxon two related samplestest dengan menggunakan SPSS 29.0 for windows. Menggunakan dua teknik analisis data yaitu teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis inferensial. Hasil teknik analisis deskriptif yaitu terdapat perubahan tingkat kerjasama siswa SR dari kategori sangat rendah menjadi tinggi. Perubahan tingkat kerjasama siswa NI, MRY, MRI, dan JP dari kategori rendah menjadi tinggi. Perubahan tingkat kerjasama siswa MF, MFN, AR, R, ZP, S dan FF dari kategori rendah menjadi sangat tinggi. Hasil teknik analisis inferensial yang diperoleh berdasarkan uji wilcoxon sebesar 0,002 lebih kecil dari taraf signifikansi yaitu α (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa asymp sig = 0,002 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti bahwa, Ada pengaruh permainan gobak sodor untuk meningkatkan kerjasama siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGARUH KONSELING KELOMPOK TERHADAP TANGGUNG JAWAB BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI 14 TARAKAN ABSTRAK Selviana Timba. 2025. “Pengaruh Konseling Kelompok Terhadap Tanggung Jawab Belajar Siswa Di SMP Negeri 14 Tarakan”. Program Studi Bimbingan dan Konseling. Pembimbing Utama: Emmy Ardiwinata, M.Pd. Pembimbing Anggota: Tri Cahyono, M.Pd. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling kelompok terhadap tanggung jawab belajar siswa di SMP Negeri 14 Tarakan. Konseling kelompok adalah bentuk layanan kelompok untuk mengentaskan masalah pribadi anggota kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Tanggung jawab belajar adalah usaha siswa dalam menyelesaikan tugasnya secara maksimal dengan penuh kesukarelaan, kesadaran, dan komitmen dan berani menanggung resiko sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pre-test and post-test. Subjek penelitian sebanyak 6 siswa. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan skala tanggung jawab belajar, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis inferensial menggunakan bantuan IBM SPSS Statistics versi 26 untuk menguji selisih antara pre-test dan post-test kelompok menggunakan uji Paired Sample t-Test dengan taraf signifikansi 0.05. Hasil output uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.047 0.05. Kesimpulan penelitian ini adalah, H0 ditolak dan Ha diterima artinya, ada pengaruh konseling kelompok terhadap tanggung jawab belajar siswa di SMP Negeri 14 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru sebagai motivator belajar siswa kelas IV-A di SD Negeri 021 SKIP Tarakan. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian yaitu guru kelas IV-A dan 3 orang siswa kelas IV-A sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu lembar observasi, lembar wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarik kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh bahwa guru telah melaksanakan perannya dengan baik sebagai motivator belajar siswa, baik dari indikator mengawasi kegiatan dalam belajar dan indikator membantu mengatasi kesulitan belajar siswa. Namun, masih terdapat peran guru yang belum di jalankan oleh guru yaitu pada indikator membangun motivasi siswa. Guru diharapkan agar terus meningkatkan perannya dalam menjalankan perannya sebagai motivator belajar siswa dengan baik, motivasi belajar siswa dapat meningkat apabila guru menjalankan perannya sebagai motivator belajar siswa dengan maksimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penanaman modal dalam negeri, penanaman modal asing, dan indeks pembangunan manusia terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder yang mencakup penanaman modal dalam negeri, penanaman modal asing, indeks pembangunan manusia, serta pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara periode 2014–2023, yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Utara dan Badan Pusat Statistik Indonesia. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan metode regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak E-Views 10. Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan secara parsial variabel penanaman modal dalam negeri, penanaman modal asing, dan indeks pembangunan manusia tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara. Secara simultan, variabel penanaman modal dalam negeri, penanaman modal asing dan indeks pembangunan manusia tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi Kalimantan Utara
