ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK ANALISIS PENGARUH PEMBAYARAN NON TUNAI DAN JUMLAH UANG BEREDAR TERHADAP INFLASI DI INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL ECM Santi Kartini, S.E., M.Sc Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembayaran non tunai yang meliputi nilai transaksi kartu ATM/debit, kartu kredit, dan e-money, serta jumlah uang beredar (M2) terhadap inflasi di Indonesia periode Januari 2020 hingga Desember 2025. Metode analisis yang digunakan adalah Error Correction Model (ECM) dengan data runtun waktu bulanan sebanyak 72 observasi. Hasil uji stasioneritas menunjukkan seluruh variabel terintegrasi pada ordo I(1), dan uji kointegrasi Johansen mengonfirmasi adanya hubungan keseimbangan jangka panjang antar variabel. Hasil estimasi jangka panjang menunjukkan bahwa kartu ATM/debit berpengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi (koefisien 0,9506 p=0,0011), e-money berpengaruh positif dan signifikan (koefisien 0,7698 p=0,0320), serta jumlah uang beredar M2 berpengaruh negatif dan signifikan (koefisien −3,6074 p=0,0204). Kartu kredit tidak berpengaruh signifikan dalam jangka panjang (p=0,3268). Dalam jangka pendek, hanya kartu ATM/debit yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi (koefisien 1,1438 p=0,0222), sedangkan kartu kredit, e-money, dan M2 tidak signifikan. Koefisien ECT(−1) sebesar −0,9926 yang signifikan mengindikasikan kecepatan penyesuaian menuju keseimbangan jangka panjang sebesar 99,26% per bulan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan pengaruh perbedaan inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan cadangan devisa terhadap volatilitas nilai tukar Rupiah dan Ringgit terhadap Dolar Amerika Serikat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data time series triwulanan periode 2015–2024. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda, analisis jalur (path analysis), uji Sobel, dan uji beda rata-rata dengan menggunakan Eviews. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada Indonesia, inflasi X1.1 tidak berpengaruh signifikan terhadap cadangan devisa dengan nilai prob. 0,1612 maupun nilai tukar sebesar 0,4740. Suku bunga X2.1 berpengaruh signifikan terhadap cadangan devisa sebesar 0,0006 dan nilai tukar sebesar 0,0000. Pertumbuhan ekonomi X3.1 tidak berpengaruh signifikan terhadap cadangan devisa dengan nilai prob. 0,3736 maupun nilai tukar sebasar 0,8897. Sedangkan cadangan devisa berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar sebesar 0,0123. Malaysia, inflasi X1.2 berpengaruh signifikan terhadap cadangan devisa dengan nilai prob. 0,0009, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar sebasar 0,0055. Suku bunga X2.2 berpengaruh signifikan terhadap cadangan devisa sebesar 0,0000 dan terhadap nilai tukar sebesar 0,0054. Pertumbuhan ekonomi X3.2 tidak berpengaruh signifikan terhadap cadangan devisa dengan nilai prob. 0,4172 maupun terhadap nilai tukar sebesar 0,9748. Sedangkan cadangan devisa tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar dengan nilai prob. sebesar 0,7906. Hasil Uji Sobel menunjukkan cadangan devisa tidak memediasi pengaruh ketiga variabel terhadap nilai tukar di kedua negara. Selanjutnya, hasil uji beda menunjukkan inflasi, suku bunga, dan nilai tukar berbeda signifikan. Sedangkan pertumbuhan ekonomi nilai prob. 0,7692 dan cadangan devisa nilai prob. 0,3100 tidak berbeda signifikan. Secara umum, suku bunga merupakan faktor yang paling konsisten memengaruhi cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar di Indonesia maupun Malaysia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas utang luar negeri terhadap produksi sektor pertanian, pengaruh utang luar negeri terhadap produksi sektor pertanian dan pengaruh produksi sektor pertanian terhadap inflasi di Indonesia tahun 2005-2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif ICOR (Incremental Capital Output Rasio) dan Regresi Sederhana pendekatan (Ordinary Least Square) OLS dengan bantuan aplikasi Eviews 12. Data yang digunakan time series berupa data sekunder yang diperoleh dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata efektivitas utang luar negeri terhadap produksi sektor pertananian secara umum berada pada kategori sangat efektif yakni sebesar 1,15. Akan tetapi terdapat fenomena semakin kurang efektif karena periode I presiden SBY 0,47 periode II 1,14. Kemudian periode Joko Widodo periode 1 naik menjadi 1,97 dan periode II terdapat nilai efektivitas negatif artinya utang meningkat produksi menurun pada tahun 2022. Pengaruh utang luar negeri terhadap produksi sektor pertanian berpengaruh signifikan