ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dan dipengaruhi oleh faktor genetik serta gaya hidup, termasuk aktivitas fisik. Individu yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi tersebut. Oleh karena itu, upaya pencegahan sejak dini sangat penting dilakukan, salah satunya melalui aktivitas fisik yang teratur. Mahasiswa sebagai kelompok usia produktif juga berisiko, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga hipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran aktivitas fisik pada mahasiswa keperawatan yang memiliki keluarga dengan hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan. Sampel: Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 192 mahasiswa yang memiliki riwayat keluarga hipertensi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif untuk melihat distribusi tingkat aktivitas fisik responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori aktivitas fisik ringan, diikuti oleh kategori sedang dan berat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik mahasiswa masih belum optimal sebagai upaya pencegahan hipertensi sejak usia muda. Kesimpulan: penelitian ini adalah mahasiswa keperawatan yang memiliki riwayat keluarga hipertensi lebih besar memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan aktivitas fisik guna menjaga kesehatan kardiovaskular dan mencegah kejadian hipertensi di masa depan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kualitas tidur merupakan kemampuan seseorang atau individu untuk tetap tertidur dan mencukupi kebutuhan tidurnya. Pada kehamilan trimester III, ibu hamil sering mengalami masalah pola tidur karena perubahan fisiologis dan psikologis. Jika ibu kurang melakukan aktivitas fisik. Hal ini dapat memperburuk kualitas tidur, termasuk durasi tidur dan kenyamaan tidur yang dapat mengakibatkan resiko kehamilan seperti, berat badan tidak terkontrol yang melibatkan glukosa memburuk dan kemungkinan diabetes gestasional. Selain itu, Ibu hamil juga mencemaskan rasa sakit, ketidaknyamaan saat akan menghadapi persalinan, tingkat kelahiran prematur, kemungkinan kelahiran caesar dan depresi pasca persalinan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap kualitas tidur ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan teknik purposive sampling dengan populasi yang berjumlah 355 ibu hamil trimester III. sampel sebanyak 78 responden yang dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2024 menggunakan kueisoner IPAQ dan PSQI. Adapun hasil analisa statistik dengan uji Chi square diperoleh nilai P-value = 0,000. Hasil data yang diperoleh, responden memiliki aktivitas fisik ibu yang rendah mendapatkan kualitas tidur yang buruk sebanyak 22 responden (28,2%), untuk aktivitas fisik ibu yang sedang mendapatkan kualitas tidur yang baik sebanyak 40 responden (51,3%), dan untuk aktivitas fisik ibu yang berat mendapatkan kualitas tidur yang buruk sebanyak 16 responden (20,5%). Berdasarkan hasil penelitian bahwa adanya hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur ibu hamil trimester III. Aktvitas fisik sedang mempengaruhi kualitas tidur yang baik pada ibu hamil trimester III.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dismenorea merupakan nyeri perut saat menstruasi dan merupakan masalah ginekologi yang paling sering dikeluhkan oleh wanita, menstruasi yang terjadi sebelum dan selama siklus menstruasi pada wanita dan nyeri haid adalah salah satu penyakit ginekologi yang paling umum. Kejadian dismenorea dapat terjadi dan berhubungan dengan beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik mengoptimalkan pelepasan hormon endorfin yang menjadi analgetik non spesifik pada dismenorea, selain itu, aktivitas fisik juga mungkin diperlukan untuk mengurangi sekresi hormon prostaglandin, kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor penyebab gangguan pada menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan sebanyak 89 mahasiswi. Pengambilan data menggunakan kusioner Numerical Rating Scale (NRS) dan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) pengukuran aktivitas fisik, dan analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian bahwa dari 89 responden sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik Sedang mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan sebanyak 33,7% (30 responden ), aktivitas fisik ringan mayoritas mengalami nyeri dismenorea sedang 12,3% (11 responden), aktivitas fisik berat mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan 8,9% (8 responden). Hasil uji chi square p value 0,070 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea primer pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan.