ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran Discovery Learning pada materi gaya magnet di kelas IV C SDN 043 Tarakan. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV C SDN 043 Tarakan yang berjumlah 28 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar, observasi aktivitas guru dan siswa, serta penilaian ranah afektif dan psikomotorik . Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada ranah kognitif, ketuntasan belajar siswa pada siklus I mencapai 57% atau 16 siswa, kemudian meningkat pada siklus II menjadi 89% atau 25 siswa. Pada ranah afektif, ketuntasan siswa pada siklus I sebesar 68% atau 19 siswa dan meningkat menjadi 89% atau 25 siswa pada siklus II. Sementara itu, pada ranah psikomotorik ketuntasan siswa pada siklus I sebesar 46% atau 13 siswa, kemudian meningkat menjadi 82% atau 23 siswa pada siklus II. Aktivitas guru juga mengalami peningkatan dari rata-rata 68% pada siklus I menjadi 83% pada siklus II, sedangkan aktivitas siswa pada siklus II mencapai rata-rata 89%. Berdasarkan hasil tersebut, penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya magnet di kelas IV C SDN 043 Tarakan. Penelitian dihentikan pada siklus II karena ketuntasan klasikal pada ketiga ranah telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pada kondisi awal, terlihat bahwa pembelajaran IPA masih kurang optimal karena peserta didik kesulitan memahami konsep gaya magnet. Pembelajaran cenderung berpusat pada guru sehingga peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi gaya magnet melalui penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada peserta didik kelas IVA SDN 043 Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 28 siswa. Teknik pengussmpulan data menggunakan tes dan observasi yang meliputi hasil belajar kognitif, afektif, psikomotorik, aktivitas siswa, dan aktivitas guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Ketuntasan hasil belajar kognitif meningkat dari 39,29% pada pretest, menjadi 75% pada Siklus I, dan mencapai 92,86% pada Siklus II. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketuntasan belajar pada Siklus II telah melampaui indikator keberhasilan sebesar 70%. Pada Siklus I, rata-rata aspek afektif mencapai 71%, psikomotorik 70%, aktivitas siswa 75%, dan aktivitas guru 85%, yang seluruhnya telah mencapai indikator keberhasilan. Perbaikan pada Siklus II dilakukan melalui pembentukan kelompok yang lebih kecil, pembagian tugas yang lebih merata, pemberian bimbingan selama percobaan, serta pengaturan waktu evaluasi. Penerapan CTL melalui kegiatan percobaan, diskusi, pengamatan, dan penerapan konsep gaya magnet dalam kehidupan sehari-hari membantu siswa memahami materi secara bermakna dan meningkatkan keterlibatan dalam pembelajaran. Dengan demikian, penerapan pendekatan CTL dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi gaya magnet dan mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran IPAS dapat dipengaruhi oleh faktor internal dari dalam diri siswa, baik aspek fisiologis maupun psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan belajar siswa dalam belajar IPAS di kelas V-A SDN 015 Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas enam siswa kelas V-A yang ditentukan. Pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi teknik dan sumber. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Faktor internal yang diteliti meliputi aspek fisiologis dengan sub-indikator kelemahan fisik serta aspek psikologis yang meliputi sikap dalam mengikuti pembelajaran, minat dan bakat, serta motivasi dalam belajar. Aspek kelemahan fisik, ada siswa menunjukkan hambatan penglihatan yang dapat memengaruhi proses pembelajaran, sedangkan siswa lainnya tidak menunjukkan hambatan fisik yang berarti. Aspek sikap dalam mengikuti pembelajaran, siswa menunjukkan sikap baik dan lainnya cukup baik. Aspek minat dan bakat, siswa tergolong baik dan lainnya cukup baik. Aspek motivasi dalam belajar, siswa tergolong baik hanya satu siswa yang tergolong cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa setiap siswa memiliki kondisi faktor internal yang berbeda pada aspek fisiologis dan psikologis yang dapat memengaruhi proses pembelajaran IPAS. Oleh karena itu, guru perlu memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing siswa serta menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai untuk membantu mengatasi kesulitan belajar siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi siswa selama mengikuti kegiatan di sekolah. Ketepatan waktu