ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
This study aimed to determine the differences in students' speaking skills between the 2013 Curriculum and the Merdeka Curriculum among eleventh-grade students at SMAN 1 and SMAN 3 Malinau in the 2023/2024 academic year. A causal- comparative research design was employed with purposive sampling, involving students from SMAN 1 and 44 students from SMAN 3. Data were collected using the TOEIC Speaking Test and analyzed with SPSS version 26.0 through descriptive and inferential statistical procedures. As the data were not normally distributed, the Mann-Whitney U test was applied. The results showed no statistically significant difference between the two groups (U = 647.500, Z =-1.404, p= 0.160). The effect size was small (r = 0.157), indicating a small practical difference. Although students under the 2013 Curriculum (SMAN 1) achieved slightly higher mean score (M = 69.72) than those under the Merdeka Curriculum (SMAN 3) (M = 56.14), the difference was not statistically significant. These findings indicated that, despite a slight tendency for higher achievement under the 2013 Curriculum, both curricula produce relatively similar outcomes in students' speaking skills.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan mendengarkan bahasa Inggris antara siswa kelas sebelas di SMAN 1 Nunukan dan SMAN 2 Nunukan, yang menerapkan kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kausal-komparatif, dengan sampel 114 siswa yang dipilih secara purposif. Instrumen penelitian meliputi tes mendengarkan yang diadopsi dari Collins' TOEIC Listening Skills dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan mendengarkan antara siswa dari kedua sekolah. Skor rata-rata untuk siswa di SMAN 1 Nunukan yang menerapkan Kurikulum Merdeka adalah 312,63, menempatkan mereka pada tingkat kemahiran TOEIC B1 - Tingkat Menengah dan B2 - Tingkat Menengah Atas pada skala CEFR. Sebaliknya, siswa di SMAN 2 Nunukan yang mengikuti Kurikulum 2013 memiliki skor rata-rata 288,84, sesuai dengan tingkat kemahiran TOEIC B1 - Tingkat Menengah dan B2 - Tingkat Menengah Atas. Ukuran efek dihitung sebesar 0,354, yang menandakan ukuran efek yang kecil. Analisis data statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil tes listening antara kurikulum mandiri dan kurikulum 2013, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti fasilitas yang memadai di kedua sekolah, tersedianya ekstrakulikuler bahasa Inggris di kedua sekolah, tenaga pendidik yang memiliki kualifikasi untuk mengajar di kedua kurikulum tersebut. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru di kedua sekolah, teridentifikasi beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini meliputi kualitas fasilitas sekolah, kualifikasi tenaga pengajar, dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menjadi wadah pengembangan kemampuan bahasa Inggris siswa.