yang ditunjukkan nilai signifikan 0,0006. Kemudian Y = -2,109456 + 0,977615. artinya ketika utang luar negeri meningkat maka produksi sektor pertanian juga meningkat, selanjutnya pengaruh produksi sektor pertanian dengan inflasi memiliki hubungan negatif signifikan antara produksi sektor pertanian terhadap inflasi yang ditunjukkan nilai signifikan 0,0000. Kemudian Y= 15.13871 – 0,732500, artinya ketika produksi sektor pertanian meningkat maka inflasi akan menurun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi tekanan ekonomi makro yang meliputi inflasi, BI Rate, dan nilai tukar Rupiah terhadap investasi saham yang diukur melalui volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan mempertimbangkan peran moderasi kapabilitas perusahaan yang diproksikan oleh Return on Assets (ROA) serta teknologi digital yang diukur melalui frekuensi transaksi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas dan memanfaatkan data panel perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ45 selama periode 2021–2025. Data sekunder diperoleh dari Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, dan laporan keuangan perusahaan, kemudian dianalisis menggunakan regresi data panel dan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan Model Random Effect. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap volume perdagangan saham, sedangkan BI Rate berpengaruh positif dan nilai tukar Rupiah berpengaruh negatif secara signifikan. Kapabilitas perusahaan (ROA) terbukti memoderasi pengaruh nilai tukar terhadap volume perdagangan saham, namun tidak memoderasi pengaruh inflasi dan BI Rate secara konsisten. Di sisi lain, teknologi digital berperan sebagai variabel moderasi yang signifikan dalam hubungan antara BI Rate dan nilai tukar terhadap volume perdagangan saham, yang mengindikasikan bahwa digitalisasi perdagangan memperkuat respons investor terhadap perubahan kondisi makroekonomi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan pengangguran di Indonesia, dengan fokus pada pengaruh investasi, industri besar sedang, industri mikro kecil, kredit modal kerja, dan inflasi terhadap pengangguran di Indonesia. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik dan Otoritas Jasa Keuangan Indonesia tahun 2015-2024. Penelitian ini menggunakan pooled data atau gabungan dari data cross-section dan time series sehingga metode yang digunakan adalah analisis regresi data panel, dengan pendekatan yang terpilih adalah Fixed Effect Model (FEM). Hasil estimasi menunjukkan bahwa (1) investasi secara parsial berpengaruh positif terhadap pengangguran di Indonesia; (2) industri besar sedang secara parsial berpengaruh negatif terhadap pengangguran di Indonesia; (3) industri mikro kecil secara parsial berpengaruh negatif terhadap pengangguran di Indonesia; (4) kredit modal kerja secara parsial berpengaruh negatif; (5) inflasi secara parsial berpengaruh negatif dan (6) investasi, industri besar sedang, industri mikro kecil, kredit modal kerja, dan inflasi secara simultan berpengaruh terhadap pengangguran di Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun industri mikro kecil, kredit modal kerja, dan inflasi tidak berpengaruh secara parsial terhadap jumlah pengangguran, peningkatan investasi serta penguatan industri besar sedang tetap memiliki peran penting dalam menurunkan pengangguran di Indonesia. Selain itu, kebijakan yang mendukung ekspansi usaha dan menjaga stabilitas makroekonomi perlu menjadi fokus utama dalam merumuskan strategi untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nilai tukar rupiah mengalami perubahan dari waktu ke waktu akibat perubahan kondisi makroekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh BI rate, jumlah uang beredar, inflasi, dan impor terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia periode 2009-2024. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan model persamaan Y = 1,982 + 0,182X₁+ 0,618X₂+ 0,025X₃–0,454X₄+ e. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa BI rate dengan nilai signifikansi 0,008, jumlah uang beredar sebesar 0,008, impor sebesar 0,000 dinyatakan diterima, sedangkan inflasi dengan nilai signifikansi 0,488 dinyatakan ditolak. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,967 menunjukkan bahwa 96,7% variasi nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh model penelitian, sisanya sebesar 3,3% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian. Implikasi penelitian menunjukkan pentingnya kebijakan moneter dan pengendalian impor dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suku bunga terhadap stabilitas harga (inflasi) di Indonesia melalui mekanisme transmisi sektor keuangan dan sektor riil. Sektor keuangan diproksikan oleh Foreign Direct Investment, investasi portofolio, dan kredit perbankan, sedangkan sektor riil direpresentasikan oleh sektor industri dan sektor pertanian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder berupa data time series triwulanan periode 2014-2024. Metode analisis yang digunakan adalah path analysis dengan bantuan perangkat lunak EViews. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku bunga berpengaruh signifikan terhadap sektor keuangan, yaitu terhadap FDI (prob = 0,0589; R² = 0,082393), investasi portofolio (prob = 0,0596; R² = 0,081968), dan kredit perbankan (prob = 0,0012; R² = 0,224628). Pada hubungan sektor keuangan terhadap sektor riil, seluruh variabel keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap sektor industri (prob FDI = 0,4799; portofolio = 0,1177; kredit = 0,4109; R² = 0,113159). Sebaliknya, pada sektor pertanian, investasi portofolio berpengaruh negatif dan signifikan (prob = 0,0737) serta kredit perbankan berpengaruh positif dan signifikan (prob = 0,0000), sedangkan FDI tidak signifikan (prob = 0,6313), dengan kemampuan model menjelaskan variasi sektor pertanian sebesar R² = 0,620496. Selanjutnya, sektor industri berpengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi (prob = 0,0763), sedangkan sektor pertanian berpengaruh negatif dan signifikan (prob = 0,0023) dengan nilai R² sebesar 0,218300. Temuan ini menunjukkan bahwa transmisi kebijakan suku bunga terhadap inflasi lebih efektif melalui jalur kredit perbankan dan sektor pertanian dibandingkan jalur investasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Abstrak Penelitian ini mengevaluasi dampak pendapatan per kapita, upah minimum, dan inflasi terhadap pola konsumsi di Provinsi Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif daengan analisis regresi linier berganda, penelitian ini memanfaatkan data deret waktu sekunder periode 2015–2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam model ini, pola konsumsi (Y) ditetapkan sebagai variabel dependen, sedangkan pendapatan per kapita (X1), upah minimum provinsi (X2), dan inflasi (X3) bertindak sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, pendapatan per kapita dan upah minimum yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pola konsumsi, sedangkan inflasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Namun, secara simultan, ketiga faktor tersebut memiliki pengaruh signifikan. Hasil penelitian ini diproyeksikan menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ekonomi terkait stabilitas harga, standar upah, dan penguatan daya beli masyarakat. Kata kunci: Pendapatan Perkapita, Upah Minimum, Inflasi, Pola Konsumsi Masyarakat, Kalimantan Utara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini menunjukan kebijakan moneter di Indonesia perlu lebih difokuskan pada pengelolahan stabilitas nilai tukar dan pengendalian jumlah uang beredar guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga stabilitas inflasi dan sistem keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inflasi, suku bunga, nilai tukar dan jumlah uang beredar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2010-2024. Hasil penelitian dengan model regresi linier berganda di peroleh model persamaan Ý = 6,166-0,047Χ1+0,051Χ2+0,291Χ3+0,264Χ4. Hasil uji t secara parsial menunjukan bahwa inflasi (Χ1) dan suku bunga (Χ2) tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan nilai tukar (Χ3) dan jumlah uang beredar (Χ4) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hasil uji F secara simultan menunjukan bahwa inflasi(Χ1), suku bunga(Χ2), nilai tukar(Χ3) dan jumlah uang beredar(Χ4) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi(Ý) di Indonesia nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,984 mengindikasikan bahwa variabel independen(Χ) memiliki hubungan yang sangat erat terhadap variabel dependen(Ý).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini meneliti fluktuasi inflasi di Indonesia pada rentang waktu 2010 hingga 2024. Dengan pendekatan kuantitatif, studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel jumlah uang beredar, tingkat suku bunga, dan nilai tukar terhadap inflasi, baik secara terpisah maupun bersama-sama. Data yang digunakan berupa deret waktu bulanan yang diperoleh dari Bank Indonesia, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda melalui perangkat lunak statistik IBM SPSS Statistics 17 dengan metode Ordinary Least Squares (OLS). Temuan penelitian mengindikasikan bahwa suku bunga memberikan dampak signifikan terhadap inflasi, sementara jumlah uang beredar dan nilai tukar tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hasil ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Bank Indonesia dan pemerintah dalam merancang kebijakan moneter yang lebih efektif untuk mengendalikan inflasi serta menjaga kestabilan ekonomi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh inflasi, nilai tukar rupiah, dan harga batu bara terhadap ekspor batu bara di Provinsi Kalimantan Utara, baik secara parsial maupun simultan. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada peran penting batu bara sebagai komoditas unggulan ekspor Indonesia, khususnya Kalimantan Utara yang memiliki cadangan besar dan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah. Data yang digunakan berupa data sekunder berbentuk time series triwulanan periode 2015–2024, yang diperoleh dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Utara. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik sebagai prasyarat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, variabel inflasi dan nilai tukar tidak berpengaruh signifikan terhadap ekspor batu bara, sedangkan harga batu bara berpengaruh positif dan signifikan. Secara simultan, inflasi, nilai tukar, dan harga batu bara berpengaruh signifikan terhadap ekspor batu bara di Provinsi Kalimantan Utara. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R²) sebesar 0,333 yang berarti bahwa ketiga variabel independen hanya mampu menjelaskan variasi ekspor sebesar 33,3%, sedangkan sisanya 66,7% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian.Temuan ini menunjukkan bahwa faktor harga batu bara memiliki peran dominan dalam memengaruhi ekspor, sementara inflasi dan nilai tukar tidak memberikan pengaruh langsung yang signifikan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam merumuskan strategi perdagangan dan kebijakan ekspor, serta bagi penelitian selanjutnya untuk memperluas variabel yang dianalisis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap penyerapan tenaga kerja di Kalimantan Timur tahun 2019–2023. Ketiga variabel tersebut merupakan indikator makroekonomi penting yang mencerminkan dinamika ekonomi dan kontribusinya terhadap pasar tenaga kerja. Metode yang digunakan adalah regresi data panel dengan Random Effect Model (REM) dan data diolah menggunakan EViews 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan IPM berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Secara parsial, hanya IPM yang berpengaruh signifikan. Sementara, inflasi dan pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh signifikan. inflasi berpengaruh negatif dengan koefisien -0,110421, artinya kenaikan inflasi 1% menurunkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,11%. Pertumbuhan ekonomi dan IPM berpengaruh positif dengan koefisien masing-masing 0,455 dan 5,183. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas pembangunan manusia berkontribusi pada peningkatan tenaga kerja, sementara inflasi memberikan dampak negatif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa kemiskinan, UMK, dan inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara tahun 2016-2023 secara parsial dan simultan di provinsi Kalimantan Utara tahun 2016-2023. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi data panel dengan menggunakan data sekunder dari kabupaten/kota di provinsi Kalimantan Utara tahun 2016-2023. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) Kemiskinan secara parsial tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi; 2) UMK secara parsial tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi; 3) Inflasi secara parsial berpengaruh dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi; 4) Secara simultan kemiskinan, UMK, dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara 2016-2023. Penelitian ini menunjukkan bahwa kontribusi seluruh variabel secara simultan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan hipotesis telah terbukti bahwa kemiskinan, umk, dan inflasi mendorong dan menentukan arah pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2016-2023.