ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
PENGARUH PEMBERIAN MEDIA PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN KOI (Cyprinus carpio) Abstrak Berbagai macam spesies ikan hias air tawar yang dapat dibudidayakan di lingkungan terkontrol dapat ditemukan di Indonesia. Belatung (Hermetia illucens) adalah salah satu makanan pengganti yang dapat diberikan kepada ikan koi. Oleh karena itu, dengan menggunakan berbagai media pertumbuhan, para peneliti berupaya menciptakan pakan alami tipe belatung sebagai alternatif makanan. Kepadatan populasi belatung dapat ditingkatkan secara maksimal dengan media pertumbuhan yang tepat. Penelitian ini menyelidiki pengaruh berbagai media pakan dan belatung terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan koi (Cyprinus carpio). Untuk menilai parameter kualitas air berupa suhu, pH, DO, dan amonia, penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak ada variasi yang terlihat pada berat absolut ikan koi (Cyprinus carpio) dalam hal perkembangan dan kelangsungan hidupnya, terdapat perbedaan yang terlihat pada panjang absolut dan SR-nya. Berat absolut ikan yang diberi perlakuan adalah (A) Kontrol 0,08 gram, (B) Belatung + Kubis 0,08 gram, (C) Belatung + Kulit Pisang dan Belatung + Labu Kuning 0,09 gram, dan (D) Belatung + Labu Kuning 4,2 cm; panjang absolut ikan yang diberi perlakuan adalah (A) Kontrol 3,5 cm, (B) Belatung + Kubis 3,8 cm, (C) Belatung + Kulit Pisang, dan (D) Belatung + Labu Kuning 80%. Dengan panjang absolut 4,2 cm, berat absolut 0,09 gram, dan SR 87%, Perlakuan (D) Belatung + Labu Kuning menghasilkan pertumbuhan tertinggi. Kata kunci: Ikan Koi, Maggot, Pakan, Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Budidaya ikan nila menghadapi tantangan berupa tingginya biaya pakan dan kebutuhan alternatif nutrisi yang lebih ekonomis, sehingga penggunaan maggot. (Hermetia illucens) dan teknik pemuasaan periodik menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi produksi. Budidaya ikan nila Oreochromis niloticus menghadapi tantangan berupa tingginya biaya pakan dan pertumbuhan juvenil yang lambat akibat efisiensi pakan yang rendah serta peningkatan limbah amonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian tepung maggot yang dikombinasikan dengan teknik pemuasaan secara periodik pada. ikan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lenkap (RAL) dengan Empat perlakuan dan tiga kali ulangan diterapkan selama 30 hari masa penelitian yaitu P1 tanpa puasa, P2 (1:2), P3 (3:2), dan P4 (2:3) dengan parameter pertumbuhan, SGR, FCR, SR, dan kualitas air. Hasil menunjukkan bahwa P4 dengan 70% maggot memberikan performa terbaik dengan pertumbuhan panjang 1,8 cm, berat 1,59 g. nilai FCR 1,13, SGR 0,07%/hari, serta SR 100%. Meskipun analisis tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p>0,05), kecenderungan data menunjukkan bahwa kombinasi pakan maggot dan pemuasaan periodik mampu meningkatkan efisiensi pakan, memperbaiki respons pertumbuhan, dan menjaga stabilitas kualitas air, sehingga layak diterapkan sebagai strategi budidaya nila yang lebih efisien dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan air payau bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satu kendala utama dalam budidaya ikan bandeng adalah tingginya biaya pakan akibat ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai sumber protein. Tepung maggot dari larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) berpotensi menjadi alternatif sumber protein karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan mudah diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan tepung maggot dan tepung ikan, baik secara tunggal maupun kombinasi, terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan bandeng. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu A (tepung maggot 100%), B (maggot 75% + tepung ikan 25%), C (maggot 50% + tepung ikan 50%), D (maggot 25% + tepung ikan 75%), dan E (tepung ikan 100%) sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak 0,038 g, panjang mutlak 2,0 cm, nilai FCR 0,99, dan tingkat kelangsungan hidup 85%. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada pertumbuhan berat, panjang, dan FCR, sedangkan tingkat kelangsungan hidup tidak berbeda nyata. Disimpulkan bahwa kombinasi tepung maggot 25% dan tepung ikan 75% merupakan formulasi pakan terbaik yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan bandeng. Tepung maggot dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan tanpa menurunkan performa pertumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang potensial untuk dibudidayakan karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk kisaran salinitas yang luas. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi budidaya ikan nila adalah melalui penggunaan pakan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi. Salah satu alternatif pakan yang dapat digunakan adalah maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens), yang dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan berpotensi menggantikan pakan komersial. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemberian pakan alami maggot Black Soldier Fly dengan pakan pelet terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilaksanakan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri atas pakan pelet (perlakuan A), kombinasi 50% pelet dan 50% maggot (perlakuan B), serta pakan maggot 100% (perlakuan C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B (kombinasi 50% pelet dan 50% maggot) memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak tertinggi sebesar 3,10 cm. Selanjutnya diikuti oleh perlakuan A (100% pelet) dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,71 cm, dan perlakuan C (100% maggot) sebesar 2,51 cm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FORMULASI TEPUNG MAGGOT DAN PAKAN KOMERSIL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Abstrak Pakan merupakan 70% penyumbang biaya terbesar dalam produksi budidaya ikan nila, oleh karena itu diperlukan bahan baku alternatif pembuatan pakan. Salah satu bahan pakan potensial adalah maggot. Maggot mengandung protein sebesar 42,55%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi tepung maggot dan pakan komersial terhadap pertumbuhan ikan nila merah (Oreochromis niloticus). Metode penelitian ini adalah eksperimen deskriptif kuantitatif dengan 4 perlakuan 3 ulangan, P0 (kontrol), P1 (pakan komersil 70% dan tepung maggot 30%), P2 (50% pakan komersil + 50%tepung maggot), dan P3 (70% pakan komersil dan 30%tepung maggot). Perlakuan P1 menghasilkan pertumbuhan bobot (0,45 g) dan panjang (1,13 cm) yang lebih tinggi, nilai laju pertumbuhan spesifik (SGR) yang paling optimal (2,87), serta rasio konversi pakan (FCR) terendah (1,88). Hasil tersebut menunjukkan bahwa keseimbangan nutrisi antara protein dan energi pada perlakuan P1 mampu mendukung pertumbuhan ikan nila merah secara optimal. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan P1 berpengaruh nyata terhadap bobot mutlak, panjang mutlak, SGR dan FCR (P 0,05). Tingkat kelangsungan hidup (SR) ikan pada semua perlakuan mencapai 100%. FORMULASI TEPUNG MAGGOT DAN PAKAN KOMERSIL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Abstract Feed accounts for 70% of the largest cost in tilapia cultivation production, therefore alternative raw materials are needed for feed production. One potential feed ingredient is maggot. Maggot contains 42.55% protein. This study aims to determine the effect of maggot flour formulation and commercial feed on the growth of red tilapia (Oreochromis niloticus). This research method is a quantitative descriptive experiment with 4 treatments and 3 replications, P0 (control), P1 (70% commercial feed and 30% maggot flour), P2 (50% commercial feed + 50% maggot flour), and P3 (70% commercial feed and 30% maggot flour). Treatment P1 resulted in higher weight (0.45 g) and length (1.13 cm) growth, the most optimal specific growth rate (SGR) value (2.87), and the lowest feed conversion ratio (FCR) (1.88). These results indicate that the nutritional