ThesisOpen AccessMetadata saja
•
RANCANG BANGUN ALAT PEMBERI PAKAN IKAN OTOMATIS
Nama Mahasiswa : Marisal
NPM : 15.301020.033
Dosen Pembimbing : Mulyadi, S.T., M.T.
ABSTRAK
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah tangga Perikanan budidaya menurut Kabupaten/Kota dan jenis budidaya diprovinsi Kalimantan Utara, berjumlah 10.282 rumah tangga. Hal tersebut diambil dari komoditas budidaya laut, tambak, kolam keramba dan sawah. Dari data tersebut, ikan menjadi solusi yang baik di bidang bisnis budidaya. Hanya saja masalah yang sering dialami pembudidaya ikan ialah ikan yang sakit bahkan mati yang disebabkan oleh pemberian pakan yang kurang efisien. Kegiatan pemberian pakan ikan terkadang mengalami keterlambatan dan tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan dan membahayakan keadaan ikan.
Pada penelitian ini dirancang sistem pemberi pakan ikan yang bekerja secara otomatis, alat tersebut bekerja sesuai dengan jadwal pakan ikan dengan frekuensi pakan tiga kali sehari yaitu pagi, sore dan malam. Dari pakan otomatis ini sistem akan berhenti yang disebabkan oleh sensor accelerometer. Sensor accelerometer ADXL335 tersebut berfungsi untuk mengetahui apakah ikan masih lapar atau sudah kenyang dengan menggunakan tiga parameter yaitu sumbu x, y dan z, sumbu ini yang digunakan untuk menentukan nilai acuan dan nilai yang didapatkan untuk masing-masing sumbu x= 329, 330, 331, sumbu y=339, 340, 341 dan sumbu z= 349, 350, 351. Sedangkan untuk mengetahui jumlah pakan habis maka digunakan sensor load cell, keluaran dari load cell akan dikirim menuju smartphone dengan menggunakan aplikasi blynk dan akan ditampilkan pesan bahwa pakan hampir habis jika berat pakan yang terbaca 50 gram ke bawah. Sistem pemantau ini telah terhubung dengan modul NodeMCU ESP8266 sebagai IoT sehingga dapat dipantau dari jarak jauh. Untuk rata-rata total pengujian yang didapatkan yaitu 80 gram dengan kebutuhan 82.5 gram, maka untuk tingkat keberhasilan sistem ini yaitu 96,96%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian Grindal worm (Enchytraeus buchholzi), pakan komersil, dan kombinasi keduanya terhadap berat mutlak, panjang mutlak, Feed Conversion Ratio (FCR), dan Survival Rate (SR) benih ikan mas. Penelitian dilaksanakan selama 30 hari menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tujuh ulangan. Perlakuan terdiri atas A (pakan komersil 100%), B (Grindal worm 100%), dan C (pakan komersil 50% + Grindal worm 50%). Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah, uji LSD pada taraf 95%, dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan berpengaruh nyata terhadap berat mutlak dan panjang mutlak (P0,05), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap FCR dan SR (P>0,05). Perlakuan C menghasilkan berat mutlak tertinggi sebesar 0,12 g dan panjang mutlak tertinggi 1,17 cm, serta FCR terendah sebesar 4,98. SR tertinggi diperoleh pada perlakuan B sebesar 100%. Hasil PCA menunjukkan bahwa berat mutlak dan panjang mutlak merupakan variabel yang dominan, dengan PC1 sebesar 45,914% dan PC2 sebesar 18,301%, sehingga kedua komponen menjelaskan 64,215% variasi data. Kondisi kualitas air selama pemeliharaan secara umum masih mendukung kehidupan ikan mas. Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi (perlakuan C) pakan komersil 50% dan Grindal worm 50% menunjukkan pengaruh pada tingkat performa pertumbuhan benih ikan mas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Artemia salina merupakan salah satu pakan hidup yang umum digunakan, namun kandungan nutrisinya masih dapat ditingkatkan melalui proses bioenrichment menggunakan Chlorella vulgaris yang kaya akan asam lemak, protein, lipid, dan karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil nutrisi Artemia salina yang diperkaya Chlorella vulgaris serta potensinya sebagai pakan hidup bagi larva udang windu (Penaeus monodon) di Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol tanpa bioenrichment, bioenrichment selama 3 jam, dan bioenrichment selama 6 jam dengan masing – masing tiga ulangan. Uji pendahuluan menunjukkan bahwa salinitas 25 ppt menghasilkan tingkat kelangsungan hidup Artemia salina lebih tinggi dibandingkan 30 ppt, dengan nilai tertinggi pada perlakuan 6 jam sebesar 49,62% (25 ppt) dibandingkan 47,87% (30 ppt), sehingga digunakan sebagai kondisi optimal penelitian. Parameter utama yang diamati meliputi kadar protein, lemak dan asam lemak, karbohidrat, serta tingkat kelangsungan hidup (survival rate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioenrichment mampu meningkatkan kandungan nutrisi Artemia salina seiring bertambahnya lama waktu perlakuan, dimana kadar protein meningkat dari 18,45% (kontrol) menjadi 22,10% (6 jam), kadar lemak dari 17,80% menjadi 46,40%, dan karbohidrat dari 20,84% menjadi 30,13%. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan 6 jam sebesar 81,59%, dibandingkan kontrol (66,90%) dan 3 jam (51,15%). Hasil ini menunjukkan bahwa durasi bioenrichment 6 jam memberikan waktu optimal bagi Artemia salina untuk mengakumulasi nutrien dari Chlorella vulgaris. Dengan demikian, Artemia salina yang diperkaya Chlorella vulgaris berpotensi menjadi pakan hidup berkualitas untuk mendukung pertumbuhan dan sintasan larva udang windu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu upaya untuk meningkatkan laju pertumbuhan Ikan Platy ialah memberikan pakan yang berkualitas. Salah satu pakan yang berkualitas dan memiliki nutrisi yang tinggi adalah Grindal Worm. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan Ikan Platy dalam pemberian pakan Grindal Worm. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 7 ulangan, yaitu perlakuan A (pakan komersial F999 100%), perlakuan B (Grindal Worm 100%), dan perlakuan C (pakan komersial F999 50% + Grindal Worm 50%). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, panjang mutlak, tingkat kelangsungan hidup (SR), rasio konversi pakan (FCR), dan kualitas air. Data ini dianalisis menggunakan uji (ANOVA). Hasil menunjukkan bahwa perlakuan C menghasilkan pertumbuhan terbaik dengan rata-rata berat mutlak sebesar 0,53 gr dan panjang mutlak sebesar 1,30 cm, diikuti perlakuan B berat 0,46 gr, panjang 1,20 cm, dan perlakuan A berat 0,40 gr, panjang 1,10 cm. Tingkat kelangsungan hidup (SR) seluruh perlakuan mencapai 100%, sedangkan nilai FCR terbaik diperoleh pada Perlakuan C (1,16), diikuti perlakuan B (1,25) dan perlakuan A (1,35). Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan bahwa kombinasi pakan komersial F999 dan Grindal Worm (perlakuan C) merupakan perlakuan terbaik dalam mendukung pertumbuhan Ikan Platy secara optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu permasalahan dalam budidaya ikan gurami (Osphronemus gouramy), adalah tingkat pertumbuhan yang relatif lambat serta tingginya biaya pakan komersial, sehingga diperlukan komposisi pakan yang seimbang untuk meningkatkan efisiensi budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian grindal worm, pakan komersial, serta kombinasi keduanya terhadap pertumbuhan, sintasan, dan efisiensi pakan benih ikan gurami. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas tiga perlakuan dan tujuh ulangan, yaitu A (pakan komersial 100%), B (grindal worm 100%), dan C (kombinasi 50% grindal worm dan 50% pakan komersial). Pemeliharaan dilakukan selama 30 hari dengan parameter pertumbuhan mutlak berat dan panjang, sintasan (SR), Feed Conversion Ratio (FCR), serta kualitas air. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak berat tertinggi diperoleh pada perlakuan C sebesar 1,22 g, diikuti perlakuan B sebesar 1,15 g, dan terendah pada perlakuan A sebesar 0,63 g. Pertumbuhan mutlak panjang tertinggi juga diperoleh pada perlakuan C sebesar 1,55 cm, diikuti perlakuan B sebesar 1,26 cm, dan perlakuan A sebesar 1,16 cm. Nilai FCR tertinggi terdapat pada perlakuan A sebesar 1,76, diikuti perlakuan B sebesar 1,31, sedangkan nilai terendah diperoleh pada perlakuan C sebesar 1,23. Tingkat sintasan pada seluruh perlakuan mencapai 100%. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (p 0,05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan, bahwa Pemberian Kombinasi 50% grindal worm Enchytraeus buchholzi dan 50% pakan komersial memberikan hasil terbaik, Perlakuan ini merupakan yang paling efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perawatan ikan hias di akuarium seringkali terhambat oleh ketidakteraturan pemberian pakan dan kesulitan dalam memantau kondisi air, khususnya tingkat kekeruhan, yang dapat membahayakan kesehatan ikan. Tujuan penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan sistem pemberian pakan otomatis serta pemantauan kekeruhan air berbasis Internet of Things (IoT), yang akan membantu mengatasi masalah-masalah tersebut. Sistem ini dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32, sensor Turbidity SEN0189, sensor Ultrasonik HC-SR04, motor servo SG90, modul RTC DS3231, dan platform Blynk untuk menampilkan data secara real-time. Beberapa sensor yang digunakan dalam sistem ini telah dilakukan kalibrasi dan secara keseluruhan sistem telah diuji dalam beberapa jenis pengujian, diantaranya pengujian monitoring tingkat kekeruhan air, pemberian pakan otomatis dan pengujian koneksi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu memonitoring kekeruhan air sekligus pemberian pakan secara otomatis selama 2 x 24 (48 jam) penuh dengan akurasi total sebesar 91,67%. Selama pengujian sistem pemberian pakan selama 7 hari (14 kali uji coba), sistem berhasil menjalankan seluruh jadwal pemberian pakan dua kali sehari tanpa satu pun kegagalan, dengan tingkat akurasi 100% dan waktu tunda rata-rata 1,9 detik. Sementara itu, saat pengujian koneksi ke IoT, sistem menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan akurasi transmisi data 100% dan packet loss (0%) pada jarak 3 hingga 15 meter dari sumber Wi-Fi, meskipun latency meningkat dari 124,94 ms menjadi 419,86 ms seiring bertambahnya jarak. Secara keseluruhan, sistem ini telah membuktikan kemampuannya untuk memberi makan ikan secara otomatis dan memantau kekeruhan air di akuarium secara real-time. Dengan demikian, sistem ini dapat menjadi solusi praktis bagi para pecinta ikan hias yang ingin menyederhanakan perawatan akuarium sehari-hari.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
PENGARUH PEMBERIAN MEDIA PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN KOI (Cyprinus carpio) Abstrak Berbagai macam spesies ikan hias air tawar yang dapat dibudidayakan di lingkungan terkontrol dapat ditemukan di Indonesia. Belatung (Hermetia illucens) adalah salah satu makanan pengganti yang dapat diberikan kepada ikan koi. Oleh karena itu, dengan menggunakan berbagai media pertumbuhan, para peneliti berupaya menciptakan pakan alami tipe belatung sebagai alternatif makanan. Kepadatan populasi belatung dapat ditingkatkan secara maksimal dengan media pertumbuhan yang tepat. Penelitian ini menyelidiki pengaruh berbagai media pakan dan belatung terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan koi (Cyprinus carpio). Untuk menilai parameter kualitas air berupa suhu, pH, DO, dan amonia, penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak ada variasi yang terlihat pada berat absolut ikan koi (Cyprinus carpio) dalam hal perkembangan dan kelangsungan hidupnya, terdapat perbedaan yang terlihat pada panjang absolut dan SR-nya. Berat absolut ikan yang diberi perlakuan adalah (A) Kontrol 0,08 gram, (B) Belatung + Kubis 0,08 gram, (C) Belatung + Kulit Pisang dan Belatung + Labu Kuning 0,09 gram, dan (D) Belatung + Labu Kuning 4,2 cm; panjang absolut ikan yang diberi perlakuan adalah (A) Kontrol 3,5 cm, (B) Belatung + Kubis 3,8 cm, (C) Belatung + Kulit Pisang, dan (D) Belatung + Labu Kuning 80%. Dengan panjang absolut 4,2 cm, berat absolut 0,09 gram, dan SR 87%, Perlakuan (D) Belatung + Labu Kuning menghasilkan pertumbuhan tertinggi. Kata kunci: Ikan Koi, Maggot, Pakan, Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Pakan merupakan komponen utama dalam budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) yang berkontribusi besar terhadap biaya produksi, terutama akibat ketergantungan pada bahan baku impor seperti tepung ikan. Dengan demikian, diperlukan bahan pakan yang lebih ekonomis namun tetap mampu mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Penelitian ini ditujukan menganalisis pengaruh kombinasi tepung kepala udang serta pakan komersial terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan nener ikan bandeng. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: pakan komersil 100%,75% tepung kepala udang + 25% pakan komersial, 50% tepung kepala udang + 50% pakan komersial, 25% tepung kepala udang + 75% pakan komersial, serta tepung kepala udang 100%. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, tingkat kelangsungan hidup (SR), rasio konversi pakan (FCR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pakan komersial 75% dan tepung kepala udang 25% memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,07 cm, pertumbuhan berat mutlak sebesar 0,038 g, dan nilai FCR terendah sebesar 1,08. Tingkat kelangsungan hidup pada seluruh perlakuan mencapai 100%, menunjukkan bahwasannya penggunaan tepung kepala udang tidak memberikan dampak negatif terhadap viabilitas ikan. Parameter kualitas air saat penelitian berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan nener ikan bandeng. Dapat disimpulkan bahwasannya tepung kepala udang berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif yang efektif dan ekonomis dalam budidaya nener ikan bandeng tanpa menurunkan performa pertumbuhan maupun kelangsungan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Abstrak Pakan merupakan komponen utama dalam budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) yang berkontribusi besar terhadap biaya produksi, terutama akibat ketergantungan pada bahan baku impor seperti tepung ikan. Dengan demikian, diperlukan bahan pakan yang lebih ekonomis namun tetap mampu mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Penelitian ini ditujukan menganalisis pengaruh kombinasi tepung kepala udang serta pakan komersial terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan nener ikan bandeng. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: pakan komersil 100%,75% tepung kepala udang + 25% pakan komersial, 50% tepung kepala udang + 50% pakan komersial, 25% tepung kepala udang + 75% pakan komersial, serta tepung kepala udang 100%. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, tingkat kelangsungan hidup (SR), rasio konversi pakan (FCR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pakan komersial 75% dan tepung kepala udang 25% memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,07 cm, pertumbuhan berat mutlak sebesar 0,038 g, dan nilai FCR terendah sebesar 1,08. Tingkat kelangsungan hidup pada seluruh perlakuan mencapai 100%, menunjukkan bahwasannya penggunaan tepung kepala udang tidak memberikan dampak negatif terhadap viabilitas ikan. Parameter kualitas air saat penelitian berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan nener ikan bandeng. Dapat disimpulkan bahwasannya tepung kepala udang berpotensi digunakan sebagai bahan pakan alternatif yang efektif dan ekonomis dalam budidaya nener ikan bandeng tanpa menurunkan performa pertumbuhan maupun kelangsungan hidup.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Budidaya ikan nila menghadapi tantangan berupa tingginya biaya pakan dan kebutuhan alternatif nutrisi yang lebih ekonomis, sehingga penggunaan maggot. (Hermetia illucens) dan teknik pemuasaan periodik menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi produksi. Budidaya ikan nila Oreochromis niloticus menghadapi tantangan berupa tingginya biaya pakan dan pertumbuhan juvenil yang lambat akibat efisiensi pakan yang rendah serta peningkatan limbah amonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian tepung maggot yang dikombinasikan dengan teknik pemuasaan secara periodik pada. ikan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lenkap (RAL) dengan Empat perlakuan dan tiga kali ulangan diterapkan selama 30 hari masa penelitian yaitu P1 tanpa puasa, P2 (1:2), P3 (3:2), dan P4 (2:3) dengan parameter pertumbuhan, SGR, FCR, SR, dan kualitas air. Hasil menunjukkan bahwa P4 dengan 70% maggot memberikan performa terbaik dengan pertumbuhan panjang 1,8 cm, berat 1,59 g. nilai FCR 1,13, SGR 0,07%/hari, serta SR 100%. Meskipun analisis tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p>0,05), kecenderungan data menunjukkan bahwa kombinasi pakan maggot dan pemuasaan periodik mampu meningkatkan efisiensi pakan, memperbaiki respons pertumbuhan, dan menjaga stabilitas kualitas air, sehingga layak diterapkan sebagai strategi budidaya nila yang lebih efisien dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan air payau bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satu kendala utama dalam budidaya ikan bandeng adalah tingginya biaya pakan akibat ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai sumber protein. Tepung maggot dari larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) berpotensi menjadi alternatif sumber protein karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan mudah diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan tepung maggot dan tepung ikan, baik secara tunggal maupun kombinasi, terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan bandeng. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu A (tepung maggot 100%), B (maggot 75% + tepung ikan 25%), C (maggot 50% + tepung ikan 50%), D (maggot 25% + tepung ikan 75%), dan E (tepung ikan 100%) sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak 0,038 g, panjang mutlak 2,0 cm, nilai FCR 0,99, dan tingkat kelangsungan hidup 85%. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada pertumbuhan berat, panjang, dan FCR, sedangkan tingkat kelangsungan hidup tidak berbeda nyata. Disimpulkan bahwa kombinasi tepung maggot 25% dan tepung ikan 75% merupakan formulasi pakan terbaik yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan bandeng. Tepung maggot dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan tanpa menurunkan performa pertumbuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang potensial untuk dibudidayakan karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan, termasuk kisaran salinitas yang luas. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi budidaya ikan nila adalah melalui penggunaan pakan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi. Salah satu alternatif pakan yang dapat digunakan adalah maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens), yang dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan berpotensi menggantikan pakan komersial. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemberian pakan alami maggot Black Soldier Fly dengan pakan pelet terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilaksanakan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri atas pakan pelet (perlakuan A), kombinasi 50% pelet dan 50% maggot (perlakuan B), serta pakan maggot 100% (perlakuan C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B (kombinasi 50% pelet dan 50% maggot) memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan panjang mutlak tertinggi sebesar 3,10 cm. Selanjutnya diikuti oleh perlakuan A (100% pelet) dengan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,71 cm, dan perlakuan C (100% maggot) sebesar 2,51 cm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam kegiatan budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus), yang dapat mencapai lebih dari 60% dari total biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan pakan subtitusi dari limbah sayuran kubis untuk budidaya ikan lele dumbo, mengetahui tingkat pertumbuhan ikan lele dumbo akibat pemberian pakan limbah sayuran kubis, dan menganalisa kelayakan finansial usaha budidaya ikan lele dumbo yang menggunakan limbah sayuran kubis sebagai pakan subtitusi. Penelitian menggunakan Rancanagan acak kelompok yang terdiri dari empat perlakuan, yaitu P1 (100% pellet komersil), P2 (50 % pelet komersil + 50 % pelet limbah sayuran kubis), P3 (25 % pellet komersil + 75 % pelet limbah sayuran kubis), dan P4 (100 % pelet limbah sayuran kubis). Penelitian diulang 6 kali, sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Parameter penelitian terdiri dari kandungan proksimat pellet limbah sayuran kubis, pertumbuhan ikan lele (Panjang dan berat ikan), FCR, efisiensi pakan, dan kelayakan finansial budidaya ikan lele dumbo dari perlakuan terbaik. Hasil penelitian ini, semua pakan substitusi berupa campuran pakan komersial dan limbah sayuran kubis, termasuk pakan berbahan 100% limbah sayuran kubis, telah memenuhi persyaratan mutu kimia pakan ikan lele sesuai SNI 9043-4:2022. Seluruh perlakuan pakan berpengaruh terhadap pertambahan panjang dan berat ikan lele, efisiensi pakan, serta nilai FCR, di mana perlakuan P1 (100% pakan komersial) menghasilkan pertumbuhan tertinggi, sedangkan perlakuan P2 (50% pakan komersial + 50% pakan limbah sayuran kubis) memberikan kinerja pemanfaatan pakan terbaik dengan nilai FCR terendah (9,83) dan efisiensi pakan tertinggi (81,14), yang menunjukkan adanya pemanfaatan nutrien yang lebih efisien melalui kombinasi pakan yang proporsional. Namun demikian, meskipun secara biologis P2 merupakan perlakuan terbaik berdasarkan FCR dan efisiensi pakan, hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha budidaya ikan lele dumbo dengan penggunaan pakan tersebut belum layak secara finansial untuk dikembangkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Pakan komersial yang mahal menjadi salah satu kendala utama dalam budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus), sehingga diperlukan alternatif sumber protein yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. Tepung maggot (Hermetia illucens) merupakan bahan pakan alternatif yang kaya protein (40–50%) dan berpotensi menggantikan sebagian pakan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung maggot dalam pakan terhadap pertumbuhan ikan nila. Ikan nila dipilih karena merupakan komoditas perikanan air tawar yang penting di Kalimantan Utara, baik dari segi ekonomi maupun nilai gizi.Penelitian dilakukan selama satu bulan menggunakan metode eksperimen deskriptif kuantitatif dengan empat perlakuan dan tiga ulangan: P0 (kontrol, tanpa tepung maggot), P1 (30 g tepung maggot), P2 (50 g tepung maggot), dan P3 (70 g tepung maggot). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, Feed Conversion Ratio (FCR), Specific Growth Rate (SGR), dan Survival Rate (SR). Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa tepung maggot mengandung protein kasar 42,55%, lemak kasar 6,20%, dan kadar air 3%. Perlakuan P2 (50 g tepung maggot) memberikan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lainnya. Pada perlakuan tersebut, ikan nila mengalami peningkatan berat dari 0,92 g menjadi 4,5 g dan panjang dari 3,6 cm menjadi 5,7 cm selama periode penelitian. Nilai FCR terbaik sebesar 0,17, SGR sebesar 49,75%, dan SR sebesar 80% juga dicapai pada perlakuan P2. Temuan ini menunjukkan bahwa penambahan tepung maggot dalam pakan mampu meningkatkan performa pertumbuhan ikan nila secara signifikan. Dengan demikian, tepung maggot berpotensi sebagai substitusi pakan komersial yang efektif dan berkelanjutan dalam budidaya ikan nila, khususnya pada dosis 50 g per pakan uji.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Lobster air tawar Cherax quadricarinatus merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang berpotensi untuk dibudidayakan secara intensif. Salah satu faktor penting dalam budidaya adalah ketersediaan pakan yang bernutrisi dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas beberapa jenis pakan alami, baik dari sumber nabati maupun hewani, dalam meningkatkan pertumbuhan lobster air tawar. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan A (100% taoge/kontrol), B (25% taoge + 75% temberungun), C (25% taoge + 75% ikan mujair) dan D (25% taoge + 75% udang rucah). Pemeliharaan dilakukan selama 30 hari dengan pemberian pakan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B (kombinasi 25% taoge + 75% temberungun) menghasilkan pertumbuhan bobot mutlak tertinggi sebesar 2,1 gram, serta menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan tiga perlakuan lainnya. Hasil uji sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pakan alami berbeda memberikan pengaruh yang nyata (p 0.05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak lobster air tawar Cherax quadricarinatus, namun pada pengamatan pertumbuhan panjang menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Kombinasi pakan nabati dan hewani, khususnya dengan dominasi temberungun, efektif dalam meningkatkan pertumbuhan lobster air tawar. Abstract Freshwater lobsters (Cherax quadricarinatus) are a high-value fishery commodity with potential for intensive cultivation. One important factor in cultivation is the availability of nutritious and affordable feed. This study aimed to test the effectiveness of several types of natural feed from plant and animal sources in improving the growth of freshwater lobsters. This study used a completely randomised design (CRD) with 4 feed treatments and 3 replicates, namely treatment A (100% bean sprouts/control), B (25% bean sprouts + 75% temberungun shells). C (25% bean sprouts + 75% tilapia), and D (25% bean sprouts + 75% small shrimp). Maintenance was carried out for 30 days with feeding twice a day. The results showed that treatment B (a combination of 25% bean sprouts + 75% temberungun shells) produced the highest absolute weight gain of 2.1 grams and showed better results than the other three treatments. The results of the analysis of variance (ANOVA) indicated that the natural feed treatment had a significant effect (P 0.05) on the absolute weight growth of Cherax quadricarinatus freshwater lobsters, but the length growth observation showed no significant difference. Treatment with the addition of animal feed showed a survival rate of 100%, while treatment without the addition of animal feed revealed a survival rate of 70%. A combination of plant and animal feed, particularly with a predominance of temberungun shells, was effective in increasing the growth of freshwater lobsters.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pakan merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan budidaya perikanan, mencakup lebih dari 50-70% biaya produksi. Namun, tantangan dalam budidaya masih ditemukan, terutama terkait efisiensi pemberian pakan dan kehilangan nutrisi akibat faktor lingkungan. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui teknologi mikroenkapsulasi. Mikroenkapsulasi menggunakan teknik koaservasi dengan gelatin sebagai bahan polimer dapat meningkatkan stabilitas nutrisi pakan, sehingga nutrisi dapat diserap ikan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengkarakterisasi pakan mikroenkapsul menggunakan gelatin sebagai koaservat, agar dapat meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi oleh ikan. Penelitian ini dilakukan dengan metode koaservasi, menggunakan gelatin sebagai bahan utama enkapsulasi dengan variasi konsentrasi 1%, 3%, dan 6%. Pengukuran yang dilakukan antara lain rendemen, morfologi, kadar air, kadar protein, serta uji terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus) selama 15 hari untuk mengukur bobot mutlak dan tingkat kelangsungan hidup (SR). Hasil menunjukkan bahwa formulasi pakan dengan gelatin 6% memberikan hasil terbaik, dengan rendemen sebesar 48,85%, kadar air 3,5%, dan kadar protein 40,71% yang sesuai dengan standar SNI 8227:2022. Perlakuan dengan konsentrasi gelatin 6% menghasilkan morfologi pakan mikroenkapsul terbaik, dengan struktur paling halus dan rapat. Uji pertumbuhan dan kelangsungan hidup menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan mikroenkapsul mengalami peningkatan bobot mutlak sebesar 1,1 gram dan SR mencapai 83,3%, lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Berdasarkan penelitian ini, menunjukkan bahwa mikroenkapsulasi pakan menggunakan gelatin tidak hanya mampu mempertahankan kualitas fisik dan kandungan nutrisi pakan, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skeletonema costatum merupakan salah satu jenis fitoplankton yang penting dalam budidaya perikanan sebagai pakan alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk silikat terhadap pertumbuhan Skeletonema. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu penggunaan pupuk kw21 (kontrol), penggunaan pupuk kw21 dengan penambahan silikat dengan dosis 5 ppm, 10 ppm, dan 15 ppm. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, dengan total 12 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis (ANOVA) untuk menguji signifikasi perbedaan antara perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan C memberikan pengaruh pertumbuhan skeletonema yang terbaik dari perlakuan lainnya. Hasil uji anova menunjukan perbedaan yang signifikan antara penambahan silikat dengan kontrol dimana perlakuan C Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa perlakuan C tidak berbeda nyata dengan perlakuan D tetapi berbeda nyata dengan perlakuan A dan B selanjutnya D tidak berbeda nyata dengan B tapi berbeda nyata dengan A.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Serangga berpotensi sebagai suber protein hewani. Pemanfaatan serangga sebagai protein dapat diuji menggunakan tikus sebagai hewan perobaan.. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) menguji pengaruh penggunaan serangga sebagai bahan pakan tambahan bagi pertumbuhan tikus putih; dan (2) menguji perbedaan pengaruh pertumbuhan tikus putih dengan menggunakan serangga sebagai bahan pakan tambahan tikus putih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 1 faktor yang terdiri dari 4 perlakuan yakni ransum komersial tanpa tambahan tepung serangga (kontrol), ransum komersial ditambahkan tepung serangga jangkrik, ulat hongkong, dan serangga kroto. Masing-masing perlakuan diulang 7 kali, sehingga diperoleh 28 unit percobaan. Analisis data menggunakan Analisis Sidik Ragam (Anova) dan Uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan berat badan tikus, panjang badan, dan sisa pakan antara pemberian pakan komersil dan pemberian pakan komersil yang dicampur dengan tepung berbahan dasar serangga (tepung serangga). Selanjuntnya, pakan komersil yang ditambahkan tepung serangga jangkrik memiliki berat tikus tertinggi dengan rata-rata 5.38 g dan sisa pakan akhir pengamatan terendah dengan rata-rata 0.93 g. Sedangkan, panjang badan tikus tertinggi pada pemberian tepung serangga ulat kroto 1.49 cm
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
ABSTRAK Permasalahan budidaya perikanan adalah tingginya biaya pakan serta pertumbuhan ikan yang tidak maksimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan nutrisi pakan buatan dengan metode fermentasi, tingkat kecernaan pakan terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup (SR) pada ikan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, terdiri dari perlakuan P1 (control): pakan komersial, P2: pakan buatan dengan 3 ulangan. Kandungan nutrisi pakan dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan data SNI, sedangkan nilai pertumbuhan, FCR, SR dan SGR mengunakan ANOVA T-Test. Hasil uji proksimat kadar air pada pakan buatan sebesar 11,16%, protein 43,75%, lemak 10,32%, abu 15,48% dan karbohidrat 19,23%. Nilai panjang mutlak pada P1 dan P2 masing-masing yaitu 6,1 cm dan 7,0 cm, Berat pada P1 sebesar 9.06 gr dan P2 12,7 gr, laju pertumbuhan spesifik (SGR) pada P1 sebesar 1,91 dan P2 sebesar 2,32, FCR pada P1 sebesar 1,07 dan P2 sebesar 0,97, dan nilai SR pada P1 dan P2 sebesar 100%. Kualitas air diperoleh suhu pada P1 dan P2 yaitu 27-29°C, pH pada P1 dan P2 yaitu 6-7, DO pada P1 dan P2 yaitu 5-6 mg/L sedangkan amonia dari P1 yaitu 0,04-2,71 dan P2 yaitu 1,07-2,70 mg/L. Kesimpulan, pakan buatan memiliki nilai pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan lebih tinggi dengan nilai FCR yang lebih rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis penting di Kalimantan Utara. Budidaya pengemukan kepiting bakau telah dilakukan di daerah ini. Penggemukan kepiting dapat dilakukan terhadap kepiting bakau jantan dan betina dewasa tetapi dalam keadaan kosong/kurus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai pakan non ekonomis pada budidaya penggemukan kepiting bakau. Penelitian ini menggunakan metode ekperimen dengan 3 perlakuan dan 3 pengulangan. Perlakuan tersebut antara lain: Perlakuan A penggunaan ikan mujair, Perlakuan B penggunaan temburungun, Perlakuan C penggunaan Udang krosok. Hewan uji yang digunakan yaitu kepiting bakau yang beratnya 150-200 gr sebanyak 15 ekor berkelamin jantan. Hasil pertumbuhan bobot mutlak yang terbaik didapatkan pada perlakuan C dengan penambahan bobot rata-rata akhir yakni 12,7 gram, selanjutnya perlakuan B dengan penambahan rata-rata akhir yakni 9 gram, dan perlakuan A dengan penambahan bobot rata-rata akhir yakni 7 gram. Berdasarkan analisa sidik ragam anova menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan nyata antar perlakuan pada pertumbuhan bobot kepiting. Survival rate untuk semua perlakuan sebesar 100%.