Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

40 hasil
Subjek: Organik
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Penurunan Bobot Sampah Organik Pada Pembuatan Kompos Menggunakan Metode Berkeley dan Takakura Serta Potensinya Sebagai Sumber Belajar Biologi

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian ini bertujuan membandingkan penurunan bobot sampah organik pada proses pengomposan menggunakan metode Berkeley dan Takakura serta mengkaji potensinya sebagai sumber belajar biologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen melalui Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu metode pengomposan, dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Bahan yang digunakan sampah organik berupa sisa sayuran, daun kering, dan serbuk gergaji dengan penambahan aktivator EM4. Penurunan bobot ditentukan berdasarkan perubahan bobot awal dan akhir bahan hingga berakhirnya proses dekomposisi. Parameter pendukung selama proses pengomposan meliputi suhu, pH, dan kelembapan, sedangkan hasil akhir dianalisis berdasarkan suhu, pH, kelembapan, C-organik, N-total, dan rasio C/N. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata penurunan bobot metode Berkeley sebesar 176,85 g/hari, lebih tinggi dibandingkan Takakura sebesar 146,30 g/hari. Namun uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik dengan Sig 0,135 (Sig> 0,05). Karakteristik akhir kompos relatif sama. Berdasarkan SNI, nilai pH, kelembapan, dan N-total memenuhi persyaratan, sedangkan suhu, C-organik dan rasio C/N masih belum memenuhi persyaratan. Hasil penelitian berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber belajar biologi dalam bentuk modul ajar pada materi Ekologi dan Lingkungan. Abstract This study aimed to compare the reduction in organic waste weight during the composting process using the Berkeley and Takakura methods and to examine its potential as a biology learning resource. This study employed a quantitative approach using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) involving one factor, namely the composting method, with two treatments and three replications. The materials consisted of organic waste, including vegetable residues, dried leaves, and sawdust, with the addition of EM4 as an activator. Weight reduction was determined based on the difference between the initial and final weights of the materials at the end of the decomposition process. Supporting parameters monitored during the composting process included temperature, pH, and moisture content, while the final compost characteristics were analyzed based on temperature, pH, moisture content, organic carbon (C-organic), total nitrogen (N-total), and the C/N ratio. The results showed that the mean weight reduction using the Berkeley method was 176.85 g/day, which was higher than that obtained using the Takakura method (146.30 g/day). However, the One-Way ANOVA results indicated that this difference was not statistically significant, with a significance value of 0.135 (p > 0.05). The final characteristics of the compost produced by the two methods were relatively similar. Based on the Indonesian National Standard (SNI), the pH, moisture content, and total nitrogen values met the required standards, whereas temperature, organic carbon, and the C/N ratio did not yet meet the specified requirements. The findings of this study have potential applications as a biology learning resource in the form of a teaching module for topics related to Ecology and the Environment.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kajian faktor pembatas produksi sawit berdasarkan tingkat kualitas lahan pada lokus Sei Menggaris dan Sebatik

