Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

4 hasil
Penulis: RAHMA SARI
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

PENGARUH TEKANAN SOSIAL PADA PERUBAHAN PERILAKU TOKOH UTAMA DALAM FILM "BUDI PEKERTI" KARYA WREGAS BHANUTEJA (KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA)

2026•

This study aimed to identify social pressure on the behavioral changes of the main character in the film "Budi Pekerti" by Wregas Bhanuteja using a literary psychology analysis. This study employed a qualitative descriptive method. The data source for this study was the film "Budi Pekerti," released in 2023. The data in this study consisted of dialogues, monologues, and scene excerpts that illustrate social pressure and behavioral changes in the film based on literary psychology theory. The results of this study revealed two forms of social pressure and three forms of behavioral change: pressure to conform and the resulting behavioral change, and pressure to conform to norms and the resulting behavioral change. Conformity pressure was the most dominant aspect because the main character experienced more pressure from his immediate environment such as family, friends, and other groups than from the institution where he worked.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH TEKANAN SOSIAL PADA PERUBAHAN PERILAKU TOKOH UTAMA DALAM FILM "BUDI PEKERTI" KARYA WREGAS BHANUTEJA (KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

This study aimed to identify social pressure on the behavioral changes of the main character in the film "Budi Pekerti" by Wregas Bhanuteja using a literary psychology analysis. This study employed a qualitative descriptive method. The data source for this study was the film "Budi Pekerti," released in 2023. The data in this study consisted of dialogues, monologues, and scene excerpts that illustrate social pressure and behavioral changes in the film based on literary psychology theory. The results of this study revealed two forms of social pressure and three forms of behavioral change: pressure to conform and the resulting behavioral change, and pressure to conform to norms and the resulting behavioral change. Conformity pressure was the most dominant aspect because the main character experienced more pressure from his immediate environment such as family, friends, and other groups than from the institution where he worked.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK BERPIKIR REFLEKTIF DALAM MENYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI

2023•Koleksi Perpustakaan

Menyelesaikan persoalan matematika memerlukan proses berpikir, baik dalam menganalisis soal hingga menemukan konsep dari penyelesaian masalah tersebut. Salah satu meteri yang tergolong sulit yaitu materi geometri, hal ini karena penyelesaian masalah geometri tidak hanya membutuhkan hafalan rumus melainkan membutuhkan pemahaman konsep. Kemampuan berpikir reflektif dibutuhkan dalam matematika sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dengan menggunakan konsep yang telah dipelajari sebelumnya untuk mengatasi berbagai kebingungan dalam menyelesaikan masalah matematika. Materi Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan karakteristik berpikir reflektif mahasiswa PGSD Universitas Borneo Tarakan dalam menyelesaikan masalah geometri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data terdiri atas lembar tes, transkip thinkaloud, dan wawancara mendalam. Triangulasi data yang digunakan yaitu triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa memenuhi indikator aspek berpikir reflektif pada aspek techniques, monitoring, insight, dan conceptualization pada saat menyelesaikan masalah geometri. Terdapat empat karakteristik berpikir reflektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah geometri (1) mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, dan menemukan solusi. (2) mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, lalu mengalami kondisi kebingungan lagi, kemudian ditindaklanjuti, kemudian mengalami kebingungan lagi, lalu ditindaklanjuti kembali, dan menemukan solusi. (3) subjek mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, lalu menyadari kesalahan, lalu ditindaklanjuti kembali, kemudian menemukan solusi. (4) subjek mengalami kebingungan, lalu ditindaklanjuti, kemudian menyadari kesalahan, lalu ditindaklanjuti kembali, lalu menyadari kesalahan lagi, kemudian ditindaklanjuti kembali yang akhirnya menemukan solusi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK BERPIKIR REFLEKTIF MAHASISWA DALAM MENEYELESAIKAN MASALAH GEOMETRI

2023•

Menyelesaikan persoalan matematika memerlukan proses berpikir, baik dalam menganalisis soal hingga menemukan konsep dari penyelesaian masalah tersebut. Salah satu meteri yang tergolong sulit yaitu materi geometri, hal ini karena penyelesaian masalah geometri tidak hanya membutuhkan hafalan rumus melainkan membutuhkan pemahaman konsep. Kemampuan berpikir reflektif dibutuhkan dalam matematika sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dengan menggunakan konsep yang telah dipelajari sebelumnya untuk mengatasi berbagai kebingungan dalam menyelesaikan masalah matematika. Materi Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan karakteristik berpikir reflektif mahasiswa PGSD Universitas Borneo Tarakan dalam menyelesaikan masalah geometri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data terdiri atas lembar tes, transkip thinkaloud, dan wawancara mendalam. Triangulasi data yang digunakan yaitu triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa memenuhi indikator aspek berpikir reflektif pada aspek techniques, monitoring, insight, dan conceptualization pada saat menyelesaikan masalah geometri. Terdapat empat karakteristik berpikir reflektif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah geometri (1) mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, dan menemukan solusi. (2) mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, lalu mengalami kondisi kebingungan lagi, kemudian ditindaklanjuti, kemudian mengalami kebingungan lagi, lalu ditindaklanjuti kembali, dan menemukan solusi. (3) subjek mengalami kebingungan, kemudian ditindaklanjuti, lalu menyadari kesalahan, lalu ditindaklanjuti kembali, kemudian menemukan solusi. (4) subjek mengalami kebingungan, lalu ditindaklanjuti, kemudian menyadari kesalahan, lalu ditindaklanjuti kembali, lalu menyadari kesalahan lagi, kemudian ditindaklanjuti kembali yang akhirnya menemukan solusi.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail