ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kemampuan pemecahan masalah penting dimiliki pada setia orang terutama siswa, karena siswa akan menghadapi permasalahan yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah yang baik. Untuk itu kemampuan pemecahan masalah perlu dilatih dan dikembangkan kepada siswa agar mereka dapat memecahkan masalah dalam materi bangun datar berbentuk soal cerita di kelas V SDN 014 Tarakan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menganalisis kemampuan siswa dalam memahami masalah, merencanakan pemecahannya, menyelesaikan masalah sesuai rencana, serta memeriksa Kembali prosedur dan hasil penyelesaian. Penelitian ini memperoleh data dari hasil lembar jawaban tes siswa. Data dari hasil tes siswa telah dilakukan penskoran dan telah dikelompokkan berdasarkan Tingkat kemampuan siswa, yaitu kategori tinggi, kategori sedang, kategori rendah. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil melainkan juga menekankan kemampuan pemecahan masalah siswa. Pembelajaran perlu ditingkatkan dengan berbagai macam model matematika sehingga kemampuan siswa dalam pemecahan masalah lebih meningkat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Marsi Rianti. 2026. Kemampuan Menulis Teks Deskrispi Menggunakan Media Audiovisual Pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 3 Tanjung Palas. Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Borneo Tarakan. (dibimbing oleh Dr. Dwi Cahyono Aji, S.S., M.A. dan Muhammad Ilham, S.S., M.Pd). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan menulis teks deskripsi menggunakan media audiovisual Si Bolang pada siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Tanjung Palas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2025 di SMP Negeri 3 Tanjung Palas. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan data hasil penelitian diperoleh dari tes kemampuan menulis siswa. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audiovisual Si Bolang untuk mengetahui kemampuan menulis teks deskripsi siswa dilihat dari nilai rata- rata kelas yaitu 63 yang menunjukkan bahwa siswa kelas VII B masih tergolong cukup. Lalu untuk persentasi pencapaian pada indikator pertama yaitu judul yang mencapai 70.58% dengan bobot B (66-79), indikator kedua yaitu kreativitas pengembangan tulisan dengan persentase 48.23% dan bobot D (40-55), indikator ketiga yaitu kelengkapan informasi dengan persentase 55.29% dan bobot D (40- 55), indikator keempat yaitu pemilihan kata dengan persentase 56.47% dan bobot C (56-65), dan indikator kelima yaitu penggunaan EYD dengan persentase 22.35% dan bobot di bawah E (30-39). Adapun hasil ketuntasan siswa diperoleh dengan persentase 52,94%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kemampuan siswa dalam pembelajaran geometri sangat penting untuk dikembangkan, karena kemampuan geometri siswa dapat menyelesaikan suatu permasalahan baik dalam pembelajaran matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan geometri sangat penting dalam meningkatkan gaya berpikir siswa. Teori Van Hiele menyatakan siswa akan melalui 5 tahapan berpikir jika siswa mempu memiliki kemampuan berpikir geometri. Adapun perkembangan berpikir geometri siswa dalam pembelajaran matematika yaitu pada tahap Visualisasi, Tahap Analisis, tahap Abstraksi, tahap Dedukasi, dan Tahap Rigor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan geometri siswa pada kelas V SDN 032 Tarakan berdasarkan teori Van Hiele. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif. Data yang dikumpulkan yaitu melalui soal tes Van Hiele Geometri Tes (VHGT), dari 23 siswa, wawancara dan dokumentasi. Dapat diketahui bahwa terdapat 3 siswa yang masuk pada tahap visualisasi dari 23 siswa, dan terdapat 4 siswa yang dikatagorikan notif (tidak dapat ditentukan level berpikirnya berdasarkan teori van hiele). Sedangkan 16 siswa dikatagorikan belum masuk dalam tahapan berpikir berdasarkan teori van hiele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek A1, A2, dan A3 yang masuk dalam tahapan berpikir van hiele pada tahap visualisasi, memiliki kemampuan geometri dalam memahami suatu bangun datar berdasarkan bentuk yang terlihat secara visual, dimana ketiga subjek dapat membedakan mana segitiga, persegi, persegi panjang, dan mana yang merupakan jajargenjang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu aspek utama dalam pembelajaran matematika yang diperlukan oleh peserta didik. Gaya kognitif dibagi menjadi dua yaitu gaya kognitif field independent (FI) dan field dependent (FD). penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV MI Daud Kholifatullah berdasarkan gaya kognitif Field Independent (FI) dan Field Dependent (FD). Jenis penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa Tes Group Embedded Figure Test (GEFT), tes kemampuan pemecahan masalah dan wawancara. Subjek penelitian terdiri dari 4 siswa berdasarkan hasil tes gaya kognitif, yaitu 2 siswa dengan gaya kognitif field independent, dan 2 siswa dengan gaya kognitif field dependent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara subjek dengan gaya kognitif FI dan subjek dengan gaya kognitif FD. Subjek dengan gaya kognitif FI disetiap soal mampu memenuhi indikator kemampuan pemecahan masalah menurut Polya dengan baik yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, namun ada satu indikator yang belum terpenuhi oleh subjek yaitu indikator memeriksa kembali. Subjek dengan gaya kognitif FD disetiap soal belum mampu memenuhi indikator kemampuan pemecahan masalah menurut Polya subjek FD belum mampu memahami masalah pada soal, belum mampu merencanakan penyelesaian, belum mampu melaksanakan rencana penyelesaian dan tidak mampu memeriksa kembali hasil perhitungan atau hasil akhir.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA MELALUI METODE LITERASI TERBIMBING DI KELAS III-B SDN 005 TARAKAN Abstrak Kemampuan membaca menjadi kunci utama keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Ketidakmampuan dalam membaca dapat memberikan implikasi serius pada siswa dalam kemampuan membaca pemahaman. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) khususnya mengenai kemampuan membaca pemahaman siswa dalam membaca teks bacaan informatif dan teks bacaan fiksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Bab II Kawan Seiring. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu, perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi/evaluasi, dan tahap refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III-B SDN 005 Tarakan dengan jumlah siswa sebanyak 27 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode literasi terbimbing dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, dari hasil belajar siswa secara klasikal diketahui rata-rata nilai dasar yang hanya mencapai 25,9%, meningkat dalam siklus I menjadi 68,15%, dan pada siklus II meningkat menjadi 95,35%. Dari hasil belajar yang dicapai siswa pada siklus II penilaian secara individu telah mencapai ketuntasan terhadap penguasaan yang didapatkan. Kata Kunci : Kemampuan Membaca, Membaca Pemahaman, Hasil Belajar Siswa. Mengetahui, Suyadi, S.S., M.Ed., Ph.D
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan kemampuan numerasi dasar siswa Kelas II di MI Daud Kholifatulloh. Jenis Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian ini difokuskan pada kemampuan numerasi dasar siswa kelas II di MI Daud Kholifatulloh. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan numerasi yang dikonfirmasi melalui wawancara. sebanyak 13 orang siswa menjadi partisipan dalam penelitian dan mengerjakan soal tes kemampuan numerasi dasar siswa yang kemudian dikelompokan berdasarkan level. Ada 5 level kemampuan numerasi dasar yaitu Level pemula, Level 1, Level 2, Level 3, dan Level 4. Setiap soal numerasi masing-masing mewakili indikator dan level kemampuan numerasi. Peneliti menentukan 2 orang siswa yang dijadikan subjek penelitian yaitu subjek pada level 1 dan level 2. karena Siswa pada level tersebut mampu mengerjakan soal sesuai tingkat kesulitan level dengan baik. Hasil Penelitian menunjukkan deskripsi dari kemampuan numerasi dasar kelas II di MI Daud Kholifatulloh pada level 2 yaitu siswa sudah dapat menentukan pengurangan bilangan cacah. namun siswa tidak dapat menyelesaikan soal numerasi dasar pada level 3 dengan indikator menentukan bilangan ganjil. oleh karena itu siswa ditetapkan masuk pada level 2. Pada penelitian ini peneliti menemukan temuan baru berdasarkan hasil tes siswa kelas II. Berdasarkan indikator yang ada di dalam penelitian, peneliti menemukan data bahwa siswa kelas II, lebih banyak memahami soal numerasi penjumlahan dibandingkan soal mengurutkan bilangan. Dalam hal ini tentu menjadi temuan baru yang dapat diteliti dan didalami lebih lanjut mengapa siswa kebanyakan bisa mengerjakan soal level 4 namun siwa tidak dapatmengerjakan soal pada level pemula, level 1 level 2, level 3 atau dibawah dari level 4.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi Kemampuan Socio-Scientific Reasoning (SSR) Terkait Isu Sains pada Mata Pelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Nunukan menggunakan instrumen Quantitative Assessment of Socio-Scientific Reasoning (QuASSR). Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif. Subjek penelitian ini siswa SMA Negeri 1 Nunukan yaitu kelas XI MIA. Penentuan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling. Data diperoleh berdasarkan hasil tes QuASSR dalam bentuk soal yang terdiri atas skenario isu sosiosaintific dan soal bertingkat 2 (dua) sebanyak 7 (tujuh) soal. Untuk tingkat pertama yaitu soal dengan pilihan jawaban Ya / Tidak sedangkan tingkat kedua yaitu respon terbuka yang memunculkan alasan pada jawaban tingkat pertama, yang terbagi kedalam lima dimensi SSR. Dimensi Tersebut meliputi kompleksitas, penyelidikan, pengambilan perspektif, skeptisisme dan keterjangkauan dan keterbatasan sains. Rata-rata perolehan skor pada masing-masing isu, pada Isu Global yaitu 9,2 dan pada Isu Global yaitu 1,5, dengan frekuensi tingkat penalaran siswa dari level 0-4 untuk setiap dimensi nya, tingkat penalaran siswa secara umum berada ditingkat penalaran level 0 dan 1, sedangkan pada tingkat penalaran level 2 hanya diperoleh oleh beberapa siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Membaca pemahaman ini suatu yang sangat penting dalam proses pembelajaran, dengan membaca pemahaman ini kita dapat memahami isi teks atau bacaan yang kita baca sehingga kita dapat mengetahui alur bacaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman pasa siswa kelas V-A SD Negeri 005 Tarakan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V-A SD Negeri 005 Tarakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa tes kemampuan membaca pemahaman, wawancara dan dokumentasi. Sebanyak 24 siswa kelas V-A menjadi partisipan dalam penelitian dan mengikuti tes yang diberikan. Setelah itu peneliti memilih 6 siswa yang akan dikelompokkan menjadi 3 pengelompokkan yang berdasarkan hasil tertinggi, sedang dan rendah yang di pilih secara random. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang belum mampu dalam membaca pemahaman dengan baik. berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan kepada siswa, terdapat indikator soal yang dimana siswa masih kurang dalam memahaminya seperti pemahaman pada suatu teks bacaan yang telah dibaca, menentukan tokoh dan watak tokoh yang terdapat pada teks bacaan dan menentukan suatu amanat atau pesan yang terkadung dalam suatu teks bacaan. Kata kunci : kemampuan membaca pemahaman, Bahasa Indonesia, siswa
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pengetahuan, kemampuan dan pengalaman kerja terhadap kinerja pegawai kantor SKPT Sebatik di wilayah perbatasan Kab.Nunukan. Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan mengguanakan metode survey. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai kantor SKPT Sebatik di wilayah perbatasan Kab.Nunukan . Sampel dalam penelitian ini sebanyak 75 pegawai responden dengan sampling jenuh seluruh anggota pegawai dipilih menjadi sampel dalam penelitian ini. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis menggunakan model linier regresi berganda dengan uji t dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian membuktikan bahwa pengetahuan berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai, kemampuan berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai dan pengalaman kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai kantor SKPT Sebatik. Kata Kunci : Kemampuan, Pengetahuan, Pengalaman kerja, Kinerja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu kemampuan yang digunakan dan perlu dikembangkan dalam mempelajari materi geometri adalah kemampuan spasial. Kondisi siswa yang cenderung mengalami kesulitan dalam memahami dan menyelesaikan soal geometri bangun ruang dengan bentuk yang berbeda-beda disebabkan saat proses pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah tanpa menghadirkan wujud dari materi bangun ruang yang sedang dibahas sehingga siswa terbiasa menyelesaikan masalah bangun ruang berdasarkan contoh yang sudah diberikan oleh guru.. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan spasial siswa kelas V SDN 049 Tarakan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui tes soal kemampuan spasial, wawancara, dan dokumentasi. Sebanyak 26 siswa kelas V-B mengisi lembar tes kemampuan spasial kemudian dikelompokkan berdasarkan kategori kemampuan matematika. Sebanyak 6 orang dipilih secara acak sebagai subjek dalam penelitian ini untuk mewakili kategori kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan ketegori kemampuan tinggi memenuhi 3 indikator kemampuan spasial, yaitu kemampuan persepsi, kemampuan visualisasi, dan kemampuan rotasi. Siswa dengan kategori kemampuan sedang hanya mampu memenuhi 1-2 indikator kemampuan spasial yaitu kemampuan persepsi dan kemampuan visualisasi. Siswa dengan kategori kemampuan rendah belum mempu memenuhi semua indikator kemampuan spasial yang digunakan dalam penelitian ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
The purpose of this study was to determine the students’ skill and errors made by English Education students in translating grammatical equivalence. Grammatical equivalence is categorized into five categories; (1) gender, (2) person, (3) tense, (4) number, and (5) voice. There translation errors here include omissions, additions, formation error, and order error. This research implied mix-methods research. The sample in this research was 49 students, Department of English Education, University of Borneo Tarakan in the 2020/2021 Academic Year. The instruments used are translation tests and interviews. The results showed that the grammatical equivalence used in the student translation is as follows: the numbers (182 and 69%), gender (6 and 87%), person (81and 97%), tense (73 and 90%), and voice (25 and 97%). Seen from the quality, 25 students produce an Excellent translation, and the rest translates a good level translation. Based on the calculation, the percentage of students’ translation quality is 78%. Thus, it can be concluded that the students translate a good grammatical equivalence. Four types of errors are identified; they are omissions errors (263 or 55%), formation errors (98 or 20%) misformation, addition (72 or 15%), and order errors (56 or 11%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan dan kesalahan penerjemahan yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dalam menerjemahkan kesetaraan gramatikal. Kesetaraan gramatikal dikategorikan menjadi lima kategori; (1) jenis kelamin, (2) orang, (3) masa, (4) nomor, dan (5) suara. Terdapat juga teori kesalahan terjemahan yang terbagi menjadi empat kelompok; penghilangan, penambahan, kesalahan formasi, dan kesalahan susunan. Penelitian ini merupakan penelitian metode kombinasi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 49 mahasiswa semester VI Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Borneo Tarakan Tahun Ajaran 2020/2021. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah tes terjemahan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan kesetaraan gramatikal yang digunakan dalam tes terjemahan mahasiswa dengan masing-masing persentase jenis kesetaraan gramatikal adalah sebagai berikut: 142 (71%) untuk angka, 6 (88%) untuk jenis kelamin, 51 (89%) untuk orang, 73 (90%) untuk masa, dan terakhir 24 (97%) untuk suara. Hasil kualitas terjemahan siswa, terdapat 25 siswa yang kualitas terjemahannya sangat baik, dan 24 siswa memperoleh tingkat yang baik. Berdasarkan perhitungan diperoleh persentase kualitas terjemahan siswa sebesar 78%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa secara umum kualitas terjemahan dalam menerjemahkan kesepadanan gramatikal adalah Baik. Terdapat empat jenis kesalahan yang ditemukan, yaitu 263 (55%) kesalahan penghilangan, diikuti oleh 98 (20%) kesalahan formasi, 72 (15%) kesalahan penambahan dan yang terakhir adalah 56 (11%) kesalahan urutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan kemampuan numerik matemtika pada siswa kelas IV di SDN 035 Tarakan. Jenis Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang dilaksanakan di SDN 035 Tarakan pada Semester Ganjil tahun ajaran 2020/2021. Penelitian ini difokuskan pada tingkat kemampuan numerik matematika pada siswa kelas IV. Sumber data dalam penelitian ini yaitu mencakup data primer dan data sekunder dengan informan yaitu siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa tes kemampuan numerik, observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan numerik terkait dengan operasi hitung bilangan bulat siswa berada dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil penelitian: 1) Siswa belum mampu melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. 2) Siswa kebingungan dalam kaitannya dengan hasil penyelesaian ketika bilangan negatif dan bilangan positif berada dalam suatu operasi hitung bilangan, 3) Siswa terkadang binggung dalam penyelesaiannya, dan terdapat beberapa siswa yang tidak paham dengan operasi hitung perkalian dan pembagian dasar sehingga membuat siswa kurang memiliki kemampuan numerik yang baik dan kesulitan dalam mengerjakan soal matematika.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 12 TARAKAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya 1) Pengaruh model pembelajaran (Reciprocal Teaching dan Konvensional) terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. 2) Pengaruh kemampuan awal matematika siswa kategori rendah, sedang dan tinggi terhadap pemampuan pemahaman konsep matematika. 3) Pengaruh interaksi antara model pembelajaran (Reciprocal Teaching dan Konvensional) dengan kemampuan awal matematika siswa terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Tarakan. Penelitian ini dilaksakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 di SMP Negeri 12 Tarakan. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan desain factorial 2 × 3. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Tarakan. Pengaambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Sampel penelitian ini adalah kelas VIII-5 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-4 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dan tes kemampuan awal matematika siswa. Teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif dan inferensial. Teknik deskriptif meliputi rata-rata hitung dan simpangan baku. Teknik inferensial menggunakan analisis varians dua jalur. Berdasarkan hasil analasis dengan taraf signifikan 5% dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran (Reciprocal Teaching dan Konvensional) berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dengan p-value 0,002. Kemampuan awal matematika siswa dengan kategori rendah, sedang dan tinggi berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dengan p-value 0,000, dan tidak ada pengaruh interaksi model pembelajaran dengan kemampuan awal matematika siswa terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Tarakan dengan nilai p-value 0,610.