Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

17 hasil
Subjek: kitosan
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

APLIKASI PESTISIDA BERBAHAN AKTIF KITOSAN SEBAGAI PENGENDALIAN KUTU DAUN (Aphis craccivora) PADA TANAMAN KACANG PANJANG (Vigna sesquipedalis)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pengujian pestisida berbahan aktif kitosan sebagai alternatif pestisida masih relevan untuk dilakukan, khususnya terhadap hama kutu daun yang menjadi hama penting pada tanaman sayur-sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh beberapa jenis pestisida berbahan aktif kitosan; (2) konsentrasi pestisida; dan (3) interaksi antara jenis pestisida dan konsentrasi terhadap hama kutu daun pada tanaman kacang panjang. Penelitian faktorial menggunakan rancangan acak kelompok. Faktor pertama jenis pestisida berbahan aktif kitosan, yang terdiri dari kontrol (J0), kitosan murni (J1), soft guard (J2), super biovit (J3). Sedangkan, faktor kedua yaitu konsentrasi pestisida yang terdiri dari 0.1% (K1), 0.3% (K2), dan 1% (K3). Terdapat 12 kombinasi perlakuan dan 4 ulangan, sehingga terdapat 48 unit percobaan. Data dianalisis menggunakan Analysis of variance (Anova), dan perbandingan antar rata-rata menggunakan Duncan Multiple range Test (DMRT). Hasil penelitan menunjukkan; (1) pengaruh perlakuan bersifat tunggal atau tidak terdapat interaksi antara jenis pestisida berbahan aktif kitosan dengan konsentrasi pada seluruh parameter pengamatan; (2) pengaruh jenis pestisida berbahan aktif kitosan berbeda nyata hanya pada rata-rata populasi kutu daun 1 dan 3 hari setelah aplikasi pertama. Sedangkan, pestisida berbahan aktif kitosan jenis soft guard memiliki kecenderungan mengendalikan populasi kutu daun lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pestisida lainnya; dan (3) pengaruh konsentrasi pestisida tidak berbeda nyata terhadap seluruh parameter pengamatan. Namun, konsentrasi 1% memiliki kecenderungan menghambat populasi kutu daun lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi lainnya. Tingginya populasi awal kutu daun, perilaku koloni kutu daun, metode aplikasi, dan sifat bahan aktif kitosan, diduga menjadi faktor yang mengurangi kemampuan pestisida mengendalikan hama kutu daun pada tanaman kacang panjang.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI EFEKTIVITAS MEDIA FILTER TERMODIFIKASI KOMBINASI KITOSAN UNTUK MENINGKATAN pH AIR SUMUR BOR MASYARAKAT MAMBURUNGAN KOTA TARAKAN

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sumur bor merupakan salah satu sumber air yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Mamburungan, Kota Tarakan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengamatan awal, air sumur bor memiliki nilai pH sebesar 5,5 yang menunjukkan kondisi asam sehingga diperlukan pengolahan untuk meningkatkan kualitas air, khususnya pada parameter pH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas media filter termodifikasi yang dikombinasikan dengan kitosan dalam meningkatkan pH air sumur bor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan tahapan koagulasi dan filtrasi. Kitosan digunakan sebagai bahan koagulan dengan variasi dosis 1 mL, 2 mL, dan 3 mL, sedangkan media filtrasi terdiri atas cangkang kerang kapah, arang aktif, pasir silika, dan kerikil. Pengukuran pH dilakukan sebelum perlakuan, setelah proses koagulasi, dan setelah proses filtrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pH awal pada perlakuan kontrol sebesar 5,53. Setelah proses koagulasi menggunakan kitosan, rata-rata pH meningkat menjadi 6,29 dengan efektivitas sebesar 51,51%. Setelah proses filtrasi menggunakan media filter termodifikasi, rata-rata pH meningkat menjadi 6,89 dengan efektivitas sebesar 92,42%. Perlakuan kontrol memiliki efektivitas sebesar 0% karena tidak diberikan proses pengolahan. Hasil uji ANOVA menunjukkan nilai F sebesar 5,918 dengan nilai signifikansi 0,038 (p 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antarperlakuan terhadap nilai pH air sumur bor. Berdasarkan hasil penelitian, filtrasi menunjukkan efektivitas lebih tinggi dibandingkan koagulasi dalam meningkatkan pH menuju target 7,0. Dengan demikian, kombinasi kitosan dan media filter termodifikasi berpotensi digunakan sebagai metode alternatif.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

