Abstrak
Fenomena menurunnya penggunaan bahasa Tidung di kalangan remaja suku Tidung di Strat Buntu, Kota Tarakan, menunjukkan adanya urgensi untuk mengkaji dinamika pergeseran bahasa yang terjadi dalam masyarakat multibahasa. Dominasi bahasa Indonesia dalam ranah pendidikan, pergaulan, dan aktivitas publik memengaruhi pola pemilihan bahasa remaja serta melemahkan posisi bahasa Tidung sebagai bahasa warisan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pergeseran bahasa Tidung pada remaja serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong terjadinya pergeseran tersebut. Pertanyaan utama penelitian mencakup bagaimana pola penggunaan bahasa Tidung di kalangan remaja dan faktor apa saja yang memengaruhi perubahan itu. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara terstruktur, dan teknik simak libat bebas cakap, melibatkan remaja suku Tidung berusia 10–24 tahun sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran bahasa berlangsung melalui pola bilingual setara, bilingual bawahan, hingga monolingual bahasa Indonesia, khususnya dalam ranah sosial dan interaksi sebaya. Faktor penyebab utama mencakup heterogenitas interaksi sosial, dominasi bahasa Indonesia di sekolah, sikap bahasa negatif terhadap bahasa Tidung, serta melemahnya transmisi bahasa dalam keluarga. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa bahasa Tidung berada pada fase melemah dan membutuhkan strategi pemertahanan melalui keluarga, komunitas budaya, dan institusi pendidikan.