ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
sistem agribisnis perkebunan kelapa sawit rakyat Koperasi Anugrah Tani mulai dari subsistem hulu yaitu pengadaan input, subsistem usahatani/on farm yaitu kegiatan pengolahan lahan, penanaman dan perawatan tanaman, subsistem hilir yaitu kegiatan panen dan pengangkutan hasil panen, subsistem pemasaran yaitu kegiatan pemasaran hasil ke pabrik PKS, dan subsistem penunjang yaitu lembaga-lembaga yang mendukung kegiatan perkebunan dari subsistem hulu hingga subsistem pemasaran. Terdapat keterkaitan kebelakang (backward linkage) dan keterkaitan kedepan (forward linkage) pada sistem agribisnis perkebunan kelapa sawit rakyat Koperasi Anugrah Tani. Rancang model kelembagaan perkebunan Koperasi Anugrah Tani mengacu pada sistem agribisinis yaitu : kelembagaan hulu, kelembagaan usahatani/on farm, kelembagan hilir, kelembagaan pemasaran dan kelembagaan penunjang. Rancang model dibuat mengacu pada penelitian Kusnandar (2013), yaitu berdasarkan empat dimensi antara lain : kondisi lingkungan eksternal, motivasi kelembagaan, kapasitas kelembagaan, dan kinerja kelembagaan. Rancangan kelembagaan yang diarahkan dapat memenuhi keempat dimensi tersebut sehingga efektifitas dan keberlanjutan kelembagaan dapat terjamin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu kendala pada budidaya kelapa sawit yaitu penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh patogen Ganoderma boninense. beberapa cendawan tanah dan endofit asal tanaman kelapa sawit memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan G. boninense. Penelitan bertujuan untuk memperoleh dan mengidentifikasi cendawan tanah dan endofit asal tanaman kelapa sawit yang memiliki potensi sebagai agens pengendali G. boninense. Tahapan penelitian terdiri dari isolasi dan purifikasi cendawan tanah dan endofit asal tanaman kelapa sawit, uji patogenesitas, karakterisasi, aktivitas proteolitik, kelarutan fosfat dan uji antagonisme pada G. boninense. Hasil penelitian diperoleh 4 genus cendawan tanah non patogen yaitu Penicillium, Fusarium, Paecylomices dan Aspergillus. Cendawan endofit non patogen diperoleh 3 genus yaitu Aspergillus, Paecylomices dan Misellia Sterillia. Hasil uji kelarutan fosfat menunjukkan isolat CT3 (Aspergillus) memiliki kemampuan melarukan fosfat dengan indeks kelarutan fosfat 5,12% dan isolat CT10 (Penicillium) melarutkan fosfat dengan indeks kelarutan fosfat 2,98%. Semua isolat non patogen tidak memiliki kemampuan aktivitas proteolitik. Hasil uji antagonisme didapatkan 2 genus cendawan yang memiliki kemampuan dalam menghambat G. boninense yaitu Penicillium dan Fusarium. Hasil uji daya hambat pada genus Penicillium terdapat 2 isolat yang menghambat pertumbuhan G. boninense yaitu isolat CT2 dengan daya hambat 13% dan isolat CT4 dengan daya hambat 36,5% melalui mekanisme kompetisi dan antibiosis. Mekanisme penghambatan kompetisi ditunjukkan oleh 2 isolat yang termasuk dalam genus Fusarium yaitu isolat CT6 dengan daya hambat 35% dan isolat CT7 dengan daya hambat 35%. Berdasarkan hasil penelitian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai isolat-isolat cendawan yang di dapatkan sebagai bahan formulasi Bio-insectisida yang aman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas perkebunan strategis yang memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, Kondisi lahan dapat menjadi faktor pembatas yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kalapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas lahan serta mengidentifikasi faktor pembatas produksi kelapa sawit pada lokus Sei Menggaris dan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Landasan penelitian mengacu pada konsep evaluasi kualitas dan kesesuaian lahan berdasarkan FAO serta metode matching dengan prinsip simple limitation, yaitu mencocokkan karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan pada Januari–April 2026 menggunakan metode survei. Penggalian data dilakukan melalui observasi lapangan, penentuan titik pengamatan, pengukuran karakteristik fisik lahan, pengambilan sampel tanah pada kedalaman 0–60 cm, pengumpulan data iklim, serta analisis sifat kimia tanah di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian dilakukan pada lima unit lahan, terdiri atas dua unit di Sebatik dan tiga unit di Sei Menggaris, dengan empat sampel tanah pada setiap titik pengamatan yang dikompositkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi iklim wilayah penelitian