POTENSI KITOSAN PADA KERANG KAPAH SEBAGAI ANTIBAKTERI Vibrio parahaemolyticus PATOGEN UDANG WINDU (Penaeus monodon)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas ekspor penting Indonesia, termasuk di Kota Tarakan yang mampu mengekspor hingga 13 ribu ton udang windu setiap tahun keberbagai negara sehingga kualitas dan keamanan produk menjadi aspek yang sangat diperhatikan dalam rantai pasok ekspor. Kitosan berpotensi menjadi solusi alternatif yang aman, efektif, ramah lingkungan, dan mendukung praktik budidaya berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi senyawa kimia kitosan yang berasal dari kerang kapah sebagai potensi antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolyticus patogen udang windu, kitosan yang diperoleh merupakan senyawa hasil deasetilasi kitin yang berasal dari limbah cangkang kerang kapah. Pengujian derajat deasetilasi dilakukan menggunakan metode garis dasar Spektroskopi FTIR, kemudian dilanjutkan analisa difusi daya hambat. Hasil penelitian menunjukkan derajat deasetil kapah FTIR 3415 cm-1, kitin 3410 cm-1dan kitosan 3408 cm-1. Pengujian daya hambat menunjukkan rata-rata amoxilin 1% 1,00 mm, asam asetat 1% 1,67 mm, kemudian senyawa kitosan 0,5% 2,00 mm, 1% 1,67 mm, 1,5% 2,00 mm dan 2% 2,67 mm. Pengujian lanjutan perlakuan secara statistik terhadap potensi senyawa kitosan pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan tidak terdapat perbedaan daya hambat antibakteri terhadap Vibrio parahaemolitycus, namun perlakuan 1,5% cukup menghambat dibanding perlakuan amoxilin 1%. Secara umum senyawa kitosan dari kerang kappah memiliki aktivitas antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio parahaemolitycus.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Efisiensi Kitosan dan Media Filter Termodifikasi Terhadap Parameter Fisik-Kimia Air Sumur Bor di Kelurahan Mamburungan Kota Tarakan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Meningkatnya kebutuhan air bersih di Kota Tarakan mendorong masyarakat memanfaatkan air sumur bor sebagai sumber air alternatif. Namun, kualitas air sumur bor di Kelurahan Mamburungan belum memenuhi baku mutu air higiene sanitasi karena memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi, pH yang bersifat asam, kadar besi (Fe) yang tinggi, serta teridentifikasi berbau. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas fisik-kimia air sumur bor sebelum dan sesudah pengolahan serta menentukan efisiensi kombinasi kitosan dan media filter termodifikasi dalam meningkatkan kualitas air. Penelitian menggunakan metode eksperimen melalui proses koagulasi-flokulasi menggunakan kitosan yang dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan media filter termodifikasi yang terdiri atas cangkang kerang kapah (Meretrix meretrix), arang aktif, pasir silika, kerikil, dan busa filter. Parameter yang dianalisis meliputi suhu, Total Dissolved Solids (TDS), kekeruhan, bau, pH, nitrat, nitrit, dan besi (Fe). Data dianalisis menggunakan uji paired sample t-test pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) serta dihitung nilai efisiensi pengolahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tidak mengalami perubahan yang signifikan (p-value = 1,000), sedangkan parameter TDS, kekeruhan, pH, nitrat, dan Fe mengalami perubahan yang signifikan setelah pengolahan (p-value 0,05). Pengolahan mampu menurunkan TDS dengan efisiensi 73,6%, kekeruhan 94,1%, nitrat 39,6%, dan Fe 91,2%, serta meningkatkan pH dari kondisi asam menjadi memenuhi baku mutu. Parameter bau berubah dari berbau menjadi tidak berbau, sedangkan nitrit tetap memenuhi baku mutu sebelum dan sesudah pengolahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kitosan dan media filter termodifikasi efektif meningkatkan kualitas fisik-kimia air sumur bor sehingga berpotensi diterapkan sebagai alternatif pengolahan air skala rumah tangga di Kelurahan Mamburungan Kota Tarakan.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

POTENSI KITOSAN CANGKANG KERANG KAPAH (Meretrix sp) TERHADAP PERBAIKAN KUALITAS KIMIA TANAH TAMBAK TRADISIONAL UDANG WINDU

2026•

Kualitas tanah memegang peranan penting dalam sistem tambak tradisional udang windu. Kualitas tanah dapat menurun akibat kegiatan pasca panen dari sisa metabolisme udang windu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi kitosan cangkang kerang kapah (Meretrix sp) dalam perbaikan kualitas kima tanah tambak tradisional udang windu. Penelitian ini dimulai dengan mensintesis kitosan dari kitin cangkang kerang kapah (Meretrix sp). Kitosan di karakterisasi ukurannya menggunakan Particle Size Analyzer (PSA). Rancangan penelitian terdiri dari perlakuan kapur dan kitosan diaplikasikan pada tanah tambak dengan rasio 1:50, dibawah lampu visibel selama 8 jam penyinaran. Parameter kualitas tanah yang diamati meliputi derajat keasaman (pH), potensial redoks (Eh), aluminium (Al), dan besi (Fe). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan berhasil disintesis dengan di tandai puncak bilangan gelombang 1082,76 cm⁻¹ nm. Nilai efektivitas kitosan memiliki nilai yang sama dengan kapur dolomit dalam meningkatkan pH tanah mencapai 16,67% (p > 0,05), yang menunjukkan bahwa peningkatan pH yang terjadi tidak berbeda nyata dibandingkan tanah alami, dan pada parameter potensial redoks (Eh) sebesar 81,52% (p 0,05), yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan penggunaan kapur dolomit (30,46%). Pada parameter Al, Semua perlakuan menunjukkan efektivitas sebesar 100%, sedangkan parameter besi (Fe) kitosan sebesar 97,23%. Berdasarkan hasil didapatkan kitosan efektif memperbaiki kualitas tanah parameter potensial redoks.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakteristik Membran Komposit Polivinil Alkohol dan Kitosan Dari Cangkang Kerang Kapah (Meretrix meretrix)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Limbah cangkang kerang kapah (Meretrix meretrix) di sepanjang pantai Tarakan merupakan sumber kitin yang melimpah dengan potensi signifikan untuk dikonversi menjadi kitosan, bahan alami, ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pemanfaatan limbah ini sebagai bahan baku kitosan diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan di masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik membran komposit yang terbuat dari kitosan dan polivinil alkohol (PVA) yang berasal dari cangkang kerang kapah (Meretrix meretrix) sebagai membran pertukaran proton prospektif. Kitosan disintesis dari cangkang kerang, diikuti oleh persiapan membran komposit kitosan-PVA. Membran dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), pengujian kekuatan tarik, analisis membrane swelling, water uptake, dan kapasitas penukar ion (KPI). Spektrum FTIR mengkonfirmasi keberhasilan sintesis kitosan. Membran komposit menunjukkan kekuatan tarik maksimum 8,90 MPa, membrane swelling 144,76%, water uptake 5,16%, dan kapasitas pertukaran ion (KPI) 0,875 meq/g. Membran dengan rasio kitosan : PVA (3:2) mendukung konduktivitas proton yang tinggi, sementara rasio kitosan : PVA (2:3) memberikan kekuatan mekanis yang baik, sehingga cocok untuk membran pertukaran proton MFC dari limbah laut.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FILTRASI LOGAM BESI MENGGUNAKAN ADSORBEN KITOSAN DAN FILTER TERMODIFIKASI PADA AIR SUMUR GALI

