BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan menganalisis peran penyuluh dalam mengakses petani terhadap informasi teknologi budidaya padi sawah, akses petani terhadap informasi, serta faktor pendukung dan penghambatnya di Desa Tideng Pale, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan penentuan informan secara purposive sampling. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan NVivo-12 Pro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh berperan sebagai edukator, fasilitator dan penghubung, motivator dan dinamisator, serta penasihat dan konsultan. Penyuluh menyampaikan informasi melalui diskusi, pendampingan, demonstrasi, dan komunikasi digital. Petani memperoleh informasi melalui penyuluh, kelompok tani, sesama petani, serta media digital seperti WhatsApp, YouTube, dan TikTok. Informasi yang paling dibutuhkan meliputi benih, pemupukan, dan pengendalian hama. Faktor pendukung meliputi kemampuan komunikasi penyuluh, pendampingan, dan ketersediaan perangkat komunikasi. Faktor penghambat meliputi jaringan internet yang tidak stabil, biaya kuota, perbedaan kemampuan digital petani, serta ketidaksesuaian informasi dengan kondisi lahan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis peran penyuluh dalam mengakses petani terhadap informasi teknologi budidaya padi sawah, akses petani terhadap informasi, serta faktor pendukung dan penghambatnya di Desa Tideng Pale, Kabupaten Tana Tidung. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan penentuan informan secara purposive sampling. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan NVivo-12 Pro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh berperan sebagai edukator, fasilitator dan penghubung, motivator dan dinamisator, serta penasihat dan konsultan. Penyuluh menyampaikan informasi melalui diskusi, pendampingan, demonstrasi, dan komunikasi digital. Petani memperoleh informasi melalui penyuluh, kelompok tani, sesama petani, serta media digital seperti WhatsApp, YouTube, dan TikTok. Informasi yang paling dibutuhkan meliputi benih, pemupukan, dan pengendalian hama. Faktor pendukung meliputi kemampuan komunikasi penyuluh, pendampingan, dan ketersediaan perangkat komunikasi. Faktor penghambat meliputi jaringan internet yang tidak stabil, biaya kuota, perbedaan kemampuan digital petani, serta ketidaksesuaian informasi dengan kondisi lahan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Plant Blindness pada Mahasiswa semester awal Pendidikan Biologi. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah Mahasiswa semester awal pendidikan biologi. Data yang diperoleh berdasarkan hasil observasites dan hasil respon mahasiswa pada lembar kuesioner tentang gambaran Plant Blindness pada Mahasiswa Semester Awal Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan. Berdasarkan hasil observasi ditemukan 18 jenis tumbuhan dari tumbuhan lumut, tumbuhan paku, tumbuhan berbiji terbuka dan tumbuhan berbiji tertutup. Berdasarkan hasil tes diperoleh nilai rata – rata responden 20,57 hasil tersebut masih dibawah ≤ 25% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat Plant Blindness pada Mahasiswa Semester Awal Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan tergolong pada kategori “Sangat Tinggi”. Berdasarkan hasil kuesioner terdapat beberapa faktor pemicu adanya Plant Blindness pada mahasiswa yaitu: 1) mahasiswa kurang mengerti cara merawat tumbuhan, 2) Mahasiswa masih kurang mengetahui manfaat dari tumbuhan, 3) kurangnya kontak pribadi secara langsung dengan tumbuhan, 4). Tumbuhan tidak dapat diajak berinteraksi seperti hewan, 5) Beberapa tumbuhan memiliki jenis yang hampir serupa sehingga sulit untuk dikenali 6) Mahasiswa lebih tertarik pada pembelajaran dengan berinteraksi atau kontak secara langsung dengan objek yang dipelajari. Hasil analisis akan dijadikan bahan evaluasi sebagai acuan bagi pendidik dalam membuat arah pembelajaran biologi kedepannya khususnya pembelajaran tentang tumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Plant Blindness pada Mahasiswa semester awal Pendidikan Biologi. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah Mahasiswa semester awal pendidikan biologi. Data yang diperoleh berdasarkan hasil observasites dan hasil respon mahasiswa pada lembar kuesioner tentang gambaran Plant Blindness pada Mahasiswa Semester Awal Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan. Berdasarkan hasil observasi ditemukan 18 jenis tumbuhan dari tumbuhan lumut, tumbuhan paku, tumbuhan berbiji terbuka dan tumbuhan berbiji tertutup. Berdasarkan hasil tes diperoleh nilai rata – rata responden 20,57 hasil tersebut masih dibawah ≤ 25% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat Plant Blindness pada Mahasiswa Semester Awal Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan tergolong pada kategori “Sangat Tinggi”. Berdasarkan hasil kuesioner terdapat beberapa faktor pemicu adanya Plant Blindness pada mahasiswa yaitu: 1) mahasiswa kurang mengerti cara merawat tumbuhan, 2) Mahasiswa masih kurang mengetahui manfaat dari tumbuhan, 3) kurangnya kontak pribadi secara langsung dengan tumbuhan, 4). Tumbuhan tidak dapat diajak berinteraksi seperti hewan, 5) Beberapa tumbuhan memiliki jenis yang hampir serupa sehingga sulit untuk dikenali 6) Mahasiswa lebih tertarik pada pembelajaran dengan berinteraksi atau kontak secara langsung dengan objek yang dipelajari. Hasil analisis akan dijadikan bahan evaluasi sebagai acuan bagi pendidik dalam membuat arah pembelajaran biologi kedepannya khususnya pembelajaran tentang tumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sungai Karang Anyar terletak di Kecamatan Tarakan Barat Kota Tarakan. Sungai Karang Anyar merupakan saluran aliran air yang digunakan sebagai jalur transportasi nelayan dan digunakan sebagai sumber air baku yang dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan sumber air bersih di Kota Tarakan. Permasalahan yang sering terjadi di sungai adalah sedimentasi sehingga mengakibatkan pendangkalan sungai akibat sedimentasi yang tinggi, tujuan penelitian adalah menentukan laju sedimentasi dan menganalisis jenis tekstur sedimen di Sungai Karang Anyar Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Data primer pada penelitian meliputi tekstur sedimen, data laju sedimentasi, kedalaman sungai, kecepatan arus, kecerahan, debit sungai dan data sekunder berupa data curah hujan yang diperoleh dari BMKG Kota Tarakan. Pengambilan sampel dilakukan di perairan Sungai Karang Anyar dengan interval pengambilan sampel sedimen selama tujuh hari sekali dan dilakukan empat kali pengambilan sampel selama satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata laju sedimentasi pada stasiun pengamatan I, II dan III berkisar 2,11-5,08 g/m2/hari. Laju sedimentasi tertinggi terjadi pada minggu pertama pada stasiun II dan laju sedimentasi paling rendah terjadi pada minggu keempat pada stasiun III. Fraksi sedimen di perairan Sungai Karang Anyar Kota Tarakan yaitu pasir, debu dan liat. Jenis tekstur sedimen yang dominan adalah jenis tekstur liat.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Sungai Karang Anyar terletak di Kecamatan Tarakan Barat Kota Tarakan. Sungai Karang Anyar merupakan saluran aliran air yang digunakan sebagai jalur transportasi nelayan dan digunakan sebagai sumber air baku yang dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan sumber air bersih di Kota Tarakan. Permasalahan yang sering terjadi di sungai adalah sedimentasi sehingga mengakibatkan pendangkalan sungai akibat sedimentasi yang tinggi, tujuan penelitian adalah menentukan laju sedimentasi dan menganalisis jenis tekstur sedimen di Sungai Karang Anyar Kota Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Data primer pada penelitian meliputi tekstur sedimen, data laju sedimentasi, kedalaman sungai, kecepatan arus, kecerahan, debit sungai dan data sekunder berupa data curah hujan yang diperoleh dari BMKG Kota Tarakan. Pengambilan sampel dilakukan di perairan Sungai Karang Anyar dengan interval pengambilan sampel sedimen selama tujuh hari sekali dan dilakukan empat kali pengambilan sampel selama satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata laju sedimentasi pada stasiun pengamatan I, II dan III berkisar 2,11-5,08 g/m2/hari. Laju sedimentasi tertinggi terjadi pada minggu pertama pada stasiun II dan laju sedimentasi paling rendah terjadi pada minggu keempat pada stasiun III. Fraksi sedimen di perairan Sungai Karang Anyar Kota Tarakan yaitu pasir, debu dan liat. Jenis tekstur sedimen yang dominan adalah jenis tekstur liat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK ANALISIS KEPUASAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN BALAI ADAT TIDUNG DAN BUDAYA KOTA TARAKAN SINTIA ERLINA HALID SULISTYA RINI PRATIWI, S.E., M.Sc Kota Tarakan merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ±18 meter di atas permukaan laut, terletak pada posisi antara 3°.14’30”–3°.26’37” Lintang Utara dan 117°.30’50”–117°.40’12” Bujur Timur. Luas wilayah Kota Tarakan adalah 657,33 km2 dengan daratan seluas 250,80 km2 dan lautan seluas 406,53 km2. Penelitian ini menggunakan Skala Likert untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung dan analisis SWOT (Strength, Opportunities, Weakness, Threat) untuk mengetahui strategi pengembangan Balai Adat Tidung dan Budaya Kota Tarakan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan pendapat dari responden penelitian yaitu masyarakat yang pernah berkunjung ke Balai Adat Tidung dan Budaya Kota Tarakan pada bulan Januari sampai Maret melalui pengisian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengunjung terhadap aspek yang terdapat di Balai Adat Tidung dan Budaya Kota Tarakan tersebut yaitu, pengunjung merasa sangat puas terhadap fasilitas mushola dan relief. Selanjutnya pengunjung merasa puas terhadap fasilitas gerbang, area parkir, loket karcis, pagar, tempat sampah, loker, rumah gubuk, kebersihan, dan keamanan. Kemudian pengunjung merasa cukup puas/ netral terhadap fasilitas bangku, tanaman, dan toilet. Selain itu pengunjung merasa tidak puas terhadap fasilitas kolam. Adapun strategi pengembangan yang sebaiknya digunakan dalam pengembangan Balai Adat Tidung dan Budaya Kota Tarakan adalah strategi WO (Weakness - Opportunity). Strategi ini meminimalkan kelemahan dan memanfaatkan peluang. Alternatif strategi WO yang telah dirumuskan adalah harga karcis masuk diturunkan atau sama dengan harga karcis objek wisata lain yang serupa, menambah jumlah tempat sampah agar pengunjung balai adat terutama ketika ada kegiatan tidak membuang sampah sembarangan, pengelola secara berkala membersihkan kolam agar semakin menarik pengunjung, pemerintah membuat dan secara aktif mengelola akun media sosial balai adat sebagai ajang promosi, dan pemerintah menyediakan tempat khusus untuk UMKM menjual produk khas Suku Tidung maupun Kota Tarakan.