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum pekerja terhadap penahanan ijazah dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu di Kota Tarakan serta mengetahui akibat hukum yang timbul dari tindakan penahanan ijazah oleh pemberi kerja. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris yang dilaksanakan di Kota Tarakan. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan wawancara dengan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Tarakan, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap pekerja atas praktik penahanan ijazah bisa dilakukan melalui mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang tersedia. Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/5/HK.04.00/V/2025 memuat kebijakan terkait larangan penahanan ijazah, namun belum sepenuhnya mencegah praktik tersebut karena tidak disertai sanksi khusus dan belum didukung oleh peraturan khusus di tingkat daerah. Selain itu, akibat hukum dari penahanan ijazah dapat mempengaruhi keabsahan persyarat kesepakatan dalam perjanjian kerja apabila terbukti terdapat ketidakseimbangan posisi tawar menawar dan keterpaksaan ekonomi. Penahanan ijazah tanpa dasar hukum yang sah juga berpotensi menimbulkan kerugian bagi pekerja, sehingga dapat dianalisis sebagai Perbuatan Melawan Hukum berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata apabila seluruh unsurnya terpenuhi. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan khusus di tingkat daerah, transparansi pemberi kerja dalam proses rekrutmen, serta peningkatan pemahaman hukum bagi pekerja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
TINJAUAN KRIMINOLOGI TERHADAP TINDAK PIDANA PEMERASAN MELALUI VIDEO CALL SEX (VCS) MEDIA DIGITAL DI POLRES NUNUKAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana pemerasan melalui Video Call Sex (VCS) media digital dalam tinjauan kriminologi serta menganalisis upaya penanggulangannya oleh Polres Nunukan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan Kasat Reskrim Polres Nunukan, dokumentasi, dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak pidana pemerasan melalui VCS dilakukan dengan memanfaatkan rekaman atau konten intim korban sebagai alat ancaman untuk memperoleh keuntungan secara melawan hukum. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana tersebut meliputi motif memperoleh keuntungan, hubungan pacaran atau mantan pasangan, kerentanan korban yang sebagian masih berstatus pelajar, stigma sosial, rasa malu dan takut korban untuk melapor, serta kemudahan media digital dalam merekam, menyimpan, dan menyebarkan konten intim. Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa pelaku memanfaatkan kondisi kerentanan korban dan perkembangan teknologi digital untuk melakukan pemerasan. Berdasarkan Teori Strain Robert K. Merton, tindakan pelaku merupakan bentuk innovation, yaitu upaya mencapai tujuan memperoleh keuntungan dengan menggunakan cara yang tidak sah atau melawan hukum. Upaya penanggulangan oleh Polres Nunukan dilakukan melalui upaya preventif, represif, dan non-penal. Upaya preventif dilakukan melalui sosialisasi bahaya VCS dan edukasi keamanan digital, terutama kepada pelajar dan remaja. Upaya represif dilakukan melalui penerimaan laporan, penyelidikan, penyitaan bukti elektronik, pemeriksaan saksi, dan forensik digital. Sementara itu, upaya non-penal dilakukan melalui edukasi kepada keluarga, sekolah, dan masyarakat serta pemberian perlindungan kepada korban agar berani melaporkan tindak pidana yang dialaminya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi korban dari tindak kejahatan child grooming, serta menganalisis upaya penanggulangannya. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Sumber bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan nonhukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menyebabkan anak menjadi korban child grooming meliputi faktor usia, ketidakmatangan emosional, kurangnya pengawasan orang tua, kebutuhan terhadap perhatian dan kasih sayang, kondisi ekonomi, penggunaan media sosial tanpa pendampingan, ketimpangan relasi kuasa, budaya diam, serta stigma terhadap korban. Faktor-faktor tersebut tidak dapat dipahami sebagai kesalahan anak, melainkan sebagai kondisi kerentanan yang dimanfaatkan oleh pelaku. Berdasarkan perspektif viktimologi, anak merupakan korban yang mengalami viktimisasi primer melalui manipulasi, ancaman, pemaksaan, dan eksploitasi seksual, serta berpotensi mengalami viktimisasi sekunder akibat stigma, penghakiman, dan perlakuan yang tidak sensitif. Upaya pencegahan harus dilakukan secara terpadu melalui keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, pemerintah, aparat penegak hukum, dan penyelenggara platform digital. Pencegahan tersebut meliputi pendidikan perlindungan diri, peningkatan literasi digital, pengawasan yang proporsional, mekanisme pengaduan yang ramah anak, penegakan hukum, perlindungan identitas, pendampingan, rehabilitasi, dan pemulihan korban.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Peserta didik kelas IV masih mengalami kendala dalam memahami materi ketika pembelajaran hanya disampaikan secara lisan tanpa didukung media visual. Video pada materi gotong royong memuat materi gotong royong berbasis budaya lokal Kalimantan Utara. Karakteristik dan kebutuhan siswa merupakan dasar peneliti melakukan penelitian. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah research and development (R & D) dengan menggunakan model ADDIE pengembangan tersebut terdiri dari beberapa tahapan yaitu Analysis, Design, Development, implemetation dan Evaluation. Penelitian ini bertujuan menghasilkan video pembelajaran pada materi gotong royong bagi peserta didik kelas IV B SDN 043 Tarakan sekaligus mengkaji kelayakan media yang dikembang kan serta tingkat pemahaman siswa terhadap produk tersebut. Hasil penilaian dari para validator menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memperoleh persentase kelayakan sebesar 80% berdasarkan penilaian ahli materi, 85% berdasarkan penilaian ahli media, serta 100% berdasarkan penilaian praktisi. Jika seluruh hasil validasi tersebut dirata-ratakan, diperoleh persentase kelayakan sebesar 88,33% yang berada dalam kategori sangat layak. Pada tahap uji coba terbatas, persentase pemahaman siswa mencapai 88%. Adapun pada uji coba lapangan, persentase yang diperoleh sebesar 82,86%. Berdasarkan kedua hasil tersebut, tingkat pemahaman siswa termasuk dalam kategori sangat memahami. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa video pembelajaran yang dikembangkan dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk mendukung pemahaman siswa terhadap materi gotong royong.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran kartu DOMSIR (Domino Siklus Air), berdasarkan hasil validasi para ahli, serta menilai kemenarikan medianya melalui respon siswa dan mengetahui hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan Research and Development (R&D) dengan mengacu pada model pengembangan ADDIE yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data berupa lembar validasi, angkat respon siswa, dan hasil belajar siswa. Hasil validasi menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memperoleh persentase dari ahli media sebesar 90%, ahli materi sebesar 96%, dan ahli bahasa sebesar 86% dengan kategori sangat layak. Pada tahap uji coba terbatas, siswa memberikan respon kemenarikan berdasarkan hasil angket respon siswa sebesar 97,18%. Sementara itu, pada uji coba lapangan, hasil angket respon siswa menunjukkan tingkat kemenarikan sebesar 96,33% dengan kategori sangat menarik. Kemudian hasil belajar siswa pada uji coba lapangan berdasarkan hasil posttest sebanyak 27 siswa dari total 28 siswa yang secara klasikal telah mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Berdasarkan hasil validasi serta hasil uji coba terbatas berupa respon siswa dan uji coba lapangan berupa respon siswa dan hasil belajar siswa, pada media pembelajaran kartu DOMSIR (Domino Siklus Air) dinyatakan layak, menarik, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran di kelas V-A SD Negeri 035 Tarakan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran guru sebagai motivator terhadap hasil belajar siswa serta mengetahui tingkat kekuatan hubungan tersebut pada siswa kelas V A SD Negeri 011 Karang Balik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional yang melibatkan 28 siswa kelas V A sebagai sampel penelitian yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi sebanyak 56 siswa kelas V. Data peran guru sebagai motivator dikumpulkan melalui angket yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, sedangkan data hasil belajar diperoleh melalui dokumentasi nilai siswa. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan uji korelasi Rank Spearman dengan bantuan program SPSS versi 27 karena salah satu variabel penelitian tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi Rank Spearman (ρ) sebesar 0,247 dengan nilai signifikansi 0,206 > 0,05, sehingga H₀ diterima dan Hₐ ditolak. Artinya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peran guru sebagai motivator terhadap hasil belajar siswa, meskipun hubungan yang diperoleh bersifat positif dengan tingkat hubungan rendah. Kontribusi peran guru sebagai motivator terhadap hasil belajar siswa sebesar 6,10%, sedangkan 93,90% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) masalah kontekstual pada materi pecahan di kelas VI-A SD Negeri 011 Karang Balik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas tiga siswa yang mewakili kategori kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes tertulis dan wawancara. Instrumen tes terdiri atas lima soal uraian HOTS masalah kontekstual yang mencakup indikator menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal HOTS berbasis kontekstual memiliki tingkat kemampuan yang beragam. Siswa kategori tinggi mampu menyelesaikan soal pada indikator menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta dengan baik, meskipun masih ditemukan tidak lengkapnya langkah pengerjaan pada sub-indikator memilih keputusan yang tepat. Siswa kategori sedang dapat menyelesaikan soal pada indikator menganalisis dan mencipta, tetapi masih mengalami kesulitan pada indikator mengevaluasi, khususnya dalam memilih strategi yang tepat. Sementara itu, siswa kategori rendah masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal pada indikator menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, terutama dalam memahami informasi, menentukan strategi, melakukan penalaran, serta menghubungkan situasi kontekstual dengan konsep matematika.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kemampuan pemahaman konsep merupakan salah satu kemampuan penting dalam pembelajaran matematika karena siswa tidak hanya dituntut untuk menggunakan prosedur penyelesaian, tetapi juga memahami konsep yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemahaman konsep Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) pada siswa kelas V SDN 051 Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian sebanyak tiga siswa kelas V yang dipilih menggunakan teknik simpel random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tertulis dan wawancara semi terstruktur, dengan instrumen berupa lembar soal dan pedoman wawancara. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek menunjukkan kemampuan pemahaman konsep pada lima indikator, yaitu menyatakan ulang suatu konsep, mengklasifikasikan objek menurut sifat tertentu, menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep, serta memilih dan menggunakan prosedur atau operasi tertentu. Seluruh subjek memiliki kesamaan dalam memahami konsep dan prosedur KPK dan FPB, tetapi berbeda dalam menyelesaikan masalah. Perbedaan juga ditemukan antara jawaban tertulis dan hasil wawancara, terutama pada informasi, langkah, dan alasan penyelesaian yang belum dituliskan secara lengkap, tetapi dapat dijelaskan siswa saat wawancara.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Seiring dengan perkembangan teknologi dan dinamika kurikulum dalam dunia pendidikan modern, tuntutan terhadap inovasi media pembelajaran yang interaktif dan responsif semakin meningkat. Penggunaan alat bantu pembelajaran dalam pendidikan dapat meningkatkan keterlibatan, menumbuhkan motivasi baru, dan memengaruhi aspek psikologis dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran smart box yang dinilai dari validasi ahli media dan ahli materi serta tingkat kemenarikan media yang dinilai dari respon peserta didik. Peneliti memilih judul Pengembangan Media Pembelajaran Smart Box Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Materi Norma dalam Kehidupanku Siswa Kelas V SDN 005 Tarakan dalam rangka pengembangan produk media pendidikan interaktif. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan media pendidikan smart box berdasarkan penilaian dari ahli media dan ahli materi, serta mengukur tingkat kemenarikan media tersebut melalui tanggapan siswa selama uji coba terbatas maupun uji coba lapangan. Penulisan ini menggunakan metode penelitian 4D, namun analisisnya dibatasi hingga pada tahap pengembangan (Develop). Media pembelajaran smart box telah melalui tujuh kali tahapan verifikasi media dan materi. Hasil penulisan memperlihatkan hasil validasi oleh ahli media memperoleh skor 100% dikategorikan Sangat Layak, sedangkan validasi oleh ahli materi mencapai skor 93,33% juga diklasifikasikan sebagai Sangat Layak. Selain itu, evaluasi pada tanggapan siswa mengenai kemenarikan media pembelajaran smart box menghasilkan penilaian sebesar 90% pada uji coba terbatas dan 82,2% pada uji coba lapangan; kedua hasil tersebut diklasifikasikan sebagai Sangat Menarik. Kesimpulanya, media pembelajaran smart box dapat dikatakan layak dan menarik untuk digunakan sebagai alternatif media pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan Pancasila materi norma dalam kehidupanku siswa kelas V SDN 005 Tarakan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran deep learning sebagai pendekatan yang menekankan pembelajaran bermakna, mendalam, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman guru Sekolah Dasar terhadap konsep pembelajaran deep learning di Kelurahan Mamburungan Timur, Kota Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif survei. Populasi penelitian berjumlah 86 guru, dengan sampel 39 guru. Pengumpulan data menggunakan kuesioner berskala Likert empat poin yang terdiri atas 20 pernyataan. Instrumen mengukur lima indikator, yaitu pemahaman konsep dasar, tujuan, karakteristik, strategi dan pendekatan pembelajaran pendukung, serta penerapan deep learning dalam pembelajaran. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif meliputi frekuensi, persentase, rata-rata, skor minimum, skor maksimum, dan simpangan baku. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemahaman guru berada pada kategori tinggi, dengan rata-rata 62,49 dan simpangan baku 6,84. Sebanyak 20 guru (51,28%) berkategori tinggi, 11 guru (28,21%) sangat tinggi, dan 8 guru (20,51%) sedang. Pemahaman konsep dasar memperoleh rata-rata tertinggi, yaitu 13,05 atau 81,56% dengan kategori sangat tinggi, sedangkan penerapan dan evaluasi pembelajaran memperoleh rata-rata terendah, yaitu 11,70 atau 73,13%, namun berkategori tinggi. Dengan demikian, pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran deep learning tergolong baik, tetapi penguatan kompetensi pada aspek penerapan dan evaluasi masih diperlukan. Kata kunci: Deep learning, Pemahaman Guru, Guru Sekolah Dasar, Pembelajaran Mendalam, Survei Deskriptif.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran IPAS kelas III MI Al Fawaid Tarakan. Wawancara dan observasi menunjukkan guru masih menggunakan metode ceramah tanpa media pembelajaran, sehingga siswa kurang fokus, mudah bosan, dan sulit memahami materi simbiosis antar makhluk hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui kelayakan dan keefektifan media flashcard pada materi simbiosis antar makhluk hidup. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Media flashcard yang memuat materi simbiosis mutualisme, komensalisme, dan parasitisme. Kelayakan media diukur melalui validasi ahli media, ahli materi, dan ahli bahasa. Hasil validasi ahli media memperoleh persentase 65,4% dengan kategori layak, validasi ahli materi 90% dengan kategori sangat layak, dan ahli bahasa 96,3% dengan kategori sangat layak, dengan rata-rata 83,9% termasuk kategori sangat layak. Keefektifan media diperoleh melalui pretest dan posttest menggunakan N-Gain. Uji coba terbatas terhadap 6 siswa memperoleh 58,16% dengan kategori cukup efektif, sedangkan uji coba lapangan terhadap 29 siswa memperoleh 61,20% dengan kategori cukup efektif. Persentase akhir sebesar 59,68% termasuk kategori cukup efektif. Dengan demikian, media flashcard yang dikembangkan dinyatakan sangat layak dan cukup efektif digunakan dalam pembelajaran IPAS materi simbiosis antar makhluk hidup kelas III MI Al Fawaid Tarakan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Advances in digital technology have generated new opportunities for English language learning beyond formal classroom environments. This study explores university students' experiences in utilizing Instagram as an informal platform for English language learning, focusing on their speaking skills, self-confidence, perceptions, challenges, and the meanings they ascribe to these learning experiences. Employing a qualitative approach, this research adopted a netnographic method. The study collected data through observations, video content analysis, documentation, and semi-structured interviews with four university students. The data were interpretively analysed to understand the students' learning experiences, practices, perceptions, strategies, and challenges. The findings indicate that Instagram contributes positively to the development of students' speaking skills and self-confidence. Through authentic English content, observing pronunciation and expressions, and repeated speaking practice, students improved their pronunciation, fluency, vocabulary, grammar, and content organization. Students perceived Instagram as a user-friendly, flexible, engaging, and relevant learning medium. However, students faced several challenges, including difficulty understanding pronunciation variations and accents, limited vocabulary, distractions from entertainment content, information overload, and a lack of academic feedback. To overcome these hurdles, students employed self-regulated strategies such as rewatching videos, utilizing captions, taking notes on new vocabulary, following trusted educational accounts, and managing their study time. This study concludes that Instagram can serve as an effective informal learning environment that complements formal instruction. Crucially, speaking skills and self-confidence do not develop automatically through mere exposure to content; rather, they result from an active process involving content selection, observation, practice, evaluation, reflection, and interaction. These findings suggest that educators may consider integrating Instagram as a supplementary resource for authentic and contextual speaking activities.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
English learning media in elementary schools plays an important role in supporting the English language teaching process for young learners. This research aimed to develop augmented reality-based flashcards for vocabulary learning for fifth-grade students at SDN 010 Tarakan. This was a research and development study using the 4D model, consisting of the Define, Design, Develop, and Disseminate stages. The research instruments used included student needs questionnaires, interview guides for teachers, expert validation questionnaires for content and media, media usability questionnaires, and student response questionnaires. The results of the needs analysis questionnaire and interviews with teachers indicated that vocabulary learning media were highly needed by students in their English language learning. The designed product consisted of flashcards featuring vocabulary related to parts of the body, hobbies, and things in school, in accordance with the students' needs. The developed media were then validated in terms of content and media before being pilot-tested on 12 fifth-grade students at SDN 010 Tarakan. The research results revealed that the level of suitability and practicality of the media, based on the following assessments, were as follows: 1) validation by a media expert yielded a score of 93.7%, classified as “highly applicable”; 2) validation by a content expert yielded a score of 96.3%, classified as “highly applicable”; 3) 97.1% of English language teaching practitioners rated the material as “highly practical.” Student responses to this learning material following the pilot test were positive, with a score of 91% of the total possible score. Accordingly, it can be concluded that the development of augmented reality-based flashcard learning materials for fifth-grade students at SDN 010 Tarakan was deemed highly feasible and highly practical for use. Keywords: Augmented Reality, flashcard media, vocabulary learning, 4D model, elementary school
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru sebagai pendidik siswa dalam menulis permulaan di kelas 1C SDN 024 Tarakan. Latar belakang penelitian ini didasari oleh temuan bahwa Sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam menulis seperti menulis huruf konsonan, huruf vokal, ukuran huruf yang tidak konsisten, penulisan huruf hingga menjadi satu kata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan informan utama yakni guru kelas dan tiga siswa kelas 1C. Fokus penelitian diarahkan pada peran guru sebagai pendidik dalam proses pembelajaran menulis permulaan. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teknik dan triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai pendidik dalam kegiatan menulis permulaan melalui pemberian contoh, arahan, pendampingan, umpan balik, dan evaluasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini berawal dari kurangnya pemahaman siswa pada proses pembelajaran Pendidikan Pancasila materi makna Pancasila. Kondisi ini menunjukkan bahwa diperlukan penggunaan media pembelajaran yang menarik dan mampu melibatkan siswa secara aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan media permaian puzzle dalam meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran pendidikan pancasila di kelas III-C SDN 013 tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang mencakup empat tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini yaitu 27 siswa kelas III-C SDN 013 Tarakan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes pemahaman serta pengamatan aktivitas guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media permainan puzzle mampu meningkatkan pemahaman siswa. Hasil penerapan media permainan puzzle pada siklus I yaitu 48% dan meningkat pada siklus II menjadi 85%. Hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus I yaitu 82,5% kemudian pada siklus II meningkat menjadi 87,5%, sedangkan pada hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus I yaitu 84,5% dan meningkat menjadi 92,3% pada siklus II dengan kategori saangat baik. Dengan demikian, penggunaan media permainan puzzle dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila materi makna Pancasila di kelas III-C SDN 013 Tarakan.