tergolong sesuai bagi pertumbuhan kelapa sawit, dengan rata-rata curah hujan 2.419 mm tahun⁻¹ dan rata-rata bulan kering 0,4 bulan. Karakteristik fisik lahan secara umum berada pada kelas sesuai, dengan tekstur agak halus hingga halus, kedalaman tanah 105–115 cm, serta kondisi lereng, drainase, erosi, genangan, batuan permukaan, dan singkapan batuan yang tidak menjadi faktor pembatas. Sifat kimia tanah menunjukkan pH H₂O 5,58–6,06, N-total 0,08–0,18%, P tersedia 5,80-8,22 ppm, K tersedia 5,29–9,63 ppm, dan C-organik 0,74–1,17%. Hasil evaluasi menunjukkan Sebatik 1, Sebatik 2, dan Sei Menggaris 2 termasuk kelas S1 (sangat sesuai), sedangkan Sei Menggaris 1 dan Sei Menggaris 3 termasuk S2 (cukup sesuai) dengan faktor pembatas utama berupa rendahnya C-organik. Produktivitas Sebatik mencapai 1.690 kg ha⁻¹, lebih tinggi dibandingkan Sei Menggaris sebesar 1.305 kg ha⁻¹. Dengan demikian, peningkatan bahan organik dan pemupukan berimbang diperlukan untuk memperbaiki kualitas lahan dan mendukung peningkatan produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Klasifikasi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan mutu bahan baku dan potensi rendemen minyak yang dihasilkan. Proses Klasifikasi yang masih dilakukan secara manual sering kali menimbulkan subjektivitas dan ketidakkonsistenan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) berbasis mobile menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk membantu proses klasifikasi kualitas TBS kelapa sawit secara lebih objektif dan terstruktur. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan Borg and Gall. Sistem dikembangkan menggunakan framework Flutter dengan penyimpanan data secara lokal. Kriteria yang digunakan dalam Klasifikasi meliputi Tingkat Kematangan, Buah Mentah, Brondolan, Janjang Kosong, dan Sampah/Kotoran. Metode SAW digunakan untuk menghitung nilai preferensi setiap alternatif melalui proses normalisasi dan pembobotan kriteria sehingga menghasilkan kategori kualitas TBS, yaitu Bagus, Sedang, dan Kurang Bagus. Pengujian sistem dilakukan menggunakan black-box testing, multiclass confusion matrix, dan System Usability Scale (SUS). Hasil pengujian Blackbox testing menunjukkan bahwa seluruh fungsi aplikasi berjalan dengan baik sesuai kebutuhan pengguna. Evaluasi menggunakan confusion matrix terhadap 100 data sampel menghasilkan persentase nilai akurasi sebesar 73%, serta persentase rata-rata tertimbang (weighted average) precision, recall, dan f1-score masing-masing sebesar 73%, 75,78% dan 72,94%. Sedangkan pengujian usability terhadap 20 responden memperoleh skor SUS sebesar 83,125 yang termasuk kategori Excellent dan Acceptable. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode SAW dapat diterapkan dengan baik pada sistem pendukung keputusan untuk membantu proses klasifikasi kualitas TBS kelapa sawit secara lebih objektif, konsisten, dan terstruktur dibandingkan Klasifikasi manual.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya produktivitas kelapa sawit rakyat di Desa Semaja, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, yang berdampak pada rendahnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan petani. Rata-rata produksi tandan buah segar (TBS) petani di wilayah ini masih berada di bawah standar produktivitas nasional. Salah satu penyebab utama adalah penggunaan pupuk yang tidak terstandar serta kurangnya pendampingan teknis budidaya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, PT Pupuk Kalimantan Timur melalui Program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat (MAKMUR) memperkenalkan penggunaan Pupuk NPK Pelangi yang disertai dengan pendampingan teknis, akses permodalan, dan jaminan pemasaran hasil produksi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh penggunaan Pupuk NPK Pelangi dan pelaksanaan Program MAKMUR terhadap produksi kelapa sawit; (2) mengetahui pengaruh penggunaan pupuk NPK Pelangi dan Pelaksanaan Program MAKMUR terhadap kesejahteraan petani; (3) menganalisis biaya produksi, penerimaan, dan keuntungan bersih usaha tani; serta (4) mengevaluasi kelayakan ekonomi usaha tani berdasarkan R/C Ratio dan Break Even Point (BEP) Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei. Sampel penelitian adalah petani kelapa sawit yang tergabung dalam Program MAKMUR di Desa Semaja. Analisis data menggunakan analisis jalur (path analysis) untuk menguji hubungan langsung dan tidak langsung antara variabel penggunaan Pupuk NPK Pelangi (X1), Program MAKMUR (X2), produksi kelapa sawit (Y1) sebagai variabel mediator, dan kesejahteraan petani (Y2). Selain itu dilakukan analisis usaha tani untuk menghitung struktur biaya, penerimaan, pendapatan, R/C Ratio, dan BEP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Pupuk NPK Pelangi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produksi kelapa sawit. Program MAKMUR juga memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan produksi melalui penyediaan input, pendampingan teknis, dan akses pasar. Produksi kelapa sawit terbukti berperan sebagai variabel mediator yang memperkuat pengaruh penggunaan pupuk dan pelaksanaan program terhadap kesejahteraan petani. Peningkatan produksi berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga petani, akses pendidikan, dan akses layanan kesehatan. Analisis usaha tani menunjukkan bahwa setelah penerapan penggunaan Pupuk NPK Pelangi dan Program MAKMUR, usaha tani kelapa sawit berada dalam kondisi layak secara ekonomi. Nilai R/C Ratio lebih besar dari satu, yang menunjukkan bahwa usaha tani menguntungkan. Analisis BEP produksi dan BEP harga menunjukkan bahwa tingkat produksi dan harga jual telah berada di atas titik impas, sehingga usaha tani memiliki margin keuntungan yang positif. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa sinergi antara penggunaan pupuk berkualitas dan pelaksanaan program pendampingan pertanian mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani kelapa sawit secara berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan Program MAKMUR serta menjadi dasar perumusan kebijakan pertanian yang lebih tepat sasaran di wilayah perbatasan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan limbah agroindustri yang mengandung bahan organik dan unsur hara cukup tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan POC melalui fermentasi, menganalisis kandungan unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta mengkaji potensinya sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Pembibitan dan Kultur Jaringan Tanaman di SMK Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu kontrol dan empat perlakuan, masing-masing enam ulangan. Fermentasi dilakukan selama dua minggu menggunakan EM4 dan molase. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis karena tidak berdistribusi normal dan tidak homogen. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi limbah cair kelapa sawit berpengaruh signifikan terhadap kandungan N, P, dan K (Sig 0,05). Perlakuan 250 ml menghasilkan kandungan unsur hara tertinggi. POC dari limbah cair kelapa sawit berpotensi digunakan sebagai bahan ajar kontekstual yang mendukung pembelajaran berbasis lingkungan dan pertanian berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan nasional yang memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara melalui ekspor minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil / CPO) dan minyak inti sawit (Palm Kernel Oil / PKO) Di Kabupaten Malinau, khususnya Kecamatan Malinau Utara, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan utama yang menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik petani serta pengaruh tenaga kerja, pupuk, bibit, dan luas lahan terhadap produksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Desa Belayan, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau. Penelitian menggunakan pendekatan metode kuantitatif.Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 40 petani kelapa sawit yang aktif mengelola kebunnya. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda setelah memenuhi uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan tenaga kerja (0,945), pupuk (0,520) bibit (0,000) dan luas lahan (0,958) berpengaruh terhadap produksi kelapa sawit. Secara parsial, variabel bibit berpengaruh signifikan terhadap produksi, sedangkan tenaga kerja dan pupuk, luas lahan tidak berpengaruh signifikan. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel independen mampu menjelaskan variasi produksi dalam model penelitian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan produksi kelapa sawit di Desa Belayan lebih dipengaruhi oleh penggunan yang tepat pemilihan bibit unggul dibandingkan faktor tenaga kerja dan pupuk dan luas lahan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
