Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

7 hasil
Subjek: Dismenorea
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN PEMBERIAN KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP PENURUNAN DISMENOREA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dismenorea adalah keluhan nyeri saat menstruasi yang umum terjadi pada remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta menurunkan kualitas hidup. Salah satu alternatif penanganan non-farmakologis yang efektif adalah pemberian kompres air hangat, yang bertujuan untuk meredakan nyeri melalui mekanisme peningkatan sirkulasi darah dan relaksasi otot.Tujuan: Mengetahui efektivitas pemberian kompres air hangat terhadap penurunan nyeri Dismenorea pada remaja putri. Metode: Laporan ini merupakan studi kasus yang dilakukan pada remaja putri usia 16 tahun di wilayah kerja Puskesmas Juata Permai, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Intervensi berupa pemberian kompres hangat pada perut bagian bawah dilakukan selama 3 hari saat menstruasi dengan durasi 15–20 menit, dua kali sehari. Evaluasi nyeri dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Skala nyeri sebelum intervensi adalah 6 (nyeri sedang), dan setelah pemberian kompres hangat selama 3 hari, nyeri menurun hingga skala 1 (nyeri ringan). Klien juga menunjukkan peningkatan kenyamanan, aktivitas, dan pemahaman tentang manajemen nyeri haid. Kesimpulan: Pemberian kompres air hangat terbukti efektif sebagai metode non-farmakologis untuk menurunkan intensitas nyeri Dismenorea pada remaja. Intervensi ini aman, murah, dan dapat dilakukan secara mandiri, serta layak diterapkan sebagai alternatif penanganan nyeri haid di tingkat komunitas.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEBIDANAN REMAJA DENGAN PENERAPAN AROMATERAPI LAVENDER UNTUK MENGURANGI DISMENOREA DI KELURAHAN JUATA LAUT

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dismenorea merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh remaja putri saat menstruasi, ditandai dengan nyeri di perut bagian bawah yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Terapi non-farmakologis seperti aromaterapi lavender menjadi alternatif aman dan efektif untuk mengatasi keluhan ini. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian aromaterapi lavender terhadap penurunan tingkat dismenorea pada remaja. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus pada seorang remaja berusia 14 tahun yang mengalami dismenorea primer. Intervensi dilakukan dengan pemberian aromaterapi lavender secara inhalasi menggunakan diffuser, air bersih 100 cc dan essential oil sebanyak 4 tetes selama dua hari pertama menstruasi. Hasil pengukuran skala nyeri menunjukkan penurunan tingkat nyeri dari kategori sedang menjadi ringan setelah intervensi, terjadi pula peningkatan relaksasi, kualitas tidur, dan suasana hati. Temuan ini menunjukkan bahwa aromaterapi lavender dapat menjadi salah satu intervensi efektif dalam mengurangi dismenorea. Penggunaan aromaterapi lavender disarankan dapat digunakan sebagai alternatif non-farmakologis yang praktis dan aman dalam penanganan nyeri dismenorea pada remaja. Terapi ini juga dapat diterapkan secara mandiri di rumah untuk meningkatkan kenyamanan selama menstruasi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN PENERAPAN AROMATERAPI LAVENDER UNTUK MENGURANGI DISMENOREA PADA REMAJA DI PUSKESMAS MAMBURUNGAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dismenorea adalah nyeri menstruasi yang menyebabkan gejala seperti nyeri perut bawah, sakit kepala, diare, nyeri ulu hati, mual, dan muntah. Gejala ini dapat menyebabkan perubahan emosional, kesulitan tidur, gangguan aktivitas, dan konsentrasi. Dismenorea berdampak pada fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi, termasuk kelelahan dan kemarahan. Aromaterapi lavender memiliki banyak manfaat dan terdiri dari bahan seperti minyak esensial, alpha linalool, borneol, dan linalyl acetate dalam 100 gram bunga lavender. Bunga lavender didominasi oleh linalool (18-48%) dan linalyl asetat (1-36%). Linalool dapat memberikan efek sedatif dan linalyl asetat menunjukkan adanya aksi narkotik yang nyata. Penggunaan dua kandungan ini dapat mengurangi kecemasan, gangguan pola tidur, meningkatkan perasaan kesejahteraan, mendukung kewaspadaaan mental serta menekan agresi yang bertindak sebagai relaksasi dan obat penenang sehingga dapat digunakan dengan terapi pereda nyeri (dismenore). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi lavender terhadap dismenore pada remaja putri. Metode yang digunakan ini studi kasus dengan rancangan pre-test dan post-test. Sampel dalam penelitian ini adalah seorang remaja putri yang mengalami dismenore. Instrument yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS). Hasil analisis tingkat nyeri haid menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan lembar observasi pengukuran skala nyeri menggunakan NRS yang di isi oleh responden, yaitu dari tingkat nyeri 6 (nyeri sedang) menjadi tingkat nyeri 3 (nyeri ringan). Sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian aromaterapi lavender terhadap dismenorea pada remaja putri. Diharapkan studi kasus ini dapat menjadi layak untuk memberikan informasi kepada Masyarakat terkait pengonbatan secara non-farmakologis seperti menggunakan aromaterapi lavender untuk menurunkan dismenore pada remaja putri dengan pemberian aromaterapi lavender untuk menurunkan dismenorea pada remaja putri.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ASUHAN KEBIDANAN REMAJA PADA Nn. A DENGAN KOMPRES HANGAT DAN TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM UNTUK MENGURANGI DISMENOREA DI WILAYAH PUSKESMAS MAMBURUNGAN