balance between protein and energy in the P1 treatment is able to support optimal growth of red tilapia. Analysis of variance (ANOVA) results showed that the P1 treatment significantly affected absolute weight, absolute length, SGR, and FCR (P 0.05). The survival rate (SR) of fish in all treatments reached 100%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tepung maggot (Hermetia illucens) merupakan bahan baku alternatif yang kaya protein dan dapat dijadikan sebagai salah satu pakan alternatif untuk budidaya ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan tepung maggot (Hermetia illucens) dalam pakan komersil terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan 4 perlakuan pakan dan 3 kali ulangan, yaitu P0 (100% pakan komersil), P1 (65% pakan komersil + 35% tepung maggot), P2 (60% pakan komersil + 40% tepung maggot), dan P3 (55% pakan komersil + 45% tepung maggot. Pemeliharaan dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 Hasil uji proksimat menunjukkan bahwa pakan dengan penambahan tepung maggot mampu meningkatkan kandungan protein hingga 43,75% pada perlakuan P2 (60% pakan komersil + 40% tepung maggot) menghasilkan pertumbuhan panjang mutlak (1,03 cm) dan bobot mutlak tertinggi (1,02 g), nilai Feed Conversion Ratio (FCR) paling efisien (1,62), Specific Growth Rate (SGR) yang tinggi (3,32), serta tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) yang cukup tinggi (93,33%). Hasil uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan formulasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata (P > 0.05) terhadap semua parameter uji. Penambahan tepung maggot pada pakan komersil hingga 40% memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan ikan nila. Maggot meal (Hermetia illucens) is a protein-rich alternative feed ingredient that can be used as an alternative feed for tilapia cultivation. This study aimed to determine the effectiveness of adding maggot meal (Hermetia illucens) to commercial feed on the growth of tilapia (Oreochromis niloticus). This study used a quantitative descriptive method with 4 feed treatments and 3 replications, namely P0 (100% commercial feed), P1 (65% commercial feed + 35% maggot flour), P2 (60% commercial feed + 40% maggot flour), and P3 (55% commercial feed + 45% maggot flour. Maintenance was carried out for 30 days. The results of the study showed that the P2 treatment The results of the proximate test showed that feed with the addition of maggot flour was able to increase protein content up to 43.75% in the P2 treatment (60% commercial feed + 40% maggot flour) resulted in the highest absolute length growth (1.03 cm) and absolute weight (1.02 g), the most efficient Feed Conversion Ratio (FCR) value (1.62), a high Specific Growth Rate (SGR) (3.32), and a fairly high survival rate (93.33%). The results of the physical test (ANOVA) showed that the provision of Feed with different formulations did not significantly affect (P > 0.05) all test parameters. The addition of maggot flour to commercial feed at a concentration of up to 40% yielded the best results for tilapia growth.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EFEKTIVITAS TEPUNG MAGGOT (Hermetia illunces) DAN TEPUNG DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) PADA PAKAN KOMERSIL TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Abstrak Tepung maggot (Hermetia illunces) adalah larva dewasa dari lalat Black Soldier Fly yang dijadikan tepung untuk digunakan sebagai bahan alami dalam meningkatkan kandungan nutrisi pakan seperti protein. Sedangkan tepung daun pepaya (Carica papaya L.) berasal dari daun tanaman pepaya yang mengandung enzim papain bersifat protease yang dapat memecah protein menjadi asam amino untuk mendukung metabolisme dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dari tepung maggot (Hermetia illunces) dan tepung daun pepaya (Carica papaya L.) pada pakan komersil terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bersifat eksperimen menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 5 perlakuan 3 ulangan, P0 (Kontrol), P1 (Tepung maggot 40 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram), P2 (Tepung maggot 30 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram), P3 (Tepung maggot 20 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram), P4 (Tepung maggot 10 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram). Nilai tertingi yang didapatkan pada Panjang Mutlak, Berat Mutlak, Spesific Growth Rate (SGR), Fed Converion Ratio (FCR), terdapat pada P1 (Tepung maggot 40 gram dan Tepung daun pepaya 2 gram) sedangkan Survival Rate (SR) pada semua perlakuan tidak mengalami kematian pada ikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa efektivitas dari tepung maggot dan tepung daun pepaya pada pakan komersil mampu memberikan rasio pertumbuhan ikan nila yang lebih tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan lele (Clarias sp) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dibudidayakan karena mudah beradaptasi dengan lingkungan yang kurang menguntukan dan mudah dipijahkan. Tujuan penelitian ini antara lain untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pakan yang berbeda berupa maggot BSF dengan pelet ikan F-999 terhadap pertumbuhan ikan lele (Clarias sp). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan 3 kali ulangan, dengan perlakuan kombinasi pelet ikan F-999 100%, pelet ikan F-999 50% + 50% maggot BSF, dan maggot BSF 100%. Peningkatan pertumbuhan berat tertinggi pada perlakuan 2 pelet F-999 50% + 50% maggot BSF 6 gram, dan berat terendah pada P1 pelet ikan F-999 100% 5,5gram Peningkatan pertumbuhan panjang tertinggi pada perlakuan 2 pelet F-999 50% + 50% maggot BSF 4,6cm, dan berat terendah pada P1 pelet ikan F-999 100% 4,1cm, Survival Rate mendapatkan hasil 100% kelangsungan hidup ikan mendapatkan hasil yang baik. Berdasarkan hasil uji ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pemberian perlakuan P1: Pelet ikan F-999, P2: pelet F-999 50% + 50% maggot bsf, dan P3: maggot BSF 100%. Berpengaruh tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan berat ikan lele, sedangkan panjang mutlak berbeda nyata. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian komposisi pakan yang berupa pelet 50% + 50% maggot BSF memberikan hasil pertumbuhan yang optimal dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Maggot merupakan organisme yang berasal dari telur black soldier (Hermatia illucens) yang dikenal sebagai organisme pembusuk karena kebiasaannya mengkonsumsi bahan-bahan organik. Syarat bahan yang dapat yang dapat dijadikan bahan baku pakan yaitu : tidak berbahaya bagi ikan, tersedia sepanjang waktu, mengandung nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan, dan bahan tersebut tidak berkompetisi dengan kebutuhan manusia.Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh kombinasi maggot dengan pakan buatan, sehingga menghasilkan pertumbuhan dan sintasan yang optimal terhadap benih ikan lele. Penelitian ini menggunakan lima perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu A= Pemberian maggot 100%, B = Kombinasi maggot 25% + pelet 75%, C = Kombinasi Maggot 75% + pelet 25%, D = Maggot 50% + Pellet 50%, E = Pelet 100%. Ikan yang digunakan adalah ikan lele yang berukurang 3-5 cm dengan umur ±3-4 minggu. Parameter yang diukur meliputi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan lele. Dari masing-masing perlakuan panjang mutlak ikan lele (Clarias sp.) A. Magot 100% (3,01 cm), B. Magot 25% dan Pelet 75% (3,59 cm), B. Magot 75% dan Pelet 25% (3,6 cm), D. Magot 50% dan Pelet 50% (5,39 cm), dan E. Pelet 100% (2,31 cm), Dari masing-masing perlakuan berat mutlak ikan lele (Clarias sp.) A. Magot 100% (3,01 cm), B. Maggot 25% dan Pelet 75% (3,59 cm), B. Maggot 75% dan Pelet 25% (3,6 cm), D. Maggot 50% dan Pelet 50% (5,39 cm), dan E. Pelet 100% (2,31 cm). Efektifitas pengaplikasian maggot black soldier fly (hermatia illucens) sebagai alternatif pakan pada ikan lele (clarias sp.). pakan maggot. D. Kombinasi Magoot 50% dan pellet 50% pada panjang mutlak.dan