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas perkebunan strategis yang memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, Kondisi lahan dapat menjadi faktor pembatas yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kalapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas lahan serta mengidentifikasi faktor pembatas produksi kelapa sawit pada lokus Sei Menggaris dan Sebatik, Kabupaten Nunukan. Landasan penelitian mengacu pada konsep evaluasi kualitas dan kesesuaian lahan berdasarkan FAO serta metode matching dengan prinsip simple limitation, yaitu mencocokkan karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan pada Januari–April 2026 menggunakan metode survei. Penggalian data dilakukan melalui observasi lapangan, penentuan titik pengamatan, pengukuran karakteristik fisik lahan, pengambilan sampel tanah pada kedalaman 0–60 cm, pengumpulan data iklim, serta analisis sifat kimia tanah di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian dilakukan pada lima unit lahan, terdiri atas dua unit di Sebatik dan tiga unit di Sei Menggaris, dengan empat sampel tanah pada setiap titik pengamatan yang dikompositkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi iklim wilayah penelitian tergolong sesuai bagi pertumbuhan kelapa sawit, dengan rata-rata curah hujan 2.419 mm tahun⁻¹ dan rata-rata bulan kering 0,4 bulan. Karakteristik fisik lahan secara umum berada pada kelas sesuai, dengan tekstur agak halus hingga halus, kedalaman tanah 105–115 cm, serta kondisi lereng, drainase, erosi, genangan, batuan permukaan, dan singkapan batuan yang tidak menjadi faktor pembatas. Sifat kimia tanah menunjukkan pH H₂O 5,58–6,06, N-total 0,08–0,18%, P tersedia 5,80-8,22 ppm, K tersedia 5,29–9,63 ppm, dan C-organik 0,74–1,17%. Hasil evaluasi menunjukkan Sebatik 1, Sebatik 2, dan Sei Menggaris 2 termasuk kelas S1 (sangat sesuai), sedangkan Sei Menggaris 1 dan Sei Menggaris 3 termasuk S2 (cukup sesuai) dengan faktor pembatas utama berupa rendahnya C-organik. Produktivitas Sebatik mencapai 1.690 kg ha⁻¹, lebih tinggi dibandingkan Sei Menggaris sebesar 1.305 kg ha⁻¹. Dengan demikian, peningkatan bahan organik dan pemupukan berimbang diperlukan untuk memperbaiki kualitas lahan dan mendukung peningkatan produktivitas kelapa sawit secara berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR HASIL PRODUKSI KELAPA SAWIT MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR DAN POTENSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR DI SMK JURUSAN AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan limbah agroindustri yang mengandung bahan organik dan unsur hara cukup tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan POC melalui fermentasi, menganalisis kandungan unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta mengkaji potensinya sebagai bahan ajar pada mata pelajaran Pembibitan dan Kultur Jaringan Tanaman di SMK Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu kontrol dan empat perlakuan, masing-masing enam ulangan. Fermentasi dilakukan selama dua minggu menggunakan EM4 dan molase. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis karena tidak berdistribusi normal dan tidak homogen. Hasil menunjukkan bahwa variasi konsentrasi limbah cair kelapa sawit berpengaruh signifikan terhadap kandungan N, P, dan K (Sig 0,05). Perlakuan 250 ml menghasilkan kandungan unsur hara tertinggi. POC dari limbah cair kelapa sawit berpotensi digunakan sebagai bahan ajar kontekstual yang mendukung pembelajaran berbasis lingkungan dan pertanian berkelanjutan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Eleasis guineensis Jacq) terhadap pemberian KNO3 dan bahan organik dari kotoran ayam pada tahap pre-nursery

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tanaman kelapa sawit (Eleasis guineensis Jacq) merupakan komoditas Perkebunan unggulan yang setiap tahun terus meningkat hal ini berdampak pada kebutuhan bibit yang bermutu dan berkualitas. Salah satu upaya untuk menghasilkan bibit yang berkualitas pada tahap pre-nursery adalah dengan melalui pemupukan yang tepat, baik dari anorganik maupun organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap pemberian KNO3 dan bahan organik dari kotoran ayam serta menentukan dosis terbaik pada tahap pre-nursery. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga November 2025 di lahan Perkebunan milik Pesantren Miftahul Ulum, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan yaitu, kontrol (P1), bahan organik 300g (P2), KNO3 2,5g dan bahan organik 300g (P3), KNO3 5g dan bahan organik 300g (P4), KNO3 7,5g dan bahan organik 300g (P5), KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6). Adapun parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, luas daun, diameter batang, Tingkat kehijauan daun, dan berat kering. Data dianalisi menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian KNO3 dan bahan organik mampu memberikan respon pertumbuhan terhadap bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery, pengaruh nyata terlihat pada parameter tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang khususnya pada umur 96 hingga 124 HST. Perlakuan KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai tertinggi pada seluruh parameter pengamatan. Dengan demikian, pemberian KNO₃ 10g dan bahan organik 300g (P6) dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi terhadap Penambahan Berbagai Bahan Organik

2025•

Upaya untuk meningkatkan produksi tanaman terus dilakukan dengan berbagai strategi peningkatan teknologi budidaya. Salah satunya adalah penambahan bahan organik pada lahan pertanaman sawi. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui pengaruh bahan organik terhadap pertumbuhan dan hasil berbagai varietas sawi. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah jenis bahan organik yang terdiri dari perlakuan tanpa penambahan bahan organik (kontrol), sekam bakar, baglog, dan kompos, faktor kedua adalah jenis sawi yang terdiri dari sawi manis dan sawi pahit. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kompos pada jenis sawi manis menghasilkan tanaman sawi tertinggi (29,46 cm), terbanyak jumlah daunnya (9 helai) dan terluas ukuran luas daunnya (160,2 cm2) serta menghasilkan berat tanaman terberat pada jenis tanaman sawi pahit (101,50 g). Tanaman sawi manis dan sawi pahit menunjukkan perbedaan respon pertumbuhan dan hasil berdasarkan perlakuan pemberian bahan organik. Respon yang dihasilkan dipengaruhi oleh karakter genetik dan pola alokasi fotosintat masing-masing jenis sawi. Bahan organik kompos efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil tanaman sawi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisa Potensi Sampah Organik sebagai Energi Alternatif Kelistrikan Kota Tarakan

