ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan respon guru terhadap modul ajar berbasis discovery learning pada materi daerahku dan kekayaan alamnya untuk siswa kelas IV sekolah dasar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Model pengembangan yang digunakan mengacu pada model Borg and Gall yang terdiri dari Research and information collecting, Planning, Develop preliminary form of product, Preliminary field testing, Main product revision, Main field testing, Operational product revision. Instrument pengumpulan data yang digunakan yaitu lembar validasi dan angket respon guru. Penelitian ini digunakan pada siswa kelas IV SD Nurul Islam Tarakan. Hasil validasi dari ahli materi memperoleh persentase sebesar 95% dengan kategori sangat layak, sedangkan hasil validasi ahli media memperoleh persentase sebesar 80% dengan kategori layak. Selanjutnya validasi ahli praktisi memperoleh persentase sebesar 96% dengan kategori sangat layak. Hasil angket respon guru pada uji coba lapangan awal memperoleh persentase 87,5%, sedangkan pada uji coba lapangan utama meningkat menjadi 97,5% dengan respon sangat baik. Berdasarkan hasil validasi ahli dan respon guru, modul ajar berbasis discovery learning pada materi daerahku dan kekayaan alamnya dinyatakan layak digunakan dan memperoleh respon yang sangat baik dalam mendukung proses pembelajaran siswa kelas IV sekolah dasar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar yang valid digunakan untuk siswa kelas VII di SMPN 8 Tarakan pada materi bilangan bulat, sub topik jenis-jenis bilangan bulat. Jenis penelitian ini adalah pengembangan modul ajar untuk kelas VII SMPN 8 Tarakan, dengan model 4-D (four-D) yang memakai 3 tahapan saja, karena keterbatasan waktu, yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), dan tahap pengembangan (develop). Tahap pendefinisian dilakukan analisis konsep dan pemilihan tujuan pembelajaran yang akan digunakan dalam pengembangan modul ajar, yaitu materi bilangan bulat, sub topik jenis-jenis bilangan bulat, dengan tujuan pembelajaran mengurutkan dan membandingkan bilangan bulat positif dan negatif. Pada tahap perancangan, modul ajar disusun berdasarkan urutan komponen-komponen yang sudah ditentukan, yaitu informasi umum, komponen inti, serta lampiran. Tahap pengembangan dilakukan penilaian modul ajar oleh 3 orang ahli modul ajar yang menilai dalam aspek kualitas isi dan tujuan pembelajaran, kualitas instruksional, dan kualitas teknis, dan diperoleh rata-rata persentase sebesar 85,02% yang menunjukkan pada kategori sangat valid. Selanjutnya, dilakukan uji coba kelompok kecil kepada 8 siswa dan berdasarkan analisis angket respon guru mendapatkan rata-rata persentase sebesar 93,75% dengan kategori sangat baik, serta analisis angket respon siswa diperoleh rata-rata persentase sebesar 84% dengan kategori sangat baik. Dengan demikian, modul ajar yang dikembangkan pada penelitian ini valid digunakan oleh guru dalam pembelajaran di kelas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang diterapkan pada pendidikan di Indonesia saat ini. Terdapat beberapa pembaharuan atau perubahan dari kurikulum sebelumnya yang membuat guru kesulitan dan memerlukan waktu untuk adaptasi pada kurikulum merdeka. Kesulitan guru dalam menyusun modul ajar adalah salah satu masalah yang sedang terjadi pada kurikulum merdeka ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan apa saja yang dialami guru dalam penyusunan modul ajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa guru mengalami kesulitan dalam penyusunan modul ajar. Letak kesulitan guru yang pertama adalah kesulitan memahami Profil Pelajar Pancasila yang mana faktor penyebabnya adalah keberagaman karakteristik siswa dan minimnya pengetahuan guru tentang profil pelajar Pancasila. Kedua yaitu kesulitan merumuskan capaian pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran dan faktor penyebabnya adalah kurangnya kompetensi guru dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Ketiga yaitu kesulitan dalam menentukan model dan metode pembelajaran yang faktor penyebabnya adalah sarana dan