ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah organik pada awalnya tidak memiliki manfaat jika tidak diolah, limbah organik memiliki banyak manfaat selain untuk menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk kesuburan tanaman dapat juga dimanfaatkan menjadi biogas yang energinya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Pemanfaatan tersebut memiliki nilai ekonomis dan limbah organik dapat di jadikan sumber energi alternatif dengan menggunakan mikroorganisme melalui proses fermentasi. Pada limbah organik yang sudah tidak terpakai dapat dimanfaatkan sebagai microbial fuel cell yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik Microbial Fuel Cell. Sala satu bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan energi listrik adalah tomat dan wortel yang sudah mebusuk. Dihaluskan dan difermentasi sehingga menghasilkan microba atau bakteri, Bakteri mampu menjadi katalis dan beradaptasi dengan baik terhadap bahan organik berbeda yang terdapat pada limbah lingkungan sehingga menghasilkan electron. Dan pergerakan electron ini yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi energi listrik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah, salah satunya bubuk kakao. Salah satu faktor yang memengaruhi karakteristik bubuk kakao adalah lama fermentasi biji sebelum pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap karakteristik bubuk kakao serta menentukan lama fermentasi yang optimum. Penelitian dilaksanakan pada Maret-Mei 2026 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor, yaitu lama fermentasi yang terdiri atas F0 (0 hari), F1 (2 hari), F2 (4 hari), F3 (6 hari), dan F4 (8 hari), dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar lemak, pH, warna, aroma, dan rasa. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas Shapiro-Wilk, dilanjutkan analisis ragam (ANOVA) pada taraf 5% dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada parameter yang berpengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar lemak, pH, warna, dan rasa, sedangkan aroma tidak berpengaruh nyata. Perlakuan F3 (6 hari) menghasilkan kadar air 4,62%, kadar lemak 11,25%, pH 4,60, serta karakteristik organoleptik warna, aroma, dan rasa yang baik. F3 dipilih sebagai perlakuan optimum karena memenuhi persyaratan mutu dan menghasilkan karakteristik yang masuk baik dengan waktu fermentasi lebih singkat dibandingkan F4. Dengan demikian, fermentasi selama 6 hari merupakan perlakuan optimum dalam menghasilkan bubuk kakao pada penelitian ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KARAKTERISTIK PRODUK FERMENTASI TELU DARI IKAN PATIN (PANGASIUS SP.) SEBAGAI MAKAN KHAS SUKU DAYAK DI KALIMANTAN UTARA Abstrak Ikan patin (Pangasius sp.) merupakan salah satu ikan konsumsi air tawar yang umum dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Patin di Indonesia dapat dikonsumsi menjadi berbagai pengolahan baik secara moderen maupun tradisional. Salah satu pengolahan tradisional yang banyak dilakukan di Indonesia adalah produk fermentasi. Tujuan fermentasi pangan awalnya adalah untuk mengawetkan pangan yang bersifat musiman dan mudah rusak. Telu merupakan fermentasi ikan air tawar melalui proses penggaraman dan penambahan karbohidrat seperti beras atau singkong rebus, kemudian didiamkan selama kurang lebih satu minggu. Telu biasa dikomsumsi oleh masyarakat di daerah Kabupaten Malinau sebagai makanan tradisional khas suku Dayak Lundayeh. Proses pembuatan telu ikan patin mengacu pada tata cara tradisional yang dilakukan oleh suku dayak di Kalimantan utara. Telu ikan patin yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi melalui kadar protein, kadar garam, nilai pH, dan asam amino. Hasil pengujian pada Daging fermentasi telu menunjukkan nilai Kadar Protein: 19,68, Kadar Garam: 0,16, pH: 4,75, Asam Amino: 489.610,98. Dengan demikian, produk telu fermentasi menunjukkan kualitas nutrisi dan keamanan yang baik, serta memperoleh manfaat dari proses fermentasi berupa peningkatan ketersediaan protein dalam bentuk asam amino.