menghasilkan pertumbuhan berat tertinggi sebesar 10,42 cm pada berat mutlak, 9,67 gram pada panjang mutlak dan tingkat kelangsungan hidup mencapai 100% untuk ketiga perlakuan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kebutuhan ikan akan protein bergantung pada ukuran ikan, jumlah, kuantitas pakan yang dimakan ikan. Semakin tinggi harga bahan pakan sumber protein tentu menjadi perhatian lebih bagi para pembudidaya karena biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam kegiatan budidaya, salah satu cara dilakukan untuk meningkatkan produksi budidaya, yaitu melakukan riset untuk menghasilkan pakan yang ekonomis dengan kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Maggot merupakan salah satu sumber protein hewani tinggi karena mengandung kisaran protein 30-45%. maggot sendiri dapat dijadikan pilihan untuk penyediaan pakan karena mudah dikembangbiakan dan memiliki manfaat yang banyak termasuk dalam mengurai limbah organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan persentase terbaik penggunaan ampas padi dan limbah sayur kol dalam pertumbuhan maggot secara optimal , Hasil dari berat terbaik maggot terdapat pada perlakuan D didapatkan total berat rata rata 243.66 gram yaitu pada perlakuan menggunakan ampas padi 50% dengan sayur kol 50%, mendapatkan hasil lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan perlakuan A menggunakan limbah sayur kol 100% didapatkan total berat rata rata terendah yaitu 21.66 gram, dan 189.66 gram untuk perlakuan B, 191 gram untuk perlakuan C dan 209.33 gram untuk perlakuan E. Produksi maggot perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan D (Dedak 50% + Sayur kol 50% ) menghasilkan total maggot sebanyak 4252.33 berbanding terbalik dengan perlakuan A menggunakan limbah sayur kol 100 % hanya menghasilkan 828.66, Dilihat kondisi lingkungannya, magot menyukai kondisi lingkungan yang lembab dan banyak mengandung nutrien, Sedangkan maggot tidak menyukai media yang berair dan becek seperti pada perlakuan A maka menyebabkan maggot kesulitan dalam masa pertumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Pada kegiatan budidaya perikanan, kualitas pakan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi. Secara umum, pembudidaya menggunakan pakan komersil sebagai sumber pakan utama. Namun, harga pakan komersil di pasaran cukup tinggi karena bahan baku pakan merupakan komoditas impor. Alternatif pakan ikan diperlukan untuk menekan biaya produksi budidaya. Maggot (larva) lalat BSF dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami bagi ikan. Budidaya maggot dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah organik seperti limbah tomat dan remah gorengan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari variasi konsentrasi media kultur terhadap produksi dan nutrisi maggot BSF. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan; perlakuan 1 (100% limbah tomat), perlakuan 2 (100% remah tepung gorengan), perlakuan 3 (50% limbah tomat dan 50% remah tepung gorengan), perlakuan 4 (75% limbah tomat dan 25% remah tepung gorengan), dan perlakuan 5 (25% limbah tomat dan 75% remah tepung gorengan). Penentuan kadar protein dan karbohidrat dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis, kadar lemak ditentukan dengan metode soxhlet. Produksi maggot terbaik pada perlakuan 4 yaitu sebesar 993 g. Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan 4 berbeda nyata terhadap berat produksi maggot. Hasil analisis nutrisi, menunjukkan perlakuan 3 sebagai penghasil maggot BSF dengan kadar nutrisi terbaik sebesar 5,42% protein, 0,68% karbohidrat dan 54,94% lemak. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi media kultur berpengaruh terhadap produksi dan nutrisi maggot yang dihasilkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu komoditas perikanan Indonesia yang mempunyai prospek cerah untuk dikembangkan adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) yang telah dikenal lama, relatif cepat tumbuh dan mempunyai respon yang baik terhadap lingkungan sehingga muda untuk dibudidayakan. Departemen perikanan dan Akuakultur FAO (Foad and Agriculture Oranization) menetapkan ikan nila diurutan ketiga setelah udang dan salmon sebagai salah satu sukses Akuakultur di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi maggot sebagai pakan alternatif dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus). Rancangan penelitian terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu: kontrol (pemberian pakan pellet 100%), perlakuan 2 (pemberian pakan pellet 75% + pakan maggot 25%), perlakuan 3 (pemberian pakan pellet 50% + pakan maggot 50%), perlakuan 4 (pemberian pakan pellet 25% + pakan maggot 75%), dan perlakuan 5 (pemberian pakan maggot 100%). Parameter yang diamati adalah bobot mutlak, panjang mutlak, survival Rate (SR), spesifik Growt Rate (SGR), Grow Rate (RGR) dan kualitas air. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bobot tertinggi pada perlakuan 4 dengan nilai 1,97, pertumbuhan Panjang tertinggi pada perlakuan 4 dengan nilai 1,20. Laju pertumbuhan spesifik tertinggi didapatkan oleh perlakuan 1 (kontrol) dengan nilai 1,46%, laju pertumbuhan relatif tertinggi pada perlakuan 1 (kontrol) dengan nilai 38,02%. Sedangkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan 3 dengan nilai 95,56%. Maggot merupakan pakan alternatif untuk menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan nila karena maggot memiliki kandungan protein tinggi, tekstur yang kenyal dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim alami yang dapat meningkatkan daya cerna ikan terhadap pakan. Kata Kunci: Ikan nila, kelangsungan hidup, maggot, pertumbuhan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Maggot Black Soldier Fly (Hermetia illucens) telah banyak dimanfaatkan sebagai agen biokonversi berbagai limbah organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh limbah pisang kepok pada pertumbuhan larva Maggot BSF. Penelitian ini menggunakan eksperimental Rancngan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 3 ulangan. Adapun perlakuan sebagai berikut: perlakuan A (dedak 100%), perlakuan B (Kulit pisang kepok 25%+dedak 75%), perlakuan C (Kulit pisang kepok 50%+dedak 50%), perlakuan D (Kulit pisang kepok 75%+dedak 25%) dan perlakuan E (kulit pisang kepok 100%). Parameter yang diukur yaitu populasi dan bobot serta data pendukung meliputi pengukuran suhu, pH dan C/N rasio. Dari Hasil penelitian ini berdasarkan pemeliharaan Maggot BSF selama 14 hari menunjukkan hasil yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan Maggot BSF terdapat pada perlakuan A dengan nilai rataan populasi sebesar 0,40 ekor/cm3 dan bobot sebesar 392,7 gram/media. Sedangkan suhu pada setiap media rata-rata berkisar antara 30-31˚C dan pH 6,4-6,8.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan lele merupakan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Permintaan pasar ikan lele terus meningkat setiap tahunnya, oleh sebab itu produksi perlu ditingkatkan lagi, terutama pada proses kelangsungan hidup ikan lele. Permasalahan kelangsungan hidup umumnya karena mahalnya harga pakan ikan. Untuk menekan harga pakan perlu dicari alternatif pengganti sumber protein hewani lebih murah dan mudah diperoleh yaitu maggot. Maggot (Hermatia illucens) merupakan organisme yang berasal dari telur lalat black soldier fly. Maggot sebagai pakan alternatif untuk meningkatkan kelangsungan hidup ikan lele karena maggot memiliki kandungan protein tinggi dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim alami yang dapat meningkatkan daya cerna ikan terhadap pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi maggot dari kultur sampah tomat dan gorengan sebagai pakan alternatif guna peningkatan kelangsungan hidup ikan lele (Clarias sp.). Rancangan penelitian terdiri atas 5 perlakuan 3 ulangan, yaitu : kontrol (pemberian pakan pelet 100%), perlakuan 2 ( pemberian pakan pelet 75% + maggot 25%), perlakuan 3 (pemberian pakan pelet 50% + maggot 50%), perlakuan 4 (pemberian pakan pelet 25% + maggot 75%), dan perlakuan 5 (pemberian maggot 100%). Parameter yang diamati adalah bobot mutlak, Survival Rate (SR), Spesifik Growth Rate (SGR), dan kualitas air. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa maggot dari kultur sampah tomat dan gorengan dapat digunakan sebagai pakan alternatif ikan lele dan hasil terbaik didapatkan pada perlakuan 3 dengan kombinasi pakan pelet 50% + maggot 50% dengan hasil pertumbuhan sebesar18,33%, tingkat kelangsungan hidup sebesar 100% dan laju pertumbuhan spesifik sebesar 3,02%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Budidaya maggots BSF (Black Soldier Fly) dikembangkan dengan menggunakan berbagai media wadah pertumbuhan, misalnya ember plastik, serta ditempatkan pada berbagai lokasi. Upaya pengembangan dalam upaya meningkatkan produksi BSF, berpotensi mengalami gangguan dari hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan; (1) menginventarisasi jenis hama dan penyakit, dan (2) membandingkan jenis hama dan penyakit pada budidaya BSF pada beberapa lokasi budidaya BSF di Pulau Tarakan. Penelitian dilakukan dengan melakukan observasi pada 3 (tiga lokasi) yakni Mamburungan, Karungan, dan Gunung Amal di Pulau Tarakan dengan masing-masing lokasi sebanyak 10-unit pengambilan sampel. Jenis hama dan penyakit dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, dan untuk perbandingan populasi hama dan penyakit pada beberapa lokasi menggunakan Anova (Uji-F), dan uji Duncan (DMRT) untuk antar dua lokasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 (lima) hama yakni jenis, semut merah, belatung, semut hitam, cicak, dan tikus. Selanjutnya, ditemukan 3 (tiga) gejala penyakit yakni berjamur, tubuh lembek, dan perubahan warna. Hama belatung Lucifera spp merupakan hama yang paling dominan dan populasi tertingginya di Lokasi Karungan, serta jumlah populasinya berbeda dengan lokasi lainnya pada fase budidaya larva. Sedangkan, pada fase pupa (panen) di lokasi Gunung Amal. Perubahan warna merupakan jenis gejala yang paling banyak ditemukan, khususnya pada fase pupa di lokasi budidaya Mamburungan. Namun, jumlah gejala yang ditemukan tidak berbeda dengan lokasi lainnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Budidaya ternak maggot Black Soldier Fly (BSF) saat ini banyak dilakukan, seiring dengan fungsi dan peran maggot pada lingkungan dan sebagai pakan ternak. Seiring hal tersebut, pengetahuan tentang lokasi budidaya ternak BSF yang terintegrasi usaha budidaya tanaman perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini yaitu; (1) menguji pengaruh lokasi terhadap budidaya BSF, khususnya lokasi areal budidaya tanaman; dan (2) membandingkan hasil budidaya BSF pada beberapa lokasi di Pulau Tarakan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan kandang berukuran 2 x 2 m dengan tinggi 2,5 m, dan diletakkan pada lokasi Mamburungan, Karungan, dan Kampung Enam. Pada tahap pertama dilakukan pengamatan potensi BSF lokal, dengan menggunakan umpan media hasil fermentasi dedak padi, EM4, dan gula pasir. Pada tahap/penelitian kedua, melakukan budidaya maggots dengan menginfestasikan telur maggot pada 10 unit percobaan tiap-tiap lokasi, untuk mengamati jumlah dan berat maggots (larva dan pupa). Hasil penelitian menunjukkan pada tahap pertama Mamburungan dan Karungan masing-masing terdapat 5, 6 imago BSF yang masuk kedalam kandang, namun tidak ditemukan di kandang lokasi Kampung Enam. Pada tahap kedua, menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh lokasi terhadap jumlah dan berat maggots fase larva dan pupa 14 HSI, 19 HSI, dan jumlah dan berat pupa pada 51 HSI. Lokasi Mamburungan dan Karungan memiliki jumlah dan berat larva, serta pupa tertinggi, dan berbeda signifikan dengan lokasi Kampung Enam. Selanjutnya, hasil biomassa pada akhir pengamatan (51 HSI) pada lokasi Mamburungan yang mencapai rata-rata berat larva sebesar 5,1 gr dan Pupa 19,8 gr. Kondisi lingkungan yang teduh namun cukup terbuka merupakan tempat yang dapat digunakan untuk budidaya maggots, misalnya pada areal tanaman padi dan kandang diletakkan pada pepohonan tanaman yang teduh.