ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang perlu mendapat perhatian, termasuk pada kelompok remaja. Pengetahuan dan sikap yang baik diperlukan sebagai dasar dalam upaya pencegahan diabetes melitus sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap tentang diabetes melitus pada remaja di Desa Mansalong. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2026 dengan jumlah sampel sebanyak 260 remaja di SMP Negeri 1 Mansalong dan SMA Negeri 1 Mansalong. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ) sebanyak 24 pertanyaan dan kuesioner sikap sebanyak 14 pernyataan. Data dianalisis secara univariat menggunakan Jamovi dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 206 responden (79,2%) memiliki pengetahuan kurang tentang diabetes melitus, sedangkan 159 responden (61,2%) memiliki sikap positif terhadap pencegahan diabetes melitus. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja memiliki pengetahuan kurang, namun sebagian besar memiliki sikap positif terhadap pencegahan diabetes melitus. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam meningkatkan edukasi kesehatan tentang diabetes melitus pada remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perilaku seks bebas di kalangan remaja usia sekolah, khususnya siswa SMP, merupakan persoalan yang terus meningkat di Kota Tarakan. Data DP3AP2KB Kota Tarakan tahun 2021–2025 mencatat sekitar 45 anak yang telah mendapat penanganan terkait perilaku ini, di luar kasus yang belum tercatat secara resmi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor eksternal penyebab perilaku seks bebas pada siswa SMP Negeri di Kota Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi terstruktur dan dokumentasi terhadap dua siswa SMP (satu laki-laki, satu perempuan) yang direkomendasikan oleh guru BK berdasarkan buku jurnal kasus sekolah. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, dengan uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan empat faktor eksternal utama yang saling berkaitan sebagai penyebab perilaku seks bebas, yaitu: (1) tekanan dan normalisasi dari lingkungan pertemanan membentuk pandangan bahwa perilaku seksual tertentu adalah hal yang wajar; (2) pacaran, yang berkembang dari kedekatan emosional menjadi kedekatan fisik akibat minimnya pemenuhan kasih sayang di rumah, intensitas pertemuan yang tidak terbatas, tekanan pasangan atas nama pembuktian cinta, serta kemudahan akses check-in hotel; (3) pornografi, yang diperkenalkan melalui lingkungan pertemanan sejak masa pubertas dan berkembang menjadi kecanduan yang mendorong keinginan mencoba perilaku seksual bersama pasangan; dan (4) pola asuh orang tua yang permisif, ditandai dengan sikap toleran, minimnya komunikasi emosional, dan kontrol yang hanya berfokus pada batasan waktu pulang. Keempat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dan diperparah oleh lemahnya kontrol diri remaja. Penelitian ini merekomendasikan penguatan edukasi seksual di sekolah, optimalisasi peran guru BK, penguatan literasi digital, serta transformasi pola asuh orang tua ke arah yang lebih otoritatif dan komunikatif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Masa remaja merupakan fase perkembangan yang rentan terhadap berbagai permasalahan psikososial, termasuk toxic parenting, kesepian, dan self esteem. Pola asuh yang tidak sehat dan perasaan kesepian dapat memengaruhi penilaian remaja terhadap dirinya, sehingga berpotensi menyebabkan rendahnya self esteem. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan toxic parenting dan kesepian dengan self esteem pada remaja SMP di wilayah Kota Tarakan. Metode peneitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 386 remaja usia 13–16 tahun yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling, proposional sampling, dan simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner toxic parenting, UCLA Loneliness Scale Version 3, dan Rosenberg Self Esteem Scale (RSES). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Gamma dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami toxic parenting sedang sebanyak 205 orang, kesepian rendah sebanyak 211 orang, dan self esteem sedang sebanyak 261 orang. Hasil uji Gamma menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara toxic parenting dengan self esteem (p = 0,000; r = -0,460), yang menunjukkan hubungan negatif, yaitu semakin tinggi toxic parenting maka semakin rendah self esteem. Terdapat pula hubungan yang signifikan antara kesepian dengan self esteem (p = 0,000; r = 0,665) yang berarti semakin tinggi tingkat kesepian pada remaja maka semakin rendah self esteem. Kesimpulannya, terdapat hubungan signifikan antara toxic parenting dan self esteem serta antara kesepian dan self esteem pada remaja SMP di wilayah Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anemia masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang banyak ditemukan pada remaja putri dan dapat memengaruhi pertumbuhan, kemampuan mengikuti kegiatan pembelajaran, serta kondisi kesehatan reproduksi. Pemahaman mengenai anemia dan penerapan perilaku pencegahannya menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia pada remaja putri SMP di wilayah pesisir Pantai Amal Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 66 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden didominasi kategori kurang sebesar 48,5%, diikuti kategori cukup sebesar 30,3% dan baik sebesar 21,2%. Perilaku pencegahan anemia didominasi kategori cukup sebesar 80,3%, diikuti kategori kurang sebesar 15,2% dan baik sebesar 4,5%. Berdasarkan tingkat pencegahan, perilaku yang memiliki frekuensi jawaban tertinggi meliputi sarapan dengan makanan sumber karbohidrat pada pencegahan primer, pemeriksaan hemoglobin pada pencegahan sekunder, serta menghindari makanan cepat saji pada pencegahan tersier. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan responden mengenai pencegahan anemia didominasi kategori kurang, sedangkan perilaku pencegahan anemia didominasi kategori cukup. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi kesehatan dan pembiasaan perilaku pencegahan anemia pada remaja putri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan remaja generasi alfa di era digital menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah gizi dan perilaku. Status gizi secara teoritis dapat berperan dalam perkembangan fungsi kognitif dan regulasi emosi yang berpotensi memengaruhi perilaku remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan masalah perilaku pada remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan gizi normal di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan komparatif analitik dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 2.209 remaja generasi alfa yang diperoleh menggunakan teknik total sampling berdasarkan data pemeriksaan kesehatan dari seluruh Puskesmas di Kota Tarakan. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan masalah perilaku diukur menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja generasi alfa memiliki status gizi kurang, yaitu sebesar 55,7%, dan mayoritas berada pada kategori perilaku normal sebesar 68,4%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,557 (>0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara masalah perilaku berdasarkan status gizi pada remaja generasi alfa di Kota Tarakan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa masalah perilaku tidak berbeda secara signifikan antara remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan normal. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif terhadap masalah perilaku remaja perlu memperhatikan faktor lain, seperti kondisi psikologis, pola asuh, lingkungan keluarga, teman sebaya, dan penggunaan media digital.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih merupakan kelompok usia yang rentan mengalami masalah status gizi dan gejala emosional. Perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, disertai perbandingan sosial dan perkembangan persepsi terhadap citra tubuh baik positif atau negatif yang dapat memengaruhi gejala emosional. Perbedaan gejala emosional berdasarkan jenis kelamin pada remaja laki-laki dan perempuan menunjukkan respons gejala emosional yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gejala emosional berdasarkan jenis kelamin pada remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan komparatif analitik menggunakan data sekunder. Desain penelitian ini adalah | analitik Cross-Sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 578 remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Jumlah responden paling banyak berjenis kelamin perempuan berjumlah 53,8% (331 remaja), sedangkan responden laki-laki berjumlah 46,2% (267 remaja). Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder dari hasil skrining Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan data antropometri yaitu, tinggi badan dan berat badan remaja di Puskesmas Kota Tarakan tahun 2025. Hasil penelitian menggunakan uji Chi-Square diperoleh nilai p value 0,001, bahwa terdapat perbedaan gejala emosional berdasarkan jenis kelamin pada remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih. Perbedaan gejala emosional pada kategori abnormal lebih tinggi pada remaja perempuan (42,4%) dibandingkan laki-laki (16,9%). Sementara itu, pada kategori normal sebagian besar lebih tinggi pada remaja laki-laki (70,8%) dibandingkan remaja perempuan (45,7%). Remaja perempuan memiliki proporsi gejala emosional abnormal yang lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai gejala emosional pada remaja laki-laki dan perempuan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda. Dukungan lingkungan yang positif dan penerimaan terhadap kondisi fisik remaja diharapkan dapat membantu menurunkan risiko munculnya masalah gejala emosional pada remaja Generasi Alfa dengan status gizi berlebih.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Masa remaja awal merupakan periode perkembangan yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis yang dapat memengaruhi penilaian individu terhadap dirinya, termasuk body image dan self-esteem. Body image yang negatif dapat berdampak pada rendahnya self-esteem pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dengan self-esteem pada remaja awal di tingkat SMP Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan pendekatan korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SMP Negeri di Kecamatan Tarakan Tengah sebanyak 3.034 siswa. Sampel penelitian berjumlah 353 responden yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel acak berlapis proporsional. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki body image positif sebanyak 303 responden (85,8%) dan self-esteem tinggi sebanyak 180 responden (51,0%). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan arah positif dan kekuatan hubungan sedang (r=0.495; p0.001) antara body image dan self-esteem pada remaja awal di tingkat SMP Kota Tarakan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik body image yang dimiliki remaja, maka semakin tinggi self-esteem yang dimiliki. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pihak sekolah dalam meningkatkan program pembinaan terkait body image dan self-esteem serta bagi perawat dalam upaya promosi kesehatan mental remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab perilaku agresi verbal pada siswa di SMP Negeri 4 Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak tiga orang siswa yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Penggumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku agresi verbal yang dilakukan siswa meliputi agresi verbal aktif langsung, aktif tidak langsung, pasif langsung, dan pasif tidak langsung. Bentuk perilaku tersebut antara lain berkata kasar, neghina teman, menyebarkan keburukan teman, mendiamkan teman, serta menyindir secara tidak langsung. Faktor penyebab perilaku agresi verbal meliputi provokasi dari teman sebaya, kondisi lingkungan yang tidak menyenangkan (aversif), pengaruh isyarat agresi dari lingkungan pergaulan, karakteristik individu, dan pengaruh kelompok deindividuasi. Perilaku agresi verbal dipengaruhi oleh kondisi emosional siswa dan interaksi sosial di lingkungan sekolah. Dampak yang ditimbulkan antara lain terganggunya hubungan sosial antara siswa, munculnya konflik, serta terciptanya lingkungan belajar yang kurang kondusif. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari guru sekolah, guru, dan orang tua untuk membantu siswa mengontrol emosi serta membangun pola komunikasi dan interaksi sosial positif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nurhayana, 2026. Survey Perilaku Seksual Remaja Di Selumit Pantai. Pembimbing Utama Nisa Ariantini, M.Pd Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku seksual remaja di Selumit Pantai. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perilaku seksual remaja yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, pergaulan bebas,lingkungan sosial, serta kurangnya pengawasan orang tua dan pendidikan kesehatan reproduksi. Perilaku seksual remaja dapat berdampak negative terhadap kondisi psikologis, sosial, dan Kesehatan reproduksi remaja. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui gambaran perilaku seksual remaja di wilayah Selumit Pantai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Populasi penelitian berjumlah 90 remaja di RT 09, RT 18, dan RT 27 kelurahan Selumit Pantai. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket perilaku seksual berdasarkan indikator kissing, necking, petting, dan sexual intercourse. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja berada pada kategori perilaku seksual cukup sebanyak 49 responden (54,4%), kategori baik sebanyak 24 responden (26,7%), dan katogeri buruk sebanyak 17 responden (18,9%). Remaja cenderung menunjukkan perilaku seksual ringan seperti berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Faktor yang mempengaruhi meliputi lingkungan pergaulan, media sosial, teman sebaya, kurangnya pemahaman kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, diperlukan peran orang tua, sekolah, dan Masyarakat dalam memberikan edukasi dan pengawasan terhadap remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Perubahan pola hidup remaja generasi alfa di era digital dapat memengaruhi kondisi kesehatan fisik dan emosional. Status gizi yang tidak optimal berpotensi memengaruhi kesehatan mental remaja, termasuk munculnya gejala emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan gejala emosional pada remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan gizi normal di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan komparatif analitik dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 2.209 remaja generasi alfa yang diperoleh menggunakan teknik total sampling berdasarkan data pemeriksaan kesehatan seluruh Puskesmas di Kota Tarakan tahun ajaran 2024–2025. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan gejala emosional diukur menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis data menggunakan Uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0,001 yang berarti terdapat perbedaan gejala emosional berdasarkan status gizi pada remaja generasi alfa di Kota Tarakan. Remaja generasi alfa dengan status gizi kurang lebih tinggi berada pada kategori gejala emosional normal (68,6%), sedangkan proporsi gejala emosional abnormal lebih tinggi ditemukan pada remaja dengan status gizi normal (31,1%). Kesimpulan penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa status gizi berhubungan dengan perbedaan gejala emosional pada remaja generasi alfa di Kota Tarakan, meskipun kondisi emosional remaja juga dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan penggunaan media digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui pemantauan status gizi, edukasi kesehatan, serta skrining kesehatan emosional secara berkala guna mendukung tumbuh kembang remaja secara optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Menstruasi merupakan proses alami yang dialami oleh remaja putri dan memerlukan perhatian khusus terhadap kebersihan organ reproduksi, salah satunya melalui penerapan perilaku vulva hygiene. Perilaku vulva hygiene yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran reproduksi maupun infeksi saluran kemih. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VII yang telah mengalami menstruasi, dengan jumlah sampel sebanyak 121 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertulis atau cetak yang diisi langsung oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat siswi yang memiliki perilaku vulva hygiene yang kurang baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa sikap, sumber informasi, serta sarana dan prasarana memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi (p-value 0,05), sedangkan pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p-value >0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua faktor predisposisi berhubungan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi. Faktor sikap sebagai faktor predisposisi serta faktor pendukung memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada siswi SMP.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fenomena menurunnya penggunaan bahasa Tidung di kalangan remaja suku Tidung di Strat Buntu, Kota Tarakan, menunjukkan adanya urgensi untuk mengkaji dinamika pergeseran bahasa yang terjadi dalam masyarakat multibahasa. Dominasi bahasa Indonesia dalam ranah pendidikan, pergaulan, dan aktivitas publik memengaruhi pola pemilihan bahasa remaja serta melemahkan posisi bahasa Tidung sebagai bahasa warisan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pergeseran bahasa Tidung pada remaja serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong terjadinya pergeseran tersebut. Pertanyaan utama penelitian mencakup bagaimana pola penggunaan bahasa Tidung di kalangan remaja dan faktor apa saja yang memengaruhi perubahan itu. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara terstruktur, dan teknik simak libat bebas cakap, melibatkan remaja suku Tidung berusia 10–24 tahun sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran bahasa berlangsung melalui pola bilingual setara, bilingual bawahan, hingga monolingual bahasa Indonesia, khususnya dalam ranah sosial dan interaksi sebaya. Faktor penyebab utama mencakup heterogenitas interaksi sosial, dominasi bahasa Indonesia di sekolah, sikap bahasa negatif terhadap bahasa Tidung, serta melemahnya transmisi bahasa dalam keluarga. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa bahasa Tidung berada pada fase melemah dan membutuhkan strategi pemertahanan melalui keluarga, komunitas budaya, dan institusi pendidikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN PENERAPAN AROMATERAPI LEMON (CITRUS) TERHADAP PENURUNAN NYERI MENSTRUASI ABSTRAK Nyeri menstruasi merupakan keluhan nyeri haid yang paling umum dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Terapi nonfarmakologis, seperti aromaterapi lemon (Citrus), telah banyak diteliti sebagai metode komplementer untuk menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kenyamanan.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi lemon terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja putri.Metode: Studi kasus dilakukan pada Nn. Sr, remaja berusia 14 tahun dengan keluhan nyeri menstruasi (skor nyeri 7 pada Numeric Rating Scale). Intervensi yang diberikan berupa inhalasi aromaterapi lemon sebanyak 6 tetes dalam 200 ml air menggunakan diffuser selama 30 menit, dengan jarak 50–100 cm dari pasien, selama tiga hari berturut-turut. Kualitas nyeri diukur sebelum, selama, dan setelah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS).Hasil: Setelah intervensi selama 3 hari berturut-turut , skor nyeri menurun dari 7 menjadi 6 dan 4. Pasien melaporkan rasa nyaman, relaksasi, dan nyeri yang tidak lagi mengganggu aktivitas sehari-hari. Penurunan nyeri diduga terkait dengan efek limonene dalam aromaterapi lemon yang merilekskan otot dan menurunkan kecemasan melalui stimulasi sistem limbik dan pelepasan neurokimia analgesik, seperti enkefalin dan serotonin. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas aromaterapi lemon dalam mengurangi intensitas nyeri menstruasi hingga 30–40%.Kesimpulan: Aromaterapi lemon efektif menurunkan nyeri menstruasi pada remaja putri dan dapat menjadi salah satu metode nonfarmakologis yang aman serta mudah diterapkan. Terapi ini mendukung pendekatan holistik dalam asuhan kebidanan dengan memperhatikan keseimbangan fisik, psikologis, dan emosional pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pernikahan dini masih menjadi masalah kesehatan dan sosial yang memiliki dampak luas bagi remaja, seperti risiko kesehatan reproduksi, putus sekolah, masalah psikologis, serta terbatasnya kondisi sosial ekonomi. Maka penting untuk memahami bagaimana persepsi remaja agar bisa menjadi landasan dalam upaya pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi remaja tentang Dampak pernikahan dini di SMPN 10 Kota Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei cross-sectional. Proses penelitian mencakup penyusunan alat kuesioner yang berfokus pada komponen persepsi (kognitif, afektif, konatif), uji validitas dan reliabilitas, pengumpulan data, serta analisis univariat. Responden dalam penelitian ini terdiri dari 78 siswa yang diambil dengan teknik purposive sampling dari total populasi sebesar 341 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebesar 55,1% memiliki pemahaman yang cukup terkait dampak pernikahan dini dalam aspek kesehatan, psikologi, pendidikan dan ekonomi. Pada aspek afektif terdapat 82,1% remaja yang menunjukkan sikap penolakan terhadap pernikahan dini, dan di aspek konatif terdapat kecenderungan yaitu sebesar 71,8% responden untuk menunda pernikahan hingga mereka dewasa. Temuan tersebut menegaskan bahwa masih perlu adanya peningkatan pendidikan yang terstruktur untuk meningkatkan pengetahuan, memperkuat sikap dan tekad remaja dalam mencegah pernikahan dini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keputihan (Flour Albus) merupakan salah satu gangguan kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, sikap, dan perilaku yang kurang tepat dalam menjaga kebersihan organ reproduksi. Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga pencegahan keputihan perlu dilakukan sejak dini. Pendidikan kesehatan reproduksi yang baik diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap positif, dan mendorong perilaku pencegahan yang efektif pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap remaja perempuan tentang kesehatan reproduksi pada pencegahan keputihan (Flour Albus) di SMP Negeri 1 Tarakan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VIII dan IX di SMP Negeri 1 Tarakan dengan jumlah sampel 79 responden yang dipilih menggunakan Teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang mencakup variabel pengetahuan, sikap, dan pencegahan keputihan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (51,9%), sikap positif (98,7%), dan pencegahan keputihan baik (70,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada pencegahan keputihan (p = 0,003), sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap pada pencegahan keputihan (p = 0,116). Pengetahuan berperan penting dalam pembentukan perilaku pencegahan keputihan, sedangkan sikap positif belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata. Diperlukan edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan dan membentuk perilaku pencegahan keputihan yang baik pada remaja perempuan. Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Pencegahan Keputihan, Kesehatan Reproduksi, Remaja
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan oleh salah satu atau kedua pasangan sebelum mencapai usia 19 tahun, dan berdampak negatif secara psikologis, sosial, kesehatan, serta hukum. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui peningkatan akses informasi dan pemahaman mengenai konsekuensi pernikahan dini, salah satunya dengan media video sebagai sarana edukatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi menggunakan media video terhadap pengetahuan remaja putri di SMA Negeri 4 Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain pra-eksperimental model one group pretest-posttest. Populasi penelitian berjumlah 291 siswi, dengan sampel sebanyak 83 responden yang dipilih melalui teknik proportional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan remaja putri mengenai dampak pernikahan dini, yaitu dari 73 orang (88,0%) dengan kategori baik pada saat pretest menjadi 81 orang (97,6%) pada posttest, dengan kenaikan sebesar 9,6%. Analisis menggunakan uji Wilcoxon menghasilkan nilai p-value 0,000 (p 0,05), yang mengindikasikan bahwa edukasi menggunakan media video berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini. Media video direkomendasikan sebagai wahana edukasi yang efektif untuk mendukung upaya pencegahan pernikahan dini secara berkesinambungan melalui keterlibatan tenaga kesehatan, institusi, dan masyarakat. Kata Kunci: Media Video, Pengetahuan, Remaja Putri, Dampak Pernikahan Dini
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan isu kesehatan reproduksi serius pada remaja, khususnya di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, yang menunjukkan peningkatan kasus signifikan terutama di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo. Kurangnya peran orang tua dalam memberikan bimbingan dan pengawasan terkait edukasi seksualitas menjadi faktor risiko utama yang membuat remaja rentan terhadap perilaku berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara peran orang tua sebagai pembimbing, motivator, pengawas, dan teman dengan perilaku pencegahan IMS pada remaja putri, berdasarkan teori tentang pentingnya pengasuhan dalam membentuk sikap dan tindakan kesehatan reproduksi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional analitik observasional, melibatkan 89 responden remaja putri kelas X dan XI SMA Negeri 1 Tarakan, yang dipilih melalui teknik proporsional stratified random sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner peran orang tua dan perilaku pencegahan infeksi menular seksual yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan perilaku pencegahan infeksi menular seksual, dengan nilai p = 0,007 (p 0,05). Sehingga, disimpulkan bahwa peran orang tua berhubungan signifikan dengan perilaku pencegahan IMS pada remaja putri di SMA Negeri 1 Tarakan. Peneliti merekomendasikan adanya kolaborasi antara pihak sekolah dan puskesmas untuk mengoptimalkan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Merokok menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena merupakan faktor risiko utama untuk beberapa penyakit kronis yang dapat menyebabkan kematian. Merokok adalah perilaku yang sangat merugikan kesehatan, namun masih sulit untuk dihilangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan bahaya merokok dengan perilaku merokok pada remaja putra. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis cross-sectional. Populasi pada penelitian ini sebesar 2.082 siswa dan didapatkan sampel dalam penelitian ini sejumlah 336 siswa putra yang bersekolah di SMA Negeri Tarakan. Untuk penentuan jumlah sampel setiap sekolahnya menggunakan teknik proporsional sampling dan teknik yang digunakan untuk pengambilan yang sampel yaitu purposive sampling. Hasil penelitian yang didapatkan dalam penlitian ini yaitu adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan bahaya merokok pada perilaku remaja. Analisis menggunakan fisher’s exact test yang menunjukkan nilai p 0,05 (p = 0,014) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan bahaya merokok dengan perilaku merokok. Mayoritas responden menunjukkan tingkat pengetahuan tinggi serta memiliki perilaku merokok yang rendah, sehingga penelitian ini dapat dijadikan referensi ilmu keperawatan komunitas untuk menambah wawasan informasi mengenai bahaya merokok. Peneliti berharap agar peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan memperhatikan keterbatasan yang ada pada penelitian ini sehingga penelitian ini dapat berkembang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kenakalan remaja sering di sebabkan oleh terjadinya perubahan-perubahan dalam aspek fisik, psikis dan sosial sehingga remaja cenderung mengabaikan peraturan atau norma yang ada. Kenakalan remaja merupakan tindakan penyimpang yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran aturan tata tertib disekolah maupun masyarakat. Salah satu upaya menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan memberikan layanan bimbingan klasikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bimbingan klasikal terhadap kenakalan remaja di SMP Negeri 1 Tanjung Selor, jenis penelitian pada penelitian ini yaitu kuantitatif dengan metode penelitian pre-experimental design dengan jenis one group pretest-posttest. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa angket, menggunakan indikator kenakalan remaja dari (Iqbal,2014) adapun penyebab kenakalan remaja yaitu: 1) faktor keluarga; 2) pengaruh teman sebaya; 3) lingkungan sekolah; dan 4) media sosial dan media massa. Populasi penelitian ini adalah 257 siswa dikelas VIII di SMP Negeri 1 Tanjung Selor, dengan menggunakan teknik Purposive sampling, yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 8 siswa. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial dengan bantuan software SPSS 25. Hasil penelitian pada saat pemberian pretest berada pada kategori tinggi dapat dilihat dari hasil analisis data tingkat kenakalan remaja dengan nilai rata-rata 101,1 dan setelah pemberian posttest berada pada kategori rendah dapat dilihat dari hasil analisis data Tingkat kenakalan remaja dengan nilai rata-rata 94,3. Berdasarkan hasil penelitian prestest dan posttest bahwa adanya pengaruh bimbingan klasikal terhadap kenakalan remaja di SMP Negeri 1 Tanjung Selor dilihat dari uji hipotesis melalui paired sample t-test dengan menggunakan bantuan software SPSS 25 dan diperoleh nilai Sig. (2-tailed) adalah sebesar 0,000 > 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Remaja yang melakukan perilaku seksual bersiko dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, masalah kesehatan reproduksi, dan penularan IMS (Infeksi Menular Seksual). Perilaku seksual dilakukan pada remaja karena adanya rasa keingintahuan sehingga remaja melakukan tindakan seksualitas tanpa memikirkan risiko apa yang akan terjadi pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja di SMPN 4 Kota Tarakan. Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif dan menggunakan metode analisis korelasi dengan desain penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 8 di SMPN 4 Kota Tarakan yang berjumlah 288. Sampel penelitian ini berjumlah 81 orang yang dipilih secara purposive sampling, dan menentukan responden di setiap kelas menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner mengenai peran teman sebaya dan perilaku seksual. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji chi square. Hasil analisis menunjukkan nilai p value = 0,000 (p0.05) yaitu terdapat hubungan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja di SMPN 4 Kota Tarakan. Diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran oleh berbagai pihak (orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, masyarakat) agar lebih berperan aktif dalam memberikan pendidikan serta informasi yang benar, akurat, dan mudah dipahami mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku-perilaku menyimpang dikalangan remaja untuk mencegah terjadinya perilaku seksual berisiko.