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Peningkatan jumlah penduduk di Kota Tarakan berdampak langsung pada meningkatnya volume sampah, khususnya sampah organik rumah tangga. Salah satu energi alternatif yang digunakan untuk memehuni pasokan energi listrik yaitu makanan, dedaunan,limbah pertanian dan kotoran hewan. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi sampah organik sebagai sumber energi listrik terbarukan di Kota Tarakan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui pengumpulan data volume sampah organik dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tarakan tahun 2024 hingga lima bulan pertama tahun 2025, serta perhitungan potensi biogas dan energi listrik menggunakan rumus konversi standar. Data menunjukkan komposisi sampah organik rata-rata sebesar 43,56% dari total timbulan sampah. Pada tahun 2024, volume sampah organik mencapai 25.590,4 ton dengan potensi energi listrik sebesar 31.209,7 kWh, sedangkan pada periode Januari–Mei 2025 potensi energi mencapai 9.087,8 kWh. Hasil pengukuran skala kecil menunjukkan setiap 5 kg sampah organik mampu menghasilkan energi listrik sekitar 0,0044 kWh. Analisis grafik menunjukkan hubungan yang konsisten antara berat sampah dengan jumlah biogas, gas metana, dan energi listrik yang dihasilkan. Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sampah organik di Kota Tarakan memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif berbasis biogas yang dapat mendukung penyediaan listrik lokal apabila dikelola secara optimal. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan sistem pemilahan sampah yang lebih baik dan pengkajian berkala untuk meningkatkan efisiensi konversi sampah menjadi energi listrik.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KAJIAN PERUBAHAN SIFAT FISIKA TANAH PODZOLIK MERAH KUNING PADA APLIKASI BEBERAPA BAHAN PEMBENAH TANAH ORGANIK

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Podzolik merah kuning termasuk tanah tua dengan tingkat pelapukan lanjut, pencucian intensif, dan kesuburan kimia, fisika, serta biologi yang sangat rendah. Kendala sifat fisika podzolik merah kuning yang kurang baik, diantaranya daya pegang air rendah, tekstur lempung berliat, struktur kurang mantap dan permeabilitas makin kebawah makin rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pembenah tanah organik terhadap perubahan sifat fisika tanah Podzolik Merah Kuning dan mendapatkn jenis pembenah tanah yang mampu memberikan perubahan sifat fisika tanah yang terbaik. Penelitian dilakukan di lahan penelitian dan Labortorium Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan satu faktor. Terdiri dari 10 perlakuan yaitu P0 (tanah tanpa perlakuan), P1 (Kotoran sapi 15 t/ha), P2 (Kotoran Sapi 30 t/ha), P3 (Kotoran sapi 45 t/ha), P4 (Arang sekam 15 t/ha), P5 (Arang sekam 30 t/ha), P6 (Arang sekam 45 t/ha), P7 (Cocopeat 15 t/ha), P8 (Cocopeat 30 t/ha), P9 (Cocopeat 45 t/ha). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 30 satuan. Percobaan dari setiap satuan percobaan terdiri dari 5 polybag. Parameter yang diamati meliputi kadar lengas, porositas, permeabilitas, berat jenis, berat volume, suhu tanah dan warna tanah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian bahan pembenah tanah organik seperti kotoran sapi, arang sekam, dan cocopeat dapat memperbaiki sifat fisika tanah. Penambahan bahan organik terbukti meningkatkan kadar air, porositas tanah, serta menurunkan berat volume dan berat jenis tanah sehingga kemampuan tanah dalam menahan dan menyediakan air meningkat Pada penelitian ini pembenah tanah kotoran sapi dan arang sekam merupakan bahan pembenah tanah yang memberikan pengaruh terbaik dalam memperbaiki sifat fisika tanah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS KESEDIAAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) SAYURAN ORGANIK DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI DESA KELUBIR KABUPATEN BULUNGAN

