ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gangguan sistem pernapasan seperti tuberkulosis paru dan pneumonia sering menyebabkan intoleransi aktivitas berat sehingga pasien memerlukan pemasangan kateter urine menetap, yang meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) terkait kateter. Bundle care merupakan salah satu pendekatan berbasis bukti yang efektif untuk mencegah kejadian tersebut, namun penerapannya di lapangan masih belum konsisten. Karya Ilmiah Akhir Ners ini bertujuan menganalisis penerapan perawatan kateter berbasis bundle care dalam upaya pencegahan infeksi saluran kemih pada pasien gangguan sistem pernapasan yang menggunakan kateter urine. Penulisan menggunakan asuhan keperawatan pada dua pasien, yaitu Ny. M dengan pneumonia disertai diabetes melitus tipe 2 dan Tn. L dengan tuberkulosis paru, yang sama-sama terpasang kateter urine menetap. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan SDKI, SIKI, dan SLKI, dengan penerapan intervensi inovasi Bundle Care selama 5×24 jam. Hasil pengkajian menemukan kedua pasien berisiko mengalami ISK akibat pemasangan kateter urine. Setelah penerapan bundle care secara konsisten, kedua pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih, dengan hasil laboratorium leukosit urine normal, nitrit dan leukosit esterase negatif, serta bakteri negatif. Penerapan perawatan kateter berbasis bundle care terbukti efektif mencegah perkembangan status risiko menjadi infeksi saluran kemih aktual pada pasien gangguan sistem pernapasan yang menggunakan kateter urine.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Isolasi sosial merupakan kondisi ketika individu mengalami penurunan kemampuan berinteraksi dan menjalin hubungan sosial sehingga cenderung menarik diri dari lingkungan. Kondisi ini sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa dan dapat memengaruhi kualitas hidup serta proses pemulihan. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien perempuan dengan diagnosis keperawatan isolasi sosial di RSUD dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua klien perempuan yang mengalami isolasi sosial. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Asuhan keperawatan dilaksanakan melalui tahapan pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil pengkajian menunjukkan kedua klien mengalami perilaku menarik diri, lebih suka menyendiri, kontak mata kurang, afek tumpul, kesulitan memulai percakapan, serta tidak mengikuti aktivitas kelompok. Diagnosis keperawatan utama yang ditegakkan adalah isolasi sosial. Intervensi yang diberikan meliputi membina hubungan saling percaya, membantu klien mengenali manfaat interaksi sosial, melatih kemampuan berkenalan dan bercakap-cakap, serta mendorong keterlibatan dalam aktivitas sosial secara bertahap. Setelah implementasi, kedua klien menunjukkan peningkatan kemampuan berinteraksi, mampu berkomunikasi sederhana, dan lebih kooperatif saat diajak berbicara. Penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan isolasi sosial dapat meningkatkan kemampuan interaksi sosial secara bertahap. Dukungan keluarga dan tenaga kesehatan secara berkelanjutan diperlukan untuk mempertahankan perkembangan kemampuan sosial klien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pneumonia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan dan berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar pasien. Kondisi ini sering menimbulkan keluhan sesak napas, batuk berdahak, peningkatan frekuensi napas, serta penurunan toleransi aktivitas sehingga memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan yang tepat. Laporan Tugas Akhir ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada dua pasien dengan diagnosis medis Pneumonia di ruang rawat inap Anggrek A RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penegakan diagnosis keperawatan, penyusunan intervensi, implementasi, dan evaluasi berdasarkan standar SDKI, SIKI, dan SLKI. Hasil pengkajian menunjukkan perbedaan keluhan utama pada kedua pasien, yaitu pasien 1 mengeluh batuk berdahak disertai sesak napas, sedangkan pasien 2 mengeluh sesak napas. Kesamaan data yang ditemukan pada kedua pasien meliputi takipnea, peningkatan kadar leukosit dan neutrofil, penurunan hemoglobin, serta kadar natrium rendah. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan meliputi bersihan jalan napas tidak efektif, pola napas tidak efektif, intoleransi aktivitas, nyeri akut, risiko defisit nutrisi, gangguan integritas kulit, gangguan mobilitas fisik, defisit perawatan diri, dan gangguan pola tidur. Intervensi keperawatan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien, meliputi manajemen jalan napas, manajemen nyeri, manajemen energi, pemantauan nutrisi, perawatan luka, dukungan mobilisasi, dukungan perawatan diri, dan dukungan tidur. Hasil evaluasi menunjukkan pada pasien 1 diagnosis risiko defisit nutrisi tidak terjadi selama masa perawatan, sedangkan diagnosis bersihan jalan napas tidak efektif, intoleransi aktivitas, dan nyeri akut belum teratasi. Pada pasien 2, diagnosis pola napas tidak efektif, defisit perawatan diri dan gangguan pola tidur berhasil teratasi, sedangkan diagnosis yang belum teratasi yaitu gangguan mobilitas fisik dan gangguan integritas kulit. Penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif dan terstruktur sesuai standar keperawatan diperlukan untuk membantu meningkatkan kondisi kesehatan pasien pneumonia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipokalemia merupakan gangguan elektrolit yang ditandai dengan kadar kalium 3,5 mEq/L dan dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan irama jantung, hingga komplikasi serius sehingga memerlukan asuhan keperawatan yang tepat. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada pasien hipokalemia di ruang Dahlia A RSUD dr. H. Jusuf SK. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua pasien dewasa dengan diagnosis hipokalemia melalui tahapan proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Hasil menunjukkan kedua pasien mengalami kelemahan otot, keterbatasan aktivitas, serta kadar kalium rendah, dengan masalah keperawatan utama yaitu gangguan mobilitas fisik dan ketidakseimbangan elektrolit. Intervensi meliputi pemantauan elektrolit, pemberian terapi kalium, observasi tanda vital, serta edukasi pasien. Evaluasi menunjukkan adanya perbaikan kondisi pasien ditandai dengan peningkatan kadar kalium dan berkurangnya keluhan lemah. Disimpulkan bahwa penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif dan sistematis mampu mengatasi kondisi pasien hipokalemia serta mencegah terjadinya komplikasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Halusinasi pendengaran merupakan salah satu manifestasi gangguan persepsi sensori yang dapat mengganggu fungsi emosi, perilaku, dan kemampuan koping klien, sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang tidak hanya berfokus pada farmakoterapi tetapi juga pendekatan nonfarmakologis. Terapi okupasi menggambar menjadi salah satu intervensi yang berperan sebagai media ekspresi emosi dan distraksi adaptif terhadap stimulus internal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi okupasi menggambar terhadap perubahan tanda dan gejala halusinasi pendengaran pada klien dengan gangguan persepsi sensori pendengaran. Metode penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada dua klien, melalui tahapan pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Intervensi terapi okupasi menggambar diberikan secara terstruktur dan dievaluasi menggunakan instrumen Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS). Intervensi dilakukan selama 1 hari 1 kali dalam 3 hari secara berturut-turut dengan durasi 30-40 menit. Hasil penelitian menunjukkan penurunan skor AHRS pada kedua klien, di mana klien pertama mengalami penurunan skor dari 21 (halusinasi sedang) menjadi 8 (halusinasi ringan), sedangkan klien kedua mengalami penurunan skor dari 21 (halusinasi sedang) menjadi 12 (halusinasi ringan). Temuan ini menunjukkan bahwa terapi okupasi menggambar berkontribusi terhadap penurunan intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran serta meningkatkan kemampuan klien dalam mengalihkan perhatian dan mengontrol respons terhadap stimulus halusinasi. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat memperkuat peran perawat dalam penerapan intervensi nonfarmakologis sebagai bagian dari asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan gangguan persepsi sensori pendengaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil dari mengidentifikasi kemampuan berbahasa ekspresif dan reseptif yang dimiliki anak dengan gangguan autisme dengan menggunakan kajian psikolinguistik. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian deskriptif kualitatif karena mendeskripsikan masalah-masalah yang berkenaan dengan kemampuan berbahasa anak autisme serta gangguan komunikasi yang dialami anak dengan gangguan autisme. Objek pada penelitian ini anak dengan gangguan autisme bernama Al Parabi (AL) usia 18 tahun. Data diperoleh dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan diantaranya pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan diakhiri dengan penarik kesimpulan. Hasil penelitian menujukkan bahwa Al anak dengan gangguan autisme memiliki kemampuan berbahasa ekspresif dan kemampuan berbahasa reseptif untuk tujuan komunikasi. Kemampuan berbicara Al mengalami kesulitan kognitif dan pemrosesan yang dimana Al mengalami kesulitalitan menggunakan kata-kata tersebut dalam kalimat yang terstruktur. Adapun komunikasi verbal yang dimiliki Al yaitu dapat melakukan komunikasi dua arah. Dan untuk kemampuan komunikasi non-verbalnya terkadang anak dapat melakukan komunikasi dengan kontak mata dan terganggu jika berkomunikasi terjadi sentuhan. Lemah kuatnya suara yang dikeluarkan sudah jelas dan dapat didengar orang lain, untuk kecepatan dalam berkomunikasi anak normal dan cukup baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gangguan tidur merupakan salah satu ketidaknyamanan yang sering dialami ibu nifas akibat perubahan fisiologis dan psikologis pascapersalinan. Kondisi ini dapat mengganggu proses pemulihan, keseimbangan emosional, serta kelancaran menyusui. Prevalensi gangguan tidur pada ibu nifas tercatat sebesar 74,7% di Amerika Utara, 53,6% di Asia, dan 50,4% di Eropa. Di Indonesia sendiri, gangguan tidur pada ibu nifas juga menjadi perhatian, karena dapat berkontribusi terhadap tingginya angka postpartum blues, yang tercatat mencapai 50–70%. Aromaterapi lavender menjadi salah satu metode non farmakologi dalam membantu ibu mengatasi gangguan tidur. Kandungan linalool dan linalyl acetate dalam minyak lavender diketahui memiliki efek relaksasi, menenangkan, serta dapat membantu meningkatkan kualitas tidur tanpa efek samping bagi ibu maupun bayi. Penelitian ini bertujuan: Mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi lavender terhadap kualitas tidur pada ibu nifas di Puskesmas Karang Rejo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus terhadap satu orang ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo yang mengalami gangguan tidur. Intervensi diberikan berupa aromaterapi lavender melalui diffuser sebanyak 5 tetes minyak lavender ke dalam 100 mL air, dihirup dari jarak 1 meter selama 10 menit menjelang tidur malam selama 7 hari berturut-turut. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: pre-test PSQI menunjukkan skor kualitas tidur ibu nifas tergolong buruk skor 12, setelah intervensi aromaterapi lavender selama 7 hari, hasil post-test menunjukkan adanya penurunan skor PSQI menjadi 5, yang berarti kualitas tidur ibu mengalami perbaikan dan masuk dalam kategori baik. Pemberian aromaterapi lavender efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pada ibu nifas di Puskesmas Karang Rejo.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ruam popok termasuk tiga masalah kulit paling umum pada bayi secara global, terutama akibat maraknya penggunaan popok sekali pakai yang tidak tembus udara. Ruam popok tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan seperti rewel dan gangguan tidur tetapi juga mengganggu proses pemberian ASI yang berpotensi memengaruhi tumbuh kembang bayi. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sangat rentan mengalami ruam popok akibat kulitnya yang imatur, dengan lapisan epidermis tipis dan fungsi skin barrier yang belum optimal. Maka, perlu adanya perhatian ekstra pada kebersihan kulit bayi, terutama di area tertutup popok. Salah satu upaya pencegahan yang efektif adalah perawatan perineal dengan virgin coconat oil (VCO). Tujuan dari penulisan karya ilmiah akhir ners ini adalah untuk menerapkan terapi pemberian virgin coconat oil (VCO) terhadap bayi yang mengalami ruam popok. Penulis menggunakan metode case report dengan jumlah responden sebanyak 2 pasien yaitu bayi M dan bayi S dirawat sesuai SPO RS dengan pemberian virgin coconat oil (VCO) selama 5 hari. Sebelum dilakukan terapi pemberian virgin coconat oil (VCO), kedua pasien mengalami derajat ruam popok 1 dengan kulit yang kering. Setelah dilakukan terapi selama 5 hari, terdapat perubahan penurunan derajat ruam popok pada kedua bayi secara bertahap. Asuhan keperawatan telah diberikan kepada pasien bayi dengan ruam popok yang memiliki diagnosis keperawatan gangguan integritas kulit/jaringan dengan intervensi pemberian virgin coconat oil (VCO) selama 5 hari. Setelah 5 hari dilakukan terapi virgin coconat oil (VCO) didapatkan hasil adanya penurunan derajat ruam popok pada bayi M yaitu 0,5 sedangkan pada bayi sudah tidak mengalami ruam popok yaitu derajat 0.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis karakteristik fonologis pada anak tunagrahita dengan gangguan berbicara di SLB Negeri Tarakan. Subjek penelitian adalah seorang anak bernama DW yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bunyi, khususnya pada pengucapan fonem tertentu. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan rekaman. Data yang dianalisis terdiri atas 87 kata yang diucapkan oleh DW. Hasil penelitian menunjukkan adanya gangguan fonologis berupa perubahan, penghilangan, dan penyederhanaan kata. Contohnya, kata "pecah" diucapkan menjadi "peta", dan "cantik" menjadi "tantit", menunjukkan penggantian fonem /ʧ/ dengan /t/. Pada kasus penghilangan fonem, kata "telor" menjadi "telo", dan "aduk-aduk" menjadi "ado-ado", menghilangkan fonem /r/ dan /k/. Gangguan ini berkaitan dengan lemahnya kontrol motorik alat ucap seperti lidah dan bibir, serta keterbatasan kognitif yang memengaruhi persepsi fonem. Anak menunjukkan kecenderungan menyederhanakan struktur suku kata dan mengganti bunyi yang sulit dengan bunyi yang lebih mudah diucapkan. Penelitian ini memberikan gambaran penting tentang pola fonologis anak tunagrahita dan dapat menjadi referensi bagi guru dan terapis dalam menyusun strategi pembelajaran serta terapi wicara yang lebih tepat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk-bentuk gangguan berbahasa dalam aspek fonologi yang dialami penyandang tunagrahita ringan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa tuturan penyandang tunagrahita ringan. Subjek penelitian ini adalah penyandang tunagrahita ringan berinisial AF yang berusia 15 tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tunagrahita ringan berinisial AF mengalami gangguan berbahasa dalam aspek fonologi yang ditandai dengan penghilangan bunyi fonem dan penggantian bunyi fonem. Dari 130 ujaran yang dianalisis, 129 ujaran mengalami penghilangan bunyi fonem, dengan jenis penghilangan berupa aferesis, bunyi-bunyi dihilangkan meliputi bunyi /b/, /c/, /d/, /f/, /g/, /h/, /k/, /l/, /m/, /n/, /ŋ/, /p/, /r/, /s/ dan /t/, apokop, penghilangan ini meliputi bunyi /l/, bunyi /t/, bunyi /ŋ/, dan bunyi /r/. Penghilangan fonem di awal dan akhir kata, pelesapan segmen. Dan penghilangan suku kata tak bertekanan. Sebanyak 11 ujaran menunjukkan penggantian bunyi fonem, dengan jenis perubahan meliputi substitusi bunyi trill /r/ menjadi /l/, substitusi bunyi peluncuran /r/ menjadi /w/, substitusi pengedepanan palatalisasi /s/ menjadi /c/, serta asimilasi velar /t/ menjadi /k/. Gangguan ini disebabkan oleh keterlambatan perkembangan bahasa dan keterbatasan kemampuan fonologis anak tunagrahita yang memengaruhi kemampuan AF dalam mengontrol dan mengoordinasikan gerakan artikulatorisnya. Sehingga, AF menyederhanakan ujarannya dengan menghilangkan dan mengganti bunyi fonem untuk memudahkan pengucapan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gangguan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Tingginya angka gangguan jiwa di indonesia memerlukan perhatian yang cukup serius dari dari pemerintah dan masyarakat akan persoalan gangguan jiwa tersebut. selanjutnya dibutuhkan tingkat pengetahua, sikap, dan perilaku yang khusus dalam membantu menagani persoalan tersebut. Pengetahuan yang memadai tentang kondisi kesehatan anggota keluarga dapat membantu dalam memberikan perawatan yang tepat dan mendukung. Selain itu, sikap positif dari anggota keluarga juga sangat