ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan soal numerasi di SDN 006 Tarakan. Kemampuan berpikir kreatif dalam penelitian ini mengacu pada tiga indikator menurut Silver, yaitu kefasihan (fluency), keluwesan (flexibility), dan kebaruan (novelty). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas V. Instrumen yang digunakan berupa soal numerasi dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kefasihan tampak dominan ditunjukkan oleh siswa. Mereka mampu menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan serta menyelesaikan soal numerasi dengan langkah yang jelas dan runtut. Keluwesan muncul pada beberapa siswa yang dapat menggunakan lebih dari satu strategi penyelesaian soal, seperti menyamakan penyebut atau mengubah pecahan ke bentuk desimal. Sementara itu, kebaruan hanya ditemukan pada satu siswa melalui pendekatan visual dengan teknik mengarsir. Secara keseluruhan, kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan soal numerasi tergolong pada tingkat kreatif (TKBK 3) karena sebagian besar siswa memenuhi dua dari tiga indikator berpikir kreatif. Hasil ini menunjukkan perlunya upaya pengembangan pembelajaran numerasi yang lebih bervariasi agar dapat mendorong munculnya aspek kebaruan dalam berpikir kreatif siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas V-D SD Negeri Utama 2 Tarakan dalam menyelesaikan soal cerita matematika pada materi operasi hitung bilangan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa tes berpikir kreatif dan wawancara mendalam. Penelitian ini melibatkan 24 siswa, kemudian dipilih 4 subjek berdasarkan hasil tes yang menunjukkan kemampuan berpikir kreatif dengan memenuhi minimal dua indikator kemampuan berpikir kreatif. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), dan elaborasi (elaboration). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keempat subjek, tiga subjek memenuhi tiga indikator berpikir kreatif, dan satu subjek memenuhi dua indikator. Indikator keluwesan dan keaslian menjadi indikator yang paling banyak terpenuhi, sedangkan kelancaran menjadi indikator yang tidak dapat terpenuhi. Sementara itu, pada indikator elaborasi tiga subjek mampu menjelaskan proses berpikir mereka secara detail dan satu subjek tidak dapat memenuhi indikator tersebut. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika berbasis soal cerita dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa, namun dibutuhkan strategi pembelajaran yang lebih variatif agar siswa dapat memenuhi keempat indikator secara optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berpikir kreatif merupakan proses berpikir dari berbagai gagasan dalam menyelesaikan suatu persoalan dan menghasilkan suatu produk dalam memecahkan masalah matematika yang memenuhi aspek kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyelesaian masalah operasi hitung pecahan pada siswa yang berpikir kreatif. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan penyelesaian masalah operasi hitung pecahan yang kemudian dikonfirmasi dengan proses wawancara. Sebanyak 25 siswa kelas V yang menjadi partisipan dalam penelitian dan mengerjakan tes kemampuan penyelesaian masalah operasi hitung pecahan, yang kemudian dipilih yang memenuhi indikator berpikir kreatif. Setelah itu peneliti memilih 3 siswa yang memenuhi indikator berpikir kreatif untuk diwawancarai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa hanya memenuhi 2 indikator yaitu kefasihan dan fleksibilitas. Pada tahap preparasi siswa dapat menuliskan informasi awal baik hal yang diketahui maupun yang ditanya pada soal dengan benar. Tetapi dalam hal menjelaskan maksud soal cenderung merasa kesulitan menyusun kata-kata. Pada tahap inkubasi siswa cenderung diam dengan memperhatikan informasi yang ada pada soal dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Pada tahap iluminasi, siswa mendapatkan ide atau strategi untuk memecahkan masalah yang dituangkan langsung pada kertas yang disediakan. Pada tahap verifikasi siswa memeriksa kembali ide yang diperolehnya atau jawaban yang sudah dituliskan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) terhadap keterampilan berpikir kreatif matematis pada siswa kelas VII di SMPN 13 Tarakan. Penelitian ini menggunakan Quasi Eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN Negeri 13 Tarakan tahun ajaran 2023/2024. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling sehingga diperoleh sampel pada penelitian ini 59 siswa yaitu 30 siswa kelas VII-3 sebagai kelas eksperimen dan 29 siswa kelas VII-2 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data keterampilan berpikir kreatif matematis menggunakan tes yaitu pretest dan posttest yang masing-masing terdiri dari 3 soal uraian dengan soal yang berbeda. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan uji One Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Creative Problem Solving(CPS) terhadap keterampilan berpikir kreatif matematis pada siswa kelas VII di SMPN 13 Tarakan, hal ini sesuai dengan hasil perhitungan uji One Way ANOVA diperoleh nilai F_hitung:4,5863>F_tabel: 4,009 pada taraf signifikan 5%. Hasil ini diperkuat dengan nilai rata-rata hasil tes keterampilan berpikir kreatif matematis dikelas yang menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving(CPS) lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasil tes keterampilan berpikir kreatif matematis di kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Dengan demikian disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Creative Problem Solving(CPS) terhadap keterampilan berpikir kreatif matematis pada siswa kelas VII di SMPN 13 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Pendidikan memiliki peran sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Ada beberapa faktor yang memiliki pengaruh besar yang mengakibatkan rendahnya kemampuan berpikir kreatif yaitu dengan penggunaan model pembelajaran yang tidak sesuai dan tidak menarik, salah satu upaya dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik yaitu melalui model pembelajaran. Pembelajaran kreatif model Treffinger ini dapat membantu peserta didik dalam memecahkan masalah, membantu dalam menguasai konsep – konsep materi yang diajarkan, serta memberikan kepada peserta didik untuk menunjukkan potensi – potensi kemampuan yang dimilikinya termasuk kemampuan berpikir kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada pembelajaran IPA kelas VIII SMP Negeri 4 Tarakan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode Quasi Eksperimen dengan desain penelitian Pretest – Posttest non equivalent control group design. Sampel dalam penelitian ini ialah peserta didik pada kelas VIII 3 dan VIII 4 SMP Negeri 4 Tarakan sebanyak 64 peserta didik dengan teknik purposive sampling. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini berupa Observasi, Tes Soal dan Dokumentasi. Untuk mengukur pengaruh model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik, data dianalisis menggunakan uji Normalitas, uji Homogenitas, uji N-Gain dan uji Independent Sample T-test. Hasil Penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan berpikir kreatif antara kelas kontrol yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional dan kelas eksperimen yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran Treffinger. Berpikir kreatif peserta didik pada kelas eksperimen (model Treffinger) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (model konvensional). Hal ini diketahui dari hasil uji Independet Sample T-Test yang signifikan yaitu sebesar 0,000 ≤ 0,05.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis (KBKM) siswa yang dibelajarkan menggunakan Realistic Mathematics Education (RME) di SMP Negeri 14 Tarakan. Peningkatan dilihat dengan menguji perbedaan KBKM siswa yang dibelajarkan dengan RME dengan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran yang biasa diterapkan oleh guru (pembelajaran konvensional). Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan desain non-equivalent control group dengan populasi seluruh siswa kelas 7 SMP Negeri 14 Tarakan. Melalui teknik kluster sampling sederhana, diperoleh kelas 7.2 sebagai kelas eksperimen dan kelas 7.1 sebagai kelas kontrol. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan t-test. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara KBKM siswa yang belajar dengan RME dengan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Penelitian menunjukkan bahwa RME dapat meningkatkan KBKM siswa secara signifikan. Lebih lanjut, temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran konvensional juga dapat meningkatkan KBKM siswa tetapi tidak sebaik RME.