pembagian makanan penting diperhatikan karena kondisi fisik siswa dapat berkaitan dengan kemampuan berkonsentrasi selama pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) terkait konsentrasi belajar siswa kelas III-B SD Negeri 048 Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian adalah guru kelas III-B dan enam siswa kelas III-B SD Negeri 048 Tarakan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pembagian MBG berkaitan dengan kondisi fisik dan konsentrasi belajar siswa. Sebelum menerima MBG: beberapa siswa menunjukkan kondisi lapar, lemas, sakit perut, kurang berenergi, dan kesulitan memusatkan perhatian selama pembelajaran. Saat pembagian MBG: fokus siswa terbagi antara kegiatan makan dan pembelajaran. Setelah menerima MBG: siswa cenderung merasa kenyang, lebih segar, berenergi, dan bersemangat mengikuti pembelajaran. Namun, pelaksanaan MBG setelah waktu istirahat, menjelang siswa pulang, atau ketika pembelajaran masih berlangsung dapat mengalihkan perhatian dan mengurangi waktu pembelajaran. Dengan demikian, MBG memberikan manfaat terhadap kondisi fisik siswa, tetapi efektivitasnya dalam mendukung konsentrasi belajar berkaitan dengan ketepatan waktu pembagian. Waktu yang lebih sesuai adalah sebelum pembelajaran atau pada awal kegiatan sekolah dengan menyediakan alokasi waktu khusus agar kegiatan makan tidak mengganggu proses pembelajaran. Penempatan waktu tersebut juga dapat membantu menjaga ketertiban dan kesinambungan aktivitas belajar siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) IPAS materi Bentuk Keragaman Budaya pada siswa kelas IV-B SDN 045 Tarakan serta mengetahui kelayakan dan respon siswa terhadap LKPD yang dikembangkan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan bahan ajar yang masih terbatas pada buku cetak dan buku tulis yang cenderung monoton, serta keterbatasan gambar budaya yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami bentuk nyata keragaman budaya. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri atas lima tahap, yaitu Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate. Subjek penelitian terdiri dari 6 siswa pada uji coba terbatas dan siswa kelas IV-B pada uji coba lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, lembar validasi ahli, angket respon siswa, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD yang dikembangkan memperoleh persentase kelayakan dari ahli media sebesar 90%, ahli bahasa sebesar 100%, dan ahli materi sebesar 97,7%, dengan rata-rata persentase kelayakan sebesar 95,9% dan termasuk kategori sangat layak. Hasil respon siswa pada uji coba terbatas memperoleh persentase sebesar 95,3%, sedangkan uji coba lapangan memperoleh persentase sebesar 93,1%, dengan rata-rata sebesar 94,2% dan termasuk kategori sangat menarik. Berdasarkan hasil tersebut, LKPD IPAS materi Bentuk Keragaman Budaya dinyatakan sangat layak dan sangat menarik untuk digunakan sebagai bahan ajar pendukung dalam pembelajaran IPAS kelas IV sekolah dasar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran guru sebagai motivator terhadap hasil belajar siswa serta mengetahui tingkat kekuatan hubungan tersebut pada siswa kelas V A SD Negeri 011 Karang Balik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional yang melibatkan 28 siswa kelas V A sebagai sampel penelitian yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi sebanyak 56 siswa kelas V. Data peran guru sebagai motivator dikumpulkan melalui angket yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, sedangkan data hasil belajar diperoleh melalui dokumentasi nilai siswa. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan uji korelasi Rank Spearman dengan bantuan program SPSS versi 27 karena salah satu variabel penelitian tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi Rank Spearman (ρ) sebesar 0,247 dengan nilai signifikansi 0,206 > 0,05, sehingga H₀ diterima dan Hₐ ditolak. Artinya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peran guru sebagai motivator terhadap hasil belajar siswa, meskipun hubungan yang diperoleh bersifat positif dengan tingkat hubungan rendah. Kontribusi peran guru sebagai motivator terhadap hasil belajar siswa sebesar 6,10%, sedangkan 93,90% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Persetubuhan terhadap anak yang dilakukan oleh guru di lingkungan sekolah dasar merupakan tindak pidana yang tidak hanya melanggar ketentuan hukum pidana, tetapi juga mencederai fungsi sekolah sebagai tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak. Kedudukan guru sebagai pendidik menimbulkan relasi kepercayaan dan kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk melindungi peserta didik, bukan justru dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pertanggungjawaban pidana guru sebagai pelaku tindak pidana persetubuhan terhadap anak di lingkungan sekolah dasar serta mengkaji dasar pertimbangan hukum dalam penjatuhan sanksi pidana terhadap pelaku. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Bahan hukum yang digunakan terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan bahan non hukum sebagai pendukung. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan Teknik deksriptif analitis. Hasil penelitian menunjukan bahwa guru yang terbukti melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap anak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana apabila seluruh unsur tindak pidana terpenuhi, pelaku memiliki kemampuan bertanggung jawab, terdapat kesalahan berupa kesengajaan atau kealpaan sesuai ketentuan yang berlaku, serta tidak ditemukan alasan pembenar maupun alasan pemaaf. Pertanggungjawaban pidana tersebut didasarkan pada ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016. Penjatuhan pidana terhadap guru sebagai pelaku diharapkan tidak hanya memberikan efek jera, tetapi juga mewujudkan perlindungan hukum bagi anak serta memperkuat kepercayaan Masyarakat terhadap lingkungan Pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan seksual.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
DESKRIPSI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI UTAMA 1 TARAKAN Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada pembelajaran tematik kelas III SD Negeri Utama 1 Tarakan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kurang optimalnya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga diperlukan model pembelajaran yang mampu mendorong keaktifan, kerja sama, serta kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah guru kelas III SD Negeri Utama 1 Tarakan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah telah dilaksanakan melalui lima indikator utama, yaitu (1) orientasi peserta didik pada masalah, guru menyampaikan permasalahan sesuai materi pembelajaran; (2) mengorganisasi peserta didik untuk belajar, guru membentuk kelompok belajar, memberikan penjelasan mengenai tugas, serta membimbing setiap anggota kelompok dalam menjalankan perannya; (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, guru memantau aktivitas peserta didik dan memberikan arahan ketika mengalami kesulitan; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru memfasilitasi peserta didik dalam menyusun dan mempresentasikan hasil yang diperoleh; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, guru melakukan evaluasi melalui diskusi, pemberian pertanyaan, refleksi, dan apresiasi terhadap hasil kerja peserta didik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada pembelajaran tematik telah terlaksana dengan baik. Meskipun demikian, masih terdapat aspek yang perlu ditingkatkan, yaitu pembentukan kelompok belajar yang mempertimbangkan keragaman kemampuan peserta didik agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Kata kunci: Implementasi, Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Tematik, Sekolah Dasar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya karakter sopan santun peserta didik kelas V-C SDN Utama 2 Tarakan dalam penggunaan kata santun sehari-hari, yang dipengaruhi oleh dampak globalisasi dan penggunaan teknologi yang tidak terkontrol. Metode pembelajaran konvensional dinilai belum mampu membentuk kebiasaan bersikap santun secara optimal, sehingga diperlukan media pembelajaran yang lebih inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan kemenarikan media flashcard magic words berbasis pendidikan karakter sopan santun, serta mengetahui sikap sopan santun peserta didik kelas V-C dalam penggunaan media tersebut pada kegiatan belajar maupun interaksi sehari-hari di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4D yang terdiri dari empat tahapan, yaitu Define (pendefinisian), Design (perancangan), Development (pengembangan), dan Disseminate (penyebaran). Namun, penelitian ini dibatasi hanya sampai pada tahap Development, sedangkan tahap Disseminate tidak dilaksanakan karena keterbatasan waktu, biaya, dan cakupan penelitian sehingga penyebaran media secara lebih luas belum dapat dilakukan. Subjek penelitian adalah 27 peserta didik kelas V-C SDN Utama 2 Tarakan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, lembar validasi ahli, angket kemenarikan siswa, dan lembar observasi pembiasaan sikap sopan santun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media flashcard magic words dinyatakan sangat layak digunakan berdasarkan validasi ahli media (95,38%), validasi ahli bahasa (90%), dan validasi praktisi (96,36%). Tingkat kemenarikan media pada uji coba terbatas mencapai 97,92% dan pada uji coba lapangan sebesar 91,76%, keduanya termasuk kategori sangat menarik. Adapun hasil analisis sikap sopan santun peserta didik setelah menggunakan media memperoleh persentase sebesar 61,42%, yang termasuk dalam kategori cukup baik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa media flashcard magic words layak, menarik, dan cukup baik digunakan untuk membentuk karakter sopan santun peserta didik kelas V-C SDN Utama 2 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan sarana dan prasarana dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila pada kelas I-C di SDN 024 Tarakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penggunaan sarana dan prasarana dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru kelas. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sarana dan prasarana dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila pada kelas I-C di SDN 024 Tarakan sudah berjalan cukup baik. Sarana dan prasarana yang tersedia seperti ruang kelas, perpustakaan, alat pelajaran, alat peraga, media pembelajaran, serta lingkungan sekolah dimanfaatkan untuk menunjang proses pembelajaran. Guru menggunakan sarana dan prasarana sesuai dengan materi pembelajaran dan kebutuhan siswa sehingga membantu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan menarik. Selain itu, guru juga menggunakan lingkungan sekitar sebagai alternatif alat peraga dan media pembelajaran ketika fasilitas belum tersedia. Penggunaan sarana dan prasarana dalam pembelajaran disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun oleh pihak sekolah untuk menghindari terjadinya benturan pemakaian seperti penyusunan jadwal atau roster pelajaran di setiap kelas. Secara keseluruhan, penggunaan sarana dan prasarana memberikan dampak positif terhadap kelancaran proses pembelajaran di SDN 024 Tarakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ANALISIS SIKAP SISWA TERHADAP TEMAN BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM KEGIATAN BELAJAR DAN BERSOSIALISASI DI KELAS II-B SDN 014 TARAKAN ABSTRAK Siti Wahdania. 2026. Analisis Sikap Siswa terhadap Teman Berkebutuhan Khusus dalam Kegiatan Belajar dan Bersosialisasi di Kelas II-B SDN 014 Tarakan. Skripsi. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo Tarakan. (dibimbing oleh Ahsan Sofyan dan Nur Pangesti Apriliyana). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap siswa terhadap teman berkebutuhan khusus (ABK) dalam kegiatan belajar dan bersosialisasi di kelas II-B SDN 014 Tarakan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif subjek penelitian terdiri atas satu guru kelas dan lima orang siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap siswa terhadap teman berkebutuhan khusus belum sepenuhnya inklusif. Dalam kegiatan belajar, masih ditemukan sikap menghindar, kurangnya keterlibatan teman berkebutuhan khusus dalam kerja kelompok, serta Sebagian siswa enggan untuk bekerjasama dengan siswa ABK. Dalam kegiatan bersosialisasi, Sebagian siswa mulai menunjukkan keinginan untuk berinteraksi, namun hubungan sosial yang terjalin belum konsisten. Sikap siswa dipengaruhi oleh tingkat pemahaman tentang anak berkebutuhan khusus, pengalaman berinteraksi, peran guru, serta karakteristik anak berkebutuhan khusus yang cenderung pasif dan kurang percaya diri. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman, empati, dan sikap inklusif siswa agar tercipta interaksi yang lebih positif dan setara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kecemasan matematika merupakan fenomena psikologis yang cukup umum dijumpai pada siswa sekolah dasar dan dapat berdampak negatif terhadap proses serta hasil belajar matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kecemasan matematika siswa kelas V SD ditinjau dari aspek kognitif, afektif, dan fisiologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian siswa kelas V-A SDN 024 Tarakan yang berjumlah 27 siswa. Pemilihan subjek dilakukan melalui teknik purposive sampling, dan selanjutnya dipilih tiga orang siswa sebagai subjek utama yang mewakili masing-masing kategori kecemasan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket kecemasan matematika yang terdiri dari 28 butir pernyataan dan wawancara semi-terstruktur. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 27 siswa, sebanyak 5 siswa berada pada kategori kecemasan rendah, 21 siswa berada pada kategori kecemasan sedang, dan 1 siswa berada pada kategori kecemasan tinggi. Ditinjau dari aspek kognitif, siswa dengan kecemasan sedang dan tinggi menunjukkan adanya keraguan terhadap kemampuan diri, kesulitan berkonsentrasi, dan rasa takut gagal. Pada aspek afektif, gejala gugup, gelisah, dan kurang senang terhadap matematika muncul terutama ketika siswa menghadapi situasi evaluasi atau materi yang sulit. Pada aspek fisiologis, gejala seperti keringat dingin, jantung berdebar, sakit kepala, dan rasa mual lebih dominan pada siswa dengan kecemasan tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecemasan matematika pada siswa kelas V SDN 024 Tarakan didominasi pada kategori sedang dan memerlukan perhatian serius dari guru melalui penciptaan suasana belajar yang suportif dan tidak mengancam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran kartu suku kata dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan menulis di kelas I-B SD Negeri 031 Tarakan, serta mengetahui tingkat kelayakan dan kemenarikan. Jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang meliputi tahap analyze, design, develop, implement, dan evaluate. Subjek penelitian ini aadalah 22 siswa kelas I-B SDN 031 Tarakan. Teknik pengumpulan data memnggunakan observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan meliputi lembar validasi ahli media, ahli materi, serta angket kemenarikan siswa dan guru. Hasil penelitian menunjukan bahwa media kartu suku kata yang dikembangkan memperoleh presentase kelayakan sebesar 90% dari ahli media dan 90% dari ahli materi dengan kategori sangat layak. Selalin itu, hasil uji kemenarikan menunjukan presentase sebesar 98% dari siswa dan 100% dari guru dengan kategori sangat menarik. Dengan demikian, media kartu suku kata yang dikembangkan dinyatakan sangat layak dan sangat menarik untuk digunakan dalam pembelajaran menulis siswa kelas I sekolah dasar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Salah satu upaya dalam mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas rendah adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media kotak pintar membaca yaitu kotak yang berisi kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata yang dapat disusun menjadi kalimat dan gambar yang dapat membantu siswa memahami bacaan. Penelitian ini bertujuan mengatasi kesulitan membaca permulaan pada siswa kelas II-A dengan menerapkan media kotak pintar membaca. Jenis penelitian yang digunakaan yaitu penelitian dan pengembangan atau research and development dengan menggunakan model ADDIE. Subjek penelitian ini yaitu kelas II-A SDN 029 Tarakan. Uji coba produk dilakukan melalui dua tahap, yaitu uji coba terbatas kepada 2 siswa dan uji coba lapangan kepada 6 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media kotak pintar membaca yang dikembangkan memiliki kelayakan yang baik berdasarkan validasi dari ahli media, materi, dan bahasa. Hasil validasi yang diperoleh dari ahli media sebesar 94% dan ahli materi 80% yang menunjukan bahwa media kotak pintar membaca sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran. Implementasi media dalam pembelajaran menunjukkan adanya keterampilan membaca permulaan siswa dengan persentase 100% yang menunjukkan kategori sangat baik pada uji coba terbatas dan hasil keterampilan membaca dengan persentase 83,3% yang menunjukkan kategori baik pada uji coba lapangan. Dengan demikian, media kotak pintar membaca dinyatakan layak dan dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran terhadap keterampilan membaca permulaan siswa kelas II-A di sekolah dasar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
PERAN GURU DALAM MEMBINA KARAKTER DISIPLIN PADA SISWA KELAS IV A SD NEGERI 013 TARAKAN Bellasapera 2140605152 ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya penguatan pendidikan karakter di tingkat sekolah dasar, khususnya nilai kedisiplinan yang menjadi fondasi moral bagi perkembangan perilaku siswa. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara mendalam peran guru sebagai teladan dan pembimbing dalam membina karakter disiplin siswa kelas IV A di SD Negeri 013 Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan perannya secara optimal melalui dua fungsi utama. Peran sebagai teladan diwujudkan melalui profesionalisme nyata, seperti konsistensi hadir tepat waktu, kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, serta antusiasme tinggi saat mengajar yang memotivasi siswa untuk meniru perilaku positif tersebut secara alami. Sementara itu, peran sebagai pembimbing dilaksanakan melalui pendekatan persuasif, humanis, dan dialogis, di antaranya dengan memberikan arahan disiplin waktu, motivasi belajar di rumah melalui tugas yang menyenangkan, serta melibatkan siswa dalam penyusunan kesepakatan kelas. Keberhasilan pembinaan ini dibuktikan dengan adanya transformasi signifikan pada karakter disiplin siswa, yang semula berada pada kategori "Cukup" di awal observasi meningkat menjadi kategori "Sangat Baik" pada tahap akhir, yang ditandai dengan munculnya kesadaran internal siswa untuk mematuhi aturan secara mandiri. Kesimpulannya, integrasi antara bimbingan yang empatik dan keteladanan profesional guru terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan kelas yang kondusif bagi pembentukan karakter disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab siswa secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca siswa kelas III di SDN 005 Tinampak 2, di mana sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenal huruf, membaca dengan lancar, serta memahami isi bacaan. Kurangnya motivasi belajar, minimnya pembiasaan literasi di rumah, serta keterbatasan lingkungan literasi menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana peran guru dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas III di SDN 005 Tinampak 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran guru dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas III di SDN 005 Tinampak 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah guru kelas III dan siswa kelas III. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji kredibilitas data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai pendidik, teladan, dan motivator dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Sebagai pendidik, guru merencanakan pembelajaran membaca secara bertahap mulai dari pengenalan huruf hingga pemahaman bacaan, serta melaksanakan kegiatan literasi 15 menit sebelum pembelajaran. Sebagai teladan, guru memberikan contoh membaca yang baik dan membiasakan budaya literasi di kelas. Sebagai motivator, guru memberikan dorongan, semangat, serta penghargaan kepada siswa agar lebih percaya diri dalam membaca. Peran tersebut berdampak pada peningkatan kefasihan membaca, pemahaman bacaan, serta penguasaan kosakata siswa meskipun masih terdapat beberapa siswa yang memerlukan pendampingan khusus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca siswa kelas III di SDN 005 Tinampak 2, di mana sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenal huruf, membaca dengan lancar, serta memahami isi bacaan. Kurangnya motivasi belajar, minimnya pembiasaan literasi di rumah, serta keterbatasan lingkungan literasi menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana peran guru dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas III di SDN 005 Tinampak 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran guru dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas III di SDN 005 Tinampak 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah guru kelas III dan siswa kelas III. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji kredibilitas data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai pendidik, teladan, dan motivator dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Sebagai pendidik, guru merencanakan pembelajaran membaca secara bertahap mulai dari pengenalan huruf hingga pemahaman bacaan, serta melaksanakan kegiatan literasi 15 menit sebelum pembelajaran. Sebagai teladan, guru memberikan contoh membaca yang baik dan membiasakan budaya literasi di kelas. Sebagai motivator, guru memberikan dorongan, semangat, serta penghargaan kepada siswa agar lebih percaya diri dalam membaca. Peran tersebut berdampak pada peningkatan kefasihan membaca, pemahaman bacaan, serta penguasaan kosakata siswa meskipun masih terdapat beberapa siswa yang memerlukan pendampingan khusus.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang sangat penting bagi siswa sekolah dasar dalam menunjang keberhasilan belajar pada berbagai mata pelajaran. Namun, berdasarkan hasil observasi awal di kelas III SDN 009 Malinau Utara, ditemukan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam membaca kata, menyusun suku kata, membaca kalimat sederhana, serta memahami isi bacaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa melalui penggunaan media PAPICA (Papan Pintar Baca). Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 20 siswa kelas III. Teknik pengumpulan data meliputi observasi aktivitas guru dan siswa, tes kemampuan membaca, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca siswa dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, persentase siswa yang mencapai kategori mandiri sebesar 40%, meningkat menjadi 65% pada siklus II. Sementara itu, siswa yang berada pada kategori perlu bimbingan menurun dari 10% pada siklus I menjadi 0% pada siklus II. II. Sedangkan kategori berkembang dari 50% pada siklus I menurun menjadi 15%. Selain itu, Terjadinya peningkatan karena media PAPICA memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret, menarik, dan interaktif, sehingga siswa lebih mudah memahami materi serta lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran membaca. Dengan demikian, media PAPICA terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas III sekolah dasar serta meningkatkan kualitas proses pembelajaran secara keseluruhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PENGGUNAAN KARTU SILA UNTUK PENINGKATAN PEMAHAMAN PANCASILA SISWA KELAS II DI SDN 005 TARAKAN ABSTRAK Rendahnya pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila pada siswa sekolah dasar menjadi permasalahan mendasar dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Kondisi ini disebabkan oleh penggunaan media pembelajaran yang kurang variatif dan belum kontekstual dengan karakteristik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman nilai-nilai Pancasila melalui penggunaan media Kartu Sila, yang menekankan visualisasi konkret untuk memepermudah daya ingat siswa dalam menerapakan nilai-nilai pancsila dan aktivitas belajar lebih aktif. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing meliputi Pada tahap perencanaan, guru menetapkan tujuan pembelajaran dan mengembangkan materi pembelajaran, Pada tahap pelaksanaan, guru menyampaikan materi dengan menggunakan media Kartu Sila. Pada tahap observasi, guru menilai keterlibatan siswa dalam pembelajaran melalui penggunaan media Kartu Sila serta melakukan pengamatan terhadap perilaku siswa. Pada tahap refleksi, guru mengevaluasi keterlibatan siswa selama proses pembelajaran dan efektivitas penggunaan media Kartu Sila.. Subjek penelitian adalah 28 siswa kelas II SD Negeri 005 Tarakan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila dari siklus I 70% menjadi 85% pada siklus II, sehingga mencapai (KKM) yang di tentukan dengan rata-rata 15%, baik dari aspek aktivitas belajar maupun hasil tes pada setiap siklus. Dengan demikian, media Kartu Sila efektif digunakan sebagai alternatif pembelajaran Pancasila. Penelitian ini direkomendasikan sebagai referensi bagi guru dalam mengembangkan media pembelajaran inovatif berbasis karakter.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
STRATEGI GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS II-B SDN 031 TARAKAN ABSTRAK Kemampuan membaca permulaan merupakan kemampuan dasar yang sangat penting bagi siswa sekolah dasar karena menjadi fondasi untuk memahami pelajaran selanjutnya. Namun, hasil observasi di kelas II-B SDN 031 Tarakan menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan membaca, seperti belum mengenal huruf dengan baik, salah menyebutkan bunyi huruf, kesulitan menggabungkan suku kata, serta kurang berminat membaca. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang tepat untuk membantu meningkatkan kemampuan membaca siswa sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II-B SDN 031 Tarakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan ultisenso. Keabsahan data diperoleh melalui ultis triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan beberapa strategi, yaitu strategi SAS (Struktural Analitik Sintetik), strategi ultisensory, pendampingan individual, serta program literasi harian 15 menit membaca. Strategi tersebut membantu siswa mengenal huruf dan bunyi dengan lebih baik, menggabungkan huruf menjadi kata, serta meningkatkan kelancaran membaca. Selain itu, guru juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memberikan motivasi kepada siswa. Dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran yang bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan siswa berpengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II. Kata kunci: strategi guru, membaca permulaan, siswa sekolah dasar.