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan limbah agroindustri yang mengandung bahan organik dan unsur hara cukup tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan POC melalui fermentasi, menganalisis kandungan unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta mengkaji potensinya sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Pembibitan dan Kultur Jaringan Tanaman di SMK Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu kontrol dan empat perlakuan, masing-masing enam ulangan. Fermentasi dilakukan selama dua minggu menggunakan EM4 dan molase. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis karena tidak berdistribusi normal dan tidak homogen. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi limbah cair kelapa sawit berpengaruh signifikan terhadap kandungan N, P, dan K (Sig 0,05). Perlakuan 250 ml menghasilkan kandungan unsur hara tertinggi. POC dari limbah cair kelapa sawit berpotensi digunakan sebagai bahan ajar kontekstual yang mendukung pembelajaran berbasis lingkungan dan pertanian berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bekasam merupakan makanan fermentasi tradisional khas Indonesia yang dibuat dari ikan sebagai bahan utama, ditambah dengan garam dan nasi sebagai sumber karbohidrat. Salah satu jenis ikan yang paling cocok untuk digunakan adalah ikan bandeng. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan asam amino dan profil asam lemak pada produk bekasam ikan bandeng hasil fermentasi. Penelitian ssini terdiri dari dua tahap yaitu preparasi sampel dan fermentasi bekasam. Proses fermentasi dilakukan selama 15 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa asam amino dengan kadar tertinggi yang terdeteksi yaitu L-asam glutamat sebesar 14221.605 mg/kg. Profil asam lemak terdiri dari asam lemak jenuh/saturated fatty acid (SFA) sebesar 1,13 %. Asam lemak tidak jenuh tunggal/monounsaturated fatty acid (MUFA) sebesar 0,53% dan asam lemak tak jenuh ganda/polyunsaturated fatty acid ( PUFA) sebesar 0,36%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat 14 jenis asam amino dan 20 jenis asam lemak pada fermentasi bekasam ikan bandeng.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui proses pembuatan Tamba makanan khas Dayak Bulusu, (2) mendeskripsikan keunikan makanan khas Tamba di suku Dayak Bulusu dan (3) menganalisis keterkaitan antara makanan tradisional Tamba dengan materi pembelajaran Biologi di SMA. Penelitian dilaksanakan di Desa Maning, Kujau, Behakung, Mendupo, Kecamatan Betayan Kabupaten Tana Tidung Provinsi Kalimantan Utara. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan naratif, penelitian ini menggali informasi yang jelas tentang Tamba, cara pengolahannya dan pentingnya Tamba di perayaan adat suku Dayak Bulusu. Subjek penelitian dipilih menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi yang melibatkan delapan orang responden. Analisis data dilakukan melalui teknik pengkodean, yaitu dengan mentranskripsikan data lapangan terkait proses pengolahan Tamba, keunikan, penyajiannya di perayaan adat suku Dayak Bulusu serta pengintegrasiannya di pembelajaran Biologi. Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel. gambar, dan uraian naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan Tamba yaitu ikan disiangi, disayat, dicuci, ditiriskan, diberi garam, dimarinasi, dibalur dengan karbohidrat, dimasukkan dalam wadah tertutup lalu disimpan. Jenis bahan karbohidrat yang dapat digunakan adalah singkong yang dihaluskan atau nasi. Tamba memiliki keunikan yaitu dapat dikonsumsi secara mentah, memiliki bau yang khas, merupakan salah satu cara pengawetan tradisional saat bahan baku melimpah, diolah secara tradisional tanpa bakteri starter, dan menjadi makanan khas di setiap perayaan adat Suku Dayak Bulusu. Sebagai makanan fermentasi dan menjadi kearifan lokal, Tamba dapat. diintegrasikan dengan pembelajaran Biologi melalui materi Bioteknologi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepayang (Pangium edule Reinw.) adalah tumbuhan berkayu dari famili Achariaceae yang seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai pangan, rempah, bahan bangunan, dan pengawet ikan. Salah satu suku yang memanfaatkan tumbuhan Kepayang adalah suku Dayak Kenyah Lepo Ta’u yang berada di Desa Long Nawang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan Kepayang oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah Lepo Ta’u di Desa Long Nawang, serta keterkaitannya dengan pembelajaran Biologi di tingkat SMA. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif dan pendekatan naratif. Sampel penelitian dipilih secara purposive dengan jenis snowball sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan tumbuhan Kepayang sebagai bahan makanan, konstruksi, dan kayu bakar. Buah Kepayang diolah menjadi cemilan, makanan fermentasi, dan non-fermentasi. Batang pohon dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, sedangkan rantingnya digunakan sebagai bahan bakar. Analisis data penelitian dan kurikulum pembelajaran IPA di tingkat SMP dan Biologi di tingkat SMA menunjukan bahwa pengetahuan lokal tentang pemanfaatan Kepayang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi di SMA untuk memperkaya pemahaman siswa tentang keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya. Kepayang (Pangium edule Reinw.), a woody plant from the family Achariaceae, is traditionally utilized in various forms as food, spices, construction materials, and fish preservatives. The Dayak Kenyah Lepo Ta'u people in Long Nawang Village are among the indigenous communities that incorporate Kepayang into their daily lives. This study aims to explore the ethnobotanical practices related to Kepayang in this community and investigate its pedagogical relevance to high school biology education. A qualitative narrative approach was applied, with purposive and snowball sampling techniques guiding participant selection. Data were collected through field observation, interviews, and document analysis. The findings reveal that Kepayang is used as a food ingredient, construction material, and fuel source. Its fruit is processed into snacks and fermented and non-fermented foods, while its wood is used in basic construction and its branches as firewood. A cross-analysis with the national science and biology curriculum at the junior and senior high school levels indicates that local knowledge surrounding Kepayang offers rich content for contextualizing biodiversity and ethnobotany in biology lessons, enhancing students' understanding of local biological resources and sustainable use.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
ABSTRAK Permasalahan budidaya perikanan adalah tingginya biaya pakan serta pertumbuhan ikan yang tidak maksimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan nutrisi pakan buatan dengan metode fermentasi, tingkat kecernaan pakan terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup (SR) pada ikan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, terdiri dari perlakuan P1 (control): pakan komersial, P2: pakan buatan dengan 3 ulangan. Kandungan nutrisi pakan dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan data SNI, sedangkan nilai pertumbuhan, FCR, SR dan SGR mengunakan ANOVA T-Test. Hasil uji proksimat kadar air pada pakan buatan sebesar 11,16%, protein 43,75%, lemak 10,32%, abu 15,48% dan karbohidrat 19,23%. Nilai panjang mutlak pada P1 dan P2 masing-masing yaitu 6,1 cm dan 7,0 cm, Berat pada P1 sebesar 9.06 gr dan P2 12,7 gr, laju pertumbuhan spesifik (SGR) pada P1 sebesar 1,91 dan P2 sebesar 2,32, FCR pada P1 sebesar 1,07 dan P2 sebesar 0,97, dan nilai SR pada P1 dan P2 sebesar 100%. Kualitas air diperoleh suhu pada P1 dan P2 yaitu 27-29°C, pH pada P1 dan P2 yaitu 6-7, DO pada P1 dan P2 yaitu 5-6 mg/L sedangkan amonia dari P1 yaitu 0,04-2,71 dan P2 yaitu 1,07-2,70 mg/L. Kesimpulan, pakan buatan memiliki nilai pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan lebih tinggi dengan nilai FCR yang lebih rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mocaf merupakan tepung singkong yang dibuat dengan menggunakan prinsip modifikasi sel singkong dengan cara fermentasi. Pada proses fermentasi singkong menyebabkan karateristik yang lebih baik dari tepung yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan jenis ragi dan varietas singkong yang berbeda terhadap mutu mocaf (Modified cassava flour). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor, yaitu jenis ragi (M-Bio mocaf, ragi pakmaya, ragi tempe dan ragi tape) dan varietas singkong (singkong adira, singkong mentega dan singkong gajah) yang diulangi sebanyak 3kali sehingga terdapat 45 satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah Kadar Air, Kadar Abu, Kadar HCN dan Kadar Protein. Berdasarkan hasil perhitungan pada parameter kadar air memiliki nilai paling tinggi adalah R0V3 (singkong gajah tanpa ragi) sebesar 15,64%, parameter kadar abu memiliki nilai paling tinggi R0V2 (singkong mentega tanpa ragi) sebesar 2,54%, parameter kadar HCN memiliki nilai tertinggi R0V3 (singkong gajah tanpa ragi) sebesar 11,62% dan pada parameter kadar protein memiliki nilai tertinggi R3V3 (singkong gajah menggunakan ragi tempe) sebesar 3,45%
