ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamal. 15.201020.078. 2019. “ Strategi Pemasaran Pisang Kepok Desa Sungai Limau Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan”. dibimbing oleh Nia Kurniasih Suryana. Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh petani yang ada yakni pemasaran merupakan suatu usaha untuk menyampaikan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Sejauh ini pemasaran pisang yang ada di Desa Sungai Limau telah mencapai di negara tetangga (Malaysia). Dari sektor pemasaran menghadapi beberapa kendala dalam hal produk, harga, tempat, dan promosi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi pemasaran pisang kepok yang ada desa sungai limau kecamatan sebatik tengah. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Metode pengolahan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, Analisis data yang digunakan adalah Analisis SWOT (IFAS dan EFAS). Hasil menunjukkan Faktor strategi internal dan eksternal menunjukkan bahwa jumlah untuk faktor kekuatan sebesar 1.60 lebih kecil dari ada jumlah faktor kelemahan sebesar 1.75 keadaan ini mengidentifikasi bahwa faktor kekuatan untuk pemasaran pisang kepok yang ada disungai limau lebih kecil dari pada faktor kelemahan yang akan menghambatnya. Sedangkan Analisis kuadran didapatkan dengan melakukan pengurangan antara jumlah total faktor dengan jumlah total kemudian dibagi 2. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai X = 0.71 dan nilai Y = 1.07 Kesimpulan bahwa faktor internal, dari aspek kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Desa, yaitu: (1) produk berkualitas, (2) pengetahuan SDM yang baik tentang budidaya pisang kepok, (3) letak wilayah strategis. (4) modal usaha terbatas, (5) minimnya kegiatan promosi, (6) kemasan produk pisang kurang menarik, (7) saluran pemasaran yang panjang. Pada sektor eksternal dari aspek peluang dan ancaman yang dimiliki oleh desa, yaitu: (1) adanya bantuan dari dinas pertanian, (2) tersedianya pemasaran pisang kepok yang masih luas baik dalam negeri maupun luar negeri (3) adanya kemajuan teknologi informasi, (4) stabilitas nilai tukar mata uang, (5) sulitnya akses perizinan, (6) harga beli hasil pertanian ditetapkan oleh tengkulak, (7) pesaing dari desa lain. Adapun strategi yang ditetapkan yaitu: (1) memperluas jaringan pemasaran dengan memanfaatkan teknologi informasi, (2) meningkatkan sumber daya manusia (SDM) serta kerjasama dengan pihak dinas pertanian. Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini maka diberikan beberapa saran sebagai berikut: (1) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dengan cara membuat program workshop, pelatihan, studi banding poktan yang difasilitasi oleh pemerintah atau swasta, (2) Sebaiknya dilakukan pembimbingan dan pengawasan secara bertahap dari hasil alternatif strategi pemasaran pisang kepok di Desa Sungai Limau sesuai dengan prioritas sehingga tujuan dari pelaksanaan strategi tersebut dapat tercapai dan tepat sasaran (3) Disarankan pada peneliti berikutnya yang ingin melakukan penelitian dengan topik yang sama maka diharapkan dapat mengkaji lebih dalam masing-masing bagian dalam sistem strategi pemasaran pisang kepok.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•
PERILAKU TANAH LEMPUNG YANG DICAMPUR DENGAN PASIR SUNGAI UNTUK SUBGRADE (Studi Kasus: Gunung Selatan Kampung Satu Kota Tarakan) Nama Mahasiswa : Winda Lestari NPM : 14301010004 Dosen Pembimbing : Hasrullah, S.T.,M.T. ABSTRAK Tanah merupakan dasar dari suatu struktur atau konstruksi, baik itu konstruksi gedung maupun konstruksi jalan, sehingga diharapkan tanah mampu mendukung beban yang ada di atasnya. Tetapi pada implementasinya beberapa kendala terjadi disebabkan oleh tanah dengan sifat-sifat yang buruk dan kurang menguntungkan, antara lain plastisitas tinggi, kemampatan atau perubahan volume yang besar dan potensi kembang susut yang besar. Hal tersebut merupakan sifat yang dimiliki oleh tanah lempung. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut dilakukan perbaikan tanah dasar yaitu dengan cara stabilisasi dengan menggunakan pasir sungai yang ditujukan untuk memperbaiki gradasi tanah dengan cara mencampur tanah dengan bahan stabilisasi yang memiliki gradasi lebih besar. Pengujian dilakukan dengan cara mencampurkan beberapa variasi persentase pasir sungai terhadap berat tanah, dengan persentase penambahan pasir sungai 10%, 20%, 30%, 40%, 50%. Sampel tanah yang digunakan berasal dari Gunung Selatan Kampung Satu Kota Tarakan. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian sifat fisik dan mekanis tanah. Berdasarkan pemeriksaan sifat fisik tanah asli didapatkan nilai, specific gravity sebesar 2,59, Liquid Limit (LL) 53,2%, Indeks Plastis (IP) 16,50%, analisa ukuran butiran sebesar 57,8%. Berdasarkan klasifikasi USCS sampel tanah berbutir halus dan termasuk ke dalam kelompok OH. Pada pengujian sifat mekanis tanah, hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan pasir sungai 50% pada pengujian pemadatan berat isi kering mengalami peningkatan dari 1,400 gr/cm³ menjadi 1,557 gr/cm³. Pada pengujian CBR juga mengalami peningkatan, CBR unsoaked dari 6,63% menjadi 13,68% dan CBR soaked dari 3,04 menjadi 8,16% dengan melewati masa perendaman selama 4 hari dan swelling pengalami penurunan dari 19,2% menjadi 12,5%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan karakter molekuler ikan dari perairan Sungai Mentarang Hulu, Desa Long Berang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara menggunakan metode DNA barcoding dengan penanda gen mitokondria Cytochrome c Oxidase Subunit I (COI). Sampel yang dianalisis terdiri atas enam sekuen dengan kode RA1, RA2, RA4, RA5, RA9, dan RA11. Analisis dilakukan melalui ekstraksi DNA, PCR, elektroforesis, sekuensing, pencocokan sekuen pada database GenBank, analisis jarak genetik, dan filogenetik. Hasil pencocokan menunjukkan tingkat kemiripan sebesar 93,24–100%, dengan kemiripan tertinggi RA1 dengan Tor douronensis, RA2 dengan Lobocheilos erinaceus, RA4 dengan Cyclocheilichthys repasson, RA5 dengan Parachela oxygastroides, RA9 dengan Hemibagrus fortis, dan RA11 dengan Gastromyzon ornaticauda. Jarak genetik terendah ditemukan pada RA5 dengan P. oxygastroides sebesar 0,000. Analisis filogenetik menunjukkan adanya pengelompokan sampel berdasarkan kedekatan genetik dengan sekuen pembanding. Berdasarkan hasil tersebut, DNA barcoding gen COI dapat digunakan untuk membantu menentukan identitas jenis serta mengetahui hubungan kekerabatan genetik ikan dari perairan Sungai Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sungai Bengawan merupakan salah satu aliran sungai di Kota Tarakan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berbagai aktivitas, seperti kebutuhan rumah tangga, perikanan, dan sumber air baku. Tingginya intensitas pemanfaatan tersebut berpotensi menurunkan kualitas air sungai akibat masuknya bahan pencemar organik maupun anorganik, sehingga diperlukan upaya pemantauan kualitas air, salah satunya melalui pendekatan biologis menggunakan struktur komunitas plankton sebagai bioindikator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas plankton sebagai bioindikator kualitas air di Sungai Bengawan Kota Tarakan, melalui pengukuran kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi plankton, serta mengkaji hubungannya dengan parameter kualitas air meliputi suhu, pH, Dissolved Oxygen (DO), Biochemical Oxygen Demand (BOD), nitrat, fosfat, dan Total Suspended Solid (TS). Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2026. Penelitian ini dilakukan pada lima stasiun pengamatan yang mewakili bagian hulu, tengah, dan hilir sungai. Sampel plankton diambil menggunakan plankton net dan diidentifikasi menggunakan mikroskop cahaya dengan bantuan Sedgwick–Rafter Counting Chamber. Hasil penelitian menunjukan jumlah spesies pada 5 stasiun berkisar antara 8 hingga 16 spesies plankton. Pada setiap stasiun, didominasi fitoplankton terdiri dari kelompok Bacillariophyceae, Dinoflagellata, dan beberapa jenis zooplankton seperti Rotifera dan Vorticella. Kelimpahan plankton di Sungai Bengawan berkisar antara 55-95 ind/L, dengan nilai tertinggi pada stasiun IV dan terendah pada stasiun 1 dan V. Rata-rata kelimpahan plankton seluruh stasiun yaitu 68 ind/L. Nilai Indeks Keanekaragaman (H') berkisar antara 1,972–2,653 dengan nilai rata-rata 2,398 yang menunjukkan kategori keanekaragaman sedang. Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,086-0,1570 dengan rata-rata seluruh stasiun 0,103 termasuk dalam kategori dominansi rendah. Indeks ke seragaman (E) berkisar antara 0,901–1,000 dengan nilai rata-rata 0,975 menunjukkan kategori keseragaman tinggi. Berdasarkan hasil tersebut, kondisi perairan Sungai Bengawan secara umum tergolong tercemar ringan hingga sedang dengan indikator keanekaragaman sedang, keseragaman tiggi, dan dominansi rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan komoditas penting dalam budidaya tambak tradisional di Kabupaten Bulungan yang keberhasilan produksinya sangat bergantung pada kualitas air sumber. Sungai Riyap merupakan sumber utama air tambak di Desa Sajau Hilir, namun kondisi perairannya berpotensi dipengaruhi oleh aktivitas pertambakan, perkebunan, permukiman, serta dinamika pasang surut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fisika-kimia air Sungai Riyap sebagai sumber baku air tambak udang windu dan menentukan status mutu air menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP). Penelitian dilaksanakan pada Januari–Maret 2026 di empat stasiun yang mewakili bagian hulu, depan pintu tambak, area setelah aktivitas tambak, dan muara sungai. Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi pasang dan surut. Parameter yang diamati meliputi suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, pH, oksigen terlarut (DO), amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat. Hasil penelitian menunjukkan suhu berkisar 27–32 °C, salinitas 14–17 ppt, kecerahan 37–92 cm, kecepatan arus 0,6–0,9 m/detik, pH 5,7–7,0, DO 5,5–6,7 mg/L, amonia 0,045–0,467 mg/L, nitrit 0,063–0,374 mg/L, nitrat 0,618–0,949 mg/L, dan fosfat 0,023–0,038 mg/L. Suhu, salinitas, dan DO secara umum masih mendukung budidaya udang windu tradisional, sedangkan pH, amonia, nitrit, nitrat, fosfat, serta beberapa parameter fisik menunjukkan ketidaksesuaian terhadap kisaran yang dipersyaratkan. Nilai IP berkisar 2,7–11,0, terdiri atas 37,5% pengamatan tercemar ringan, 54,2% tercemar sedang, dan 8,3% tercemar berat. Rata-rata IP pada kondisi pasang sebesar 4,90, sedangkan pada kondisi surut meningkat menjadi 7,42, atau sekitar 51% lebih tinggi. Kondisi tercemar berat ditemukan pada Stasiun 3 dan Stasiun 4 saat surut bulan ketiga dengan IP masing-masing 10,1 dan 11,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Riyap masih berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air tambak udang windu, tetapi memerlukan pengelolaan melalui pemilihan waktu pengambilan air saat pasang, penggunaan tandon atau kolam pengendapan, pengondisian pH, serta pemantauan kualitas air secara berkala. Kata kunci: indeks pencemaran; kualitas air; Sungai Riyap; tambak tradisional
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sungai Bengawan di Kota Tarakan merupakan salah satu sumber daya perairan yang dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, meliputi aktivitas domestik, perikanan, dan kegiatan ekonomi lainnya. Peningkatan aktivitas masyarakat di sekitar daerah aliran sungai (DAS) dapat meningkatkan potensi masuknya limbah domestik dan sumber pencemar lainnya ke dalam badan perairan, sehingga berisiko menyebabkan penurunan kualitas air. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencemaran dan status mutu air Sungai Bengawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air Sungai Bengawan berdasarkan parameter fisika dan kimia serta menentukan tingkat pencemarannya menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) yang mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 27 Tahun 2021. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel air pada beberapa titik pengamatan yang mewakili wilayah hulu, tengah, dan hilir Sungai Bengawan. Parameter yang dianalisis meliputi suhu, pH, kecerahan, kekeruhan, Total Suspended Solids (TSS), Dissolved Oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), amonia total, dan ortofosfat. Hasil pengukuran kualitas air selanjutnya dibandingkan dengan baku mutu air kelas II sebagai dasar penentuan nilai Indeks Pencemaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan Sungai Bengawan berada pada tingkat pencemaran ringan hingga sedang. Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Pencemaran, nilai indeks pada bagian hulu sebesar 3,5, bagian tengah sebesar 3,5, dan bagian hilir sebesar 1,8. Hasil tersebut menunjukkan adanya variasi tingkat pencemaran antarwilayah pengamatan, dengan nilai Indeks Pencemaran yang lebih rendah pada bagian hilir dibandingkan dengan bagian hulu dan tengah.Hasil tersebut menunjukkan adanya pencemaran pada setiap wilayah pengamatan dengan tingkat pencemaran yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan dan pengendalian pencemaran secara berkelanjutan guna mempertahankan kualitas air serta menjaga keberlanjutan fungsi Sungai Bengawan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hiu sungai Glyphis fowlerae merupakan spesies hiu yang sangat langka dan memiliki nilai konservasi tinggi. Informasi mengenai aspek reproduksi spesies ini di Indonesia masih terbatas sehingga diperlukan penelitian untuk mendukung upaya pengelolaan dan konservasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis aspek reproduksi Glyphis fowlerae yang meliputi Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG), dan nisbah kelamin di Perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2025 hingga April 2026 menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak 40 ekor hiu yang merupakan hasil tangkapan sampingan (bycatch) nelayan rawai dijadikan sampel penelitian. Parameter yang diamati meliputi panjang total, berat tubuh, berat gonad, dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 15 ekor hiu yang gonadnya dapat diamati secara makroskopis, terdiri atas 12 ekor jantan dan 3 ekor betina, sedangkan 25 ekor lainnya tidak ditemukan gonad. Seluruh sampel yang memiliki gonad berada pada Tingkat Kematangan Gonad I (immature). Nilai Indeks Kematangan Gonad jantan sebesar 0,68 ± 0,35%, sedangkan betina sebesar 0,82 ± 0,26%, yang menunjukkan bahwa gonad masih dalam tahap perkembangan awal dan belum memasuki fase reproduksi aktif. Nisbah kelamin keseluruhan adalah 1:1, yaitu masing-masing 20 ekor jantan dan 20 ekor betina. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa hiu sungai yang tertangkap di Perairan Sungai Sesayap didominasi oleh individu juvenil, sehingga penelitian ini menjadi informasi dasar mengenai aspek reproduksi Glyphis fowlerae di wilayah tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Aspek reproduksi ikan merupakan salah satu informasi penting yang perlu dikaji sebagai dasar pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi ikan baung (Hemibagrus sp.) meliputi nisbah kelamin, Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG) dan Fekunditas dari hasil tangkapan nelayan yang ada di sungai Malinau, Kabupaten Malinau. Pengumpulan sampel dilakukan selama 3 bulan dari Februari hingga April 2026 yang berlokasi di anak sungai Malinau yang meliputi sungai Semendurut, sungai Sembuak, dan sungai Bengalun. Sampel yang dikumpulkan berjumlah 30 ekor ikan baung, terdiri atas 12 ekor jantan dan 18 ekor betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin ikan baung bervariasi setiap bulan berkisar 1,0 : 1,0 - 1,0 : 2,3 dengan jumlah ikan betina lebih dominan dibandingkan ikan jantan. TKG didominasi oleh TKG III dan IV. Nilai IKG ikan jantan berkisar 0,05 - 0,34% sedangkan pada ikan betina berkisar 0,10 - 3,10%. Fekunditas ikan baung betina berkisar 5.642 - 9.345 butir dengan pola reproduksi diduga menunjukkan indikasi awal pemijahan secara bertahap (partial spawning). Pengelolaan ikan baung yang direkomendasikan meliputi pengawasan terhadap penggunaan alat tangkap yang bersifat destruktif dan perlindungan atau larangan pada bagian-bagian sungai yang berfungsi sebagai habitat penting.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan hiu sungai (Glyphis fowlerae) merupakan spesies elasmobranch yang hidup di perairan tawar dengan status konservasi Critically Endangered serta memiliki distribusi yang terbatas, termasuk di Perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Informasi mengenai ekologi makan spesies ini masih sangat terbatas, sehingga diperlukan kajian ilmiah untuk mendukung upaya konservasi dan pengelolaan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebiasaan makan G. fowlerae berdasarkan isi lambung sebagai indikator ekologi makan. Penelitian dilakukan menggunakan metode analisis isi lambung terhadap 40 sampel ikan dengan panjang tubuh 52–99 cm dan berat 1.100–7.100 gram. Analisis meliputi jumlah (N), berat (W), frekuensi kemunculan (F) jenis makanan, Indeks Bagian Terbesar (Index of Preponderance), serta Indeks Kepenuhan Lambung (ISC). Hasil analisis menunjukkan bahwa G. fowlerae bersifat karnivora dengan komposisi makanan utama berupa udang (IP = 75,70%), diikuti ikan (IP = 16,95%), serasah (IP = 4,65%), dan organisme tidak teridentifikasi (IP = 2,71%). Total berat isi lambung yang teridentifikasi mencapai 579,31 gram. Nilai ISC menunjukkan variasi antar individu yang mengindikasikan perbedaan aktivitas makan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa G. fowlerae merupakan predator aktif yang sangat bergantung pada krustasea, terutama udang, sebagai sumber makanan utama di ekosistem Sungai Sesayap.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan Pelian (Tor tambroides) merupakan salah satu ikan air tawar bernilai ekonomis tinggi yang hidup pada perairan sungai berarus deras dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan lingkungan. Informasi mengenai aspek reproduksi ikan pelian diperlukan sebagai dasar pemgelolaan dan koservasi sumber daya ikan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek reproduksi ikan pelian yang meliputi Nisbah Kelamin, Tingkat Kematangan Gonad (TKG), dan Indeks Kematangan Gonad (IKG) di Sungai Mentarang Hulu, Desa Long Berang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Penelitian dilaksanakan pada Januari – Maret 2026 mengunakan metode deskriftif kuantitatif. Sampel ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan menggunakan alat tangkap jala. Sebanyak 62 ekor ikan pelian berhasil dikumpulkan yang terdiri atas 38 ekor jantan dan 24 ekor betina. Pengamatan dilakukan melalui identifikasi Jenis Kelamin, pengamatan Tingkat Kematangan Gonad serta perhitungan Indeks Kematangan Gonad. Hasil penelitian menunjukan bahwa Nisbah Kelamin ikan Pelian tidak seimbang dengan perbandingan jantan dan betina sebesar 1,0: 0,63, dimana ikan jantan lebih dominan dibandingkan ikan betina. Tingkat Kematangan Gonad ikan jantan ditemukan pada TKG I dan II, sedangkan ikan betina ditemukan pada TKG I, II, III, dan IV. Nilai IKG ikan jantan berkisar antara 0,01 – 0,52%, sedangkan ikan betina berkisar antara 0,17 – 7,10%. Nilai IKG tertinggi ditemukan pada ikan betina TKG IV sebesar 5,73 – 