2025•

Sumur gali yang berada di Karungan RT. 08 Kelurahan Mamburungan Timur Kota Tarakan adalah air baku yang digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Berdasarkan uji pendahuluan kandungan logam besi pada air sumur didapatkan hasil 1,2 mg/L artinya tidak memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan kandungan logam besi pada air sumur gali setelah dilakukan pengolahan menggunakan adsorben kitosan dan filter termodifikasi. Filter termodifikasi merupakan kombinasi ijuk, pasir silika, cangkang kapah, kerikil dan arang aktif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen skala laboratorium. Tahapan pengolahan air sumur yaitu sedimentasi, adsorpsi dan filtrasi. Parameter yang diuji yaitu logam Fe dan parameter kualitas air lainnya. Hasil pengujian kandungan Fe setelah sedimentasi adalah 0,21 mg/L dan setelah filtrasi menggunakan filter termodifikasi yaitu 0,09 mg/L. Hasil pengujian parameter fisika untuk TDS awal yaitu 297 mg/L, nilai TDS setelah sedimentasi 262 mg/L dan nilai TDS setelah filtrasi 248 mg/L. Hasil pengukuran untuk parameter fisika kekeruhan air sumur 12,64 NTU, setelah sedimentasi 12,20 NTU, setelah filtrasi 12,25 NTU. Hasil pengukuran parameter warna air awal setelah sedimentasi dan setelah filtrasi yaitu 5 TCU. Nilai pH air awal setelah sedimentasi dan setelah filtrasi yaitu 5,2-5,8. Parameter kimia nitrat air sumur awal 0,100 mg/L, nilai nitrat setelah sedimentasi 0,098 mg/L dan nilai nitrat setelah filtrasi 0,084 mg/L. Nilai nitrit air sumur dan setelah sedimentasi 0,012 mg/L, nilai nitrit setelah filtrasi 0,012 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan air sumur setelah di filtrasi mengalami peningkatan kualitas air untuk parameter logam besi sehingga media tersebut efektif untuk pengolahan air baku. Namun secara keseluruhan parameter kualitas air sumur belum memenuhi baku mutu untuk keperluan higiene sanitasi berdasarkan Permenkes RI No. 02 Tahun 2023.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI FILTRASI AIR SUMUR MENGGUNAKAN KITOSAN DAN FILTER TERMODIFIKASI BERDASARKAN PARAMETER FISIKA DAN KIMIA

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sumber air yang dimanfaatkan oleh masyarakat Karungan RT 08 dan 09 Kelurahan Mamburungan Timur Kota Tarakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah air sumur galian karena tergolong praktis serta ekonomis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sumur terletak di tengah pemukian warga dengan kondisi terbuka dan berada ditepi jalan sehingga rentan terhadap kontaminasi dari lingkungan sekitar. Tujuan penelitian adalah uji filtrasi air sumur gali menggunakan filter termodifikasi dan kombinasi kitosan dalam mengoptimalkan kualitas air sumur. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan penerapan kitosan dan filter termodifikasi berupa ijuk, pasir silika, cangkang kerang kapah, kerikil dan arang aktif. serta uji yang diaplikasikan pada air suur ntuk menentukan parameter kualitas air. Tahapan penelitian yaitu persiapan media filtrasi, pembuatan kitosan, aplikasi kitosan dan filter termodifikasi pada air sumur dengan tahapan sedimentasi, koagulasi dan filtrasi serta uji kualitas air hasil filtrasi. Parameter fisika yang diuji adalah suhu, total dissolved solid (TDS), kekeruhan, warna, bau. Parameter kimia yaitu pH, nitrat dan nitrit. Hasil penelitian menunjukkan beberapa parameter belum memenuhi baku mutu yaitu kekeruhan dan pH. parameter suhu air sumur 29℃, sedimentasi 29℃, filtrasi 30,6℃. Hasil parameter TDS air baku 297 mg/L, sedimentasi 267 mg/L, filtrasi 261 mg/L. hasil parameter kekeruhan air baku 12,64 NTU, sedimentasi 12,20 NTU, filtrasi 12,31 NTU. Hasil parameter warna 5 TCU. Hasil parameter pH 5,2 sedimentasi 5,3 filtrasi 5,58. Kadar nitrat air baku 0,100 mg/L, sedimentasi 0,098 mg/L, filtrasi 0,102 mg/L. Kadar nitrit sebelum perlakuan 0,012 mg/L, filtrasi 0,012 mg/L. Hasil pnelitisn edia filtrasi belum efektif menurunkan mengoptialkan air sumur.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Efikasi Sistem Bioflok Dengan Penambahan Kitosan Terhadap Produktivitas Udang Windu (Penaeus monodon) Dan Kelimpahan Bakteri Vibrio sp

