ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Menstruasi merupakan proses alami yang dialami oleh remaja putri dan memerlukan perhatian khusus terhadap kebersihan organ reproduksi, salah satunya melalui penerapan perilaku vulva hygiene. Perilaku vulva hygiene yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran reproduksi maupun infeksi saluran kemih. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VII yang telah mengalami menstruasi, dengan jumlah sampel sebanyak 121 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertulis atau cetak yang diisi langsung oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat siswi yang memiliki perilaku vulva hygiene yang kurang baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa sikap, sumber informasi, serta sarana dan prasarana memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi (p-value 0,05), sedangkan pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p-value >0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua faktor predisposisi berhubungan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi. Faktor sikap sebagai faktor predisposisi serta faktor pendukung memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada siswi SMP.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ASUHAN KEBIDANAN PADA REMAJA DENGAN PENERAPAN AROMATERAPI LEMON (CITRUS) TERHADAP PENURUNAN NYERI MENSTRUASI ABSTRAK Nyeri menstruasi merupakan keluhan nyeri haid yang paling umum dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Terapi nonfarmakologis, seperti aromaterapi lemon (Citrus), telah banyak diteliti sebagai metode komplementer untuk menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kenyamanan.Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi lemon terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja putri.Metode: Studi kasus dilakukan pada Nn. Sr, remaja berusia 14 tahun dengan keluhan nyeri menstruasi (skor nyeri 7 pada Numeric Rating Scale). Intervensi yang diberikan berupa inhalasi aromaterapi lemon sebanyak 6 tetes dalam 200 ml air menggunakan diffuser selama 30 menit, dengan jarak 50–100 cm dari pasien, selama tiga hari berturut-turut. Kualitas nyeri diukur sebelum, selama, dan setelah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS).Hasil: Setelah intervensi selama 3 hari berturut-turut , skor nyeri menurun dari 7 menjadi 6 dan 4. Pasien melaporkan rasa nyaman, relaksasi, dan nyeri yang tidak lagi mengganggu aktivitas sehari-hari. Penurunan nyeri diduga terkait dengan efek limonene dalam aromaterapi lemon yang merilekskan otot dan menurunkan kecemasan melalui stimulasi sistem limbik dan pelepasan neurokimia analgesik, seperti enkefalin dan serotonin. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas aromaterapi lemon dalam mengurangi intensitas nyeri menstruasi hingga 30–40%.Kesimpulan: Aromaterapi lemon efektif menurunkan nyeri menstruasi pada remaja putri dan dapat menjadi salah satu metode nonfarmakologis yang aman serta mudah diterapkan. Terapi ini mendukung pendekatan holistik dalam asuhan kebidanan dengan memperhatikan keseimbangan fisik, psikologis, dan emosional pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nyeri menstruasi yang tidak ditangani dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Rasa nyeri ini sering dikeluhkan wanita hingga memaksa mereka beristirahat dan meninggalkan rutinitas selama beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Jahe merah dipercaya dapat meredakan nyeri saat menstruasi karena memiliki sifat menghangatkan tubuh, antirematik, antiinflamasi, dan nalgesic. Kandungan utama seperti shogaol dan gingerol efektif dalam mengurangi rasa sakit. Mekanisme kerja antiinflamasi jahe merah melibatkan penghambatan enzim dalam siklus siklooksigenase (COX), yang mengurangi pembentukan prostaglandin, senyawa penyebab inflamasi dan nyeri. Selain itu, senyawa aktif lain seperti zingerone, diarylheptanoids, dan paradol juga berkontribusi dalam menghambat enzim COX, sehingga membantu mengurangi rasa nyeri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian air jahe merah terhadap penurunan nyeri menstruasi. Metode penelitian ini studi kasus dengan rancangan pre-test dan post-test. Sampel dalam penelitian ini adalah seorang remaja putri yang mengalami nyeri menstruasi (Dismenorhea). Instrument yang digunakan adalah Numeric Rating Scale (NRS). Hasil analisis tingkat nyeri menstruasi menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan lembar observasi pengukuran skala nyeri menggunakan NRS yang di isi oleh klien, yaitu dari tingkat nyeri 6 (nyeri sedang) menjadi tingkat nyeri 1 (nyeri ringan). Sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian air jahe merah terhadap penurunan tingkat nyeri menstruasi. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi layak untuk memberikan informasi kepada Masyarakat terkait pengobatan secara non-farmakologis seperti minum air jahe merah untuk menurunkan nyeri menstruasi pada remaja putri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Nyeri menstruasi merupakan salah satu keluhan ginekologi yang paling umum dialami oleh remaja putri di seluruh dunia. Prevalensi dismenore pada remaja berkisar antara 45-95% dengan tingkat keparahan yang bervariasi.Tujuan : Mengetahui gambaran efektivitas massage effleurage terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja putri melalui pendekatan asuhan kebidanan komprehensif.Metode : Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus menggunakan metode SOAP ( Subjektfif, Objektif, Assessment, Planning ) untuk asuhan kebidanan pada remaja dengan dismenore.Hasil : Massage effleurage terbukti efektif dalam menurunkan skala nyeri menstruasi dari tingkat sedang – berat menjadi ringan, dengan peningkatan kualitas aktivitas sehari – hari remaja putri. Kesimpulan : Asuhan kebidanan dengan teknik massage effleurage dapat menjadi alternatif terapi non farmakologis yang aman dan efektif untuk mengatasi nyeri menstruasi pada remaja putri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA REMAJA AKHIR DI SMA HANG TUAH KOTA TARAKAN ABSTRAK Remaja merupakan fase penting dalam perkembangan, terutama bagi perempuan yang mulai mengalami siklus menstruasi sebagai bagian dari kematangan organ reproduksi. Siklus ini sangat dipengaruhi oleh status gizi. Ketidakseimbangan gizi, dapat mengganggu keseimbangan hormon dan menyebabkan menstruasi tidak teratur, seperti jarak antar menstruasi yang terlalu panjang (oligomenorea) atau terlalu pendek (polimenorea). Tujuan penelitiaan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan siklus menstruasi pada remaja. Metode penelitian adalah Cross Sectional. Populasi penelitian ini siswi SMA Hang Tuah Kota Tarakan sebanyak 160 responden dan sampel sebanyak 114 responden, dengan menggunakan teknik rendom sampiling. Instrumen penelitian menggunakan lembar ceklis dan alat ukur tinggi badan (microtoise) dan alat ukur berat badan (timbangan digital). Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil data, lebih dari setengahnya responden memiliki status gizi normal 64 responden (54.1%), status gizi kurang 25 responden (25%), status gizi lebih 21 responden (18.4%), dan status gizi obesitas 4 responden (3.5%). Siklus menstruasi normal 64 responden (54.1%), oligomenorea 25 responden (25%), dan polimenorea 25 responden (25%). Ada hubungan signifikan antara status gizi dengan siklus menstruasi pada remaja akhir ( 0.001). Oleh karena itu, status gizi sangat penting dalam mendukung kesehatan reproduksi pada remaja, khususnya dalam menjaga siklus menstruasi yang teratur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Vulva hygiene saat menstruasi yaitu cara yang dilakukan dalam menjaga kesehatan vulva saat menstruasi. Vulva hygiene saat menstruasi yang buruk memungkinkan remaja putri tidak memperhatikan hygiene pada reproduksinya dan dapat menyebabkan gatal-gatal, iritasi, fluor albus abnormal, kanker serviks, ISK dan penyakit respoduksi lainnya. Berdasarkan data dinas kesehatan kabupaten bulungan tahun 2024, didapatkan masih banyak wanita yang terkena penyakit reproduksi yaitu 2 orang mengalami kanker serviks, 18 orang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) dan 168 orang mengalami fluor albus abnormal. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja putri tentang vulva hygiene pada saat menstruasi di SMPN wilayah kerja puskesmas Tanah Kuning. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif, populasi dalam penelitian ini seluruh siswi SMPN di wilayah kerja puskesmas Tanah Kuning dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling sebanyak 166 remaja putri yang telah mengalami menstruasi. Hasil menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang tentang vulva hygiene pada saat menstruasi sebanyak 90,4%. Kurangnya pengetahuan vulva hygiene pada wanita bisa membahayakan kesehatan reproduksinya, sehingga diperlukan pendidikan kesehatan yang terencana dan berkala mengenai vulva hygiene, misalnya pendidikan kesehatan dari orang tua, sekolah, fasilitas kesehatan, maupun media sosial.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Remaja di SMAN 1 Malinau dari 10 siswi, terdapat 8 remaja yang mengalami stres akibat banyak kesibukan dan tugas-tugas yang diperoleh. Remaja yang mengalami stres ini ternyata diantaranya 5 orang mengalami perubahan siklus menstruasi, ada yang siklus 21 hari dan > 35 hari. Menstruasi adalah perdarahan periodik wanita akibat luruhnya lapisan endometrium rahim yang tidak terbuahi, menstruasi normal 21–35 hari. Stres adalah respon fisik dan psikologis terhadap tuntutan yang menimbulkan ketegangan dan mengganggu keseimbangan aktivitas sehari-hari. Kondisi stres membuat HPA (Hypothalamic Pituitary Adrenal) meningkat, menyebabkan hipotalamus mengeluarkan CRH(Corticotropic Releasing Hormone). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stres, siklus menstruasi dan hubungan tingkat stres dengan siklus menstruasi. Desain penelitian menggunakan desain pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner tingkat stres PSS 10 dan kuesioner menstruasi. Hasil penelitian di dapatkan rata- rata , siklus menstruasi normal yaitu 21-35 hari 60.5% siklus pendek 23.4%, siklus Panjang 16.1%, dan tingkat stres yang paling banyak yaitu stres sedang 64,5%, stres berat 25,0% dan stres ringan 10,5% dan tidak ada hubungan antara tingkat stres dan siklus menstruasi ( P= 0. 326 > 0.05).