berperan penting dalam perawatan. Dengan adanya dukungan pengetahuan dan sikap yang baik dari keluarga, proses pemulihan dan kesejahteraan anggota keluarga yang sedang dirawat dapat terbantu secara signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku keluarga yang merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 68 orang yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Sebengkok kota Tarakan. Berdasarkan hasil dari penelitian didapatkan hubungan antara tingkat penegtahuan dan sikap keluarga dengan perilaku keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya adalah memerbanyak karakteristik yang sekiranya berkaitan dengan faktor-faktor keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skizofernia adalah suatu sindrom, gangguan psikologis, atau episode klinis yang mempengaruhi seseorang dan berhubungan dengan tekanan, kecacatan, atau pelepasan dari faktor risiko apa pun yang semakin parah dan mencakup ketidakmampuan, kehilangan kebebasan, sakit atau, bahkan kehilangan nyawa. Halusinasi adalah distorsi persepsi palsu yang disebabkan oleh respons neurobiologis yang maladaptif, seseorang yang terkena dampak benar-benar mengalami distorsi sensorik sebagai hal yang nyata dan bereaksi terhadapnya. Tujuan penulisan ini adalah mendapatkan gambaran pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran. Metode penulisan ini menggunakan penelitian deskriptif. Peneliti melakukan asuhan keperawatan pada dua orang pasien dengan gangguan jiwa. Hasil yang didapatkan terdapat tiga diagnosis keperawatan yang sama yang ditegakkan pada klien satu dan klien dua dan satu diagnosisi yang berbeda pada klien satu dan klien dua. Diagnosis keperawatan pada klien satu yaitu, halusinasi, risiko perilaku kekerasan, isolasi sosial, pada klien dua yaitu, halusinasi, isolasi sosial, defisit perawatan diri. Intervensi yang dilakukan pada klien sesuai dengan kondisi klien, sarana dan prasarana. Hasil dari penyusunan studi kasus ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam peningkatan mutu asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa, khususnya pada klien dengan Halusinasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kebutuhan listrik semakin meningkat sehingga dibutuhkan sistem kelistrikan yang handal dan stabil. Salah satu aspek penting yaitu kestabilan transien. Kestabilan transien adalah kemampuan sistem untuk mempertahankan keadaan sistem setelah mengalami gangguan besar seperti hubung singkat tiga fasa. Seperti pada wilayah Kaltimra untuk dapat memenuhi kebutuhan listrik yang semakin meningkat maka dibangun sistem transmisi 150 kV PT. PLN UPT Kaltimra. Oleh karena itu diperlukan analisa kestabilan transien. Teori dalam penelitian ini meliputi stabilitas rotor, frekuensi bus dan tegangan bus untuk memahami perilaku sistem dalam kondisi transien. Metode kriteria sama luas dipilih dalam mengevaluasi kestabilan sistem setelah terjadi gangguan dengan teknik analisa data memberi simulasi gangguan hubung singkat tiga fasa kemudian perhitungan terhadap waktu pemutus gangguan dan terakhir penentuan dengan metode kriteria sama luas. Hasil penelitian ini menunjukkan pada kasus 1 waktu pemutus kritis adalah 0,26 detik dengan sudut awal 32,921 derajat, sedangkan pada kasus 2 waktu pemutus kritis adalah 0,196 detik dengan sudut awal 35,9085 derajat. Simulasi menunjukkan genetaror dapat memulihkan kestabilan dalam 0,42 detik untuk kasus 1dan 0,35 detik untuk kasus 2 setelah gangguan. Sehingga dari analisa kestabilan dengan metode kriteria sama luas maka luas A1=A2 yang menunjukkan bahwa kedua generator dapat mempertahankan kesinkornannya setelah gangguan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah individu yang mengalami gangguan kesehatan jiwa yang serius, mengakibatkan gangguan pada kognisi, emosi, dan fungsi sosial mereka, sehingga mereka tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Adapun persoalan yang dikemukakan penulis ini yang pertama perlindungan hukum terhadap Orang Dengan Ganggguan Jiwa Dari Tindak Pidana Kekerasan menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, kedua Faktor yang mempengaruhi perlindungan hukum terhadap orang dengan gangguan jiwa sebagai korban atau pelaku dari tindak pidana kekerasan. Metode penelitian ini