ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman kelapa sawit (Eleasis guineensis Jacq) merupakan komoditas Perkebunan unggulan yang setiap tahun terus meningkat hal ini berdampak pada kebutuhan bibit yang bermutu dan berkualitas. Salah satu upaya untuk menghasilkan bibit yang berkualitas pada tahap pre-nursery adalah dengan melalui pemupukan yang tepat, baik dari anorganik maupun organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap pemberian KNO3 dan bahan organik dari kotoran ayam serta menentukan dosis terbaik pada tahap pre-nursery. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga November 2025 di lahan Perkebunan milik Pesantren Miftahul Ulum, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Adapun perlakuan yang digunakan yaitu, kontrol (P1), bahan organik 300g (P2), KNO3 2,5g dan bahan organik 300g (P3), KNO3 5g dan bahan organik 300g (P4), KNO3 7,5g dan bahan organik 300g (P5), KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6). Adapun parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, luas daun, diameter batang, Tingkat kehijauan daun, dan berat kering. Data dianalisi menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian KNO3 dan bahan organik mampu memberikan respon pertumbuhan terhadap bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery, pengaruh nyata terlihat pada parameter tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang khususnya pada umur 96 hingga 124 HST. Perlakuan KNO3 10g dan bahan organik 300g (P6) memberikan respon pertumbuhan terbaik dengan nilai tertinggi pada seluruh parameter pengamatan. Dengan demikian, pemberian KNO₃ 10g dan bahan organik 300g (P6) dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit pada tahap pre-nursery.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Upaya untuk meningkatkan produksi tanaman terus dilakukan dengan berbagai strategi peningkatan teknologi budidaya. Salah satunya adalah penambahan bahan organik pada lahan pertanaman sawi. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui pengaruh bahan organik terhadap pertumbuhan dan hasil berbagai varietas sawi. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah jenis bahan organik yang terdiri dari perlakuan tanpa penambahan bahan organik (kontrol), sekam bakar, baglog, dan kompos, faktor kedua adalah jenis sawi yang terdiri dari sawi manis dan sawi pahit. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan kompos pada jenis sawi manis menghasilkan tanaman sawi tertinggi (29,46 cm), terbanyak jumlah daunnya (9 helai) dan terluas ukuran luas daunnya (160,2 cm2) serta menghasilkan berat tanaman terberat pada jenis tanaman sawi pahit (101,50 g). Tanaman sawi manis dan sawi pahit menunjukkan perbedaan respon pertumbuhan dan hasil berdasarkan perlakuan pemberian bahan organik. Respon yang dihasilkan dipengaruhi oleh karakter genetik dan pola alokasi fotosintat masing-masing jenis sawi. Bahan organik kompos efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil tanaman sawi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ketersediaan Nitrogen dalam tanah merupakan salah satu permasalahan dalam pemupukan nitrogen (N). Nitrogen merupakan unsur hara makro primer yang dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, namun ketersediaannya dalam tanah tergolong sangat rendah. Dinamika cepat tersedia dari pupuk N anorganik serta tingginya kehilangan nitrogen melalui pencucian dan penguapan menjadikan aplikasi pupuk N anorganik kurang efisien. Teknologi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi N adalah dengan teknologi pupuk lambat tersedia (slow release fertilizer) menggunakan bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji formula pupuk SRF dengan menggunakan bahan pendukung urea-organik dalam melepaskan hara N di tanah marginal dan mengetahui laju dan pola pelepasan nitrogen dari formula SRF yang dihitung menggunakan kinetika pelepasan first orde. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu Kontrol (K), P1 (Urea tanpa coating), P2: Urea-Arang sekam (1:1), P3: Urea-Arang tempurung kelapa (1:1), P4: Urea-Limbah udang (1:1). Percobaan diinkubasi dilakukan selama 2, 4, 6 dan 8 minggu di dua lokasi berbeda yaitu laboratorium dan lahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa arang tempurung kelapa dan limbah udang sangat baik sebagai pendukung dalam formula SRF. Formulasi Urea-Arang tempurung kelapa sangat baik dalam mengontrol pelepasan NO3-. Sedangkan formulasi Urea-Limbah udang sangat baik dalam mengontrol pelepasan NO3- berdasarkan pelepasan kinetika first order.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•
KANDUNGAN BAHAN ORGANIK C (KARBON), N (NITROGEN) DAN FOSFOR (P) PADA SERASAH DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa kroth) YANG TERDEKOMPOSISI DI KAWASAN DANAU MANUK BUNGKUL KECAMATAN SEMBAKUNG KABUPATEN NUNUKAN Abstrak Dekomposisi serasah daun kratom (Mitragyna speciosa) akan menghasilkan bahan organik yang berperan dalam menentukan kesuburan perairan Danau Manuk Bungkul. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan bahan organik Karbon (C), Nitrogen (N) dan Fosfor (P) pada serasah daun kratom yang terdekomposisi di Kawasan Danau Manuk Bungkul. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2019 – Januari 2020 menggunakan metode deskriptif dan kuantatif dengan mendeskripsikan kandungan bahan organik Karbon (C), Nitrogen (N) dan Fosfor (P) di setiap stasiun. Pengambilan sampel serasah daun kratom dilakukan pada tiga titik stasiun, dimana stasiun 1 terletak di muara sungai, stasiun 2 terletak di bagian tengah atau di depan dermaga dan stasiun 3 terletak di ujung danau dengan 3 kali pengulangan. Pada setiap stasiun memiliki sub stasiun yaitu tergenang dan tidak tergenang. Laju dekomposisi serasah daun kratom sebesar 0,19 – 0,27 gram/hari. Kandungan bahan organik Karbon (C) pada serasah daun kratom sebesar 13,56 – 23,81 %, bahan organik Nitrogen (N) sebesar 1,02 – 2,59 % dan bahan organik Fosfor (F) sebesar 0,014 – 0,031 % di Kawasan Danau Manuk Bungkul Kecamatan Sembakung Kabupaten Nunukan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kota Tarakan merupakan salah satu penghasil komoditas udang windu (Penaeus monodon) melalui pengelolaan tambak tradisional. Tanah tambak (sedimen) merupakan tempat terakumulasinya bahan organik, baik yang sudah terdekomposisi maupun yang belum terdekomposisi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kandungan bahan organik terhadap laju konsumsi oksigen pada sedimen tambak tradisional di kota Tarakan. Metode purposive random sampling digunakan untuk penentuan lokasi penelitian dan pengambilan sampel sedimen. Data dianalisis secara deskriptif, persamaan regresi linier sederhana dan uji statistik korelasi. Dari hasil penelitian didapatkan nilai koefisien korelasi pada tambak pertama sebesar 0,66 yang artinya kedua variabel memiliki hubungan yang cukup, tambak kedua dan ketiga masing-masing memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,94 dan 0,93 yang artinya kedua variabel memiliki hubungan yang tinggi dan kuat. Nilai koefisien korelasi dari ketiga tambak adalah positif yang berarti kedua variabel dari masing-masing tambak memiliki hubungan yang searah.