EFEKTIVITAS BEBERAPA JENIS HERBISIDA SISTEMIK TERHADAP PENGENDALIAN GULMA RIJA-RIJA (Scleria sumatrensis) DI KEBUN KELAPA SAWIT(Elaeis guineensis jacq) PT. FAP AGRI Tbk Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas beberapa jenis herbisida sistemik terhadap pengendalian gulma rija-rija (Scleria sumatrensis) pada kebun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di PT. FAP Agri Tbk. Gulma ini diketahui dapat menurunkan produktivitas tanaman melalui persaingan dalam penyerapan unsur hara, air, dan cahaya. Penelitian dilakukan pada Maret–April 2025 di Desa Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan empat perlakuan: glifosat, dimetil amina, metil metsulfuron, dan penoksulam, masing-masing enam ulangan. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelayuan daun, jumlah gulma terpengaruh, dan gulma tumbuh kembali setelah aplikasi. Data dianalisis dengan ANOVA dan uji BNJ 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida berbahan aktif glifosat memberikan hasil paling efektif dengan tingkat kelayuan daun tertinggi dan pertumbuhan gulma terendah (15,17%). Herbisida dimetil amina dan metil metsulfuron menunjukkan efektivitas lebih rendah, sedangkan penoksulam berada pada kategori sedang. Dengan demikian, glifosat merupakan bahan aktif paling efektif untuk pengendalian gulma Scleria sumatrensis di perkebunan kelapa sawit
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman kelapa sawit (Eleasis guineensis Jacq) merupakan komoditas Perkebunan unggulan yang setiap tahun terus meningkat hal ini berdampak pada kebutuhan bibit yang bermutu dan berkualitas. Salah satu upaya untuk menghasilkan bibit yang berkualitas pada tahap pre-nursery adalah dengan melalui pemupukan yang tepat, baik dari anorganik maupun organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap pemberian KNO3 dan bahan organik dari kotoran ayam serta menentukan dosis terbaik pada tahap pre-nursery. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga November 2025 di lahan Perkebunan milik Pesantren Miftahul Ulum, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan yaitu, kontrol (P1), bahan organik 300g (P2), KNO3 2,5g dan bahan organik 300g (P3), KNO3 5g dan bahan organik 300g (P4), KNO3 7,5g dan bahan organik 300g (P5), KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6). Adapun parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, luas daun, diameter batang, Tingkat kehijauan daun, dan berat kering. Data dianalisi menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian KNO3 dan bahan organik mampu memberikan respon pertumbuhan terhadap bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery, pengaruh nyata terlihat pada parameter tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang khususnya pada umur 96 hingga 124 HST. Perlakuan KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai tertinggi pada seluruh parameter pengamatan. Dengan demikian, pemberian KNO₃ 10g dan bahan organik 300g (P6) dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini berlatar Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia menghadapi tantangan serius terkait produktivitas tenaga kerja pemanen, termasuk di PT. Karangjuang Hijau Lestari 1. Rendahnya produktivitas tidak hanya menurunkan efisiensi produksi, tetapi juga kualitas bahan baku PKS. Tujuan penelitian ini 1. Mengetahui pengaruh faktor ekonomi, sosial dan lingkungan terhadap produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit 2. Mengetahui faktor yang paling memberikan pengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit 3. Mengetahui strategi yang tepat untuk diterapkan guna meningkatkan produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit 4. Menetapkan alternatif prioritas strategi yang diterapkan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan pengambilan sampel menggunakan teknik sensus terhadap 75 pasangan keluarga tenaga panen. Analisis data dilakukan melalui Partial Least Square (PLS) untuk menguji model pengukuran (outer model) dan model struktural (inner model), serta matriks SWOT untuk merumuskan strategi peningkatan produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) untuk merumuskan strategi prioritas peningkatan produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit PT. Karangjuang Hijau Lestari 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1. faktor ekonomi, social dan lingkungan memiliki pengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit. 2. Faktor Sosial merupakan variabel paling kuat dengan path coefficient 0,409, sedang faktor ekonomi dengan path coefficient 0,339 dan factor lingkungan dengan path coefficient 0,240. 3. Strategi peningkatan produktivitas yang direkomendasikan adalah strategi organisasi yang aplikatif, kontekstual, dan adaptif terhadap dinamika lapangan. Strategi ini berada pada Kuadran II adalah ST 4. Strategi alternatif prioritas yang paling tepat untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja pemanen adalah strategi Weakness–Opportunities (WO), yaitu pelatihan teknis panen dan perbaikan sistem distribusi alat kerja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengusulkan mengembangkan sistem pakar berbasis metode Certainty Factor untuk mendiagnosis hama pada tanaman kelapa sawit secara cepat dan akurat. Sistem dirancang untuk membantu petani mengidentifikasi jenis hama berdasarkan gejala yang diamati dan memberikan rekomendasi pengendalian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pakar pertanian, studi literatur, dan observasi lapangan di perkebunan kelapa sawit seluas 2,5 hektar di Tanjung Selor. Perancangan sistem mengidentifikasi 4 jenis hama utama dengan 18 gejala spesifik yang diintegrasikan dalam basis pengetahuan dengan nilai kepercayaan pakar. Pengguna dapat menentukan tingkat keyakinan melalui lima skala yaitu tidak ada, sedikit yakin, cukup yakin, yakin, dan sangat yakin. Metode Certainty Factor diterapkan untuk menghitung tingkat kepercayaan diagnosis dengan mengintegrasikan berbagai gejala yang diamati. Sistem diimplementasikan menggunakan framework PyQt5 dengan Python sebagai aplikasi desktop yang dapat beroperasi offline. Pengujian fungsionalitas menggunakan Black Box Testing terhadap 14 skenario menunjukkan seluruh fitur berfungsi sesuai spesifikasi. Evaluasi performa melibatkan tiga aspek: akurasi diagnosis melalui Confusion matrix, validasi metode Certainty Factor melalui verifikasi perhitungan manual, dan usabilitas menggunakan System Usability Scale. Hasil pengujian menunjukkan sistem mencapai akurasi, presisi, Recalll, dan F1-Score sebesar 100 persen terhadap 20 kasus sampel. Pengukuran usabilitas terhadap 40 responden menghasilkan skor rata-rata 85,125 kategori Acceptable mendekati Excellent, menunjukkan kemudahan penggunaan dan minimalisasi kebutuhan dukungan teknis. Kesimpulannya, sistem pakar Certainty Factor berhasil dikembangkan dengan kinerja unggul untuk diagnosis hama kelapa sawit. Sistem terbukti efektif sebagai instrumen pendukung keputusan bagi petani dan penyuluh dalam diagnosis dini dan respons cepat terhadap serangan hama. Implementasi desktop memungkinkan aksesibilitas di daerah dengan keterbatasan konektivitas. Pengembangan lanjutan disarankan mencakup ekspansi basis pengetahuan dengan hama sekunder dan penyakit tanaman, serta diversifikasi platform web dan mobile.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Labour productivity in harvesting is a key element in the operational success of the oil palm plantation sector PT Bhumi Simanggaris Indah as part of FAP Agri. Tbk in North Kalimantan has its own challenges in maintaining and increasing harvester productivity, especially in Rayon D (Delta) which consists of three divisions with a fairly large number of harvest workers and diverse geographical conditions and workforce characteristics. Problems in productivity can arise from a number of factors such as worker age, gender, work experience, education level, and distance to the harvest location. The purpose of this study was to determine the characteristics of oil palm harvesting workers partially and analyse the influence of these variables on labour productivity simultaneously in Rayon D (Delta) The study was conducted from November 2024 to February 2025 through a quantitative approach. Data were collected from questionnaires, interviews, and observations of 60 respondents who were randomly selected from a population of 150 people The data analysis technique employed was multiple linear regression, equipped with validity tests, reliability tests, and classical assumption tests The results of the study showed that simultaneously, the variables of age, gender, work experience, education, and travel distance had a significant effect on the productivity of harvest workers (F count=6428, sig 0.000005) However, partially, only the work experience variable showed a significant effect (sig 0.0020.05) Other variables did not have a significant effect on productivity This finding indicates that work experience is a dominant factor in increasing the efficiency of oil palm harvest work. These results