merupakan penelitian normatif. Hasil dari penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan jiwa menyatakan setiap ODGJ terlantar berhak mendapatkan pelayanan serta upaya rehabilitasi yang dapat membantu mengembalikan fungsi sosialnya, hak-hak tersebut terdiri atas hak untuk tidak mendapatkan kekerasan fisik atau psikis, tidak didiskriminasi, tidak disiksa dan ditelantarkan selanjutnya hak-hak dasar seperti pengobatan, perawatan, makanan dan kebutuhan- kebutuhan lainnya yang mendukung. Namun dalam perlindungan hukum terhadap orang dengan gangguan jiwa kurang maksimal yaitu masih kurangnya dalam bentuk pelayanan kesehatan seperti fasilitas maupun pengobatan dan biaya yang cukup mahal. Bahkan masih banyak penderita gangguan jiwa yang tidak terurus maupun menggelandang di jalan. meskipun sudah ada aturan terkait yang mengatur tentang ODGJ tetapi belum juga menurunkan tingkat jumlah penderita gangguan jiwa. Adapun kendala atau hambatan dalam pemenuhan hak penderita gangguan jiwa yaitu permasalahan ditingkat keluarga, permasalahan ditingkat anggaran dan ditingkat masyarakat mengakibatkan terbatasnya dalam memenuhi hak penderita orang dengan gangguan jiwa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang ditandai oleh pikiran yang tidak koheren, perilaku aneh, ucapan aneh, dan halusinasi. Tujuan studi kasus pada penulisan laporan tugas akhir ini adalah mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan Asuhan Keperawatan kepada dua pasien dengan masalah utama yang sama yaitu gangguan persepsi sensori: halusinasi penglihatan dan penglihatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus yaitu menggambarkan dan membandingkan 2 pasien dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran dan penglihatan. Hasil penelitian didapatkan adanya perbedaan penyebab klien 1 tidak diangkat diagnosis risiko perilaku kekerasan dikarenakan klien tidak mengalami tanda dan gejala RPK pada saat di rawat di Ruangan Teratai sedangkan pada pasien 2 klien mengalami tanda dan gejala dari RPK di kerenakan isi halusinasi klien yang menyuruhnya membawa parang dan ingin kabur dari ruangan tempat klien di rawat. Dengan memberikan asuhan keperawatan maka dapat dilakukan berbagai tahapan dari beberapa proses asuhan keperawatan. Pada tahap pengkajian dapatkan perbedaan antara pasien 1 dan 2 yaitu pada isi halusinasi, frekuensi, waktu, situasi dan respon pasien pada saat halusinasinya terjadi. Maka dari itu diharapkan institusi dapat menambah refrensi mengenai strategi pelaksanaan yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa sehingga intervensi mengenai strategi pelaksanaan oleh klien dapat tercapai dengan baik
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Halusinasi dapat muncul pada pasien skizofrenia hebefrenik, karena data dari klien yang mengatakan sering mendengar bisikan menyuruh untuk marah, klien sering tertawa sendiri, klien berbicara menyimpang, klien lebih suka menyendiri, dan klien pemalu. Kondisi dua isi aliran pikiran yang tidak teratur dan kemampuan untuk berhubungan dengan kenyataan cenderung buruk, hal ini dapat menyebabkan halusinasiPenelitian ini menggunakan rancangan deskriftif berupa studi kasus dengan pendekatan studi kasus yaitu menggambarkan atau mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien gangguan persepsi sensori: halusinasi penglihatan dan pendengaran di RSUD dr. H. Jusuf SK Kota Tarakan. Keluhan utama pada klien 1 (Ny.N) mengatakan klien mengatakan melihat bayangan-bayangan hitam yang mengganggu klien juga mengatakan rambutnya ditarik oleh hantu. Sedangkan pada klien 2 (Ny.S) mengatakan sering mendengar suara ribut seperti suara mesin perahu. 1. Proses keperawatan dimulai dengan 5 tahap keperawatan 2. Dari penelitian, penulis menemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus 3. Proses penyelesaian masalah pada kedua klien 4. Proses pemecahan masalah pada kedua klien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•
Skizofrenia adalah serangkaian reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai bidang kinerja individu, termasuk berpikir, berkomunikasi, merasakan, dan menunjukkan emosi serta gangguan otak yang ditandai dengan pikiran kacau, waham, halusinasi, dan perilaku aneh. Perubahan respons persepsi merupakan gejala awal skizofrenia. Sekitar 70% orang dengan skizofrenia mengalami halusinasi. Halusinasi adalah persepsi sensorik tanpa adanya rangsangan eksternal. Penulisan studi kasus ini bertujuan sebagai gambaran asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi. Penyusunan Laporan Tugas Akhir ini penulis menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Penulis menemukan kesenjangan yang ada pada teori tapi tidak ada pada kasus dan tidak ada pada teori tapi ada pada kasus. Proses pemecahan masalah pada pasien 1 dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: halusinasi, isolasi sosial, resiko perilaku kekerasan dan defisit perawatan diri sementara itu, pada pasien 2 dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: halusinasi, isolasi sosial, resiko perilaku kekerasan, defisit perawatan diri dilakukan dengan strategi pelaksanaan intervensi masing-masing diagnosis. Diharapkan adanya kerjasama antara perawat dan keluarga pasien selalu mendampingi dalam proses penyembuhan pasien dengan melanjutkan intervensi anjurkan cara untuk menangani halusinasi agar masalah dapat teratasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
GANGGUAN BERBAHASA PADA PENDERITA EPILEPSI (KAJIAN PSIKOLINGUISTIK) Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk gangguan berbahasa/artikulasi yang dialami oleh seorang yang menderita penyakit epilepsi dan mengetahui penyebab perubahan bunyi fonem pada penderita epilepsi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang berfokus pada kajian psikolinguistik, khususnya mengenai gangguan berbahasa pada penderita epilepsi dalam bidang fonologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif. Hasil penelitian dari gangguan artikulasi yang dialami oleh penderita epilepsi berinisial E terbagi ke dalam dua jenis, yaitu distorsi (kekacauan bunyi yang hampir benar) dan omisi (penghilangan bunyi) jumlah data yang ada sebanyak 100 kata. Masingmasing gangguan artikulasi terdiri dari 32 kata pada gangguan artikulasi distorsi dan 72 kata pada gangguan artikulasi omisi. Terdapat 32 kata yang mengalami kekacauan pelafalan dan hampir mendekati benar yaitu perubahan fonem /f/ menjadi /p/, fonem /u/ menjadi /w/ yang disebabkan adanya asimilasi progresif. Serta perubahan fonem/r/ menjadi /l/ akibat adanya proses disimilasi. Terdapat 72 kata yang mengalami penghilangan fonem yaitu penghilangan fonem /b/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /s/, /t/ pada awal kata akibat dari kontraksi apheresis. Dan penghilangan fonem /l/ pada tengah kata akibat kontraksi sinkop.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
.Latar belakang penelitian ini berupa analisa gangguan peralatan dan sistem distribusi yang terjadi dalam proses penyaluran energi listrik. Dimana dampak langsung yang dirasakan akibat dari gangguan tersebut adalah pemadaman. Pemadaman listrik menyebabkan menurunnya kontinuitas pelayanan pada pelanggan dan mengakibatkan banyaknya kehilangan energi listrik yang tidak tersalurkan ke pelanggan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui teknik optimalisasi pemeliharaan jaringan distibusi, bagaimana mengurangi nilai energy not supplied (ENS), mengetahui kerugian akibat ENS dan mengetahui total energi listrik yang tersalurkan setelah dilakukan pemeliharaan preventif. Penelitian ini menggunakan metode pemeliharaan preventif, yakni pemeliharaan yang dapat mencegah terjadinya kerusakan tak terduga pada jaringan dan peralatan sistem distibusi. Penelitian ini menghasilkan optimalisasi Tindakan pemeliharaan preventif berupa pengurangan gangguan sesudah pemeliharaan preventif dari 7 kali gangguan pada bulan Februari menjadi 2 kali gangguan pada bulan Maret. Sebelum dilakukan pemeliharaan preventif kerugian akibat ENS sebesar Rp. 36.192.017,626 dan total energi listrik yang tak tersalurkan sebesar 25.025,76 kWh. Setelah dilakukan pemeliharaan preventif terjadi penurunan yang signifikan terhadap total kerugian akibat ENS sebesar Rp. 953.516,447 dan jumlah energi listrik yang tak tersalurkan yaitu sebesar 659,28 kWh. Penelitian ini dapat meningkatkan efisiensi pemeliharaan akibat kerugian energi listrik sebesar sebesar 97,36% pada selang waktu data penelitian ini dikelola saat dilaksanakan pengambilan data di lapangan.