2025•

Udang merupakan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi dan sangat digemari oleh konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efikasi sistem bioflok dengan penambahan kitosan terhadap produktivitas udang windu (P. monodon) dan kelimpahan bakteri Vibrio sp. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan tiga ulangan yaitu perlakuan P1 (kontrol), perlakuan P2 (kolam bioflok tanpa penambahan kitosan), perlakuan P3 (kolam bioflok dengan penambahan kitosan 100 ppm). Hasil perhitungan TVB (Total Vibrio Bakteri) paling rendah didapatkan pada P2 (3,4 × 10^2 CFU/ml), dan tertinggi pada P1 (8,1 × 10^3 CFU/ml). Parameter pertumbuhan terbaik terdapat pada perlakuan P3 dengan nilai ABW (Average Body Weight) 0,299 g/hari, ADG (Average Daily Growth) 0,007 g/hari, SGR (Specific Growth Rate) 14,25 %/hari, SR (Survival Rate) 68,33 % dan FCR (Feed Conversion Ratio) 1,14. Parameter kualitas air selama pemeliharaan masing-masing perlakuan masih optimal dan tidak melewati ambang batas untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang windu. Penggunaan sistem bioflok dengan penambahan kitosan terhadap produktivitas udang windu (P. monodon) pada media pemeliharaan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap penurunan konsentrasi jumlah total bakteri Vibrio sp. Penggunaan bioflok dengan penambahan kitosan memberikan pengaruh nyata pada parameter pertumbuhan

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PEMBERIAN KITOSAN TERHADAP KUALITAS AIR PEMELIHARAAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) DENGAN SISTEM BIOFLOK

2025•

Udang windu (P. monodon) merupakan komoditas unggulan dengan nilai ekonomis tinggi, namun produktivitasnya mengalami penurunan signifikan. Teknologi bioflok yang melibatkan mikroorganisme penting digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan kualitas air pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas bioflok dengan penambahan kitosan sebagai koagulan untuk meningkatkan kualitas air dan pertumbuhan udang windu. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan: kolam tanpa bioflok (P1), kolam bioflok tanpa kitosan (P2), dan kolam bioflok dengan 100 ppm kitosan (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P3 memberikan hasil terbaik, dengan nilai rata-rata pertumbuhan harian (ADG) sebesar 0,00074 g/hari, tingkat pertumbuhan spesifik (SGR) 14,25%/hari, tingkat kelangsungan hidup (SR) 68,33%, rasio konversi pakan (FCR) 1,14, bobot akhir (ABW) 0,299 g, panjang mutlak 2,04 cm, dan total heterobakteri 1,53 X 10⁶ CFU/mL. Penambahan kitosan terbukti memperbaiki kualitas air dan mendukung pembentukan bioflok yang stabil, sehingga meningkatkan produktivitas budidaya udang windu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Penambahan Ekstrak Daun Karamunting (Melastoma malabathricum) dan Kitosan pada Media Pemeliharaan Terhadap Pertumbuhan Udang Windu (Penaeus monodon)

2025•

Keberhasilan industri budidaya udang sebagian besar dipengaruhi oleh keberhasilan produksi post larvae (PL) berkualitas tinggi melalui fase pembenihan. Pembenihan dapat menghasilkan udang postlarva yang lebih besar dan sehat serta menyesuaikan kondisi PL dengan kondisi kolam pembesaran. Penelitian ini menggunakan hewan uji udang windu dengan perlakuan perendaman ekstrak daun karamunting (melastoma malabathricum) dan penambahan kitosan pada media pemeliharaan terhadap pertumbuhan udang windu (penaeus monodon) (PL 10). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu perlakuan kontrol P1 (tanpa ekstrak), perlakuan P2 (ekstrak karamunting 50 ppm), perlakuan P3 (50 ppm ekstrak daun karamunting dan 100 ppm kitosan), dan perlakuan P4 (Kitosan 100 ppm). Pertumbuhan panjang tertinggi didapatkan pada perlakuan P3 yaitu 3,03 cm sedangkan pertumbuhan berat tertinggi didapatkan pada perlakuan P4 yaitu 0,168 g. kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan P4 yaitu 68%. Pemberian ekstrak daun karamunting yang dikombinasikan dengan kitosan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan benur udang windu.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Waktu Aplikasi Kitosan Terhadap Induksi Ketahanan Cabai Rawit (Capsicum Annum) Pada Serangan Antraknosa

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyakit antraknosa adalah salah satu penyakit yang menyerang tanaman cabai dan dapat menyebabkan kehilangan hasil produksi lebih dari 50%. Salah satu pengendalian antraknosa adalah dengan fungisida bahan organik seperti kitosan. Kitosan diketahui dapat merusak DNA jamur. Kitosan diketahui juga dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap serangan patogen karena kitosan berkaitan dengan SAR (Systemic Acquired Resistance). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu aplikasi kitosan yang efektif dalam menekan intensitas serangan penyakit antraknosa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) satu faktor dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan dengan perlakuan yaitu : P0 (-) (Tanpa inokulasi patogen dan tanpa pengendalian), P0 (+) (Inokulasi patogen dan tanpa pengendalian), P1 (Aplikasi fungisida 2 minggu sebelum inokulasi patogen), P2 (Aplikasi fungisida bersamaan dengan inokulasi patogen), P3 (Aplikasi fungisida 1 minggu setelah inokulasi patogen), P4 (Aplikasi fungisida 2 minggu setelah inokulasi patogen), P5 (Aplikasi kitosan 2 minggu sebelum inokulasi patogen), P6 (Aplikasi kitosan bersamaan dengan inokulasi patogen), P7 (Aplikasi kitosan 1 minggu setelah inokulasi patogen), P8 (Aplikasi kitosan 2 minggu setelah inokulasi patogen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P0(-) dan P5 memiliki intensitas serangan buah yang rendah dibandingkan perlakuan lain dan berbeda nyata dengan perlakuan P0 (+) dan pada parameter intensitas serangan pada daun perlakuan P0 (-) berbeda nyata terhadap semua perlakuan. Pada parameter efektivitas pengendalian pada intensitas serangan buah menunjukkan perlakuan P5 memiliki nilai efektivitas pengendalian tertinggi sebesar 19,48% dan pada parameter efektivitas pengendalian pada intensitas serangan daun menunjukkan efektivitas pengendalian P1 memiliki nilai tertinggi sebesar 17,538%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pada parameter berat basah dan berat kering tanaman perlakuan kitosan P5 dan perlakuan fungisida P2 menunjukkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan perlakuan kitosan dan perlakuan fungisida lainnya.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN MIKROBIOLOGI SEDIAAN MAKE-UP REMOVER BERBASIS NANOPARTIKEL KITOSAN DARI CANGKANG KEPITING BAKAU (Scylla sp.)

2024•

Kitosan dari cangkang kepiting bakau memiliki banyak manfaat yang dapat diaplikasikan dalam bidang kosmetik. Salah satu sediaan kosmetik yang dapat diaplikasikan adalah produk make-up remover. Modifikasi ukuran kitosan menjadi nanopartikel dilakukan untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan ukuran nanopartikel kitosan cangkang kepiting bakau dan mendapatkan karakteristik fisikokimia dan mikrobiologi sediaan make-up remover berbasis nanopartikel kitosan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif pada analisis ukuran nanokitosan dan karakteristik fisikokimia makeup- remover. Karakteristik mikrobiologi berupa uji aktifitas antibakteri make-up remover menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan nanopartikel kitosan pada taraf F0 (0%), F1 (0,1%), F2 (0,3%), F3 (0,5%). Hasil penelitian menunjukkan ukuran nanopartikel kitosan sebesar 67,07 nm. Make-up remover pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,3% dan 0,5% tidak berwarna (bening), aroma jasmine dan berbentuk cair. Make-up remover pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,3% dan 0,5% menghasilkan nilai pH 5,01 – 5,08 sesuai dengan standar SNI 16-4380-1996. Seluruh konsentrasi formula make-up remover mengandung logam berat merkuri (Hg) 0,02 mg/kg, arsen (As) 0,0008 mg/kg, kadmium (Cd) 0,00011 mg/kg, dan timbal (Pb) 0,05 mg/kg. Semua formulasi tidak melebihi batas maksimum cemaran logam berat yang ditetapkan oleh Peraturan Badan BPOM No. 12 Tahun 2019. Sediaan Make up remover nanopartikel kitosan mampu menghambat bakteri gram positif Propionibacterium acnes dengan menghasilkan zona hambat pada F0 (0%) 18,6±3,51 mm, F1 (0,1%) 24,3±4,04 mm, F2 (0,3%) 22,8±1,15 dan F3 (0,5%) 16±1,25. Aktivitas antibakteri make-up remover nanopartikel kitosan terhadap Propionibacterium acnes pada penelitian ini termasuk kategori kuat hingga sangat kuat.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FORMULASI PAPER SOAP ANTIBAKTERI BERBASIS NANOPARTIKEL KITOSAN CANGKANG KEPITING BAKAU (Scylla sp.)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penggunaan sabun untuk mencuci tangan meningkat sejak covid 19 hingga memasuki masa new normal. Inovasi pembuatan produk sabun terus dikembangkan salah satunya paper soap berbahan nanopartikel kitosan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan ukuran nanopartikel dari kitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) serta menentukan formulasi terbaik dari paper soap antibakteri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriftif kuantitatif untuk menentukan ukuran nanopartikel kitosan, pH, kadar air, alkali bebas, dan organoleptik. Aktivitas antibakteri paper soap menggunakan analysis of variant pada selang kepercayaan 95% dengan satu faktor yaitu penambahan nanopartikel kitosan pada taraf 0%; 0,25%; 0,5%; 0,75%; 1% dan 2 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan ukuran nanopartikel kitosan cangkang kepiting bakau 67,07 nm. Paper soap konsentrasi 0%; 0,25%; 0,5%; 0,75%; 1% menghasilkan nilai pH berkisar 9.18-9.27 sesuai dengan SNI yaitu 4-10. Kadar air paper soap berturut-turut yaitu 18,25, 20,25, 22,5, 32 dan 35,25. Kadar alkali bebas berkisar 0,003-0,01 % sesuai SNI sebesar 0,14%. Nilai organoleptik semua konsentrasi memiliki aroma jasmine dan menunjukkan warna putih kekuningan. Paper soap berbasis nanopartikel kitosan mampu menghambat aktivitas bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan menghasilkan zona bening sebesar 3.5± 0.70 mm, 5±0 mm, 14±0.70 mm, 10.25±0.35 mm, 10.75±2.47 mm. Konsentrasi 0,5% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Dan gram negatif Echerichia coli menghasilkan zona bening sebesar 4.50 ± 0.00 mm, 5.00 ± 0.00 mm, 9.75± 1.06 mm, 11.50 ± 4.24 mm, 7.50± 0.00 mm. Konsentrasi 0,75% terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Echerichia coli. Aktivitas antibakteri nanopartikel kitosan pada penelitian ini termasuk kategori lemah hingga kuat. Paper soap nanopartikel kitosan dari cangkang kepiting bakau yang dihasilkan sesuai dengan standar SNI dan terbukti mampu menghambat aktivitas bakteri.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Adsorpsi Besi Fe menggunakan adsorben dari Kitosan Kulit Udang Termodifikasih CaO kerang kapah Meretrix sp

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Limbah kulit udang dan cangkang kerang kapah merupakan salah satu sumber daya alam di bidang perikanan yang sangat melimpah, namun limbah ini tidak dimanfaatkan dengan baik dan hanya dibuang. Limbah kulit udang dapat dijadikan sebagai kitosan selain itu terdapat limbah kerang kapah mengandung kalsium dalam bentuk oksida atau CaO. Kedua bahan alam ini dapat dijadikan sebagai adsorben untuk mengurangi logam berat khususnya besi (Fe). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh adsorbsi dengan material dari bahan alam kitosan dari kulit udang yang kemudian dimodifikasi dengan CaO dari Kerang kapah sebagai adsorben penyerapan logam berat (Fe). Penelitian diawali dengan pembuatan kitosan melalui 3 tahapan isolasi yaitu deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Rendemen dari kitosan sebesar 13,91% dari berat kulit udang. Dengan hasil FTIR mengkonfirmasi bahwa penelitian ini berhasil disintesis kitosan dan derajat deasitilasi yang didapatkan sebesar 76% untuk kitosan yang tersintesis. CaO kerang kapah dilakukan melalui proses kalsinasi. Difraktogram XRD menunjukan terbentuknya mineral CaO. Pembentukan komposit Kitosan-CaO dilakukan dengan pencampuran antara kitosan dan CaO. Hasil karakterisasi FTIR menyatakan bahwa komposit kitosan-CaO terdapat kandungan CaO dan kitosan. Adsorpsi dilakukan dengan sistem batch dan dianalisis dengan AAS. Penggunaan adsorben komposit kitosan-CaO memiliki kemampuan adsorpsi besi (Fe) sebesar sebesar 83,69% hingga 90,09% dengan kemampuan optimal penyerapan logam besi (Fe) terjadi pada massa adsorben 0.8 gr dengan presentase adsorpsi sebesar 90,09%

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH KOMPOSIT KITOSAN-ZEOLIT DARI LIMBAH CANGKANG UDANG WINDU (Panaeus monodon) TERHADAP pH AIR SUMUR BOR KELURAHAN PANTAI AMAL

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Air merupakan kebutuhan utama makhluk hidup untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Kebutuhan air bersih akan terus meningkat seiring meningkatnya aktivitas dan jumlah penduduk. Air untuk kebutuhan sehari-hari tentunya harus bebas dari segala macam bentuk polutan. Untuk keperluan hygiene sanitasi, air baku tentunya harus sesuai dengan standar mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah sehingga aman digunakan oleh manusia. Salah satu parameter yang harus dipenuhi untuk air bersih adalah parameter pH air. pH air yang rendah akan menyebabkan tingginya kelarutan logam pada air serta dapat menyebabkan sifat korosif. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pengolahan pada air sumur bor yang memiliki nilai pH asam dengan menggunakan adsorben kitosan-zeolit yang dibuat dari limbah cangkang udang. Tahapan dari penelitian ini antara lain penyiapan sampel, isolasi kitosan dari cangkang kulit udang, sintesis komposit kitosan-zeolit, karakterisasi kitosan-zeolit dengan FT-IR, uji stabilitas kitosan-zeolit, dan aplikasi kitosan-zeolit sebagai adsorben pada air sumur bor dengan mengamati perubahan pH. Hasil penelitian untuk karakterisasi kitosan-zeolit dengan FTIR menunjukkan adanya serapan pada panjang gelombang 3467,04 cm-1 merupakan vibrasi OH dan N-H Primer. Terbentuknya vibrasi ulur N-H pada hasil sintesis kitosan. Pada bilangan gelombang 2348,38 cm-1 adalah rentangan N-H dari amina. Vibrasi dari NH amida primer muncul pada serapan 1638,06 cm-1 serta terdapat serapan pada bilangan gelombang 455,3 cm-1 yang menunjukkan adanya gugus Si-O yang berasal dari zeolite. Aplikasi kitosan-zeolit sebagai adsorben untuk meningkatkan pH pada air sumur bor menunjukkan terjadinya perubahan pH dari 5 menjadi 6 pada rasio kitosan-zeolit 1:1,5.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN DENGAN VARIASI KONSENTRASI PADA FILTER RESIRKULASI AKUAKULTUR SISTEM (RAS) TERHADAP KUALITAS AIR DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Air adalah elemen yang sangat penting dalam proses budidaya perairan, akan tetapi media air dalam budidaya rentang tercemar oleh berbagai aktivitas. Salah satu alternatif yang digunakan adalah Resirkulasi Akuakultur Sistem (RAS) yaitu filter kitosan yang berasal dari zat kitin limbah perikanan seperti cangkang kepiting dan kulit udang, yang ramah lingkungan serta efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi kitosan dalam filter RAS dan untuk mengetahui konsentrasi kitosan yang optimal sebagai filter terhadap kualitas air dan pertumbuhan budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus). Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu ikan air tawar yang mendapat perhatian cukup besar dari pemerintah yang diharapkan dapat menyumbang peningkatan produksi, ikan nila juga mendapat perhatian dari masyarakat dunia, yang menitik beratkan pada peningkatan gizi masyarakat berkembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan desain penelitian rancangan acak lengkap (RAL), yang terdiri dari empat perlakukan dan tiga ulangan. Setiap perlakuan terdiri dari variasi konsentrasi kitosan yaitu kontrol, kitosan 0 mg, kitosan 50 mg, kitosan 100 mg. Hasil penelitian menunjukan setiap perlakuan berpengaruh nyata pada panjang mutlak dan bobot mutlak, serta tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup (SR) dan laju pertumbuhan spesifik (SGR). Perlakuan P3 dengan konsentrasi kitosan 50 mg merupakan konsentrasi yang optimal pada filter dalam sistem RAS.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail