ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sekolah berbasis pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memadukan kurikulum nasional dengan pendidikan keagamaan, sehingga berpotensi membentuk persepsi siswa yang khas terhadap mata pelajaran Biologi. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi siswa SMA terhadap mata pelajaran Biologi di sekolah berbasis pesantren, dikaji berdasarkan aspek kognitif dan afektif dengan merujuk pada konsep persepsi sebagai proses individu dalam menerima, memahami, dan memaknai suatu objek berdasarkan pengalaman belajarnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek dua puluh siswa kelas XI dan XII MIA SMA Muhammadiyah Boarding School Tarakan yang ditentukan melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik model Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kognitif siswa memahami Biologi sebagai ilmu kehidupan yang bermanfaat dan penting bagi masa depan, meskipun sebagian mengalami kesulitan pada materi abstrak seperti sel, enzim, dan metabolisme. Secara afektif, siswa menunjukkan respons yang cenderung positif namun bervariasi, disertai preferensi terhadap praktikum dan media visual. Persepsi terhadap integrasi Biologi dengan nilai keislaman juga beragam. Dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap Biologi di sekolah berbasis pesantren bersifat multidimensi, dipengaruhi oleh pengalaman belajar serta konteks keagamaan lingkungan pesantren.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencabulan terhadap santri di lingkungan pondok pesantren serta upaya penanggulangannya dalam perspektif kriminologi dan viktimologi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, serta dianalisi secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab utama meliputi rendahnya moralitas pelaku, lemahnya kontrol diri, lingkungan pesantren yang cenderung tertutup, relasi kuasa antara pelaku dan korban, lemahnya pengawasan, serta budaya diam yang menyebabkan korban enggan melapor. Dalam perspektif kriminologi, kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya kejahatan melalui penyalahgunaan kekuasaan terhadap santri yang berada dalam posisi rentan. Uapaya penanggulangan dilakukan melalui langkah preventif, represif dan rerehabilitatif. Upaya preventif dilakukan dengan meningkatkan pengawasan, edukasi mengenai kekerasan seksual, serta pembentukan mekanisme pelaporan yang aman. Upaya represif dilakukan melalui penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara itu, upaya rehabilitatif dilakukan melaui pendampingan psikologis dan pemulihan sosial bagi korban. Dengan sinergi antara pihak pesantren, masyarakat, pemerintah, dan apparat penegak hukum, diharapkan dapat tercipta lingkungan pesantren yang aman dan bebas dari tindak pidana pencabulan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kejadian skabies telah menyebar ke seluruh dunia, mempengaruhi hampir semua kelompok umur, ras, dan status sosial ekonomi. Skabies sering endemi di daerah pasifik yang tropis dan subtropis. Faktor lingkungan tempat tinggal yang disebabkan kondisi kebersihan yang kurang terjaga, kebersihan diri, jarang mandi, sering berbagi atau jarang mengganti handuk dan jarang mengganti pakaian. Banyaknya santri yang tinggal bersama di pesantren membuat mereka cenderung mengabaikan masalah kesehatan sehingga menyebabkan penderita skabies mayoritas santri. Seseorang yang menderita skabies, mengalami rasa gatal yang parah ketika akan tidur. Berbagai faktor dapat menyebabkan terjadinya skabies, termasuk lingkungan tempat tinggal yang disebabkan kondisi kebersihan yang kurang terjaga, kebersihan diri, sanitasi yang buruk seperti jarang mandi, sering berbagi atau jarang mengganti handuk dan jarang mengganti pakaian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan dan persepsi santri tentang perilaku pencegahan skabies di Pesantren kota Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode statistik deskriptif. Jumlah sampel penelitian ini adalah 204 santri remaja di pesantren kota Tarakan. Sampel ditentukan dengan teknik total sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa santri rentan remaja di Pesantren Kota Tarakan dengan pengetahuan baik sebanyak 33,8%, pengetahuan Sedang atau cukup 47,1%, pengetahuan kurang 19,1%. Persepsi santri tentang perilaku pencegahan skabies di Pesantren Kota Tarakan dengan persepsi sangat baik 29,9%, persepsi baik 39,2%, persepsi cukup baik 20,1, persepsi kurang baik 10,8%. Mayoritas santri menunjukkan pengetahuan yang cukup serta memiliki persepsi yang baik, sehingga perlu adanya peningkatan kesadaran santri untuk meningkatkan pengetahuan dan persepsi santri tentang perilaku pencegahan skabies di Pesantren Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anemia merupakan masalah kesehatan global yang banyak dialami oleh remaja putri, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi terhadap anemia akibat menstruasi dan pola makan yang kurang bergizi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengetahuan anemia pada remaja putri pesantren di Kota Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Jumlah sampel 124 remaja putri. Penentuan jumlah sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang telah dimodifikasi dari Guidelines for assessing nutrition-related Knowledge, Attitudes and Practices (FAO) dan De, et al sebanyak 11 item pernyataan. Hasil penelitian didapatkan remaja putri pesantren di Kota Tarakan memiliki pengetahuan baik 39,5%, pengetahuan cukup 34,7%, pengetahuan kurang 25,8%, dimana skor mean 70,24, SD 19,10, skor minimal 18,18, dan skor maksimal 100,00. Kesimpulan dari penelitian ini sebagian besar remaja putri pesantren di Kota Tarakan berpengetahuan baik tentang anemia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gastritis sering kali dianggap sebagai penyakit ringan dan tidak parah, namun gastritis dapat memunculkan komplikasi yang lebih parah apabila tidak segera ditangani. Beberapa faktor pemicu terjadinya gastritis dikarenakan pola makan remaja yang tidak sehat, tingkat kecemasan yang dialami remaja dan kurangnya tingkat pengetahuan remaja mengenai gastritis dan cara pencegahannya. Pada pesantren, remaja memiliki durasi belajar yang lebih padat dibandingkan dengan sekolah umum dan santri yang dituntut untuk bisa hidup lebih mandiri.. Informasi yang didapatkan dari remaja di pesantren, didapatkan bahwa mereka pernah mengalami gastritis dan hanya mengetahui penyebab gastritis yaitu pola makan yang tidak teratur dan stress. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Mengenai Gastritis di Pesantren Kota Tarakan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Statistik Deskriptif. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 324 remaja di Pesantren yang ada di Kota Tarakan. Sampel ditentukan dengan teknik Cluster Random Sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa remaja di Pesantren Kota Tarakan dengan pengetahuan baik sebanyak 26,9%, pengetahuan cukup 56,8% dan pengetahuan kurang sebanyak 16,4%. Kesimpulan dari penelitian ini, mayoritas tingkat pengetahuan remaja berada dalam kategori cukup, sehingga perlu adanya peningkatan informasi lebih lanjut mengenai gastritis untuk peningkatan tingkat pengetahuan dan mencegah terjadinya kekambuhan gastritis pada remaja di pesantren Kota Tarakan.