ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nurhayana, 2026. Survey Perilaku Seksual Remaja Di Selumit Pantai. Pembimbing Utama Nisa Ariantini, M.Pd Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku seksual remaja di Selumit Pantai. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perilaku seksual remaja yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, pergaulan bebas,lingkungan sosial, serta kurangnya pengawasan orang tua dan pendidikan kesehatan reproduksi. Perilaku seksual remaja dapat berdampak negative terhadap kondisi psikologis, sosial, dan Kesehatan reproduksi remaja. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui gambaran perilaku seksual remaja di wilayah Selumit Pantai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Populasi penelitian berjumlah 90 remaja di RT 09, RT 18, dan RT 27 kelurahan Selumit Pantai. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket perilaku seksual berdasarkan indikator kissing, necking, petting, dan sexual intercourse. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja berada pada kategori perilaku seksual cukup sebanyak 49 responden (54,4%), kategori baik sebanyak 24 responden (26,7%), dan katogeri buruk sebanyak 17 responden (18,9%). Remaja cenderung menunjukkan perilaku seksual ringan seperti berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Faktor yang mempengaruhi meliputi lingkungan pergaulan, media sosial, teman sebaya, kurangnya pemahaman kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, diperlukan peran orang tua, sekolah, dan Masyarakat dalam memberikan edukasi dan pengawasan terhadap remaja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Remaja yang melakukan perilaku seksual bersiko dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, masalah kesehatan reproduksi, dan penularan IMS (Infeksi Menular Seksual). Perilaku seksual dilakukan pada remaja karena adanya rasa keingintahuan sehingga remaja melakukan tindakan seksualitas tanpa memikirkan risiko apa yang akan terjadi pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja di SMPN 4 Kota Tarakan. Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif dan menggunakan metode analisis korelasi dengan desain penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 8 di SMPN 4 Kota Tarakan yang berjumlah 288. Sampel penelitian ini berjumlah 81 orang yang dipilih secara purposive sampling, dan menentukan responden di setiap kelas menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner mengenai peran teman sebaya dan perilaku seksual. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji chi square. Hasil analisis menunjukkan nilai p value = 0,000 (p0.05) yaitu terdapat hubungan peran teman sebaya terhadap perilaku seksual pada remaja di SMPN 4 Kota Tarakan. Diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran oleh berbagai pihak (orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, masyarakat) agar lebih berperan aktif dalam memberikan pendidikan serta informasi yang benar, akurat, dan mudah dipahami mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku-perilaku menyimpang dikalangan remaja untuk mencegah terjadinya perilaku seksual berisiko.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial, memberikan dampak signifikan terhadap perilaku remaja, termasuk dalam aspek perilaku seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 1 Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 97 siswa/i kelas X dan XI yang dipilih secara proporsional dengan pendekatan Probability Samping dengan metode Stratified Random Sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner mengenai penggunaan media sosial dan perilaku seksual remaja. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji spearman rho untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan perilaku seksual remaja (p value = 0,00) dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,838 yang berarti memlili hubunan yang sangat kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial memiliki hubungan dengan perilaku seksual remaja. Oleh karena itu diperlukan peran aktif dari orang tua, tenaga pendidik, dan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi dalam mencegah perilaku seksual berisiko.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Remaja yang melakukan perilaku seksual tidak aman sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual. Berdasarkan hasil wawancara terbuka dengan remaja Sebatik mengatakan perilaku seksual yang mereka lakukan yaitu berpacaran dengan perilaku bergandengan tangan ataupun berpelukan di tempat umum. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan pemberian intervensi peer group education dan latihan assertive. Di wilayah perbatasan Sebatik remaja masih belum mendapatkan terapi peer group education dan latihan assertive. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas pengaruh peer group education dan latihan assertive terhadap perilaku seksual remaja di wilayah perbatasan Sebatik. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif metode quasi eksperimen pretest dan posttest with control group design. Penelitian ini menggunakan analisis uji Wilcoxon Signed Rank Test dan telah lulus uji etik (No.112/KEPK-FIKES UBT/XI/2024). Hasil penelitian: terdapat pengaruh peer group education dan latihan assertive terhadap perilaku seksual remaja di wilayah Perbatasan Sebatik dengan nilai p value adalah 0,001 (p0,05). Kelompok yang mendapatkan intervensi peer group education dan latihan assertive memiliki perubahan tingkat perilaku seksual lebih baik daripada kelompok yang tidak mendapatkan intervensi peer group education dan latihan assertive. Kesimpulan pada penelitian ini adalah peer group education dan latihan assertive berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku seksual remaja di wilayah perbatasan Sebatik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pada masa remaja, pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan emosi terjadi dengan sangat pesat. Rasa ingin tahu yang tinggi membuat remaja berani mengambil resiko dalam tindakannya tanpa pertimbangan yang matang. Permasalahan yang sering dialami remaja ialah permasalahan yang berkaitan dengan perilaku seksual atau kesehatan reproduksi. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual pada remaja SMA Negeri 2 Tarakan. Jenis penelitian kuantitatif metode quasi eksperiment dengan rancangan untreated control group design with dependent pretest and posttest samples untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI SMA Negeri 2 Tarakan tahun ajaran 2023/2024 yang berjumlah 352 siswa-siswi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 78 siswa-siswi. Analisa bivariate dalam penelitian ini menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan kelompok kontrol dan eksperimen sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi, memiliki perilaku seksual sebanyak 64.10% (kurang aman), 29.49% (tidak pernah), dan 6.41% (tidak aman). Setelah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi, memiliki perilaku seksual sebanyak 50.00% (kurang aman), 46.15% (tidak pernah), dan 3.85% (tidak aman). Ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual pada remaja di SMA Negeri 2 Tarakan, p value sebesar 0.000. Diharapkan pihak SMA Negeri 2 Tarakan hendaknya memasukkan penambahan pelajaran khusus tentang pendidikan seksual remaja bagi kelas X, XI dan XII di semua jurusan (Kesehatan, Teknik, Sosial dan Bahasa) agar siswa-siswi terhindar dari perilaku seksual yang menyimpang dikalangan remaja.