Respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Eleasis guineensis Jacq) terhadap pemberian KNO3 dan bahan organik dari kotoran ayam pada tahap pre-nursery
Tanaman kelapa sawit (Eleasis guineensis Jacq) merupakan komoditas Perkebunan unggulan yang setiap tahun terus meningkat hal ini berdampak pada kebutuhan bibit yang bermutu dan berkualitas. Salah satu upaya untuk menghasilkan bibit yang berkualitas pada tahap pre-nursery adalah dengan melalui pemupukan yang tepat, baik dari anorganik maupun organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap pemberian KNO3 dan bahan organik dari kotoran ayam serta menentukan dosis terbaik pada tahap pre-nursery. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga November 2025 di lahan Perkebunan milik Pesantren Miftahul Ulum, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan yaitu, kontrol (P1), bahan organik 300g (P2), KNO3 2,5g dan bahan organik 300g (P3), KNO3 5g dan bahan organik 300g (P4), KNO3 7,5g dan bahan organik 300g (P5), KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6). Adapun parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, luas daun, diameter batang, Tingkat kehijauan daun, dan berat kering. Data dianalisi menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian KNO3 dan bahan organik mampu memberikan respon pertumbuhan terhadap bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery, pengaruh nyata terlihat pada parameter tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang khususnya pada umur 96 hingga 124 HST. Perlakuan KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai tertinggi pada seluruh parameter pengamatan. Dengan demikian, pemberian KNO₃ 10g dan bahan organik 300g (P6) dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery.