2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Keluarga Berencana (KB) adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan keluarga yang berkualitas dalam memenuhi hak reproduksi, membentuk keluarga dengan usia yang ideal, mengatur jumlah kehamilan yang diinginkan, mengatur jumlah anak, serta menentukan usia melahirkan yang sesuai guna membangun kesejahteraan anak (BKKBN, 2021). Kontrasepsi Implan bisa menjadi salah satu pilihan metode pengendalian kehamilan jangka panjang. Implan berbentuk kapsul silastik yang mengandung hormon progestin, dan ditempatkan di bawah kulit. Aromaterapi merupakan metode terapi komplementer yang menggunakan minyak esensial untuk meningkatkan kesehatan fisik, emosional, dan spiritual. Terapi ini diketahui dapat membantu menurunkan nyeri serta mengurangi tingkat kecemasan (Dewi, 2022). Aromaterapi lavender bekerja melalui stimulasi sistem limbik di otak, yaitu pusat pengatur emosi dan memori yang terhubung dengan indra penciuman. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan Asuhan kebidananpada akseptor kontrasepsi Implan dengan pemberian Aromaterapi lavender untuk mengurangi kecemasan pra pemasangan implan di Puskesman Gunung Lingkas Kota Tarakan 2026. Metode penelitian Pada Asuhan Kebidanan ini menggunakan pendekatan studi kasus (Case study). Hasil penelitian asuhan kebidanan akseptor KB Implan dengan pemberian Aromaterapi Lavender terjadi penurunan kecemasan dari kecemasan sedang menjadi kecemasan ringan pada akseptor KB Implan di Puskemas Gunung Lingkas.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keluarga Berencana (KB) adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan keluarga yang berkualitas dalam memenuhi hak reproduksi, membentuk keluarga dengan usia yang ideal, mengatur jumlah kehamilan yang diinginkan, mengatur jumlah anak, serta menentukan usia melahirkan yang sesuai guna membangun kesejahteraan anak (BKKBN, 2021). Kontrasepsi Implan bisa menjadi salah satu pilihan metode pengendalian kehamilan jangka panjang. Implan berbentuk kapsul silastik yang mengandung hormon progestin, dan ditempatkan di bawah kulit. Aromaterapi merupakan metode terapi komplementer yang menggunakan minyak esensial untuk meningkatkan kesehatan fisik, emosional, dan spiritual. Terapi ini diketahui dapat membantu menurunkan nyeri serta mengurangi tingkat kecemasan (Dewi, 2022). Aromaterapi lavender bekerja melalui stimulasi sistem limbik di otak, yaitu pusat pengatur emosi dan memori yang terhubung dengan indra penciuman. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan Asuhan kebidananpada akseptor kontrasepsi Implan dengan pemberian Aromaterapi lavender untuk mengurangi kecemasan pra pemasangan implan di Puskesman Gunung Lingkas Kota Tarakan 2026. Metode penelitian Pada Asuhan Kebidanan ini menggunakan pendekatan studi kasus (Case study). Hasil penelitian asuhan kebidanan akseptor KB Implan dengan pemberian Aromaterapi Lavender terjadi penurunan kecemasan dari kecemasan sedang menjadi kecemasan ringan pada akseptor KB Implan di Puskemas Gunung Lingkas.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
Dismenorea merupakan nyeri perut saat menstruasi dan merupakan masalah ginekologi yang paling sering dikeluhkan oleh wanita, menstruasi yang terjadi sebelum dan selama siklus menstruasi pada wanita dan nyeri haid adalah salah satu penyakit ginekologi yang paling umum. Kejadian dismenorea dapat terjadi dan berhubungan dengan beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik mengoptimalkan pelepasan hormon endorfin yang menjadi analgetik non spesifik pada dismenorea, selain itu, aktivitas fisik juga mungkin diperlukan untuk mengurangi sekresi hormon prostaglandin, kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor penyebab gangguan pada menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan sebanyak 89 mahasiswi. Pengambilan data menggunakan kusioner Numerical Rating Scale (NRS) dan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) pengukuran aktivitas fisik, dan analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian bahwa dari 89 responden sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik Sedang mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan sebanyak 33,7% (30 responden ), aktivitas fisik ringan mayoritas mengalami nyeri dismenorea sedang 12,3% (11 responden), aktivitas fisik berat mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan 8,9% (8 responden). Hasil uji chi square p value 0,070 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea primer pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Dismenorea merupakan nyeri perut saat menstruasi dan merupakan masalah ginekologi yang paling sering dikeluhkan oleh wanita, menstruasi yang terjadi sebelum dan selama siklus menstruasi pada wanita dan nyeri haid adalah salah satu penyakit ginekologi yang paling umum. Kejadian dismenorea dapat terjadi dan berhubungan dengan beberapa faktor salah satunya adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik mengoptimalkan pelepasan hormon endorfin yang menjadi analgetik non spesifik pada dismenorea, selain itu, aktivitas fisik juga mungkin diperlukan untuk mengurangi sekresi hormon prostaglandin, kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor penyebab gangguan pada menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan sebanyak 89 mahasiswi. Pengambilan data menggunakan kusioner Numerical Rating Scale (NRS) dan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) pengukuran aktivitas fisik, dan analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian bahwa dari 89 responden sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik Sedang mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan sebanyak 33,7% (30 responden ), aktivitas fisik ringan mayoritas mengalami nyeri dismenorea sedang 12,3% (11 responden), aktivitas fisik berat mayoritas mengalami nyeri dismenorea ringan 8,9% (8 responden). Hasil uji chi square p value 0,070 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan nyeri dismenorea primer pada Mahasiswi di Universitas Borneo Tarakan.