can be the basis for human resource management policies, such as experience-based training and more targeted workforce placement strategies Produktivitas tenaga kerja panen merupakan elemen kunci dalam keberhasilan operasional sektor perkebunan kelapa sawit. PT Bhumi Simanggaris Indah sebagai bagian dari FAP Agri. Tbk di Kalimantan Utara memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga dan meningkatkan produktivitas pemanen, khususnya di Rayon D (Delta) yang terdiri dari tiga afdeling dengan jumlah tenaga kerja panen cukup besar dan kondisi geografis serta karakteristik tenaga kerja yang beragam. Permasalahan dalam produktivitas dapat timbul dari sejumlah faktor seperti usia pekerja, jenis kelamin, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan jarak tempuh ke lokasi panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik tenaga kerja panen kelapa sawit secara parsial dan menganalisis pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap produktivitas tenaga kerja secara simultan di Rayon D (Delta) Penelitian dilakukan pada bulan November 2024 hingga Februari 2025 dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi terhadap 60 responden yang dipilih secara acak dari populasi sebanyak 150 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda, dilengkapi uji validitas, reliabilitas, serta uji asumsi klasik Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, variabel umur, jenis kelamin, pengalaman kerja, pendidikan, dan Jarak tempuh berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja panen (F hitung 6,428, sig 0,000 0,05). Namun secara parsial, hanya variabel pengalaman kerja yang menunjukkan pengaruh signifikan (sig 0,002 0,05) Variabel lainnya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman kerja merupakan faktor dominan dalam meningkatkan efisiensi kerja panen kelapa sawit. Hasil ini dapat menjadi dasar dalam kebijakan manajemen sumber daya manusia, seperti pelatihan berbasis pengalaman dan strategi penempatan tenaga kerja yang lebih tepat sasaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proporsi pengeluaran rumah tangga dan tingkat ketahanan pangan petani kelapa sawit di Desa Belayan, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau. Data dikumpulkan dari 25 responden petani kelapa sawit menggunakan metode purposive sampling. Analisis dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif berdasarkan perhitungan pendapatan, pengeluaran pangan dan non pangan, serta proporsi pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp 3.759.800 per bulan, yang mayoritas berasal dari usaha tani kelapa sawit. Rata-rata pengeluaran rumah tangga sebesar Rp 1.833.440 per bulan, dengan komposisi 39% untuk pangan dan 61% untuk non pangan. Berdasarkan tingkat ketahanan pangan petani kelapa sawit berstatus tahan pangan. Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun pendapatan petani belum optimal, sebagian besar rumah tangga di Desa Belayan mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara layak, yang menunjukkan kondisi ketahanan pangan yang cukup baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kabupaten Nunukan, yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara, khususnya di Pulau Sebatik, memiliki potensi besar dalam produksi kelapa sawit. Proses manual dalam menentukan jenis kelamin bunga kelapa sawit seringkali menyebabkan kesalahan dan ketidakefisienan. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan untuk mengembangkan sistem klasifikasi jenis kelamin bunga kelapa sawit secara otomatis berbasis citra dengan menggunakan salah satu arsitektur CNN (Convolutional Neural Network) yaitu VGG19. Dataset dalam penelitian ini menggunakan data primer yang terdiri dari 800 citra bunga kelapa sawit, masing-masing 400 citra untuk bunga jantan dan betina. Dataset kemudian diproses melalui tahapan preprocessing hingga menghasilkan total 1.164 citra baru yang digunakan untuk pelatihan model dengan pembagian proporsi 80% untuk data pelatihan, 10% untuk data validasi, dan 10% untuk data uji. Hasil pelatihan model CNN dengan arsitektur VGG19 terhadap 80% data pelatihan menunjukkan rata-rata nilai precision, recall, dan f1-score keseluruhan sebesar 100%. Begitu pula hasil evaluasi model pelatihan terhadap 10% data validasi dan 10% data uji menunjukkan nilai precision, recall, dan f1-score mencapai 100%. Namun pada saat sistem diimplementasikan menggunakan citra baru diluar dataset sebanyak 18 citra, masih terdapat kesalahan dalam mengidentifikasi bunga betina sebagai bunga jantan, sehingga menghasilkan rata-rata presisi sebesar 95%, recall 95%, dan F1-score 94%. Hasil pengujian ini menunjukkan, sistem berhasil mengklasifikasikan bunga kelamin kelapa sawit, meskipun masih terdapat kesalahan dalam implementasi sistem. Faktor kesalahan tersebut disebabkan oleh keterbatasan jumlah citra ataupun kurangnya variasi data latih. Sistem ini diharapkan dapat berkontribusi dalam bidang pertanian kelapa sawit, terutama dalam mengklasifikasikan bunga kelapa sawit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Masalah yang sering dihadapi oleh petani kelapa sawit adalah terjadinya fluktuasi harga kelapa sawit. Fluktuasi harga pada dasarnya terjadi akibat ketidakseimbangan antara kuantitas pasokan dan kuantitas permintaan yang dibutuhkan konsumen, jika terjadi kelebihan pasokan maka harga komoditas menurun sebaliknya begitu juga jika terjadi kekurangan pasokan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga kelapa sawit di Kecamatan Sebatik Utara, Kabupaten Nunukan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 60 petani kelapa sawit, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel permintaan, biaya produksi, dan biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap fluktuasi harga kelapa sawit, baik secara simultan maupun parsial. Nilai koefisien determinasi sebesar 28% menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut menjelaskan sebagian variasi harga, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengambilan kebijakan harga dan peningkatan kesejahteraan petani.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan komoditas unggulan yang berperan penting dalam mendukung perekonomian Kabupaten Nunukan, khususnya di wilayah Pulau Sebatik. Meskipun memiliki potensi produksi yang tinggi berkat dukungan kondisi lahan, iklim, dan tanah yang sesuai, budidaya kelapa sawit tetap rentan terhadap gangguan hama, salah satunya adalah ulat api (Setothosea asigna). Hama ini dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada pelepah daun, mengganggu proses fotosintesis, dan pada akhirnya menurunkan hasil produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi dan intensitas serangan ulat api pada tanaman kelapa sawit di Pulau Sebatik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2024 hingga Maret 2025 dengan metode survei non-eksperimen di lima kecamatan di Pulau Sebatik. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap tanaman kelapa sawit yang menunjukkan gejala serangan. Parameter yang diamati meliputi suhu, kelembaban udara, jumlah tanaman sampel, jumlah tanaman terserang, jumlah pelepah, serta skor kerusakan daun. Insidensi digunakan untuk mengetahui sebaran serangan, sedangkan intensitas untuk mengukur tingkat keparahan kerusakan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif menggunakan rumus standar untuk menentukan persentase insidensi dan intensitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan ulat api ditemukan di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Sebatik, Sebatik Tengah, dan Sebatik Timur dengan tingkat insidensi yang bervariasi. Kecamatan Sebatik menunjukkan tingkat insidensi tertinggi sebesar 22,19%, diikuti oleh Sebatik Tengah sebesar 17,75%, dan Sebatik Timur sebesar 8,68%. Sementara itu, di Kecamatan Sebatik Barat dan Sebatik Utara tidak ditemukan serangan. Intensitas serangan di ketiga kecamatan tersebut tergolong sangat ringan. Di Kecamatan Sebatik Timur, intensitas berkisar antara 2,17% hingga 3,89%; di Sebatik Tengah antara 11,19% hingga 13,98%; dan di Kecamatan Sebatik antara 10,70% hingga 16,12%. Temuan ini menunjukkan perlunya penelitian lanjutan terkait upaya pengendalian yang lebih efektif terhadap S. asigna guna mendukung strategi pengelolaan hama yang berkelanjutan pada perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengelolaan iklim mikro dengan pemberian mulsa organik limbah kelapa sawit terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penelitian berlokasi di PT Pipit Citra Perdana salah satu perusahaan kelapa sawit Estate Menjelutung, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan satu (1) faktor perlakuan dan enam (6) ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah : M0 = kontrol, M1 = tandan kosong, M2 = cangkang kelapa sawit, M3 = daun kelapa sawit. Data hasil yang diperoleh di analisis menggunakan sidik ragam (ANOVA), jika berpengaruh nyata maka diuji lanjut dengan menggunakan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mulsa organik berbahan limbah kelapa sawit mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Perlakuan yang memberikan hasil terbaik adalah perlakuan mulsa tandan kosong dengan parameter tinggi tanaman 49,45 cm, panjang daun 40,63 cm, diameter batang 30,22 mm, warna daun kehijauan, suhu tanah 25,43 °C dan kelembaban tanah yang lembab.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Efisiensi produksi merupakan pemanfaatan faktor-faktor produksi seminimal mungkin untuk mendapatkan jumlah produksi yang maksimal tanpa mengesampingkan kualitas dari produk yang dihasilkan. Penggunaan faktor-faktor produksi yang kurang tepat menyebabkan produksi tidak maksimal di Desa Harapan Kecamatan Sebuku. Tujuan dari penelitian ini : 1) Menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi kelapa sawit di Desa Harapan Kecamatan Sebuku. 2) Mengetahui efisiensi penggunaan input produksi dalam usaha perkebunan kelapa sawit di Desa Harapan Kecamatan Sebuku. Sampel dalam penelitian ini adalah 50 orang petani di Desa Harapan dengan kriteria : memiliki kebun kelapa sawit minimal 2 Ha dan umur tanaman kelapa sawit minimal 5 tahun. Pada penelitian ini analisis fungsi produksi Cobb-Douglas digunakan untuk mengetahui pengaruh input produksi terhadap output serta untuk menentukan nilai elastisitas yang menunjukkan efisiensi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa variabel independen yaitu luas lahan (X1), tenaga kerja (X2), pupuk (X3), dan herbisida (X4) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen produksi (Y). Secara parsial atau masing-masing variabel luas lahan (X1) berpengaruh signifikan terhadap produksi (Y), sedangkan variabel tenaga kerja (X2), pupuk (X3), dan herbisida (X4) tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kelapa sawit di Desa Harapan Kecamatan Sebuku. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai elastisitas 0,959 1 yang menunjukkan adanya decreasing return to scale, yang berarti bahwa penggunaan input produksi di Desa Harapan mengalami penurunan skala hasil.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian ini di latar belakangi oleh keinginan menjawab rumusan masalah: (1) Apa saja alasan petani memasarkan TBS kelapa sawit ke tengkulak; (2) Bagaimana peran tengkulak dalam pemasaran TBS; (3) Bagaimana tingkat kepuasan petani terhadap peran tengkulak. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui alasan petani memasarkan TBS kelapa sawit ke tengkulak; (2) Mengetahui peran tengkulak dalam pemasaran TBS; mengetahui tingkat kepuasan petani terhadap peran tengkulak. Metode penentuan sampel dalam penenlitian ini adalah purposive sampling yaitu menentuan sampel dengan sengaja. Dengan pengumpulan data wawancara, observasi, kuesioner, dokumentasi. Dengan analisis data deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif dengan pendekatan sekala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kehadiran tengkulak dapat memenuhi kekurangan yang ada pada petani di antaranya perjanjian kerja antara petani dengan pabrik pengolahan kelapa sawit, transport, modal, dan juga SDM; (2) Tengkulak berperan penting yang dapat memberikan kemudahan mobilitas dan pembayaran tunai langsung kepada petani, tengkulak juga memberikan fasilitas yang di butuhkan petani; (3) Kepuasan petani terhadap kinerja tengkualak berperan sebagai Pengumpul sebanyak 92,6% menyatakan sangat puas dalam pengumpul hasil pertanian, kekonsistenan hasil pertanian, tanggung jawab hasil pertanian, memberikan kejujuran tengkulak sebagai pengumpul, melakukakan peningkatan sebagai kinerja tengkulak sebagai pengumpul hasil pertanian. Berperan sebagai Pembeli 92,0% menyatakan sangat puas dalam memberikan harga, kekonsistenan dalam pembayaran, selalu membeli hasil pertanian, tengkulak memiliki pengetahuan harga pasar, melakukan kerja sama. Berperan sebagai Penghubung 100% menyatakan sangat puas dalam penghubung antara petani dengan pasar, mencapai pasar lebih luas, menjembatani petani, mengoptimalkan harga, dukungan layanan. Berperan sebagai Pemasaran 90,29% menyatakan sangat puas dalam transparasi, menghargai kualitas, mencari konsumen baru, promosi dalam penjualan, memberikan informasi pemasaran. dan Berperan sebagai Kreditor 89,14% menyatakan sangat puas dalam pemberian kredit modal, menyakinkan pemberian modal, membayar petani sebelum ada hasil, tengkulak memberikan ketergantungan, sikap peran kreditor.