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi dan memproyeksikan inflasi, pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi di Kota Tarakan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data sekunder yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan selama periode 2015–2024. Estimasi inflasi dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu PDRB Deflator dan Indeks Harga Konsumen (IHK), serta dianalisis menggunakan metode rata-rata aritmetika dan tren kuadratik. Proyeksi ke depan (2025–2030) juga dilakukan terhadap tingkat inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi dengan model kuadratik sebagai alat prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi Kota Tarakan mengalami fluktuasi dengan puncak tertinggi sebesar 7,69% pada tahun 2022, dan turun drastis menjadi 1,97% pada 2024. Proyeksi menunjukkan tren inflasi yang stabil dan menurun hingga 1,79% pada tahun 2030. Pengangguran diproyeksikan turun dari 5,21% pada 2025 menjadi 4,79% pada 2030, sementara pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, meningkat dari 5,63% menjadi 8,45% pada periode yang sama. Fenomena ekonomi ini tidak sepenuhnya mengikuti teori Kurva Phillips, karena inflasi dan pengangguran menurun secara bersamaan. Namun, hubungan negatif antara pengangguran dan pertumbuhan ekonomi selaras dengan Hukum Okun. Penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan berbasis data, memperkuat sektor ekonomi riil, serta merancang kebijakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat di Kota Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jumlah uang beredar (M1) terhadap inflasi di Indonesia, serta menelaah apakah suku bunga riil memediasi hubungan tersebut selama periode 2010–2024. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan data sekunder triwulanan dari Bank Indonesia dan BPS. Analisis dilakukan dengan regresi linier bertahap dan pendekatan mediasi. Hasil menunjukkan bahwa jumlah uang beredar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap inflasi. Temuan ini tidak sejalan dengan teori kuantitas uang klasik, namun dapat dijelaskan melalui pendekatan teori perilaku konsumen, khususnya konsep budget line, di mana konsumen hanya mampu berbelanja sesuai batas anggaran. Dalam konteks ini, meskipun uang beredar meningkat, daya beli masyarakat tidak serta-merta naik karena pendapatan riil terbatas. Sebagian besar uang tersebut tidak digunakan untuk konsumsi, melainkan habis untuk kebutuhan pokok atau bahkan tersimpan tidak produktif. Penurunan inflasi yang terjadi lebih merefleksikan lemahnya konsumsi masyarakat daripada kestabilan harga yang sehat. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa distribusi uang yang tidak merata menyebabkan peningkatan uang beredar tidak selalu mendorong inflasi, tetapi justru netral terhadap output dan pertumbuhan. Dalam hal ini, suku bunga riil tidak terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara uang beredar dan inflasi, sehingga pengaruh langsung dari M1 terhadap inflasi tetap dominan. Temuan ini menyiratkan pentingnya peran kebijakan fiskal yang komplementer, seperti subsidi transportasi dan energi, guna merangsang konsumsi masyarakat agar inflasi kembali bergerak dalam zona sehat yang mencerminkan aktivitas ekonomi riil. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi otoritas moneter dalam merancang kebijakan berbasis pemahaman perilaku konsumen dan dinamika distribusi likuiditas di masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi di Indonesia melalui jalur suku bunga dan jalur kredit. Variabel yang digunakan mencakup BI Rate sebagai variabel independen, suku bunga PUAB dan bunga pasar sebagai jalur transmisi suku bunga, Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI), serta Jumlah Uang Beredar (JUB) sebagai variabel mediasi, dan inflasi sebagai variabel dependen. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis jalur menggunakan model Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan data triwulanan periode 2014–2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BI Rate berpengaruh positif dan signifikan secara langsung terhadap inflasi, yang mengindikasikan bahwa kebijakan suku bunga justru mendorong inflasi melalui jalur cost-push. Sementara itu, pengaruh tidak langsung BI Rate terhadap inflasi melalui jalur mediasi (PUAB, bunga pasar, kredit, dan JUB) tidak signifikan secara statistik. Jalur transmisi yang dibangun terlalu panjang sehingga kehilangan efektivitasnya dalam menjelaskan mekanisme transmisi moneter terhadap inflasi. Temuan ini menyiratkan bahwa efektivitas kebijakan moneter melalui jalur suku bunga dan kredit belum optimal dalam menekan inflasi di Indonesia. Oleh karena itu, Bank Indonesia perlu mempertimbangkan jalur transmisi alternatif serta memperkuat instrumen kebijakan non-suku bunga untuk mencapai kestabilan harga yang lebih efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS PENGARUH LIKUIDITAS DAN SALES GROWTH TERHADAP FINANCIAL DISTRESS DENGAN INFLASI SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi Pada Perusahaan Sektor Energi di Indonesia) Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh likuiditas dan sales growth terhadap financial distress dengan inflasi sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2019-2023. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 27 perusahaan, dengan metode pengumpulan data menggunakan purposive sampling menghasilkan 18 perusahaan sebagai sampel penelitian, sehingga mendapatkan 90 data observasi dalam penelitian ini. Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan aplikasi WarpPLS 8.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh positif signifikan terhadap financial distress dan sales growth berpengaruh negatif signifikan terhadap financial distress, inflasi memoderasi pengaruh likuiditas dengan memperkuat hubungan terhadap financial distress, dan inflasi memoderasi pengaruh sales growth dengan memperlemah hubungan terhadap financial distress. Temuan penelitian ini memberikan implikasi teoritis yang mendukung validitas teori agensi dan teori kontingensi sebagai kerangka dalam menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi nilai financial distress. Kata Kunci: Likuiditas, Sales Growth, Inflasi dan Financial Distress
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris mengenai hubungan antara kebijakan moneter, jumlah uang beredar, suku bunga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, serta menganalisis peran pertumbuhan ekonomi sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Data yang digunakan diperoleh dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik,kemudian dianalisis menggunakan aplikasi SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah uang beredar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, ketika dimoderasi oleh pertumbuhan ekonomi, pengaruh jumlah uang beredar terhadap inflasi menjadi negatif dan signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat menekan dampak inflasi yang ditimbulkan oleh ekspansi moneter. Di sisi lain, suku bunga berpengaruh positif terhadap inflasi namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, yang mencerminkan keterbatasan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga dalam perekonomian Indonesia. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi sebagai faktor penyeimbang dalam hubungan antara kebijakan moneter dan inflasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam merumuskan kebijakan moneter yang tidak hanya fokus pada pengendalian inflasi, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran profitabilitas, ukuran perusahaan dan struktur modal dalam meningkatkan nilai perusahaan dengan inflasi sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor kesehatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2019-2023. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling yang diperoleh 18 perusahaan sehingga mendapatkan 90 observasi dalam penelitian ini, teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan PLS-SEM dengan aplikasi WarpPLS 8.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas dan ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan struktur modal tidak berpengaruh signifikan. Inflasi tidak memoderasi hubungan antara profitabilitas dan nilai perusahaan maupun hubungan ukuran perusahaan dengan nilai perusahaan, kemudian inflasi memoderasi hubungan struktur modal dan nilai perusahaan secara negatif dan signifikan. Implikasi teoritis penelitian ini mendukung penerapan teori sinyal, namun tidak mendukung teori trade-off dan teori hipotesis fisher dalam menjelaskan faktor yang memengaruhi nilai perusahaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris pengaruh jumlah uang beredar (M1), suku bunga (BI Rate), dan nilai tukar Rp/USD terhadap inflasi di Indonesia. Dalam penelitian ini menggunakan metode yang diperoleh dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik dan Satu Data Perdagangan Kementrian Republik Indonesia. Berdasarkan perhitungan regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS 26 maka hasil yang diperoleh menunjukkan secara parsial variabel Jumlah Uang Beredar (M1) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Inflasi di Indonesia, variabel Suku Bunga (BI Rate) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Inflasi di Indonesia, variabel Nilai Tukar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Inflasi di Indonesia. Sedangkan secara simultan variabel Jumlah Uang Beredar (M1), Suku Bunga (BI Rate) dan Nilai Tukar berpengaruh signifikan terhadap inflasi di Indonesia. Dengan nilai R-Square sebesar 0,655, artinya variabel Jumlah Uang Beredar (M1), Suku Bunga (BI Rate), dan Nilai Tukar mempengaruhi Inflasi di Indonesia sebesar 65,5% sedangkan sisanya yaitu 34,5% dipengaruhi oleh variabel lain diluar persamaan model ini.