prasarana yang terbatas dan minimnya kompetensi guru dalam penggunaan teknologi. Keempat adalah kesulitan dalam menyusun asesmen diagnostic yang mana faktornya penyebabnya adalah tidak memiliki rubrik penilaian asesmen diagnostik. Selanjutnya asesmen formatif yang faktornya penyebabnya adalah keterbatasan waktu pembelajaran di kelas. Berikutnya asesmen sumatif yang mana kesulitannya terdapat pada pemberian nilai khususnya soal uraian. Oleh karna itu, diharapkan guru untuk terus meningkatkan pemahaman dan kompentensi dalam menyusun modul ajar serta diharapkan pihak sekolah dapat memberi dukungan seperti mengadakan pelatihan dan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. The curriculum that is currently implemented in Indonesian schools is Merdeka curriculum. It takes time for teachers to adjust to Merdeka curriculum because of a number of updates or modifications from the latest curriculum. One of the issues with this autonomous curriculum at the moment is the challenge faced by teachers in creating lesson plans. The purpose of this study was to identify the challenges faced by teachers when designing the lesson plans. The method employed in this study was descriptive qualitative. The results of this study indicated that teachers experienced some challenges in compiling teaching modules. The first challenge of teachers was the difficulty in understanding the Pancasila Student Profile, the causative factors of which were the diversity of student characteristics and the lack of teacher knowledge about the Pancasila student profile. Second, the challenge in formulating learning outcomes into learning objectives and the causative factor was the lack of teacher competence in formulating learning objectives. Third, the challenge in determining learning models and methods, the causative factors of which were limited facilities and infrastructure and the lack of teacher competence in using technology. Fourth, the challenge in compiling diagnostic assessments, the causative factor of which was not having a diagnostic assessment rubric. Furthermore, formative assessments, the causative factor of which was the limited learning time in class. Next was the summative assessment where the challenge lied in giving marks, especially for descriptive questions. Therefore, the teachers are expected to continue to improve their understanding and competence in compiling teaching modules and it is expected that the school can provide support such as holding training and providing the facilities and infrastructure needed in the learning process.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media modul ajar matematika materi mengenal pecahan berbasis pendekatan matematika realistik untuk kelas V SD yang ditinjau dari validasi ahli media dan validasi ahli materi, angket respon siswa dan angket respon guru terhadap ketertarikan dan kepraktisan modul ajar, serta untuk mengetahui dampak penggunaan modul ajar ditinjau dari hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (Research and Development). Prosedur pengembangan menggunakan model pengembangan ADDIE. Penilaian kelayakan media modul ajar ditinjau dari validasi ahli media dan validasi ahli materi. Validasi ahli media diperoleh skor persentase sebesar 94% dan validasi ahli materi diperoleh skor persentase sebesar 95% sehingga mendapat kategori sangat layak. Hasil angket respon siswa terhadap ketertarikan modul pada saat implementasi di kelas uji coba diperoleh skor persentase sebesar 87% dan 88% di kelas penelitian. Adapun hasil angket respon guru terhadap kepraktisan modul pada saat implementasi di kelas uji coba diperoleh skor persentase sebesar 96% dan 98% di kelas penelitian. Dapat disimpulkan bahwa hasil angket respon siswa dan angket respon guru terhadap ketertarikan dan kepraktisan modul mendapat kategori sangat tertarik dan sangat praktis. Tes hasil belajar siswa mendapat skor rata-rata sebesar 91, sedangkan hasil tes awal siswa mendapat skor rata-rata sebesar 57. Hal tersebut terlihat adanya kenaikan skor rata-rata dari hasil tes awal siswa dengan tes hasil belajar siswa.