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Kemampuan berpikir kreatif matematis (KBKM) adalah salah satu kemampuan esensial yang harus dimiliki siswa pada pembelajaran Matematika. Akan tetapi, belum banyak penelitian yang membahas mengenai proses dari berpikir kreatif matematis (BKM) tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses BKM sekaligus faktor yang menghambat BKM siswa sekolah menengah pertama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui pemberian tugas, melakukan pengamatan, dan melakukan wawancara. Tugas yang dikerjakan oleh partisipan merupakan soal open-ended. Temuan pada penelitian ini merupakan tema-tema yang dihasilkan dari analisis data. Berdasarkan temuan yang diperoleh, proses BKM siswa mencakup: membaca, memilih, dan mempelajari soal, mengalami perubahan persepsi, mencari ide awal untuk menyelesaikan soal, mengalami inkubasi, menyelesaikan soal dan memeriksa solusi. Selama mengerjakan tugas, siswa melakukan pengaturan diri. Lebih lanjut, faktor-faktor yang menghambat BKM siswa adalah memiliki persepsi negatif terhadap Matematika dan pembelajarannya, motivasi intrinsik dan perasaan jenuh, pemahaman konsep dasar yang rendah, mengalami learning loss, efikasi diri yang rendah terhadap soal open-ended, pemahaman prosedural yang rendah terhadap soal open-ended, dan pendekatan guru yang tidak sesuai dengan harapan siswa. Dengan demikian, hal-hal yang menjadi perhatian untuk meningkatkan KBKM siswa adalah memberikan kesempatan dan melatih siswa dalam menyelesaikan soal open-ended, mengevaluasi dan meningkatkan kompetensi guru, serta menciptakan lingkungan belajar yang kreatif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat berpikir kreatif siswa kelas XI MIA SMA Hang Tuah Tarakan dalam pemecahan masalah matematika tipe Multiple Solution Task (MST). Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel yang digunakan sebanyak 92 siswa dengan pengambilan sampel menggunakan Probability sampling dengan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan instrument tes pada siswa. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa siswa kelas XI MIA SMA Hang Tuah Tarakan pada tingkat berpikir kreatif matematis tergolong pada kategori sedang karena hasil penyelesaiaan pemecahan masalah pada soal matriks menggunakan multiple solution task lebih dominan berada pada kategori sedang dengan jumlah 83 siswa 90,22%. Sedangkan pada Aspek kefasihan (fluency) pada tingkat berpikir kreatif matematis siswa tergolong sangat tinggi dengan rata-rata skor sebesar 98,64%, aspek fleksibilitas (flexibility) tergolong sangat rendah dengan rata-rata skor sebesar 51,36% , dan aspek kebaruan (novelty) tergolong sangat rendah dengan rata-rata skor sebesar 47,83%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran IPA kelas VII SMP Negeri 8 Tarakan di masa pandemi Covid-19. Menggunakan metode penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 8 Tarakan (217 Siswa). Pengumpulan data dilakukan dengan melalui angket dan wawancara pada guru mata pelajaran IPA. Hasil penelitian menunjukkan keterampilan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran IPA kelas VII SMP Negeri 8 Tarakan di masa pandemi Covid-19 tergolong kreatif. Jika dilihat dari masing-masing kelas maka keterampilan berpikir kreatif dari yang tertinggi hingga yang terendah adalah kelas VII 7, VII 1, VII 6, VII 2, VII 4, VII 3 dan VII 5. Pada kriteria interprestasi setiap indikator keterampilan berpikir kreatif menunjukkan fluency (kelancaran) sangat tinggi, indikator originality (keaslian) tinggi, flexibilty (keluwesan) dan elaboration (merinci) sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kuasi eksperimen dengan desain Posttest Only Control Group. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 12 Tarakan dengan populasi penelitian adalah kelas VIII tahun ajaran 2022/2023. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling dan diperoleh kelas VIII-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-4 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen tes kemampuan berpikir kreatif matematis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif meliputi rata-rata, skor per indikator, dan standar deviasi. Sedangkan analisis inferensial terdiri dari uji regresi linear sederhana, koefisien determinasi, dan uji t (independent sample t-test). Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata posttest kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol yaitu 67,72 untuk kelas eksperimen dan 56,53 untuk kelas kontrol dalam skala nilai 100. Berdasarkan hasil uji regresi linear sederhana diperoleh persamaan Y= 56,531+11,188D, dimana pada kelas eksperimen variabel dummy (D) bernilai 1 karena menerima perlakuan, maka nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematis siswa pada kelas eksperimen adalah sebesar 56,531+11,188(1)=67,72. Sedangkan pada kelas kontrol variabel dummy (D) bernilai 0 karena tidak menerima perlakuan, maka nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematis siswa pada kelas kontrol adalah sebesar 56,531+11,188(0)= 56,53. Hal ini berarti terdapat pengaruh dari model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis. Selain itu, hasil uji t diperoleh nilai thitung lebih besar dari ttabel (thitung = 4,626>ttabel = 1,999) yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Pengaruh yang diberikan ini adalah sebesar 25,7% dan sisanya 74,3% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 2 Tarakan. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Matematika, Universitas Borneo Tarakan. Pembimbing : Dr. Jero Budi Darmayasa, M.Pd. Si. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 2 Tarakan yang mengacu pada tiga indikator kemampuan berpikir kreatif matematis yaitu kefasihan, fleksibilitas, dan orisinalitas. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan, mulai tanggal 17 Januari – 17 februari 2022 di SMP Muhammadiyah 2 Tarakan. Informan pada penelitian ini sebanyak 3 orang yang dipilih menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis di SMP Muhammadiyah 2 Tarakan 1) hanya terdapat 1 indikator yang masuk kriteria tinggi yaitu indikator kefasihan yang terlihat dari kemampuan semua subjek dalam menyelesaikan soal matematika dengan jawaban yang bervariasi dan bernilai benar; (2) Indikator fleksibilitas tergolong sedang karena hanya ada 2 subjek yang mampu menyelesaikan soal matematika dengan cara yang berbeda; (3) Indikator orisinalitas tergolong rendah karena hanya 1 subjek yang mampu menyelesaikan soal matematika dengan caranya sendiri.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa SMP Negeri 1 Tarakan dalam menyelesikan soal HOTS matematika berdasarkan gender. Jenis penelitian yang digunakan adalah desktiptif kualitatif. Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Tarakan tahun ajaran 2021/2022. Pengumpulan data ini dilakukan dengan cara pemberian soal HOTS, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Pemilihan subjek dalam penelitian ini terdiri dari 6 siswa yaitu 3 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan yaitu terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif siswa berdasarkan gender. Siswa laki-laki hanya memenuhi 2 (dua) indikator berpikir kreatif yaitu siswa laki-laki mampu menunjukkan apa yang diketahui dan ditanyakan (kelancaran), mampu menjelaskan rumus yang digunakan (kelancaran) dan terbiasa mengerjakan soal secara terperinci (elaborasi). sedangkan perempuan memenuhi 3 (tiga) indikator berpikir kreatif yaitu siswa perempuan mampu untuk menunjukkan apa yang diketahui ditanyakan (kelancaran), mampu menjelaskan rumus yang digunakan (kelancaran), mampu mengerjakan soal dengan cara yang berbeda dengan teman lainnya (kebaruan/keaslian) dan sudah terbiasa mengerjakan soal secara terperinci (elaborasi). Jadi dapat disimpulkan bahwa siswa perempuan lebih kreatif dibandingkan siswa laki-laki.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH IPA DITINJAU DARI TINGKAT KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 9 TARAKAN ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemecahahan masalah IPA (Biologi) berdasarkan tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dengan teknik wawancara informan. Data sekunder diperoleh dari instrumen tes pilihan ganda kemampuan berpikir kreatif dan instrumen tes essay kemampuan pemecahan masalah. Hasil analisis penelitian ini, diketahui bahwa kemampuan pemecahan masalah pada peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi, sedang dan rendah adalah berbeda dan beragam. Dapat disimpulkan bahwa tidak semua peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi juga memiliki tingkat pemecahan masalah yang tinggi, begitu juga sebaliknya tidak semua peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kreatif rendah akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang rendah juga.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dalam menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS) dan mendiskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa untuk setiap indicator dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas IX PSU Integrated School – High School Bayambang Filipina. Metode pengumpulan data menggunakan soal uraian Higher Order Thinking Skill (HOTS). Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX PSU Integrated School – High School Bayambang Filipina dan teknik sampel yang digunakan teknik sampel jenuh. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis siswa PSU Integrated School – High School Bayambang Filipina dalam menyelesaikan soal HOTS yaitu aspek originality pada kemampuan berpikir kreatif matematika siswa tergolong sedang, dengan rata-rata skor sebesar 66.29; aspek fluency tergolong rendah rendah, dengan rata-rata skor sebesar 57.14; aspek flexybility tergolong sedang dengan rata-rata skor 68.97; aspek elaboration tergolong rendah dengan rata-rata skor 62.05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS masih rendah yaitu dengan skor 63.62.