2025•

Produk sayuran organik cenderung memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran non organik, oleh karena itu sebagian besar konsumen menganggap produk sayuran organik sebagai produk makanan yang mahal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesediaan masyarakat Desa Kelubir untuk membayar lebih untuk sayuran organik dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, guna membantu produsen merancang strategi harga yang lebih tepat dan meningkatkan aksesibilitas produk organik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kelubir, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, dari November 2024 hingga Januari 2025, dengan 80 responden yang dipilih secara purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk mengetahui karakteristik konsumen, Contingent Valuation Method (CVM) untuk mengukur kesediaan membayar (WTP) dan regresi linear berganda untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi WTP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mayoritas berusia 26-65 tahun, perempuan, berpendidikan tinggi, dan memiliki pendapatan di atas Rp 3.000.000. Selain itu, konsumen bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi untuk memperoleh produk sayuran organik, dengan kenaikan 58,44% untuk sayur organik kangkung dan 58,50% untuk sayur organik bayam. Faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi kesediaan membayar konsumen adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jumlah pendapatan per bulan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penerapan Pupuk Terpadu Pada Budidaya Sorgum (Sorghum bicolor L.) di Lahan Marginal

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Konsep pemupukan terpadu adalah penerapan pupuk organik dan anorganik secara bersamaan dengan tujuan menambah unsur hara bagi tanaman sekaligus sekaligus sifat tanah. Penerapan pemupukan terpadu dapat meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah serta meningkatkan efisiensi penyusunan pupuk anorganik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi pupuk terpadu yang mampu memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum yang optimal di lahan marginal. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 1 faktor yang terdiri dari 8 perlakuan yaitu: P0 (Tanpa pupuk); P1 (Dosis rekomendasi urea, TSP, KCL); P2 (Dosis rekomendasi urea, TSP, KCL+Pupuk kandang ayam); P3 (1,5×Dosis rekomendasi urea, TSP, KCL+Pupuk kandang ayam); P4 (2×Dosis rekomendasi urea, TSP, KCL+Pupuk kandang ayam); P5 (Dosis rekomendasi urea, TSP, KCL+Pupuk kandang sapi); P6 (1,5×Dosis rekomendasi urea, TSP, KCL+Pupuk kandang sapi), P7 (2×Dosis rekomendasi urea, TSP, KCL+Pupuk kandang sapi), dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan pemupukan terpadu dengan bahan organik pupuk kandang ayam yaitu pada perlakuan P2, P3, dan P4 meberikan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman sorgum yang optimal. Perlakuan P2 memberikan nilai tertinggi terhadap parameter jumlah daun, panjang malai, dan berat 1000 butir dengan nilai berturut turut 16,03 helai, 22,83 cm, dan 42,33 g. Pada perlakuan P3 memberikan nilai tertinggi terhadap parameter tinggi tanaman yaitu 196,50 cm. Pada perlakuan P4 memberikan nilai tertinggi terhadap parameter berat brangkasan basah, berat brangkasan kering, dan berat 100 butir dengan nilai berturut turut 1.240 g, 1.086,33 g, dan 4,23 g.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Waktu pemasangan mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun (cucumis sativus L.)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak di butuhkan pada masyarakat sehingga perlu ditingkatkan cara budidaya nya, dalam buah mentimun terdapat kandungan gizi yang sangat melimpah. Tingkat produktivitas mentimun di Kota Tarakan hingga tahun 2020 tergolong rendah yaitu sebesar 39,416 kuintal. Peningkatan pertumbuhan dan produski mentimun dapat dilakukan dengan pemanfaatan mulsa alang-alang dengan waktu pemberian yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu : M0 = kontrol(tanpa mulsa), M1 = pemasangan mulsa saat tanam bersamaan, M2 = pemasangan mulsa 1 MST dan M3 = pemasangan mulsa 2 MST. Parameter yang di amati meliputi : Tinggi tanaman, Diameter batang, Jumlah daun, Jumlah buah, Panjang buah, Diameter buah dan Berat buah. Data dianalisis dengan sidik ragam dan di uji lanjut menggunakan DMRT. Berdasarkan hasil penelitian waktu pemasangan mulsa saat tanam bersamaan (M1) berpengaruh nyata terhadap peningkatan tinggi tanaman 2 MST (8,25 cm), 3 MST (74,39 cm) dan 4 MST (112,37 cm). Peningkatan diameter batang diameter batang 2 MST (0,38 mm), 3 MST (0,68 mm) dan 4 MST (0,88 mm). Peningkatan jumlah daun 2 MST (4,00 helai), 3 MST (11,54 helai) dan 4 MST (17,83 helai). Pertambahan jumlah buah sebanyak 4,58. Peningkatan panjang buah sebanyak 28,88 cm. Peningkatan diameter buah sebesar 4,69 cm dan Peningkatan bobot buah sebesar 471,68 gram. Kata kunci: Waktu pemasangan mulsa,pertumbuhan dan produksi organik dan nonorganik, mentimun

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PUPUK KANDANG DAN MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL MENTIMUN (Cucumis sativus L.)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pemulsaan dan pemupukan organik menjadi alternatif pengelolaan tanaman mentimun pada lahan dengan suhu dan curah hujan tinggi. Pemulsaan berperan dalam mengendalikan erosi dan pertumbuhan gulma, sedang bahan organik sebagi sumber unsur hara bagi mentimum. Mulsa dan pupuk organik memiliki banyak macam dan ragam, yang tentunya memberikan pengaruh yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian pupuk kandang dan mulsa organik terhadap pertumbuhan, dan hasil tanaman mentimun (Cucumis sativus L.). Penelitian menggunakan RAK 1 faktor yaitu aplikasi pupuk kandang ayam dan mulsa organik (mulsa rumput toraja, sekam padi dan daun bambu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang dan mulsa organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Perlakuan kombinasi pupuk kandang ayam dan mulsa daun bambu, yang memberikan hasil optimal pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, berat buah, panjang buah, diameter buah, berat akar, dan berat trubus. Penelitian ini menyarankan penggunaan mulsa daun bambu dan pupuk kandang ayam 6 kg per bedengan untuk meningkatkan produksi tanaman mentimun.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh pemberian jenis pupuk organik cair NASA dan pupuk organik padat kotoran sapi terhadap produksi tanaman terong ungu(Solanum melongena L.)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH PEMBERIAN JENIS PUPUK ORGANIK CAIR NASA DAN PUPUK ORGANIK PADAT KOTORAN SAPI TERHADAP PRODUKSI TANAMAN TERONG UNGU (Solanum melongena L.) Abstrak Pemberian pupuk organik cair selain menambah unsur hara juga memperbaiki agregat tanah, sehingga tanah menjadi gembur dan memudahkan perakaran tanaman menembus tanah serta menyerap unsur hara dalam memenuhi kebutuhannya. Penggunaan kotoran sapi menjadi pupuk untuk kesuburan tanah tidak hanya akan melestarikan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi dari kotoran sapi. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman terong ungu. Melalui pemberian POC NASA dan pupuk kotoran sapi dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh POC NASA dan Pupuk kotoran sapi terhadap hasil produksi tanaman terong ungu. Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan. Pada bulan Februari sampai dengan Mei 2023. Dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama; POC NASA(N) dengan 4 taraf Konsentrasi (2 ml, 4 ml, 6 ml, 8 ml) POC NASA/1 liter air. Dan faktor kedua; Pupuk Kotoran Sapi (K) dengan 4 taraf (10 ton ha-1 atau setara 150 g polybag-1, 20 ton ha-1 atau setara 225 g polybag-1, 30 ton ha-1 atau setara 300 g polybag-1, 40 ton ha-1 atau setara 375 g polybag-1). Parameter yang diamati yaitu; Panjang buah, Berat buah, Diameter buah, dan jumlah buah. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian yang telah dilaksakan dapat disimpulkan bahwa pemberian POC NASA dengan berbagai konsentrasi dan pupuk kotoran sapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi tanaman terong ungu. Interaksi POC NASA dan pupuk kotoran sapi pada perlakuan N1K1 mempunyai kecenderungan meningkatkan tinggi tanaman terong ungu Yuvita F1 sedangkan N4K4 cenderung memberikan hasil terendah. Kata kunci: Terong Ungu, Pupuk Organik Cair NASA, Pupuk Kotoran Sapi

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH MACAM BAHAN COATING UREA PADA SLOW RELEASE FERTILIZER TERHADAP PELEPASAN NITROGEN MENGGUNAKAN KINETIKA PELEPASAN FIRST ORDER

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ketersediaan Nitrogen dalam tanah merupakan salah satu permasalahan dalam pemupukan nitrogen (N). Nitrogen merupakan unsur hara makro primer yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, namun ketersediaannya dalam tanah tergolong sangat rendah. Dinamika cepat tersedia dari pupuk N anorganik serta tingginya kehilangan nitrogen melalui pencucian dan penguapan menjadikan aplikasi pupuk N anorganik kurang efisien. Teknologi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi N adalah dengan teknologi pupuk lambat tersedia (slow release fertilizer) menggunakan bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji formula pupuk SRF dengan menggunakan bahan pendukung urea-organik dalam melepaskan hara N di tanah marginal dan mengetahui laju dan pola pelepasan nitrogen dari formula SRF yang dihitung menggunakan kinetika pelepasan first orde. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu Kontrol (K), P1 (Urea tanpa coating), P2: Urea-Arang sekam (1:1), P3: Urea-Arang tempurung kelapa (1:1), P4: Urea-Limbah udang (1:1). Percobaan diinkubasi dilakukan selama 2, 4, 6 dan 8 minggu di dua lokasi berbeda yaitu laboratorium dan lahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa arang tempurung kelapa dan limbah udang sangat baik sebagai pendukung dalam formula SRF. Formulasi Urea-Arang tempurung kelapa sangat baik dalam mengontrol pelepasan NO3-. Sedangkan formulasi Urea-Limbah udang sangat baik dalam mengontrol pelepasan NO3- berdasarkan pelepasan kinetika first order.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH ORGANIK DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN PAKAN ALAMI IKAN JENIS CACING SUTRA (Tubifex sp.)

2024•

Pakan merupakan salah satu faktor yang penting dalam usaha budidaya perikanan. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam. Pakan alami yang banyak digunakan dalah cacing sutra (Tubifex sp). Tujuan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pengunaan limbah organik terhadap pertumbuhan Cacing sutra (Tubifex sp). Penelitian ini mengunakan metode eksperimen dengan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variabel uji yaitu berupa perbedaan dosis pakan : A= 0 gr/wadah, B= 35 gr/wadah, C= 40 gr/wadah dan D= 45 gr/wadah yang diberikan selama 21 hari. Pakan yang diberikan merupakan hasil fermentasi dengan komposisi di antaranya yaitu limbah kulit pisang kepok 20%, dedak 20%, ampas tahu 40%, EM4 10% dan Molase Tebu 10%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan D dengan dosis 45 gram pakan didapatkan rata-rata pertumbuhan tertinggi yaitu 76,50 gram dengan populasi 87.975 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap pertumbuhan cacing sutra, menunjukan bahwa ratarata pertumbuhan keempat perlakuan berbeda secara signifikan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Kajian pupuk terpadu organik anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi wijen ( Sesamum indicum L )

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tanaman wijen (Sesamum indicum L.) merupakan komoditas pertanian yang memiliki potensi agroindustri sebagai bahan dasar penting produk pangan, minyak, farmasi, kosmetik, dan aneka industri. Tingkat produktivitas wijen di Indonesia tergolong rendah yaitu sebesar 465 kg/ha, padahal potensi produksinya dapat mencapai 1.600 kg/ha. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan pemenuhan nutrisi tanaman melalui pemupukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengunaan pupuk terpadu organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman wijen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor. PO kontrol (tanpa pemupukan), PI = 100 g/m, kotoran ayam + 10 g/m, pupuk NPK. P2100 g/m, kotoran ayam+15 g/m pupuk NPK. P3100 g/m, kotoran ayam+20 g/m pupuk NPK. P4200 g/m, kotoran ayam+10 g/m, pupuk NPK. P5200 g/m, kotoran ayam+15 g/m pupuk NPK. P6200 g/m, kotoran ayam+20 g/m pupuk NPK. P7300 g/m, kotoran ayam+10 g/m pupuk NPK. P8300 g/m, kotoran ayam+15 g/m, pupuk NPK. P9 - 300 g/m, kotoran ayam+20 g/m pupuk NPK. Parameter yang diamati meliputi: Tinggi tanaman, Panjang dan jumlah daun, jumlah cabang, diameter batang, jumlah polong, Panjang polong, berat basah dan kering. Data dianalisis dengan sidik ragam dan diuji lanjut menggunkan DMRT. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan. bahwa aplikasi pupuk organik kotoran ayam dan pupuk anorganik NPK berpengaruh nyata terhadap Panjang daun, jumlah daun, diameter batang pada umur 30 dan 100 HST dengan perlakuan P6 (Pupuk kotoran ayam 200g+20g Pupuk NPK), P7 (Pupuk kotoran ayam 300g+10g pupuk NPK) dan P9 (Pupuk kotoran ayam 300g+20g pupuk NPK).

