BookOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola interaksi sosial antara siswa laki-laki dan guru di SMK Kesehatan Kaltara Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya partisipasi siswa laki-laki dalam pembelajaran, komunikasi yang kurang aktif, serta kecenderungan guru lebih merespons siswa perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari tiga siswa laki-laki dan dua guru yang dipilih melalui purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan bantuan aplikasi Nvivo, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola interaksi sosial antara siswa laki-laki dan guru cenderung mengarah pada pola demokratis yang ditandai dengan komunikasi dua arah, pemberian kesempatan bertanya, keterbukaan guru terhadap pendapat siswa, serta terciptanya suasana belajar yang partisipatif dan nyaman bagi siswa laki-laki.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola interaksi sosial antara siswa laki-laki dan guru di SMK Kesehatan Kaltara Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya partisipasi siswa laki-laki dalam pembelajaran, komunikasi yang kurang aktif, serta kecenderungan guru lebih merespons siswa perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari tiga siswa laki-laki dan dua guru yang dipilih melalui purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan bantuan aplikasi Nvivo, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola interaksi sosial antara siswa laki-laki dan guru cenderung mengarah pada pola demokratis yang ditandai dengan komunikasi dua arah, pemberian kesempatan bertanya, keterbukaan guru terhadap pendapat siswa, serta terciptanya suasana belajar yang partisipatif dan nyaman bagi siswa laki-laki.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kemampuan siswa dalam pembelajaran geometri sangat penting untuk dikembangkan, karena kemampuan geometri siswa dapat menyelesaikan suatu permasalahan baik dalam pembelajaran matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan geometri sangat penting dalam meningkatkan gaya berpikir siswa. Teori Van Hiele menyatakan siswa akan melalui 5 tahapan berpikir jika siswa mempu memiliki kemampuan berpikir geometri. Adapun perkembangan berpikir geometri siswa dalam pembelajaran matematika yaitu pada tahap Visualisasi, Tahap Analisis, tahap Abstraksi, tahap Dedukasi, dan Tahap Rigor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan geometri siswa pada kelas V SDN 032 Tarakan berdasarkan teori Van Hiele. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif. Data yang dikumpulkan yaitu melalui soal tes Van Hiele Geometri Tes (VHGT), dari 23 siswa, wawancara dan dokumentasi. Dapat diketahui bahwa terdapat 3 siswa yang masuk pada tahap visualisasi dari 23 siswa, dan terdapat 4 siswa yang dikatagorikan notif (tidak dapat ditentukan level berpikirnya berdasarkan teori van hiele). Sedangkan 16 siswa dikatagorikan belum masuk dalam tahapan berpikir berdasarkan teori van hiele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek A1, A2, dan A3 yang masuk dalam tahapan berpikir van hiele pada tahap visualisasi, memiliki kemampuan geometri dalam memahami suatu bangun datar berdasarkan bentuk yang terlihat secara visual, dimana ketiga subjek dapat membedakan mana segitiga, persegi, persegi panjang, dan mana yang merupakan jajargenjang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Kemampuan siswa dalam pembelajaran geometri sangat penting untuk dikembangkan, karena kemampuan geometri siswa dapat menyelesaikan suatu permasalahan baik dalam pembelajaran matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan geometri sangat penting dalam meningkatkan gaya berpikir siswa. Teori Van Hiele menyatakan siswa akan melalui 5 tahapan berpikir jika siswa mempu memiliki kemampuan berpikir geometri. Adapun perkembangan berpikir geometri siswa dalam pembelajaran matematika yaitu pada tahap Visualisasi, Tahap Analisis, tahap Abstraksi, tahap Dedukasi, dan Tahap Rigor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan geometri siswa pada kelas V SDN 032 Tarakan berdasarkan teori Van Hiele. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif. Data yang dikumpulkan yaitu melalui soal tes Van Hiele Geometri Tes (VHGT), dari 23 siswa, wawancara dan dokumentasi. Dapat diketahui bahwa terdapat 3 siswa yang masuk pada tahap visualisasi dari 23 siswa, dan terdapat 4 siswa yang dikatagorikan notif (tidak dapat ditentukan level berpikirnya berdasarkan teori van hiele). Sedangkan 16 siswa dikatagorikan belum masuk dalam tahapan berpikir berdasarkan teori van hiele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek A1, A2, dan A3 yang masuk dalam tahapan berpikir van hiele pada tahap visualisasi, memiliki kemampuan geometri dalam memahami suatu bangun datar berdasarkan bentuk yang terlihat secara visual, dimana ketiga subjek dapat membedakan mana segitiga, persegi, persegi panjang, dan mana yang merupakan jajargenjang.