ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman Artemia salina terhadap profil nutrisi Artemia yang diperkaya dengan Chlorella vulgaris serta menentukan durasi perendaman optimal untuk menghasilkan Artemia dengan kualitas terbaik. Artemia salina banyak digunakan sebagai pakan alami larva ikan dan udang, namun dalam bentuk tidak diperkaya memiliki keterbatasan nutrisi, khususnya asam lemak tak jenuh rantai panjang seperti EPA dan DHA, sehingga diperlukan metode bioenrichment menggunakan mikroalga. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu P0 (kontrol tanpa bioenrichment), P1 (bioenrichment selama 9 jam), dan P2 (bioenrichment selama 12 jam), masing-masing dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi daya tetas, Survival rate, kadar protein, lemak, karbohidrat, serta profil asam lemak Chlorella vulgaris. Hasil uji pendahuluan menunjukkan salinitas 25 ppt memberikan daya tetas dan Survival rate lebih tinggi dibandingkan 30 ppt. Bioenrichment menggunakan Chlorella vulgaris terbukti mampu meningkatkan kualitas nutrisi Artemia salina. Kadar protein meningkat signifikan dari 18,45% pada kontrol menjadi 22,75% pada perlakuan 9 jam dan 23,80% pada perlakuan 12 jam. Kadar karbohidrat dan lemak tertinggi diperoleh pada perlakuan 9 jam, masing-masing sebesar 27,46% dan 31,40%, namun keduanya menurun pada perlakuan 12 jam menjadi 23,77% dan 24,00% akibat pemanfaatan cadangan energi untuk metabolisme dan osmoregulasi. Survival rate tertinggi terdapat pada perlakuan 12 jam sebesar 49,28%, diikuti perlakuan 9 jam sebesar 44,89%, dan kontrol sebesar 39,20%, meskipun perbedaan tersebut belum signifikan secara statistik (p = 0,238). Hasil analisis GC-FID menunjukkan Chlorella vulgaris mengandung asam lemak esensial seperti EPA (0,24%), DHA (2,09%), dan ARA (0,30%) yang berpotensi meningkatkan kualitas nutrisi Artemia. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa lama perendaman berpengaruh nyata terhadap peningkatan profil nutrisi Artemia salina, dengan durasi 12 jam memberikan hasil terbaik untuk peningkatan protein serta asam lemak esensial, sedangkan durasi 9 jam menghasilkan kadar lemak dan karbohidrat tertinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas unggulan Kalimantan Utara yang tingkat produksinya naik setiap tahun. Tingginya permintaan mendorong kebutuhan pakan dalam skala besar sehingga meningkatnya biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari bioenrichment Artemia salina menggunakan Chlorella vulgaris terhadap pertumbuhan dan sintasan postlarva udang windu sebagai pakan alternatif dari pakan komersial. Penelitian ini dilakukan selama 20 hari menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan yang terdiri dari P1 (A. salina), P2 (pakan komersil), P3 (bioenrichment A. salina menggunakan C. vulgaris selama 6 jam) data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 (bioenrichment A. salina menggunakan C. vulgaris selama 6 jam) menunjukkan pertumbuhan average body length (0,62cm), average body weight (0,0108g), dan average daily growth (0,0017g) terbaik dibanding perlakuan lainnya. Parameter survival rate terbaik terdapat pada perlakuan P1 (A. salina) yaitu (17,4%). Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa bioenrichment A. salina menggunakan C. vulgaris selama 6 jam dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan postlarva udang windu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keberhasilan budidaya dipengaruhi oleh kemampuan post larva udang untuk bertahan hidup, yang seringkali rentan terhadap kematian akibat kekurangan nutirisi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian nutrisi tambahan melalui Bioenrichment Artemia salina dengan Chlorella vulgaris. Proses Bioenrichment selama 3 jam diharapkan memungkinkan Artemia salina menyerap nutrisi dari Chlorella vulgaris sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengkayaan pakan Artemia salina yang diberi Chlorella vulgaris terhadap pertumbuhan dan sintasan post larva udang windu (Penaeus monodon). Penelitian ini dilaksanakan selama 20 hari dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari P1 (Pakan alami Artemia salina), P2 (Pakan alami Bioenrichment Artemia salina dengan Chlorella vulgaris selama 3 jam), dan P3 (Pakan komersil). Parameter yang akan diamati meliputi Average Body Weight (ABW), Average Body Length (ABL), Average Daily Growrt (ADG), Survival rate (SR), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P1 menghasilkan nilai kelangsungan hidup (SR) 17,4% yang tinggi dibandingkan dengan perlakuan P2 dan P3 tetapi perlakuan P3 menghasilkan nilai kelangsungan hidup (SR) 4,9% tidak lebih baik dibanding perlakuan P2 menghasilkan nilai kelangsungan hidup (SR) 13,4%. Kualitas air yang terkontrol seperti suhu, pH, oksigen terlarut (DO), salinitas dan amonia selama penelitian masih dalam kisaran batas toleransi dalam budidaya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pemberian pakan Bioenrichment Artemia salina menggunakan Chlorella vulgaris selama 3 jam waktu pengkayaan tidak memberikan pengaruh yang signifikan (95%) terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva udang windu (Penaeus monodon).