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH EKOENZIM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TERAP (Artocarpus odoratissimus) DI KOTA TARAKAN DAN POTENSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR BIOLOGI

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan terap (Artocarpus odoratissimus) merupakan tumbuhan endemik Kalimantan yang memiliki status near threatened (terancam punah) dalam spektrum Red List (daftar merah). Ekoenzim merupakan larutan organik serbaguna yang diproduksi dari proses fermentasi gula, limbah organik dan air dengan perbandingan 1:3:10. Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk menganalisis konsentrasi ekoenzim yang berpengaruh signifikan terhadap percepatan pertumbuhan bibit terap (Artocarpus odoraatissimus) di Kota Tarakan; dan 2) Untuk mengetahui apakah pengaruh ekoenzim terhadap pertumbuhan bibi terap (Artocarpus odoratissimus) di Kota Tarakan berpotensi sebagai bahan ajar biologi. Tahap penelitian meliputi pembuatan ekoenzim serta pengaplikasiannya pada bibit tumbuhan terap. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan ANOVA satu jalan dan Kruskal Wallis yang dilanjutkan dengan uji Duncan taraf 5%. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode ekperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal dengan lima perlakuan tiga ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah P0: Kontrol (tanpa ekoenzim), P1: 1ml/liter, P2: 5ml/liter, P3: 10ml/liter, P4: 15ml/liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi ekoenzim tidak berpengaruh signifikan terhadap parameter tinggi tanaman (cm), Panjang daun (cm), lebar daun (cm), dan jumlah daun (helai). Namun, ekoenzim dengan konsentrasi 5ml/liter (0,5%) mampu memberikan perubahan terbaik pada kelima perlakuan yang ada. Penelitian ini berpotensi sebagai bahan ajar biologi pada jenjang SMA dan jenjang perguruan tinggi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGGUNAAN LIMBAH SAYUR KOL DAN AMPAS PADI TERHADAP PERTUMBUHAN PAKAN ALAMI JENISMAGGOT BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kebutuhan ikan akan protein bergantung pada ukuran ikan, jumlah, kuantitas pakan yang dimakan ikan. Semakin tinggi harga bahan pakan sumber protein tentu menjadi perhatian lebih bagi para pembudidaya karena biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam kegiatan budidaya, salah satu cara dilakukan untuk meningkatkan produksi budidaya, yaitu melakukan riset untuk menghasilkan pakan yang ekonomis dengan kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Maggot merupakan salah satu sumber protein hewani tinggi karena mengandung kisaran protein 30-45%. maggot sendiri dapat dijadikan pilihan untuk penyediaan pakan karena mudah dikembangbiakan dan memiliki manfaat yang banyak termasuk dalam mengurai limbah organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan persentase terbaik penggunaan ampas padi dan limbah sayur kol dalam pertumbuhan maggot secara optimal , Hasil dari berat terbaik maggot terdapat pada perlakuan D didapatkan total berat rata rata 243.66 gram yaitu pada perlakuan menggunakan ampas padi 50% dengan sayur kol 50%, mendapatkan hasil lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan perlakuan A menggunakan limbah sayur kol 100% didapatkan total berat rata rata terendah yaitu 21.66 gram, dan 189.66 gram untuk perlakuan B, 191 gram untuk perlakuan C dan 209.33 gram untuk perlakuan E. Produksi maggot perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan D (Dedak 50% + Sayur kol 50% ) menghasilkan total maggot sebanyak 4252.33 berbanding terbalik dengan perlakuan A menggunakan limbah sayur kol 100 % hanya menghasilkan 828.66, Dilihat kondisi lingkungannya, magot menyukai kondisi lingkungan yang lembab dan banyak mengandung nutrien, Sedangkan maggot tidak menyukai media yang berair dan becek seperti pada perlakuan A maka menyebabkan maggot kesulitan dalam masa pertumbuhan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

DAMPAK BUDAYA KERJA DAN REMUNERASI, TERHADAP KINERJA PEGAWAI DENGAN MENGGUNAKAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (STUDI KASUS DI KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA REGIONAL KALIMANTAN)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitan ini bertujuan untuk menguji pengaruh budaya kerja dan remunerasi terhadap kinerja pegawai yang dimediasi oleh komitmen organisasi, sampel pada penelitian ini adalah pegawai organik Bank Indonesia di wilayah Kalimantan dengan jumlah sampel ialah 110 responden. Metode penelitian menggunakan pengumpulan data pimer bersumber dari penyebaran kuesioner pada responden. Teknik analisis data dalam penelitian ini SEM PLS dengan Aplikasi Smart PLS. Hasil penelitian menunjukkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mendukung teori motivasi maslow dalam menjelaskan faktor – faktor kinerja pegawai pada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Kalimantan, yang mana hal tersebut menunjukkan bahwa budaya kerja sanagat mempengaruhi kinerja pegawai dengan komitmen organisasi sebagai variabel mediasi. Implikasi praktis dalam penelitian ini memberikan kontribus praktek manajemen yangdapat digunakan dalam membangun perilaku budaya kerja dan remunerasi pada Bank Indonesia.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI TEPUNG KEPALA UDANG TERFERMENTASI UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN NANNOCHLOROPSIS sp

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nannochloropsis sp. merupakan mikroalga berwarna hijau kuning, berbentuk bola, berukuran kecil yang berdiameter 2-4 µm. Nannochloropsis sp telah banyak digunakan sebagai pakan alami dalam usaha budidaya khususnya pembenihan. Untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangbiakannya, ketersediaan nutrien dalam media kultur Nannochloropsis sp. perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi pupuk organik cair dari kepala udang dan mengetahui dosis kombinasi pupuk organik cair dan pupuk komersil yang memberikan pertumbuhan terbaik pada Nannochloropsis sp. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan 3 ulangan. Perlakuan terdiri P0: (100% pupuk komersil), P1: (50% komersil + 50% pupuk organik cair), P2: (75% pupuk komersil + 25% pupuk organik cair), P3: (100% pupuk organik cair). Data yang dihasilkan dianalisis dengan uji ANOVA dan diuji lanjut dengan uji Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan nutrisi pupuk organik cair (POC) dari kepala udang terfermentasi belum memenuhi SNI. Penggunaan pupuk komersil dan pupuk organik cair mempengaruhi pertumbuhan Nannochloropsis sp. Puncak pertumbuhan Nannochloropsis sp tertinggi terjadi pada hari ke 7 yaitu pada perlakuan P0 (100% komersil), namun secara statistik tidak beda nyata dengan P1 (50 % komersil + 50% pupuk organik cair). Data pengukuran kualitas air selama masa kultur menunjukkan suhu 24 ̊C-28 ̊C, pH 7,11-7,44, salinitas 34-38, kandungan nitrat berkisar 0,26-2,06 mg/l, dan kandungan fosfat berkisar 0,19-0,39 mg/l.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Variasi Konsentrasi Media Kultur Terhadap Produksi dan Nutrisi Maggot BSF (Hermetia illucens) Sebagai Pakan Alami

2023•

Pada kegiatan budidaya perikanan, kualitas pakan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi. Secara umum, pembudidaya menggunakan pakan komersil sebagai sumber pakan utama. Namun, harga pakan komersil di pasaran cukup tinggi karena bahan baku pakan merupakan komoditas impor. Alternatif pakan ikan diperlukan untuk menekan biaya produksi budidaya. Maggot (larva) lalat BSF dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami bagi ikan. Budidaya maggot dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah organik seperti limbah tomat dan remah gorengan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari variasi konsentrasi media kultur terhadap produksi dan nutrisi maggot BSF. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan; perlakuan 1 (100% limbah tomat), perlakuan 2 (100% remah tepung gorengan), perlakuan 3 (50% limbah tomat dan 50% remah tepung gorengan), perlakuan 4 (75% limbah tomat dan 25% remah tepung gorengan), dan perlakuan 5 (25% limbah tomat dan 75% remah tepung gorengan). Penentuan kadar protein dan karbohidrat dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis, kadar lemak ditentukan dengan metode soxhlet. Produksi maggot terbaik pada perlakuan 4 yaitu sebesar 993 g. Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan 4 berbeda nyata terhadap berat produksi maggot. Hasil analisis nutrisi, menunjukkan perlakuan 3 sebagai penghasil maggot BSF dengan kadar nutrisi terbaik sebesar 5,42% protein, 0,68% karbohidrat dan 54,94% lemak. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi media kultur berpengaruh terhadap produksi dan nutrisi maggot yang dihasilkan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail