ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis murid kelas VIII SMP Negeri 4 Tarakan pada materi Persamaan Garis Lurus. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain Nonequivalent (Pre-Test and Post-Test) Control Group Design, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diseleksi tanpa prosedur penempatan acak. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid kelas VIII SMP Negeri 4 Tarakan tahun ajaran 2025/2026. Sampel dipilih menggunakan teknik cluster sampling, yaitu kelas VIII-5 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-9 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran SSCS dengan tahapan Search (mengidentifikasi masalah), Solve (merencanakan penyelesaian masalah), Create (menuliskan pemecahan masalah), dan Share (mengomunikasikan penyelesaian masalah), sedangkan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis berbentuk soal uraian. Hasil uji prasyarat menunjukkan data berdistribusi tidak normal sehingga dilanjutkan dengan uji hipotesis statisik nonparametrik yaitu uji Mann-Whitney U pada taraf signifikansi 5%. Hasil uji kemampuan awal menunjukkan bahwa kedua kelas memiliki kemampuan awal yang relatif sama. Hasil uji hipotesis penelitian pada post-test menunjukkan adanya pengaruh model SSCS terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis murid, hal ini ditunjukkan dari hasil perhitungan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 ( 0,05). Selain itu, secara deskriptif nilai rata-rata hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis murid di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan murid di kelas kontrol. Dengan demikian, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis murid kelas VIII SMP Negeri 4 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa SMPN 14 Tarakan. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2026/2027 di SMPN 14 Tarakan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain Pretest – Posttest Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VIII SMPN 14 Tarakan. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII – 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII – 3 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes berupa soal uraian. Instrumen yang digunakan berupa soal pretest dan posttest sebanyak 5 soal uraian. Teknik analisis data digunakan adalah uji normalitas, uji homogenitas, uji t dengan teknik independent sample t – test, dan analisis N – Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata nilai posttest kelas eksperimen sebesar 78,63, sedangkan kelas kontrol sebesar 75,00. Hasil Independent sample t – test diperoleh t_{hitung} = 2,341 lebih besar daripada t_{tabel}=1,999, dengan nilai signifikansi sebesar 0,022 0,05, sehingga H_{0} ditolak dan H_{1} diterima. Rata – rata N – Gain kelas eksperimen sebesar 0,541 dan kelas kontrol sebesar 0,490 yang keduanya berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa SMPN 14 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan remaja generasi alfa di era digital menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah gizi dan perilaku. Status gizi secara teoritis dapat berperan dalam perkembangan fungsi kognitif dan regulasi emosi yang berpotensi memengaruhi perilaku remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan masalah perilaku pada remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan gizi normal di Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan komparatif analitik dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 2.209 remaja generasi alfa yang diperoleh menggunakan teknik total sampling berdasarkan data pemeriksaan kesehatan dari seluruh Puskesmas di Kota Tarakan. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan masalah perilaku diukur menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja generasi alfa memiliki status gizi kurang, yaitu sebesar 55,7%, dan mayoritas berada pada kategori perilaku normal sebesar 68,4%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,557 (>0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara masalah perilaku berdasarkan status gizi pada remaja generasi alfa di Kota Tarakan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa masalah perilaku tidak berbeda secara signifikan antara remaja generasi alfa yang berstatus gizi kurang dan normal. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif terhadap masalah perilaku remaja perlu memperhatikan faktor lain, seperti kondisi psikologis, pola asuh, lingkungan keluarga, teman sebaya, dan penggunaan media digital.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