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Remaja ialah anak berusia 10-24 tahun dan pada masa ini merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada remaja perempuan ditandai dengan menstruasi. Pada siklus menstruasi, sebagian besar remaja mengalami dismenorea. Prevalensi kejadian dismenorea di Indonesia mencapai 64,25% dengan rincian mencakup 54,89% mengalami dismenorea primer dan 9,36% dismenorea sekunder. Hal ini menjadi perhatian untuk ditanggulangi sebab dismenorea berdampak bagi aktivitas remaja berupa ketidaknyamanan nyeri dan terganggunya aktivitas sehari-hari hingga gelisah akibat kram yang hebat. Dismenorea dapat diatasi dengan metode farmakologis dan non-farmakologis. Metode non-farmakologis salah satunya kompres hangat dan teknik relaksasi napas dalam merupakan pilihan terapi yang efektif, mudah diterapkan dan terjangkau dalam manajemen nyeri. Tujuannya adalah melakukan asuhan kebidanan remaja dengan kompres hangat dan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi dismenorea. Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus ini dilaksanakan di kediaman responden pada tanggal 28-31 Mei 2025. Responden adalah Nn. A usia 13 tahun yang mengalami dismenorea pada hari 1-3 dalam siklus menstruasinya. Instrumen yang digunakan meliputi lembar SOAP, kuesioner penilaian derajat dismenorea dan alat serta bahan untuk memberikan kompres hangat. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa derajat dismenorea pada Nn. A sebelum diberikan terapi dalam kategori dismenorea sedang (11 poin) dan setelah mendapatkan terapi, derajat dismenorea menurun menjadi kategori dismenorea ringan (5 poin). Hal ini menandakan pemberian kompres hangat dan teknik relaksasi napas dalam dapat mengurangi dismenorea pada Nn. A. Tenaga kesehatan disarankan untuk memberikan edukasi serta mengajarkan terapi ini kepada remaja perempuan sebagai alternatif dalam mengurangi atau mengatasi dismenorea yang mereka alami.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN NYERI DISMENOREA PRIMER PADA MAHASISWI DI UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dismenorea merupakan nyeri perut saat menstruasi dan merupakan masalah ginekologi yang paling sering dikeluhkan oleh wanita, menstruasi yang terjadi sebelum dan selama siklus menstruasi pada wanita dan nyeri haid adalah salah satu penyakit ginekologi yang paling umum. Kejadian dismenorea dapat terjadi dan berhubungan dengan beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik mengoptimalkan pelepasan hormon endorfin yang menjadi analgetik non spesifik pada dismenorea, selain itu, aktivitas fisik juga mungkin diperlukan untuk mengurangi sekresi hormon prostaglandin, kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor penyebab gangguan pada menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan sebanyak 89 mahasiswi. Pengambilan data menggunakan kusioner Numerical Rating Scale (NRS) dan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) pengukuran aktivitas fisik, dan analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian bahwa dari 89 responden sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik Sedang mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan sebanyak 33,7% (30 responden ), aktivitas fisik ringan mayoritas mengalami nyeri dismenorea sedang 12,3% (11 responden), aktivitas fisik berat mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan 8,9% (8 responden). Hasil uji chi square p value 0,070 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea primer pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

gambaran tingkat kecemasan remaja pada kejadian dismenorea remaja di fakultas ilmu kesehatan universitas borneo tarakan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nyeri menstruasi atau dismenorea sering dialami oleh beberapa wanita khususnya di usia reproduktif, bahkan angka kejadian dismenore di dunia sangat besar. Rata-rata lebih dari 50% wanita mengalami dismenore di setiap negaranya. Beberapa perempuan yang merasakan sakit yang tidak tertahankan saat menstruasi dapat berpengaruh terhadap 50% aktivitas harian pada perempuan usia produktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh responden kebanyakan usia 19-21 tahun, kebanyakan berusia 19-21 tahun sebanyak 60 responden (100%). Sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan 40 responden (66,6%), kecemasan ringan 9 orang (15%), kecemasan sedang 4 orang (6,67%), kecemasan berat 4 orang (6,67%). Rata-rata tingkat nyeri dismenorea primer 60 orang (100%) dan tidak ada yang mengalami nyeri berat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diharapkan kepada remaja putri untuk dapat menambah pengetahuannya mengenai tingkat nyeri dismenorea dan upaya penanganannya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail