ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media video animasi berbasis etnopedagogi pada materi kearifan lokal Kota Tarakan sebagai media pembelajaran yang valid, praktis, dan layak digunakan dalam pembelajaran di sekolah dasar. Penelitian pengembangan ini menggunakan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek uji coba terdiri atas 1 orang guru kelas dan 28 peserta didik kelas V-B SDN 006 Tarakan. Instrumen yang digunakan meliputi lembar validasi ahli media, ahli materi, ahli bahasa, serta angket respon guru dan peserta didik. Hasil validasi menunjukkan persentase rata-rata 96% pada aspek materi, 96% pada aspek media, dan 100% pada aspek bahasa, yang ketiganya termasuk kategori sangat valid. Uji coba lapangan menunjukkan respon yang sangat positif dengan perolehan rata-rata tingkat kepraktisan mencapai 95,71%, yang terdiri dari respon guru kelas sebesar 95% dan respon kelompok peserta didik sebesar 96%, sehingga masuk dalam kategori sangat praktis. Respons tersebut mengindikasikan bahwa video animasi ini mudah dipahami, menarik, serta efektif dalam meningkatkan antusiasme belajar peserta didik terhadap identitas budaya lokalnya. Dengan demikian, video animasi berbasis etnopedagogi yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, dan layak digunakan sebagai media pembelajaran, khususnya pada materi kearifan lokal seperti Rumah Baloy Adat Tidung, Tari Jepen, Batik Tarakan, dan Festival Iraw Tengkayu, serta berpotensi mendukung pembelajaran yang lebih interaktif, aktif, dan bermakna.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi asesmen diagnostik kognitif dalam pembelajaran bahasa Inggris yang melibatkan satu guru bahasa Inggris dan observasi pada kelas X-B di SMAS Don Bosco Tarakan. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen berupa modul ajar, instrumen asesmen diagnostik, dan hasil asesmen; observasi kelas yang berfokus pada pelaksanaan asesmen diagnostik dalam pembelajaran Bahasa Inggris; serta wawancara semi-terstruktur dengan guru Bahasa Inggris. Data di analisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola implementasi asesmen diagnostik dan tantangan yang dihadapi guru. Hasil penelitian ini menunjukkan asesmen diagnostik digunakan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuan dan menyesuaikan strategi pembelajaran. Namun, guru masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain keterbatasan waktu, kesulitan merancang instrumen asesmen, kendala teknis saat pembelajaran daring, serta perbedaan kemampuan siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa asesmen diagnostik membantu guru memetakan kemampuan awal dan kebutuhan belajar siswa sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan secara lebih tepat. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang dan menerapkan asesmen diagnostik yang efektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan pembelajaran di SMPN 4 Tarakan dalam kerangka Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2024/2025. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi strategi yang efektif, tantangan yang dihadapi guru Bahasa Inggris, serta aspek-aspek yang perlu ditingkatkan untuk lebih mendukung perkembangan holistik peserta didik. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan guru Bahasa Inggris di SMPN 4 Tarakan sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi, di mana wawancara dan observasi dianggap sebagai instrumen yang paling penting. Triangulasi data digunakan untuk memastikan kredibilitas dan konsistensi temuan dengan cara membandingkan hasil dari berbagai metode dan sumber.Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, guru Bahasa Inggris umumnya menerapkan strategi pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), yang mendorong siswa lebih aktif, kritis, dan kolaboratif sekaligus meningkatkan keterampilan komunikasi serta pemecahan masalah. Kedua, proses pembelajaran Bahasa Inggris menekankan pendekatan berpusat pada siswa yang memungkinkan mereka berpartisipasi secara aktif melalui kolaborasi dan pembelajaran berbasis pengalaman, selaras dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Ketiga, guru menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan akses fasilitas dan media digital, perbedaan tingkat kemampuan siswa, beban kerja yang meningkat akibat tuntutan administrasi dan asesmen, waktu persiapan yang terbatas, serta pemahaman yang masih kurang terhadap kurikulum baru. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan bagi guru berupa ketersediaan sumber daya yang memadai, pelatihan, serta sosialisasi kurikulum guna mengoptimalkan implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan pembelajaran biologi berbasis kearifan lokal yang terintegrasi dengan studi etnozoologi dalam implementasi Kurikulum Merdeka di SMA Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur dan studi dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas guru biologi dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dari empat SMA yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran biologi melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, terutama pada materi keanekaragaman hayati. Integrasi etnozoologi diwujudkan melalui pemanfaatan fauna lokal dan endemik sebagai sumber belajar kontekstual, termasuk kegiatan observasi lapangan pada ekosistem mangrove. Namun demikian, implementasi pembelajaran ini masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan waktu, pendanaan, sarana dan prasarana, serta motivasi peserta didik. Evaluasi pembelajaran dilakukan melalui penilaian proyek, presentasi, penggunaan rubrik, dan penilaian kualitatif. Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran biologi berbasis kearifan lokal terintegrasi etnozoologi berpotensi meningkatkan relevansi pembelajaran biologi, memperkuat identitas budaya peserta didik, serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka yang kontekstual dan berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik ini mengkaji kesulitan berbicara bahasa Inggris serta faktor penyebabnya pada siswa kelas XI Jurusan Perhotelan SMK Negeri 1 Tarakan (Agustus 2025). Berlandaskan ESP dan Kurikulum Merdeka, data dikumpulkan melalui analisis dokumen, observasi kelas, dan wawancara semi terstruktur pada enam peserta yang dipilih secara purposive mewakili tingkat kemahiran rendah, sedang, dan tinggi. Analisis data menggunakan model interaktif (reduksi, penyajian, verifikasi, dan penarikan kesimpulan). Hasil menunjukkan enam kesulitan utama: keterbatasan kosakata terutama kosakata spesifik industri, takut salah dan rasa malu, kurang percaya diri, motivasi rendah, ketergantungan pada bahasa ibu, serta masalah tata bahasa yang berulang. Kesulitan tersebut dipengaruhi oleh interaksi faktor internal (minat, kemampuan kognitif, kepercayaan diri) dan eksternal (dukungan keluarga, teman sebaya, praktik pengajaran dan ketersediaan sumber daya guru). Studi ini menegaskan bahwa hambatan afektif kerap menekan kompetensi pada tahap performa dan bahwa tuntutan leksikal konteks perhotelan memperkuat kebutuhan pembelajaran ESP. Implikasi pedagogis mencakup perancangan tugas yang membangun kepercayaan diri, latihan intensif leksis perhotelan, pengurangan ketergantungan L1 melalui penyanggaan terstruktur, serta tata bahasa komunikatif dalam skenario layanan autentik. Diperlukan penguatan keterhubungan sekolah industri dan sumber belajar untuk menumbuhkan kompetensi lisan yang siap kerja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar yang valid digunakan untuk siswa kelas VII di SMPN 8 Tarakan pada materi bilangan bulat, sub topik jenis-jenis bilangan bulat. Jenis penelitian ini adalah pengembangan modul ajar untuk kelas VII SMPN 8 Tarakan, dengan model 4-D (four-D) yang memakai 3 tahapan saja, karena keterbatasan waktu, yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), dan tahap pengembangan (develop). Tahap pendefinisian dilakukan analisis konsep dan pemilihan tujuan pembelajaran yang akan digunakan dalam pengembangan modul ajar, yaitu materi bilangan bulat, sub topik jenis-jenis bilangan bulat, dengan tujuan pembelajaran mengurutkan dan membandingkan bilangan bulat positif dan negatif. Pada tahap perancangan, modul ajar disusun berdasarkan urutan komponen-komponen yang sudah ditentukan, yaitu informasi umum, komponen inti, serta lampiran. Tahap pengembangan dilakukan penilaian modul ajar oleh 3 orang ahli modul ajar yang menilai dalam aspek kualitas isi dan tujuan pembelajaran, kualitas instruksional, dan kualitas teknis, dan diperoleh rata-rata persentase sebesar 85,02% yang menunjukkan pada kategori sangat valid. Selanjutnya, dilakukan uji coba kelompok kecil kepada 8 siswa dan berdasarkan analisis angket respon guru mendapatkan rata-rata persentase sebesar 93,75% dengan kategori sangat baik, serta analisis angket respon siswa diperoleh rata-rata persentase sebesar 84% dengan kategori sangat baik. Dengan demikian, modul ajar yang dikembangkan pada penelitian ini valid digunakan oleh guru dalam pembelajaran di kelas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Permasalahan yang terjadi di SD Negeri 006 Tarakan adalah peserta didik kurang mampu memahami instruksi gerakan yang diberikan guru, khususnya pada materi aktivitas senam, karena buku yang tersedia hanya berupa pegangan guru. Masalah tersebut dijadikan dasar dalam merancang dan mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LKPD PJOK Kurikulum Merdeka pada materi aktivitas senam bagi peserta didik kelas IV SD Negeri 006 Tarakan agar produk yang dihasilkan layak digunakan dan menarik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan menggunakan model 4-D yang terdiri atas tahap Define, Design, Develop, dan Disseminate. Subjek penelitian adalah 26 peserta didik kelas IV SD Negeri 006 Tarakan, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, validasi ahli, serta penilaian ketertarikan peserta didik. Pada tahap Define dilakukan analisis awal-akhir, analisis pembelajar, analisis tugas, analisis konsep, dan spesifikasi tujuan pembelajaran. Tahap Design mencakup pemilihan media, pemilihan format, serta penyusunan rancangan awal. Pada tahap Development dilakukan validasi oleh empat validator yang terdiri atas ahli media, ahli bahasa, ahli materi, dan praktisi guru, kemudian dilanjutkan dengan uji coba terbatas serta uji coba lapangan untuk menilai ketertarikan peserta didik. Hasil validasi menunjukkan bahwa ahli media memberikan nilai persentase 88% dengan kategori “sangat layak”, ahli bahasa 76% dengan kategori “layak”, ahli materi 76% dengan kategori “layak”, dan praktisi guru 88% dengan kategori “sangat layak”. Sementara itu, penilaian ketertarikan peserta didik memperoleh persentase sebesar 93% yang termasuk kategori “sangat menarik”. Pada tahap Disseminate dilakukan pengajuan hak cipta sebagai bentuk perlindungan terhadap produk. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa LKPD PJOK Kurikulum Merdeka pada materi aktivitas senam yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan dan kemenarikan sehingga layak digunakan sebagai bahan ajar pendukung untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum Merdeka oleh guru bahasa Inggris di SMAN 4 Tarakan dan mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam proses implementasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka di kelas X.10 diterapkan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, penilaian autentik, dan integrasi Profil Pelajar Pancasila dalam kegiatan belajar mengajar. Guru berusaha menyediakan ruang bagi siswa untuk lebih aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran. Namun, dalam praktiknya, masih ditemukan sejumlah kendala, termasuk pemahaman guru yang terbatas tentang konsep Kurikulum Merdeka, adaptasi alat bantu mengajar, dan kendala dalam hal fasilitas dan infrastruktur. Kesimpulannya, implementasi Kurikulum Merdeka di SMAN 4 Tarakan telah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar, namun masih perlu perbaikan melalui pelatihan guru, penyediaan fasilitas pendukung, dan kolaborasi antara sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan agar tujuan kurikulum dapat tercapai secara optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran matematika pada kurikulum merdeka di kelas IV-A SD Negeri 015 Tarakan. Berdasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan masih adanya kendala guru dalam menerapkan pembelajaran matematika pada kurikulum merdeka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilaksanakan di kelas IV-A SD Negeri 015 Tarakan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan langkah reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data melalui teknik triangulasi, baik dari sumber maupun teknik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perencanaan pembelajaran matematika belum sepenuhnya dirancang secara mandiri oleh guru. Guru lebih banyak memanfaatkan perangkat ajar yang telah disediakan pemerintah, namun tetap melakukan modifikasi sederhana sesuai karakteristik peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran berusaha mengacu pada prinsip kurikulum merdeka yang menekankan pembelajaran aktif, interaktif, kolaboratif, serta berpusat pada peserta didik. Penilaian pembelajaran dilaksanakan melalui dua bentuk, yaitu formatif dan sumatif. Penilaian formatif dilakukan melalui diskusi kelompok, tanya jawab, dan pengamatan aktivitas siswa, sedangkan penilaian sumatif dilakukan melalui tes tertulis berupa soal pilihan ganda dan uraian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kesulitan yang dihadapi guru Biologi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di SMA Kota Tarakan. Latar belakang penelitian berangkat dari fenomena bahwa meskipun Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas pembelajaran, guru masih menghadapi hambatan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek tujuh guru Biologi di SMA Negeri dan Swasta Kota Tarakan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun & Clarke (2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perencanaan pembelajaran, guru kesulitan menurunkan Capaian Pembelajaran (CP) menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang terukur, menyesuaikan model dan metode pembelajaran dengan karakter siswa, serta menyusun modul ajar berdiferensiasi. Pada pelaksanaan pembelajaran, kendala meliputi penerapan model dan metode pembelajaran aktif, pemanfaatan teknologi yang belum optimal, keterbatasan sarana prasarana, tantangan pembelajaran berdiferensiasi, dan pengelolaan waktu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Pada penilaian Pembelajaran, guru mengalami kesulitan dalam asesmen formatif, keterbatasan referensi instrumen penilaian, serta pelaksanaan remedial terkait kebijakan kenaikan kelas. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor internal seperti pemahaman guru terhadap komponen kurikulum dan faktor eksternal seperti sarana prasarana serta kebijakan sekolah memengaruhi keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk menghasilkan modul pembelajaran berbasis kearifan lokal dengan mengangkat pohon kapur sebagai materi pembelajaran pada BAB V “Ini Khas Daerahku” untuk siswa kelas IV SDN 003 Malinau Selatan Hilir. Modul dikembangkan sebagai solusi atas kurangnya bahan ajar kontekstual yang memuat potensi lokal di lingkungan sekolah, khususnya di Desa Setarap, Malinau Selatan Hilir. Dengan metode Research & Development (R&D) menggunakan model ADDIE, tahapan ini mencakup Analysis, Design, Development, Implementation, Dan Evaluation. Berdasarkan hasil validasi modul yang dihasilkan masuk dalam kategori sangat layak, dengan rata-rata kevalidan memperoleh presentase skor sebesar 90,96%, berdasarkan penilaian dari ahli media, ahli materi, ahli bahasa dan praktisi. Selain itu hasil angket respon peserta didik untuk kemenarikan modul memperoleh skor 88,13% yang juga termasuk dalam kategori sangat menarik. Modul ini mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam bentuk teks, gambar, ilustrasi, serta kegiatan belajar kontekstual, dan dapat digunakan secara mandiri oleh siswa. Dengan demikian, modul ini dinyatakan layak dan menarik untuk dimanfaatkan pada kegiatan pembelajaran IPAS.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang diterapkan pada pendidikan di Indonesia saat ini. Terdapat beberapa pembaharuan atau perubahan dari kurikulum sebelumnya yang membuat guru kesulitan dan memerlukan waktu untuk adaptasi pada kurikulum merdeka. Kesulitan guru dalam menyusun modul ajar adalah salah satu masalah yang sedang terjadi pada kurikulum merdeka ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan apa saja yang dialami guru dalam penyusunan modul ajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa guru mengalami kesulitan dalam penyusunan modul ajar. Letak kesulitan guru yang pertama adalah kesulitan memahami Profil Pelajar Pancasila yang mana faktor penyebabnya adalah keberagaman karakteristik siswa dan minimnya pengetahuan guru tentang profil pelajar Pancasila. Kedua yaitu kesulitan merumuskan capaian pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran dan faktor penyebabnya adalah kurangnya kompetensi guru dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Ketiga yaitu kesulitan dalam menentukan model dan metode pembelajaran yang faktor penyebabnya adalah sarana dan prasarana yang terbatas dan minimnya kompetensi guru dalam penggunaan teknologi. Keempat adalah kesulitan dalam menyusun asesmen diagnostic yang mana faktornya penyebabnya adalah tidak memiliki rubrik penilaian asesmen diagnostik. Selanjutnya asesmen formatif yang faktornya penyebabnya adalah keterbatasan waktu pembelajaran di kelas. Berikutnya asesmen sumatif yang mana kesulitannya terdapat pada pemberian nilai khususnya soal uraian. Oleh karna itu, diharapkan guru untuk terus meningkatkan pemahaman dan kompentensi dalam menyusun modul ajar serta diharapkan pihak sekolah dapat memberi dukungan seperti mengadakan pelatihan dan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. The curriculum that is currently implemented in Indonesian schools is Merdeka curriculum. It takes time for teachers to adjust to Merdeka curriculum because of a number of updates or modifications from the latest curriculum. One of the issues with this autonomous curriculum at the moment is the challenge faced by teachers in creating lesson plans. The purpose of this study was to identify the challenges faced by teachers when designing the lesson plans. The method employed in this study was descriptive qualitative. The results of this study indicated that teachers experienced some challenges in compiling teaching modules. The first challenge of teachers was the difficulty in understanding the Pancasila Student Profile, the causative factors of which were the diversity of student characteristics and the lack of teacher knowledge about the