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Artemia salina merupakan salah satu pakan hidup yang umum digunakan, namun kandungan nutrisinya masih dapat ditingkatkan melalui proses bioenrichment menggunakan Chlorella vulgaris yang kaya akan asam lemak, protein, lipid, dan karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil nutrisi Artemia salina yang diperkaya Chlorella vulgaris serta potensinya sebagai pakan hidup bagi larva udang windu (Penaeus monodon) di Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol tanpa bioenrichment, bioenrichment selama 3 jam, dan bioenrichment selama 6 jam dengan masing – masing tiga ulangan. Uji pendahuluan menunjukkan bahwa salinitas 25 ppt menghasilkan tingkat kelangsungan hidup Artemia salina lebih tinggi dibandingkan 30 ppt, dengan nilai tertinggi pada perlakuan 6 jam sebesar 49,62% (25 ppt) dibandingkan 47,87% (30 ppt), sehingga digunakan sebagai kondisi optimal penelitian. Parameter utama yang diamati meliputi kadar protein, lemak dan asam lemak, karbohidrat, serta tingkat kelangsungan hidup (survival rate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioenrichment mampu meningkatkan kandungan nutrisi Artemia salina seiring bertambahnya lama waktu perlakuan, dimana kadar protein meningkat dari 18,45% (kontrol) menjadi 22,10% (6 jam), kadar lemak dari 17,80% menjadi 46,40%, dan karbohidrat dari 20,84% menjadi 30,13%. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan 6 jam sebesar 81,59%, dibandingkan kontrol (66,90%) dan 3 jam (51,15%). Hasil ini menunjukkan bahwa durasi bioenrichment 6 jam memberikan waktu optimal bagi Artemia salina untuk mengakumulasi nutrien dari Chlorella vulgaris. Dengan demikian, Artemia salina yang diperkaya Chlorella vulgaris berpotensi menjadi pakan hidup berkualitas untuk mendukung pertumbuhan dan sintasan larva udang windu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Permasalahan yang sering terjadi pada budidaya larva udang windu (Penaeus monodon) yaitu mengalami rendahnya survival rate dan pertumbuh yang tidak seragam, salah satu cara untuk mengatasi permasalah tersebut adalah pemberian pakan alami berupa Artemia salina yang di enricment dengan menggunakan Chlorella vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan survival rate larva udang windu yang diberi pakan Artemia salina dengan pengayaan Chlorella vulgaris. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Budaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan selama 20 hari, menggunakan post larva stadia 13. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap serta 3 perlakuan dan 5 ulangan. K (pakan A. salina tanpa pengkayaan), A (Pakan komersil pelet), dan B (Pakan A. salina yang di perkaya). Parameter yang diamati beruapa Panjang Mutlak, Berat Mulak, Specific Growth Rate (SGR), SR dan Kualitas Air (suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas dan amonia). Data dianalisis menggunakan Microsoft Excel, uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai panjang mutlak K (4,84mm + 0,6504), A (2,77mm + 1,0626) dan B (5,78mm+1,0378) nilai berat mutlak, pada K (0,1149 + 0,0366), A (0,1030 + 0,0376) dan B (0,2760g + 0,0812 ). Nilai SGR K (5,125% + 2,302), A (8,574% + 4,262), dan B (11,078% +1,413). Sedangkan pada nilai survival rate larva udang windu K (17,40% + 4,81), A (3,66% + 1,25), dan B (10,70% + 3,15). Nilai kualitas air selama penelitian pada parameter DO, salinitas, suhu, pH dan amonia secara keseluruhan sudah memenuhi buku mutu. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian pakan Artemia salina yang di Bioenrichment menggunakan Chlorella vulgaris mampu mempengaruhi pertumbuhan (Panjang mutlak, berat mulak dan SGR) bagi larva udang windu dimana perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan B, sedangkan pada SR K, lebih unggul dibandingkan dengan A, dan B. Low survival rate ad uneven growht are common issues in culturing black tiger shrimp larvae. This study examines and survival rae in Artemia salina fed Chlorella vulgaris. He researcg was conducted at Universitas Boorneo Tarakan for 20 days, using the post-larvae stage 13. This experiment used a completely randomized design witth tthree treatment and five replication; K (A. salina without C. vulgaris), A (commercial pellet feed), and B (A. salina enrichment with C. vulgaris). Obsevved prameters were Absolute weight gain, Absolute weight gain, Specific Growth Rate (SGR), survuval rate (SR), and water quality (ttemoeraure, pH,dissolved oxygen, salinity, ammonia). Data were analyzed by Microsoft Excel, ANOVA and TSD test. The result showed that Absolute length gain values were K (4,84mm + 0,6504), A (2,77mm + 1.0626) and B (5,78mm + 1,0378), and Absolute weight gain values were K (0,1149 + 0,0366), A (0,1030 + 0,0376) and B (0,2760g+0,0812 ), and SGR values were K (5,125% + 2.302), A (8,574% + 4,262), dan B (11,078% +1,413). The SR were K (17,40% + 4,81), A (3,66% + 1,25), dan B (10,70% + 3,15). Water qualiy parametters, including dissolved oxygen, salinity, temperature, pH and ammonia generirally met sandar threshonds. The study concludes that feeding black tiger shrimp larvae A. salina encrichment with C. vulgaris (B) results in the highest growth permormance, as Absolute weight gain, Absolute weight gain, and Specific Growth Rate. However, the highes survival rate was observed in the group fed unenriched A. salina (K). Therefore, while enrichmen improves growth, it does not increase survival compared to unenrichment feed.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Chlorella vulgaris merupakan salah satu fitoplankton hijau uniseluler yang memiliki kemampuan fotosintesis tinggi dan berpotensi sebagai sumber energi terbarukan melalui akumulasi lipid. Magnesium diketahui berperan penting sebagai atom pusat molekul klorofil dan aktivator berbagai enzim fotosintetik, sehingga ketersediaannya sangat menentukan efisiensi fotosintesis, pertumbuhan biomassa, dan pembentukan lipid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan biomassa dan total lipid pada Chlorella vulgaris yang dikultur dengan penambahan magnesium (Mg2+). Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kuantitatif dengan perlakuan tanpa penambahan magnesium dan dengan penambahan Magnesium 0,4 ppm pada media kultur Chlorella vulgaris. Pemeliharaan dilakukan selama 8 hari dan pengecekan kualitas air setiap 3 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan harian rata-rata Chlorella vulgaris tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan penambahan Mg²⁺ 0,4 ppm dengan nilai 7.747 sel/hari, sedangkan pada kontrol sebesar 7.357 sel/hari. Biomassa kering yang diperoleh pada kedua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan nyata, yaitu sama-sama sebesar 1,3 g/L, akan tetapi perbedaan sangat jelas terlihat pada parameter total lipid, di mana perlakuan dengan penambahan ion Mg²⁺ menghasilkan lipid sebesar 72%, sedangkan pada kontrol hanya 26,66%. Kultur Chlorella vulgaris dengan penambahan ion magnesium 0,4 ppm, mampu meningkatkan rata-rata pertumbuhan harian dan kandungan total lipid lebih baik dibandingkan dengan perlakuan tanpa penambahan ion magnesium. Kultur dengan penambahan ion magnesium 0,4 ppm tidak memberikan perbedaan terhadap total biomassa dibandingkan dengan kultur tanpa penambahan ion magnesium. Chlorella vulgaris is a unicellular green phytoplankton with high photosynthetic capacity and potential as a renewable energy source through lipid accumulation. Magnesium plays an important role as the central atom in chlorophyll molecules and as an activator of various photosynthetic enzymes, so its availability greatly determines photosynthetic efficiency, biomass growth, and lipid formation. This study aims to analyze biomass growth and total lipids in Chlorella vulgaris cultured with magnesium (Mg²⁺) supplementation. This study uses a quantitative descriptive approach with treatments without magnesium supplementation and with 0.4 ppm magnesium supplementation in the Chlorella vulgaris culture medium. Maintenance was carried out for 8 days, and water quality checks were performed every 3 days. The results showed that the highest average daily growth of Chlorella vulgaris was obtained in the treatment with the addition of 0.4 ppm Mg²⁺ , with a value of 7,747 cells/day, while in the control it was 7,357 cells/day. The dry biomass obtained in both treatments showed no significant difference at 1.3 g/L, but a clear difference was observed in the total lipid parameter: the Mg²⁺ treatment produced 72% lipids, while the control produced only 26.66%. Chlorella vulgaris culture with the addition of 0.4 ppm magnesium ions increased average daily growth and total lipid content more than the treatment without magnesium ions. Culture with 0.4 ppm magnesium ions showed no difference in total biomass compared to the culture without magnesium ions.