DESKRIPSI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI UTAMA 1 TARAKAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada pembelajaran tematik kelas III SD Negeri Utama 1 Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kurang optimalnya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga diperlukan model pembelajaran yang mampu mendorong keaktifan, kerja sama, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah guru kelas III SD Negeri Utama 1 Tarakan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah telah dilaksanakan melalui lima indikator utama, yaitu (1) orientasi peserta didik pada masalah, guru menyampaikan permasalahan sesuai materi pembelajaran; (2) mengorganisasi peserta didik untuk belajar, guru membentuk kelompok belajar, memberikan penjelasan mengenai tugas, serta membimbing setiap anggota kelompok dalam menjalankan perannya; (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, guru memantau aktivitas peserta didik dan memberikan arahan ketika mengalami kesulitan; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru memfasilitasi peserta didik dalam menyusun dan mempresentasikan hasil yang diperoleh; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, guru melakukan evaluasi melalui diskusi, pemberian pertanyaan, refleksi, dan apresiasi terhadap hasil kerja peserta didik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada pembelajaran tematik telah terlaksana dengan baik. Meskipun demikian, masih terdapat aspek yang perlu ditingkatkan, yaitu pembentukan kelompok belajar yang mempertimbangkan keragaman kemampuan peserta didik agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Kata kunci: Implementasi, Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Tematik, Sekolah Dasar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kemampuan pemecahan masalah penting dimiliki pada setia orang terutama siswa, karena siswa akan menghadapi permasalahan yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah yang baik. Untuk itu kemampuan pemecahan masalah perlu dilatih dan dikembangkan kepada siswa agar mereka dapat memecahkan masalah dalam materi bangun datar berbentuk soal cerita di kelas V SDN 014 Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menganalisis kemampuan siswa dalam memahami masalah, merencanakan pemecahannya, menyelesaikan masalah sesuai rencana, serta memeriksa Kembali prosedur dan hasil penyelesaian. Penelitian ini memperoleh data dari hasil lembar jawaban tes siswa. Data dari hasil tes siswa telah dilakukan penskoran dan telah dikelompokkan berdasarkan Tingkat kemampuan siswa, yaitu kategori tinggi, kategori sedang, kategori rendah. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil melainkan juga menekankan kemampuan pemecahan masalah siswa. Pembelajaran perlu ditingkatkan dengan berbagai macam model matematika sehingga kemampuan siswa dalam pemecahan masalah lebih meningkat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi Fungsi Invers. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI Kesehatan-3 dan XI Humaniora-1 SMA Negeri 4 Tarakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning dan konvensional. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis yang diberikan pada pretest dan posttest. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene's Test, uji Independent Sample T-Test, dan analisis N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini ditunjukkan dari nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,012 0,05 sehingga 𝐻₀ ditolak. Rata-rata nilai posttest kelas eksperimen sebesar 64,77 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 50,00. Berdasarkan analisis N-Gain diperoleh rata-rata kelas eksperimen sebesar 0,494 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 0,323. Dengan demikian, disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning memberikan pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas XI SMA Negeri 4 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Self-Efficacy terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas XI SMK Negeri 1 Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang ditunjukkan dari hasil belajar yang masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), serta adanya faktor afektif berupa keyakinan diri (Self-Efficacy) yang diduga memengaruhi kemampuan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian ex post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMK Negeri 1 Tarakan, dengan sampel sebanyak 104 siswa yang diambil menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Instrumen yang digunakan berupa angket untuk mengukur Self-Efficacy dan tes uraian untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis berdasarkan tahapan Polya. Teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Self-Efficacy terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini dibuktikan dengan persamaan regresi, Y ̂=-12,399+0,444X yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan Self-Efficacy akan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis sebesar 0,444. Selain itu, nilai signifikansi pada uji t sebesar 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis alternatif diterima. Dengan demikian, semakin tinggi Self-Efficacy siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan pemecahan masalah matematis yang dimilikinya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Self-Efficacy memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperhatikan dan meningkatkan aspek afektif siswa, khususnya Self-Efficacy, dalam proses pembelajaran matematika.