Pancasila student profile. Second, the challenge in formulating learning outcomes into learning objectives and the causative factor was the lack of teacher competence in formulating learning objectives. Third, the challenge in determining learning models and methods, the causative factors of which were limited facilities and infrastructure and the lack of teacher competence in using technology. Fourth, the challenge in compiling diagnostic assessments, the causative factor of which was not having a diagnostic assessment rubric. Furthermore, formative assessments, the causative factor of which was the limited learning time in class. Next was the summative assessment where the challenge lied in giving marks, especially for descriptive questions. Therefore, the teachers are expected to continue to improve their understanding and competence in compiling teaching modules and it is expected that the school can provide support such as holding training and providing the facilities and infrastructure needed in the learning process.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu strategi pembelajaran yang yang dapat memfasilitasi berbagai perbedaan yang dimiliki oleh setiap siswa, serta terbagi menjadi beberapa jenis yaitu konten, proses, dan produk. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penerapan pembelajaran diferensiasi dalam kurikulum merdeka pada mata pelajaran biologi di SMA Negeri 1 Tarakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskripstif dengan jenis studi kasus. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar observasi, teks wawancara dan dokumentasi seperti modul ajar atau perangkat pembelajaran lainnya yang digunakan oleh guru saat mengajar. Teknik analisis data yang digunakan berupa model Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verikasi. Uji keabsahan data yang digunakan yaitu uji kredibilitas dengan cara perpanjangan pengamatan dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di SMA Negeri 1 Tarakan tidak ditemukan adanya penerapan pembelajaran diferensiasi konten, proses dan produk pada mata pelajaran biologi khususnya di semester ganjil tahun ajaran 2024/2025. Namun guru tersebut pernah menerapkan pembelajaran diferensiasi di semester genap tahun ajaran 2023/2024. Dalam penerapannya, guru mengalami beberapa hambatan seperti kurangnya spot wifi disekolah, adanya ruang kelas yang berada dekat dengan jalan raya, siswa yang sulit diatur, adanya keterbatasan waktu dalam penerapan pembelajaran diferensiasi dan guru kurang tegas dalam pengumpulan tugas siswa. Dari hambatan tersebut diharapkan agar pihak sekolah dapat memberikan fasilitas lebih untuk guru dan siswa. Selain itu, guru sebagai fasilitator diharapkan agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang sesuai dengan tingkat pemahanam siswa mulai dari rendah, sedang dan tinggi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi mengajar guru yang diterapkan di kelas untuk mengajarkan mata pelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif (Qualitative Research). Sampel dari penelitian ini adalah 1 orang guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang mengajar siswa kelas tujuh di SMPN 3 Tarakan. Untuk mengambil data, peneliti menggunakan 3 instrumen penelitian, yaitu catatan lapangan observasi (Observations Field Note), panduan wawancara (Interviews Guide), dan dokumentasi (Documentation). Untuk menganalisa data, peneliti menggunakan metode yang didasarkan pada teori Creswell (Creswell's theory). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam strategi pengajaran yang digunakan di kelas, yaitu model pembelajaran instruksi digunakan sebanyak 24%, Desain Proyek Menggunakan Pembelajaran Komunikatif (Project Design Using Communicative Learning) 19%, dan Model Pembelajaran Diskusi (Discussion Instructional Model) 17%. Model Example Non-Example dan Model Pembelajaran Investigasi Group (Group Investigation (GI) Instructional Model) masing-masing digunakan sebanyak 14%, sedangkan Model Pembelajaran Problem Posing digunakan sebanyak 12%. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang paling sering digunakan guru di kelas saat mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris adalah Model pembelajaran instruksi (Direct Instruction (DI) Instructional Model) dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Model pembelajaran instruksi (Direct Instruction (DI) Instructional Model) adalah strategi pengajaran yang sangat efektif, terutama dalam mengembangkan keterampilan dasar seperti penguasaan kosakata dan kompetensi berbahasa dalam pengajaran bahasa Inggris. Model pembelajaran instruksi (Direct Instruction (DI) Instructional Model) memiliki dampak yang signifikan terhadap prestasi Bahasa inggris siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pendidikan karakter mandiri penting dalam pembentukan karakter siswa yang bertanggung jawab terhadap proses dan hasil belajar, sesuai dengan elemen Profil Pelajar Pancasila yang diterapkan melalui Kurikulum Merdeka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai karakter mandiri dalam Profil Pelajar Pancasila pada siswa kelas IV-B di SD Negeri 031 Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan angket. Informan penelitian terdiri dari siswa kelas IV-B, guru kelas, dan guru koordinator P5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Subjek S1, dengan tingkat kemandirian tinggi, telah menunjukkan kesadaran diri dan regulasi diri yang baik dalam mengenali potensi, mengelola emosi, dan bertanggung jawab atas pembelajaran. Subjek S2, dengan tingkat kemandirian sedang, memiliki kesadaran diri yang cukup baik namun masih memerlukan bimbingan dalam pengelolaan emosi dan kemandirian. Subjek S3, dengan tingkat kemandirian rendah, masih menghadapi kesulitan dalam mengenali potensi diri dan mengatur emosi. Penerapan nilai karakter mandiri dalam Profil Pelajar Pancasila pada siswa kelas IV-B di SD Negeri 031 Tarakan telah berjalan cukup baik, meskipun masih memerlukan cara peningkatan terutama dalam aspek regulasi emosi dan pengendalian diri siswa. Oleh karena itu, penguatan elemen kesadaran diri dan regulasi diri perlu terus diupayakan untuk mendukung terbentuknya karakter mandiri sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan mendengarkan bahasa Inggris antara siswa kelas sebelas di SMAN 1 Nunukan dan SMAN 2 Nunukan, yang menerapkan kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kausal-komparatif, dengan sampel 114 siswa yang dipilih secara purposif. Instrumen penelitian meliputi tes mendengarkan yang diadopsi dari Collins' TOEIC Listening Skills dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan mendengarkan antara siswa dari kedua sekolah. Skor rata-rata untuk siswa di SMAN 1 Nunukan yang menerapkan Kurikulum Merdeka adalah 312,63, menempatkan mereka pada tingkat kemahiran TOEIC B1 - Tingkat Menengah dan B2 - Tingkat Menengah Atas pada skala CEFR. Sebaliknya, siswa di SMAN 2 Nunukan yang mengikuti Kurikulum 2013 memiliki skor rata-rata 288,84, sesuai dengan tingkat kemahiran TOEIC B1 - Tingkat Menengah dan B2 - Tingkat Menengah Atas. Ukuran efek dihitung sebesar 0,354, yang menandakan ukuran efek yang kecil. Analisis data statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil tes listening antara kurikulum mandiri dan kurikulum 2013, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti fasilitas yang memadai di kedua sekolah, tersedianya ekstrakulikuler bahasa Inggris di kedua sekolah, tenaga pendidik yang memiliki kualifikasi untuk mengajar di kedua kurikulum tersebut. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru di kedua sekolah, teridentifikasi beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini meliputi kualitas fasilitas sekolah, kualifikasi tenaga pengajar, dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menjadi wadah pengembangan kemampuan bahasa Inggris siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kurikulum Merdeka Belajar adalah sebuah kebijakan pendidikan yang diperkenalkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia. Tujuan utama kebijakan ini adalah memberikan kebebasan kepada siswa dalam memilih, mengakses, dan mengelola proses pembelajaran mereka sendiri. Namun, keberhasilan implementasi kebijakan ini sangat bergantung pada efektivitas peran guru dalam memfasilitasi dan membimbing siswa dalam meraih tujuan pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan problematika yang dihadapi guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar pada pembelajaran matematika. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan objek yaitu guru kelas fase A yang telah menerapkan kurikulum merdeka. Adapun instrumen penelitian yang digunakan ialah lembar observasi dan pedoman wawancara, kemudian semua instrumen divalidasi terlebih dahulu oleh validator sehingga layak digunakan dalam penelitian. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini ialah terdapat beberapa problematika yang dihadapi oleh guru antara lain: (1) Guru belum sepenuhnya memahami maksud dari kurikulum merdeka dan guru juga masih terbiasa dengan kurikulum 2013; (2) Guru mengalami kesulitan pada proses pembuatan rancangan modul ajar pembelajaran matematika; (3) Alokasi waktu yang tidak tepat saat proses pembelajaran membuat guru tidak dapat melakukan evaluasi pembelajaran; (4) Guru belum mengintegrasikan pembelajaran matematika pada kegiatan P5. Untuk mengatasi problematika tersebut, upaya yang dapat dilakukan guru yaitu mengikuti pelatihan atau seminar mengenai kurikulum merdeka, kolaborasi antarguru, pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan mengatur alokasi waktu dalam rancangan perangkat pembelajaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan dalam keterampilan mendengarkan siswa kelas sebelas di SMAN 1 Malinau yang menggunakan Kurikulum 2013 dengan siswa di SMAN 3 Malinau yang menggunakan Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kausal komparatif dengan jumlah sampel 100 siswa berdasarkan teknik purposive sampling untuk benar-benar relevan dan representative terhadap variable yang diteliti. Instrumen penelitian yang digunakan ialah tes mendengarkan dan wawancara. Didalam tes mendengarkan, peneliti menggunakan soal yang diadaptasi dari tes kemampuan mendengarkan TOEIC Collins. Dalam menganalis data, dikarenakan data tidak normal, maka peneliti menggunakan tes Mann-Whityney untuk melakukan uji perbedaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan mendengarkan siswa di SMAN 1 Malinau yang mengimplementasikan Kurikulum 2013 dengan siswa di SMAN 3 Malinau yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Hal ini dapat dibuktikan melalui nilai rata-rata siswa di SMAN 1 Malinau sebesar 241.00 (Level B1-Intermediate), sedangkan nilai rata-rata siswa di SMAN 3 Malinau sebesar 185.40 (Level B1-Intermediate). Sebagai tambahan, dilihat dari hasil tes Mann-Whityney, nilai P-value 0.001 lebih tinggi dibandingkan α-value 0.05. Pun setelah diterapkan Effect Size, level perbedaannya sebesar 0,3339. Hal ini berarti nilai kemampuan mendengarkan siswa memiliki perbedaan yang signifikan dengan kategori medium. Perbedaan tersebut terletak pada sistem pembelajaran yang di mana Kurikulum 2013 lebih sistematis dibandingkan Kurikulum Merdeka.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian yang dilakukan membahas mengenai persepsi guru dan siswa terhadap penerapan strategi literasi melalui jurnal membaca pada kurikulum merdeka belajar di SMP Negeri 13 Tarakan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi guru dan siswa terhadap penerapan strategi literasi melalui jurnal membaca. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif untuk memahami fenomena mengenai apa yang dialami oleh subjek yang diteliti dan menghasilkan data deskriptif berupa dokumen tulisan dan juga lisan yang didapatkan oleh peneliti melalui tahapan wawancara, observasi, dan pengisian instrument penelitian. Pada tahapan Teknik analisi data, peneliti menggunakan penyajian data yang bersumber dari guru dan siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi positif terhadap strategi ini, mengakui bahwa jurnal membaca membantu meningkatkan keterampilan literasi siswa dan memotivasi mereka untuk membaca lebih banyak. Namun, beberapa tantangan diidentifikasi, termasuk keterbatasan waktu dan sumber daya bagi guru. Siswa juga menunjukkan minat yang meningkat terhadap membaca dan merasakan bahwa jurnal membaca membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Mereka merasa lebih termotivasi dan terlibat dalam proses pembelajaran. Program ini juga berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik siswa, serta mendukung pencapaian tujuan kurikulum.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana problematika yang ada dalam perencanaan kurikulum merdeka pada mata pelajaran matematika fase E di SMA Negeri 2 Tarakan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekan studi kasus. Subjek penelitian ini guru matematika SMA fase E dengan menggunakan teknik purposive sampling Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian ini diwujudkan dalam bentuk tema-tema yang dihasilkan dari analisis data. Berdasarkan tema-tema tersebut diperoleh beberapa problematika guru dalam perencanaan pembelajaran yang terdapat dalam pembelajaran matematika. Problematika perencanaan pembelajaran matematika fase E di SMA Negeri 2 Tarakan yaitu Kesulitan menurunkan tujuan pembelajaran (TP) dari capaian pembelajaran (CP) karena adanya perbedaan karakteristik siswa di dalam kelas yang memiliki kebutuhan, gaya belajar, dan tingkat pemahaman yang beragam, sehingga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi pemahaman guru terhadap tujuan pembelajaran di dalam kelas. Kesulitan manajement waktu merancang Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan modul ajar disebabkan adanya tuntutan pekerjaan yang komplek sehingga guru tidak membuat ATP lebih mendahulukan membuat modul ajar dan LKPD serta target alokasi waktu pada modul ajar yang tidak sesuai. Kesulitan merancang LKPD karena guru kesulitan menyesuaikan LKPD dengan materi. Kesulitan dalam merancang alat peraga karena tidak semua materi bisa menggunakan alat peraga.