7,10%, yang dimana menunjukan gonad telah matang dan siap memijah. Keberadaan ikan betina pada TKG IV mengindikasikan bahwa Sungai Mentarang Hulu diduga menjadi salah satu lokasi pemijahan ikan pelian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dasar dalam upaya pengelolaan dan konsrvasi ikan pelian secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis Peran Lembaga Adat Dalam Mencegah Pencemaran Sungai di Desa Long Ampung Kecamatan Kayan Selatan. Berdasarkan latar belakang, maka dua permasalahan yang diangkat dalam penelitan ini adalah, Peran lembaga adat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian sungai di Desa Long Ampung dan yang kedua adalah efektivitas peran lembaga adat dalam menegakkan aturan terkait pencemaran sungai. Penelitan ini menggunkan tipe penelitian hukum normatif, dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (Statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Berdasarkan hasil penelitian, Lembaga adat Desa Long Ampung berperan menjaga kebersihan dan kelestarian sungai melalui aturan adat, konservasi, dan edukasi. Mereka melarang pembuangan limbah serta penggunaan bahan kimia berbahaya, menerapkan sistem Tana' Ulen untuk menjaga ekosistem, dan mengatur penangkapan ikan secara berkelanjutan. Kepercayaan terhadap roh penjaga sungai juga mendorong penghormatan terhadap alam, yang diwujudkan dalam ritual adat seperti Peti Nyin. Efektivitas lembaga adat dalam menegakkan aturan pencemaran sungai di Desa Long Ampung berjalan efektif karena berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Perda Kabupaten Malinau Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat. Hukum adat diakui sebagai bentuk kearifan lokal yang sah dan mampu menyelesaikan persoalan secara damai. Penerapan sanksi adat, seperti denda, bersifat preventif dan efektif mencegah pelanggaran berulang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Lahirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 sebagai perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa membawa transformasi fundamental dalam tata kelola pemerintahan desa di Indonesia. Perubahan signifikan pada masa jabatan kepala desa menjadi delapan tahun, penguatan jaminan kesejahteraan perangkat desa, hingga pengaturan dana konservasi bagi desa di kawasan hutan, menuntut kesiapan adaptasi pada level pemerintah desa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi kebijakan terbaru tersebut pada Pemerintah Desa Sungai Barang, serta mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung dalam proses transisinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, studi dokumentasi terhadap produk hukum desa, serta wawancara mendalam dengan Kepala Desa, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan tokoh masyarakat di Desa Sungai Barang. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan teori implementasi kebijakan publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Desa Sungai Barang telah mulai melakukan penyesuaian administratif, terutama terkait sinkronisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dengan masa jabatan delapan tahun yang baru. Implementasi UU No. 3 Tahun 2024 di desa ini memberikan peluang besar pada stabilitas program pembangunan sektor unggulan, khususnya perkebunan kopi dan infrastruktur pengairan. Namun, ditemukan beberapa tantangan utama, yakni: 1) Keterbatasan sumber daya manusia dalam iii menerjemahkan regulasi baru ke dalam Peraturan Desa; 2) Perlunya penguatan fungsi pengawasan BPD guna mencegah potensi penyalahgunaan kekuasaan akibat perpanjangan masa jabatan; dan 3) Kesiapan infrastruktur digital desa dalam memenuhi mandat transparansi informasi publik. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi UU No. 3 Tahun 2024 di Desa Sungai Barang sangat bergantung pada sinergi antara kepemimpinan desa yang akuntabel dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengawasan partisipatif. Rekomendasi penelitian diarahkan pada perlunya bimbingan teknis intensif dari pemerintah daerah serta percepatan digitalisasi administrasi desa untuk mendukung tata kelola yang bersih dan efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan komoditas perikanan air tawar bernilai ekonomi tinggi yang hidup pada sistem sungai dan estuari. Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, merupakan salah satu habitat alami udang galah yang belum banyak dikaji secara komprehensif dari aspek bioekologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek reproduksi (nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad/TKG, indeks kematangan gonad/IKG), aspek pertumbuhan (hubungan panjang–berat dan faktor kondisi), parameter lingkungan (DO, salinitas, pH, suhu), serta pola distribusi spasial dan temporal udang galah. Penelitian dilakukan pada tiga stasiun (hulu, tengah, hilir) dengan total sampel 300 ekor. Analisis reproduksi dilakukan melalui identifikasi TKG dan perhitungan IKG, sedangkan pertumbuhan dianalisis menggunakan persamaan hubungan panjang–berat (W = aLᵇ) dan faktor kondisi. Parameter kualitas air diukur secara langsung di lapangan. Distribusi spasial dianalisis berdasarkan kelas ukuran antar stasiun, sedangkan distribusi temporal dibandingkan antara fase spring tide dan neap tide. Hasil penelitian menunjukkan nisbah kelamin relatif seimbang (1:1,02). TKG betina didominasi tahap IV, menunjukkan aktivitas reproduksi aktif. Nilai IKG betina lebih tinggi dibanding jantan pada seluruh stasiun. Hubungan panjang–berat menunjukkan pola pertumbuhan allometrik positif pada jantan (b = 3,1342; R² = 0,896) dan allometrik negatif pada betina (b = 2,9366; R² = 0,9127). Parameter kualitas air masih berada pada kisaran optimal (DO 6,7–7,2 mg/L; pH 6,6–7,2; suhu 26,9–32,4°C; salinitas 0‰). Distribusi spasial didominasi kelas ukuran menengah (13–18 cm), dengan kecenderungan individu lebih besar ditemukan di hilir. Distribusi temporal menunjukkan dominasi ukuran menengah pada fase spring tide maupun neap tide. Disimpulkan bahwa populasi udang galah di Sungai Sesayap berada dalam kondisi pertumbuhan aktif dan reproduktif, dengan struktur ukuran yang relatif stabil serta kualitas lingkungan yang mendukung keberlanjutan populasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran ekologis dan ekonomi famili Cyprinidae serta adanya ancaman terhadap kelestariannya akibat aktivitas manusia yang berlebihan di Sungai Adai, Kecamatan Peso. Penelitian terkait keanekaragaman spesies ikan famili ini di lokasi tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keanekaragaman jenis ikan famili Cyprinidae yang terdapat di Sungai Adai dan menganalisis potensinya sebagai bahan ajar biologi. Metode yang digunakan adalah survei eksploratif dengan penjelajahan langsung di lokasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun menggunakan alat tangkap berupa bubu, jaring, dan jala. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif melalui identifikasi morfologi dan penghitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan sebanyak 8 spesies dari famili Cyprinidae dengan total 945 individu. Spesies tersebut meliputi ikan Lalang (Parachela oxygastroides), ikan Pasak (Osteochilus vittatus), ikan Salap (Barbonymus schwanefeldii), ikan Padeq (Tor tambra), ikan Paseq (Crossocheilus oblongus), ikan Lalang Tebal (Rasbora einthoveni), ikan Dungan (Hampala macrolepidota), dan ikan Turing (Labiobarbus festivus). Indeks keanekaragaman jenis (H’) di ketiga stasiun berkisar antara 1,64 hingga 1,77, yang termasuk dalam kategori sedang. Parameter lingkungan menunjukkan kondisi air yang mendukung dengan suhu rata-rata 25°C, pH 6,16, dan TDS 732 ppm. Hasil penelitian ini memiliki potensi besar untuk diintegrasikan sebagai bahan ajar biologi SMA pada materi keanekaragaman hayati karena relevansinya yang kontekstual dengan lingkungan setempat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Budidaya udang windu sistem tradisional masih menjadi kegiatan utama di Kabupaten Bulungan yang cenderung menurun produktivitas tambak dan produksi udang. Penelitian ini bertujuan mengkaji kualitas air buangan tambak budidaya udang windu sistem tradisional di Pulau Tibi, Kabupaten Bulungan. Penelitian ini dilakukan mulai bulan September sampai dengan Desember 2024. Penentuan titik sampling menggunakan purposive sampling. Pada stasiun 1 menggunakan penambahan probiotik EM4 dengan dosis 190 L/Ha, stasiun 2 menggunakan probiotik RICA dengan dosis 6 L/Ha dengan frekuensi pemberian 2 minggu sekali, sedangkan stasiun 3 tidak menggunakan probiotik dan stasiun 4 air sungai. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan mengacu pada Permen KP 75/2016 dan 28/2004. Hasil pengamatan stasiun 1 (EM4) menunjukkan kekeruhan 90,4 NTU, TSS 92 mg/L, BOD5 3,89 mg/L, nitrat 0,32 mg/L, fosfat 0,1 mg/L, amonia 0,06 mg/L, H₂S 0,72 mg/L, nitrit 0,15 mg/L, dan pH 6,9. Stasiun 2 (RICA), kekeruhan 51,4 NTU, TSS 77 mg/L, BOD5 2,5 mg/L, nitrat 0,22 mg/L, fosfat 0,16 mg/L, amonia 0,12 mg/L, H₂S 0,57 mg/L, nitrit 0,1 mg/L, dan pH 7,2. Sedangkan stasiun 3 (tanpa probiotik), kekeruhan 58,7 NTU, TSS 19 mg/L, BOD5 2,78 mg/L, nitrat 0,28 mg/L, fosfat 0,09 mg/L, amonia 0,2 mg/L, H₂S 2,44 mg/L, nitrit 0,09 mg/L, dan pH 5. Hasil pengamatan sungai 1 menunjukkan kekeruhan 50,5 NTU, TSS 30 mg/L, BOD5 1,95 mg/L, nitrat 0,3 mg/L, fosfat 0,13 mg/L, amonia 0,17 mg/L, H₂S 0,99 mg/L, nitrit 0,2 mg/L, dan pH 6,8. Sedangkan pada sungai 2, kekeruhan 309 NTU, TSS 341 mg/L, BOD5 6,11 mg/L, nitrat 0,2 mg/L, fosfat 0,56 mg/L, amonia 0,18 mg/L, H₂S 1,75 mg/L, nitrit 0,3 mg/L, dan pH 6. Secara keseluruhan, penggunaan probiotik RICA lebih efektif dalam memperbaiki kualitas air buangan tambak dibandingkan probiotik EM4 maupun tanpa probiotik. Abstract Shrimp farming using a traditional system remains a significant activity in Bulungan Regency, although pond productivity and shrimp production tend to declining. This study aimed to assess the quality of wastewater from traditional shrimp farming ponds on Tibi Island, Bulungan Regency. The research wass conducted from September to December 2024. Sampling points were determined using a purposive sampling approach. At station 1, EM4 probiotics were applied at a dosage of 190 L/Ha, while station 2 used RICA probiotics at a dosage of 6 L/Ha with an application frequency of once every two weeks. Station 3 did not use probiotics, and station 4 represented river water. The method employed was a descriptive quantitative approach, as referenced in Ministry of Marine Affairs and Fisheries Regulations Permen KP 75/2016 and 28/2004. The results from station 1 (EM4) showed turbidity of 90.4 NTU, TSS 92 mg/L, BOD₅ 3.89 mg/L, nitrate 0.32 mg/L, phosphate 0.1 mg/L, ammonia 0.06 mg/L, H₂S 0.72 mg/L, nitrite 0.15 mg/L, and pH 6.9. Station 2 (RICA), showed turbidity of 51.4 NTU, TSS 77 mg/L, BOD₅ 2.5 mg/L, nitrate 0.22 mg/L, phosphate 0.16 mg/L, ammonia 0.12 mg/L, H₂S 0.57 mg/L, nitrite 0.1 mg/L, and pH 7.2. Meanwhile, station 3 (without probiotics) showed turbidity of 58.7 NTU, TSS 19 mg/L, BOD₅ 2.78 mg/L, nitrate 0.28 mg/L, phosphate 0.09 mg/L, ammonia 0.2 mg/L, H₂S 2.44 mg/L, nitrite 0.09 mg/L, and pH 5. The results from river 1 showed turbidity of 50.5 NTU, TSS 30 mg/L, BOD₅ 1.95 mg/L, nitrate 0.3 mg/L, phosphate 0.13 mg/L, ammonia 0.17 mg/L, H₂S 0.99 mg/L, nitrite 0.2 mg/L, and pH 6.8. In river 2, turbidity was 309 NTU, TSS 341 mg/L, BOD₅ 6.11 mg/L, nitrate 0.2 mg/L, phosphate 0.56 mg/L, ammonia 0.18 mg/L, H₂S 1.75 mg/L, nitrite 0.3 mg/L, and pH 6. Overall, the use of RICA probiotics is more effective in improving the quality of aquaculture wastewater compared to EM4 probiotics or without probiotics.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sungai Kayan berada Kecamatan Tanjung Selor Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara. Sungai ini merupakan salah satu sungai terbesar yang memiliki peran penting bagi masyarakat sekitarnya baik dari segi ekonomi, sosial, maupun ekologi. Pemanfaatannya seperti sarana transportasi, perikanan, pertanian, sumber air bersih, pariwisata dan rekreasi, dari kegiatan masyarakat tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya pencemaran yang berdampak pada penurunan kualitas air Sungai Kayan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan Indeks Pencemaran (IP) Sungai Kayan berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi. Metode yang digunakan pada penelitian ini deskriptif kuantitatif. Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun mengunakan metode purposive sampling dan metode grab sampling lokasi Stasiun 1 terletak di Tanjung Palas, Stasiun 2 terletak di Tugu Cinta Damai, Stasiun 3 terletak di kawasan Instalasi PDAM dan Stasiun 4 di Selimau. Pengambilan sampel dilakukan pada waktu pagi dan sore hari dengan parameter fisika (suhu, kekeruhan, TSS dan TDS), kimia (pH, DO, BOD, COD, nitrat, fosfat, dan MBAS) dan biologi (E.coli). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat di sepanjang Sungai Kayan berpengaruh terhadap kualitas air Sungai Kayan hal ini berdasarkan pada nilai indeks pencemaran menunjukkan bahwa kualitas air di pengambilan pagi dan sore pada Stasiun 1 nilai IP 3,79 dan 3,91. Stasiun 2 nilai IP 3,55 dan 3,78. Stasiun 3 nilain IP 3,63 dan 4,98 kategori cemar ringan sedangkan Stasiun 4 masuk dalam kategori cemar sedang dan cemar ringan dengan nilai IP 5,86 dan 4,66 . Nilai Indeks Kualitas Air (IKA) yaitu 47,5 kondisi tersebut termasuk kategori kurang. Berdasarkan hasil penelitian perlu dilakukan pengelolaan dan monitoring secara berkelanjutan terhadap Sungai Kayan agar pemanfaatannya tidak menimbulkan resiko.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mentarang Hulu River in Malinau Regency is a natural habitat with various vegetation along the river banks and it still has minimum human activity. This river has a width of 60-70 meters, fast-flowing water, and many riffles, which are natural conditions of the river as well as its unique characteristics that support the life of various fish species. However, information regarding the presence of fish in Mentarang Hulu River is still very limited and has not been extensively studied scientifically. This research aimed to identify fish in Mentarang Hulu River and the relative abundance of each species in order to determine the composition and dominance of existing types. Samples were collected from the catch of fishermen using two fishing gear types: nets and gillnets. Fish identification was performed by referring to identification books. Fish identification is carried out by observing morphological shapes such as the shape of the mouth, head, fins, tail, as well as the color and pattern of the body. The study was conducted over 2 months from January to February 2025. A total of 570 samples were collected, distributed into 1 phylum, 1 class, 3 orders, 4 families, and 13 genera. The analysis results showed that the Niem fish species (Osteochilus spp.) has the highest abundance at 31.75%, followed by Lalang fish (Parachela spp.) at 20.18%, and Pelian fish (Neolissochilus spp.) at 16.67%. The lowest abundances were found in Benteur fish (Barbodes spp.) at 0.18%, Garra fish (Garra borneensis) at 0.53%, and Tilan fish (Mastacembelus spp.) at 0.53%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Muara sungai merupakan kawasan transisi yang vital bagi kelangsungan berbagai jenis ikan, terutama sebagai tempat berkembang biak, membesarkan anak, dan mencari makan. Namun, intervensi manusia dan perubahan kondisi lingkungan dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati perairan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji perbandingan keanekaragaman jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap bubu payung di dua lokasi berbeda, yakni Muara Sungai Sesayap Pulau Tibi dan Muara Sungai Mamburungan di Kalimantan Utara. Penelitian berlangsung dari bulan Agustus hingga November 2024 dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tangkap Bubu Payung, Identifikasi secara morfolohi dengan menggunakan panduan buku identifikasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di Muara Sesayap Pulau Tibi lebih tinggi dibandingkan dengan Muara Mamburungan, yang dipengaruhi oleh perbedaan kualitas habitat serta intensitas aktivitas manusia. Tercatat sebanyak 16 jenis ikan dan beberapa jenis krustasea, dengan spesies dominan antara lain Mugil cephalus, Scatophagus argus, dan Plotosus canius. Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan habitat alami, seperti hutan mangrove, serta pengelolaan aktivitas di kawasan muara menjadi faktor kunci dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem perairan pesisir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kabupaten Malinau memiliki ekosistem lahan perairan air tawar berbentuk Sungai dan anak-anak Sungai, yang dimanfaatkan oleh Masyarakat setempat sebagai salah satu daerah perikanan tangkap dengan berbagai macam alat tangkap. Cast Net merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap Cast net, dan menganalisis kelimpahan masing-masing jenis ikan hasil tangkapan Cast net. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan mulai dari Mei - july 2024, bertempatan diperairan Sungai Malinau Kabupaten Malinau, menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil dari penelitian ini di dapatkan total sampel sebanyak 154 ekor yang terdiri dari 8 jenis ikan yaitu ikan Salap (B. atlus), ikan Barog (Hampala sp), ikan Pelian (Tor. tambara), ikan Baung (H. nemurus), ikan Lais (Cryptoterus sp.), ikan Tetigas (C. apogon), ikan Patin (Pangasius sp.) dan udang galah (M. rosenbergii). Kelimpahan jenis dengan presentase berkisar 0,64% - 87,01%, dan frekuensi relative hasil tangkapan 2 jenis 23,08%, B. atlus dan Hampala, 1 jenis 15,38%, Tor. Tambara, 5 jenis 7,69%, H. nemurus, Cryptoterus sp, C. apogon, Pangasius sp, M. rosenbergi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selama sepuluh tahun terakhir, hasil tangkapan ikan di Perairan Sungai Kayan, Desa Mara I, mengalami penurunan signifikan. Hal ini diduga disebabkan oleh penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan oleh sebagian masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi jenis dan kompsosisi hasil tangkapan menggunakan rawai dan jaring insang, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan dan pengembangan perikanan di Perairan Sungai Kayan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta teknik sampling total sampling untuk mengumpulkan data tangkapan ikan. Berdasarkan hasil penelitian, komposisi jenis tangkapan di perairan Mara I meliputi 183 ekor ikan, dengan 70 ekor berasal dari alat tangkap rawai dan 113 ekor dari jaring insang. Jenis ikan yang paling dominan tertangkap oleh alat tangkap rawai adalah ikan Patin dengan persentase sebesar 89%, sementara ikan Salap menjadi dominan pada jaring insang dengan persentase sebesar 60%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa alat tangkap rawai cenderung menghasilkan tangkapan utama berupa ikan Patin, sedangkan jaring insang lebih banyak menangkap ikan Salap. Hasil tangkapan sampingan juga menunjukkan variasi jenis ikan yang berbeda antara kedua alat tangkap, namun tidak ditemukan adanya hasil tangkapan buangan. Temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi perikanan di Perairan Sungai Kayan dan dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di daerah tersebut.