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mentimun merupakan salah satu pangan yang memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh dan memiliki kandungan air tinggi. Namun karena kandungan airnya yang tinggi menyebabkan timun mudah rusak dan tidak tahan lama. Umur simpan timun dapat diperpanjang dengan pengolahan. Pengolahan timun yang menarik konsumen dunia adalah kimchi. Kimchi merupakan salah satu jenis asinan sayuran tradisional Korea hasil fermentasi yang tambahkan bumbu pedas setelah digarami dan dicuci. Pada penelitian ini fermentasi kimchi dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi garam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial, dengan 2 faktor yaitu jenis garam (G) halus dan kasar, dan konsentrasi (K) 2%, 4%, 6%, dan 8%. Parameter penelitian yaitu uji kimia yang terdiri dari kadar air, kadar garam, kadar vitamin C, nilai pH, dan asam laktat. Uji organoleptik yang terdiri tekstur, warna, aroma dan rasa. Hasil analisis dilakukan dengan uji non- parametrik menggunakan uji friedman, dan dilajut dengan uji dunn sedangkan uji parametrik menggunakan uji ANOVA dengan uji lanjut BNT (beda nyata terkecil) taraf 5%. Jenis garam memberikan pengaruh terhadap parameter kadar air, kadar vitamin C dan asam laktat dan tidak memberikan pengaruh terhadap kadar garam. sedangkan konsentrasi garam memberikan pengaruh kadar garam, kadar vitamin C, dan asam laktat dan tidak memberikan pengaruh terhadap kadar air. Interaksi perlakuan jenis dan konsentrasi garam memberikan pengaruh terhadap kadar vitamin C dan asam laktat, serta menghasilkan nilai pH yang berbeda pada kimchi. Lebih tinggi konsentrasi dengan garam halus yaitu pada perlakuan K4G1 menghasilkan nilai kesukaan yang lebih disukai dengan skala rata-rata 4 (suka).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Sawi merupakan sayuran yang bersifat perishable sehingga untuk memperpanjang masa simpannya maka dilakukan metode pengawetan, salah satunya diolah menjadi kimchi. Kimchi merupakan jenis makanan khas korea hasil fermentasi sayuran dengan tambahan berbagai campuran bumbu. Proses fermentasi kimchi dipengaruhi oleh lama penggaraman dan waktu fermentasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama penggaraman dan fermentasi terhadap mutu kimchi sawi. Penelitian ini menggunakan model Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor, yaitu lama penggaraman (G) 1, 2, dan 3 jam, dan waktu fermentasi (F) 2, 4, dan 6 hari. Parameter yang dianalisa adalah kadar air, kadar garam, vitamin C, nilai pH dan kadar asam laktat, serta uji organoleptik terhadap warna, tektur, aroma, dan rasa. Analisis data dilakukan menggunakan uji non-parametrik (Friedman), dan Uji Dunn, ANOVA dan dilanjut menggunakan uji lanjut DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) taraf 5%. Lama penggaraman memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap parameter kadar air, vitamin C dan kadar asam laktat, dan pengaruh tidak berbeda nyata pada parameter kadar garam. Sedangkan fermentasi memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap semua parameter kimiawi pada sampel kimchi sawi. Interaksi dari kedua perlakuan memberikan pengaruh terhadap parameter kadar asam laktat, dan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter lainnya. Semakin lama penggaraman dan semakin singkat fermentasi yang dilakukan disuhu ruang, maka semakin baik kimchi sawi yang dihasilkan. Karena dapat menyebabkan kadar air, vitamin C, kadar asam laktat menjadi tinggi, kadar garam dan nilai pH menjadi rendah. Kombinasi perlakuan G3F1 (lama penggaraman 3 jam, dan fermentasi 2 hari) memiliki karakteristik mutu organoleptik dan penerimaan panelis yang baik terhadap kimchi sawi dengan nilai skala rata-rata 3,9 (suka), karena memiliki warna yang menarik atau berwarna merah, tekstur yang renyah, aroma yang sedap dan rasa asam segar khas kimchi. Kata Kunci: Fermentasi, Kimchi Sawi, Lama Penggaraman,
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Melimpahnya jumlah limbah udang memerlukan adanya upaya pemanfaatan yang dapat menanggulangi masalah pencemaran lingkungan namun tetap bernilai jual. Limbah kepala udang mengandung protein kasar sekitar 25-40%. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan nutrisi tepung limbah udang sebagai bahan baku dalam pembuatan pakan ikan melalui teknik fermentasi menggunakan EM4. Penelitian ini menggunakan probiotik EM 4 dan tepung kepala udang dengan berbagai perlakuan yaitu, PO 0 ml/100 g, P1 10 ml/100 g, P2 15 ml/100 g dan P3 20 ml/100 g. Parameter yang dihitung pada penelitian ini berfokus pada kadar protein dan derajat hidrolisi protein. Data yang diperoleh selama penelitian dianalisis menggunakan uji anova dan jika terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Sedangkan kualitas fisik tepung limbah udang disajikan secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan data hasil uji protein di ketahui bahwa pemberian dosis probiotik EM 4 memberikan pengaruh yang nyata terhadap kandungan protein tepung limbah udang (F hitung > F tabel, yaitu 34,57 > 4,06). Dosis terbaik dari ke empat perlakuan tersebut adalah P2 yaitu 15 ml EM 4 / 100 g tepung kepalaudang diperoleh kandungan protein sebesar 32,17%. Namun hasil ini masih jauh dari standar protein tepung ikan.. Dari segi aroma tepung udang tanpa fermentasi memiliki aroma amis yang kuat dibandingkan tepung udang yang difermentasi. Nilai kandungan kitin terkecil ditunjukan pada P2 yaitu EM4 15 ml/100 g bahan, sedangkan nilai kitin tertinggi diperoleh diperlakuan kontrol. Kesimpulan pemberian EM4 dalam pakan mampu meningkatkan protein dan menurunkan nilai kitin pada tepung kepala udang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Cacing sutra (Tubifex sp) merupakan salah satu pakan alami yang dibutuhkan dalam pembenihan ikan khususnya pada fase larva, karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian fermentasi ampas tahu dan limbah sayuran terhadap pertumbuhan cacing sutra (Tubifex sp). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari fermentasi ampas tahu dan kotoran ayam, fermentasi limbah sayuran dan kotoran ayam fermentasi ampas tahu, limbah sayuran dan kotoran ayam, parameter yang diamati meliputi biomassa dan populasi cacing sutra, serta kualitas air sebagai penunjang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian media ampas tahu dan limbah sayuran dengan konsentrasi yang berbeda berpengaruh atau berbeda nyata terhadap pertumbuhan biomassa dan populasi cacing sutra. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan dua menghasilkan cacing sutra sebanyak 13,4g dan populasi ±19,250 individu. Berdasarkan data kualitas air selama penelitian diperoleh kisaran suhu 28-29,5 °C, nilai pH kisaran 7,5-8,2 dan nilai DO kisaran 5-9.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Produksi hasil perikanan budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dapat ditingkatkan dengan menyediakan bahan pakan berkualitas. Bahan dasar pakan yang memiliki nutrisi tinggi adalah ampas kelapa terfermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh fermentasi ampas kelapa terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Pakan komersial sebagai kontrol (P0), kombinasi 25% fermentasi dan 75% pakan komersial (P1), kombinasi 50% fermentasi dan 50% pakan komersial (P2), dan kombinasi 75% fermentasi dan 25% pakan komersial (P3). Parameter pengujian terdiri dari uji proksimat (kadar protein, kadar abu, dan kadar air) pakan, panjang mutlak, berat mutlak, pertumbuhan spesifik, kelangsungan hidup, FCR, dan kualitas air. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi sebesar 1,52 cm (P3). berat mutlak tertinggi sebesar 3,22 gram (P3), Pertumbuhan spesifik tertinggi sebesar 2,456 gram (P3), Kelangsungan hidup tertinggi sebesar 80% (P4). Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa hasil kualitas air masih dalam kisaran optimal. Kombinasi fermentasi ampas kelapa dengan pakan komersil memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan benih ikan nila dibandingkan dengan kontrol.