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengerjakan soal dapat dikatakan bahwa sebagai suatu kelalaian di lakukan oleh siswa yang terjadi disebabkan oleh belum memahami materi, serta tidak menjawab soal yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan siswa sekolah dasar dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan teori Polya. Jenis penelitian yang digunakan ialah kualitatif deskriptif. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar tes soal operasi hitung penjumlahan dan pengurangan dan lembar pedoman wawancara. Subjek terdiri dari 4 siswa yang dipilih berdasarkan gender 2 laki-laki dan 2 perempuan untuk melihat perbedaan kesalahan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam menyelesaikan soal cerita dan dipilih berdasarkan hasil jawaban siswa dengan kriteria memiliki dua kesalahan atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh L1 dan L2 berada pada tahapan yang sama yaitu pada tahapan memahami masalah, tahapan melaksanakan rencana penyelesaian dan menarik kesimpulan. Sedangkan kesalahan yang dilakukan P1 dan P2 yaitu melakukan kesalahan pada tahapan melaksanakan rencana penyelesaian dan menarik kesimpulan. Terdapat perbedaan kesalahan pada gender, dimana subjek laki-laki melakukan tiga kesalahan sementara subjek perempuan melakukan dua kesalahan. Perbedaan ini terletak pada tahap memahami masalah, yang mana subjek perempuan tidak mengalami kendala.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa menyelesaikan masalah berbentuk soal cerita geometri menggunakan tahapan analisis newman. Tahapan Newman terdiri atas lima langkah, yaitu membaca (Reading), memahami (comperehension), transformasi (transformation), keterampilan proses (process skills), dan penulisan jawaban akhir (encoding). Jenis penelitian yang digunakan ialah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa tes dan wawancara. Subjek penelitian terdiri dari 4 siswa yang dipilih secara acak dari seluruh siswa di kelas VI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa S1 dan S2 mampu menyelesaikan tahap membaca masalah, memahami masalah dan mentransformasi masalah dengan benar namum masih mengalami kesalahan pada tahap keterampilan proses hingga berdampak pada jawaban akhir yang ditulisnya. Sedangkan S3 dan S4 belum mampu menyelesaikan soal dengan benar karena mengalami kesalahan sejak tahap memahami soal sehingga berdampak pada tahapan selanjutnya seperti transformasi, keterampilan proses hingga penulisan jawaban akhir. Kondisi tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan siswa dalam membaca dan memahami masalah, hal ini memberikan dampak kesalahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan High Order Thinking Skill (HOTS) menjadi penting dalam pembelajaran abad 21 karena melibatkan proses berpikir tingkat tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, yang esensial dalam pemecahan masalah kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan High Order Thinking Skill (HOTS) siswa dalam menyelesaikan soal berbasis open ended matematika pada siswa kelas V Sekolah Dasar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dan subjek penelitian dipilih berdasarkan kategori kemampuan tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan hasil tes HOTS. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes tertulis dan wawancara semi-terstruktur untuk menggali kemampuan berpikir siswa secara lebih mendalam. Instrumen penelitian terdiri dari tiga soal matematika berbasis open ended yang dirancang berdasarkan indikator HOTS dalam Taksonomi Bloom revisi, yaitu C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mencipta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kategori tinggi mampu menunjukkan ketiga indikator HOTS secara konsisten, baik dalam menjelaskan informasi, menyusun strategi pemecahan masalah, maupun menyimpulkan jawaban. Siswa kategori sedang mampu menganalisis dan mengevaluasi, namun mengalami kesulitan pada aspek mencipta secara tertulis. Sementara itu, siswa dengan kategori rendah hanya menunjukkan indikator menganalisis dan mengevaluasi pada satu soal sementara indikator mencipta tidak dapat terpenuhi. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan pembelajaran berbasis open ended yang mampu menstimulasi kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan mahasiswa PGSD dalam menyelesaikan soal numerasi ditinjau dari aspek self-efficacy. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek tiga mahasiswa yang dikategorikan berdasarkan tingkat self-efficacy: rendah, sedang, dan tinggi. Data dikumpulkan melalui angket, tes numerasi, dan wawancara, serta dianalisis menggunakan tahapan Newman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy rendah melakukan kesalahan pada tahap membaca. Mahasiswa dengan self-efficacy sedang dan tinggi menunjukkan kesalahan dalam memahami soal, yang mengakibatkan muncul kesalahan pada transformasion, Prosess skill dan Encoding. Penelitian ini menegaskan pentingnya mengetahui kesalahan dalam menyelesaikan soal numerasi untuk meningkatkan kemampuan berhitung mahasiswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan metakognisi siswa dalam menyelesaikan soal cerita Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Partisipan penelitian terdiri dari empat siswa sekolah menengah pertama yang dipilih berdasarkan kinerja akademik yaitu dua siswa hasil belajar tinggi dan dua siswa hasil belajar rendah. Metode menggunakan pendekatan fenomenologi, dengan teknik pengumpulan data berupa analisis dokumen lembar jawaban siswa dan wawancara semi-terstruktur. Analisis data dilakukan melalui proses pengkodean sehingga diperoleh tema untuk mengidentifikasi indikator keterampilan metakognisi, yaitu perencanaan, pemantauan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa hasil belajar tinggi cenderung memiliki strategi yang lebih terstruktur, mampu memahami informasi dalam soal dengan baik, serta dapat memantau dan mengevaluasi proses penyelesaian secara sistematis. Sebaliknya, siswa hasil belajar rendah menunjukkan kesulitan dalam memahami soal, merencanakan penyelesaian, dan mengevaluasi hasil kerjanya. Penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan keterampilan metakognisi dalam pembelajaran matematika, khususnya dalam menyelesaian masalah kontekstual seperti soal cerita SPLDV. Berdasarkan temuan ini, perencanaan merupakan indikator metakognisi yang paling dominan, indikator pemantauan muncul dengan intensitas sedang, dan indikator evaluasi menjadi indikator yang paling lemah dalam proses penyelesaian soal SPLDV, khususnya pada siswa dengan hasil belajar rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan matematika yang tidak hanya berorientasi pada jawaban akhir, tetapi juga menekankan proses berpikir siswa. Hal ini dapat diwujudkan melalui pembelajaran berbasis pemecahan masalah, pelatihan refleksi, serta pengembangan bahan ajar yang mendorong siswa untuk aktif memantau dan mengevaluasi pemikirannya sendiri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang penting dimiliki oleh siswa karena menjadi dasar dalam melatih kebiasaan berpikir kritis dan berpikir sistematis saat menghadapi berbagai permasalahan, baik dalam konteks matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis di SMP Negeri 14 Tarakan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara tes berupa soal essay. Instrumen penelitian yang digunakan adalah soal pretest dan posttest sebanyak 3 soal essay, dengan masing-masing soal memuat 4 indikator kemampuan pemecahan masalah. Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan desain non-equivalent control group dengan populasi seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 14 Tarakan yaitu sebanyak 128 orang. Melalui teknik kluster sampling diperoleh kelas VII-2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-1 sebagai kelas kontrol, dengan masing-masing kelas terdiri dari 32 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil pretest, sebagian besar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berada dalam kategori sedang, masing-masing sebanyak 14 siswa (46,6%) dan 13 siswa (44,8%). Setelah diberi perlakuan sebagian besar siswa yang mengikuti posttest berada dalam kategori tinggi dan sangat tinggi, yaitu 15 siswa (50%) di kelas eksperimen dan 13 siswa (44,8%) di kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji t diperoleh bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran STAD terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kecemasan matematika terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII MTs Hurrasul Aqidah Kota Tarakan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode survei. Populasi yang digunakan yaitu siswa kelas VIII MTs Hurrasul Aqidah Kota Tarakan dengan teknik pengambilan sampel yaitu sampel jenuh atau seluruh anggota populasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif yang meliputi uji normalitas dan uji linieritas dan analisis statistik inferensial yang meliputi analisis regresi linier sederhana. Hasil analisis data diperoleh bahwa Y ̂=30,496-0,634X, artinya setiap kenaikan satu nilai kecemasan matematika maka akan menyebabkan penurunan kemampuan pemecahan masalah matematika sebesar 0,634. Sehingga, semakin besar nilai tingkat kecemasan matematika maka semakin kecil nilai tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswanya, begitupun sebaliknya. Hal ini menunjukkan pengaruh yang negatif atau pengaruh yang berbanding terbalik. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara kecemasan matematika dengan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII MTs Hurrasul Aqidah Kota Tarakan. Besaran persentase pengaruhnya adalah sebesar 34%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel penelitian ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu aspek utama dalam pembelajaran matematika yang diperlukan oleh peserta didik. Gaya kognitif dibagi menjadi dua yaitu gaya kognitif field independent (FI) dan field dependent (FD). penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV MI Daud Kholifatullah berdasarkan gaya kognitif Field Independent (FI) dan Field Dependent (FD). Jenis penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa Tes Group Embedded Figure Test (GEFT), tes kemampuan pemecahan masalah dan wawancara. Subjek penelitian terdiri dari 4 siswa berdasarkan hasil tes gaya kognitif, yaitu 2 siswa dengan gaya kognitif field independent, dan 2 siswa dengan gaya kognitif field dependent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara subjek dengan gaya kognitif FI dan subjek dengan gaya kognitif FD. Subjek dengan gaya kognitif FI disetiap soal mampu memenuhi indikator kemampuan pemecahan masalah menurut Polya dengan baik yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, namun ada satu indikator yang belum terpenuhi oleh subjek yaitu indikator memeriksa kembali. Subjek dengan gaya kognitif FD disetiap soal belum mampu memenuhi indikator kemampuan pemecahan masalah menurut Polya subjek FD belum mampu memahami masalah pada soal, belum mampu merencanakan penyelesaian, belum mampu melaksanakan rencana penyelesaian dan tidak mampu memeriksa kembali hasil perhitungan atau hasil akhir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesulitan dalam penyelesaian masalah matematika khususnya dalam materi operasi hitung perkalian dan pembagian pecahan menimbulkan berbagai persepsi jawaban yang diberikan oleh siswa, baik jawaban benar maupun jawaban yang kurang tepat. Dari kenyataan tersebut diketahui bahwa siswa memiliki kemampuan fleksibilitas kognitif yang berbeda dalam menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi penyelesaian masalah pecahan pada siswa kelas V SD ditinjau berdasarkan fleksibilitas kognitif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling dalam menentukan subjek. Adapun instrumen penelitian yang digunakan ialah tes penyelesaian masalah yang berupa esai dan pedoman wawancara, kemudian semua instrumen divalidasi terlebih dahulu oleh validator sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian. Hasil yang didapatkan dari penelitian ialah bahwa subjek mampu menyelesaikan masalah operasi hitung perkalian dan pembagian pecahan dengan menggunakan beberapa alternatif jawaban menggunakan berbagai strategi atau teknik penyelesaian yang menghasilkan jawaban sama dan benar di setiap prosesnya. Tahapan penyelesaian masalah yang digunakan adalah tahapan penyelesaian dari Polya dengan 4 tahapan yaitu: Memahami masalah, Menyusun rencana, Melaksanakan rencana, dan Melihat kembali. Proses kognitif yang terlibat meliputi kemampuan dalam memvisualisasikan soal ke dalam bentuk gambar, melakukan trial-and-error (tebak dan periksa), dan menggunakan masalah matematis. Kemudian, didapati juga bahwa fleksibilitas kognitif ditemukan dalam proses atau tahapan penyelesaian masalah menurut Polya yang memunculkan adanya 3 tahapan, yaitu: (1) Memahami masalah, (2) Menyusun rencana, dan (3) Melaksanakan rencana.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Literasi sains merupakan kemampuan dasar yang dimiliki individu dengan melibatkan pemikiran yang kritis, logis serta sistematis. Jika siswa memiliki literasi sains yang baik maka akan mempengaruhi keterampilannya dalam pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan literasi sains terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif dengan mengukur korelasi atau hubungan antar dua variabel yaitu literasi sains (X) dan keterampilan pemecahan masalah (Y). Teknik sampling pada penelitian ini adalah purposive sampling dimana dari kelima kelas VIII yang diambil hanya 1 kelas saja sebanyak 32 siswa. Instrumen yang digunakan yaitu tes sebanyak 12 soal untuk mengetahui bagaimana perkembangan literasi sains dan pemecahan masalah siswa. Analisis data yang digunakan yaitu analisis korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan software SPSS untuk mempermudah dalam perhitungan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara literasi sains dengan keterampilan pemecahan masalah dalam pembelajaran IPA dengan nilai korelasi sebesar 0,79 yang artinya tingkat kekuatan korelasi antar kedua variabel tergolong dalam kategori Kuat dan hubungan yang positif. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa literasi sains dan keterampilan pemecahan masalah memiliki hubungan atau korelasi yang kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pentingnya peran matematika dalam kehidupan sebagai ilmu dan pengembangan daya pikir manusia. Seluruh masyarakat perlu untuk memahami dan menguasai matematika. Terlebih pada bagi guru atau calon guru sekolah dasar yang akan menanamkan konsep matematika dasar pada para peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan problematika mahasiswa PGSD dalam menyelesaikan masalah matematika sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian mahasiswa PGSD Universitas Borneo Tarakan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa mahasiswa yang berada pada kriteria kemampuan rendah sebanyak 93,55 %. Dalam penelitian ini dipilih 3 subjek penelitian yang diambil dari kriteria rendah dan mahasiswa yang mengerjakan soal terbanyak namun mengalami kesalahan. Melalui lembar kerja mahasiswa dan wawancara subjek penelitian didapatkan semua aspek kesalahan muncul namun secara keseluruhan problematika dalam menyelesaikan masalah muncul secara dominan pada 3 aspek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga problematika utama yang dihadapi oleh mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika sekolah dasar. Pertama, mahasiswa mengalami kesulitan pada aspek bahasa dalam memahami soal cerita. Kedua, mahasiswa kurang menguasai materi matematika sekolah dasar. Ketiga, mengalami kesalahan pada aspek tanggapan. Terjadinya kekeliruan dalam menentukan rumus yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang diberikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi exsperiment design dengan desain penelitian Posttest-Only Control Group design. Variabel bebas penelitian ini adalah metode Tutor Sebaya dan variabel terikat penelitian ini adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan kelas IX C sebagai kelas kontrol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran tutor sebaya dengan pemecahan masalah matematika siswa kelas IX MTs Negeri Tarakan. Teknik pengumpulan data penelitian ini melalui tes tertulis dan dokumentasi. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan inferensial untuk menganalisis data akhir dengan menggunakan bantuan software SPSS 24.0 for windows. Hasil dari analisis deskripstif diperoleh bahwa rata-rata nilai posttest pada kelas eksperimen sebesar 68,93 sedangkan kelas kontrol sebesar 53,57 dan menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol. Adapun dari hasil uji independent samples t-test dengan taraf signitifikan 5% (𝛼 = 0,05) diperoleh p-value sebesar 0,000 dan 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 yaitu 8,235 > 2,056. Dengan demikian 𝐻0 ditolak dan 𝐻1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model Tutor Sebaya berpengaruh terhadap kemampuan pemencahan masalah matemtika
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model Guided-Discovery Learning (GDL) berpengaruh terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis (KPMM) Siswa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain penelitian non-equivalent control group pretest-postest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII MIPA SMA Negeri 3 Tarakan. Pengambilan sampel dilakukan dengan random-intact group. Sampel dalam penelitian ini adalah XII MIPA I sebagai kelas eksperimen dan XII MIPA 2 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dengan menggunakan tes tertulis dalam bentuk uraian terstruktur. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif meliputi rata-rata (mean), nilai per indikator, dan standar deviasi. Analisis inferensial meliputi uji normalitas, homogenitas, dan uji hipotesis yang menggunakan metode statistik nonparametrik yaitu uji Mann Whitney dikarenakan data yang tidak berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji hipotesis untuk melihat ada tidaknya pengaruh perlakuan dalam hal ini model GDL terhadap KPMM siswa adalah dengan hasil uji perbedaan N-Gain score antara kelas ekperimen dan kelas kontrol, dimana nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0,000 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat perbedaan yang signifikan pada N-gain skor KPMM antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model GDL dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model konvensional. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model Guided-Discovery Learning berpengaruh terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa.