ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala yang paling sering dialami pasien skizofrenia dan dapat memengaruhi kemampuan pasien dalam membedakan kenyataan dengan persepsi yang tidak nyata. Kondisi ini berisiko menimbulkan perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain sehingga memerlukan asuhan keperawatan yang tepat untuk membantu pasien mengendalikan halusinasi. Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada pasien skizofrenia dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran menggunakan pendekatan keperawatan komperhensif. Metode Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif pada 2 pasien skizofrenia dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan telaah rekam medis. Proses asuhan keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Hasil Kedua pasien mengalami halusinasi pendengaran berupa suara bisikan yang muncul terutama saat menyendiri serta disertai halusinasi penglihatan. Intervensi keperawatan yang diberikan meliputi identifikasi karakteristik halusinasi, latihan menghardik halusinasi, edukasi kepatuhan minum obat, latihan bercakap-cakap dengan orang lain, dan penyusunan aktivitas terjadwal. Setelah diberikan asuhan keperawatan selama enam hari, kedua pasien menunjukkan peningkatan kemampuan mengenali tanda munculnya halusinasi, mampu menggunakan teknik mengontrol halusinasi secara mandiri, frekuensi halusinasi berkurang, serta kepatuhan minum obat dan keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari meningkat. Kesimpulan Penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif melalui strategi pelaksanaan pada pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran mampu meningkatkan kemampuan pasien dalam mengenali dan mengontrol halusinasi. Keberhasilan intervensi didukung oleh kepatuhan minum obat, keterlibatan pasien selama proses keperawatan, serta dukungan keluarga dalam mempertahankan keberlanjutan terapi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Halusinasi pendengaran merupakan salah satu manifestasi gangguan persepsi sensori yang dapat mengganggu fungsi emosi, perilaku, dan kemampuan koping klien, sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang tidak hanya berfokus pada farmakoterapi tetapi juga pendekatan nonfarmakologis. Terapi okupasi menggambar menjadi salah satu intervensi yang berperan sebagai media ekspresi emosi dan distraksi adaptif terhadap stimulus internal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi okupasi menggambar terhadap perubahan tanda dan gejala halusinasi pendengaran pada klien dengan gangguan persepsi sensori pendengaran. Metode penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada dua klien, melalui tahapan pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Intervensi terapi okupasi menggambar diberikan secara terstruktur dan dievaluasi menggunakan instrumen Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS). Intervensi dilakukan selama 1 hari 1 kali dalam 3 hari secara berturut-turut dengan durasi 30-40 menit. Hasil penelitian menunjukkan penurunan skor AHRS pada kedua klien, di mana klien pertama mengalami penurunan skor dari 21 (halusinasi sedang) menjadi 8 (halusinasi ringan), sedangkan klien kedua mengalami penurunan skor dari 21 (halusinasi sedang) menjadi 12 (halusinasi ringan). Temuan ini menunjukkan bahwa terapi okupasi menggambar berkontribusi terhadap penurunan intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran serta meningkatkan kemampuan klien dalam mengalihkan perhatian dan mengontrol respons terhadap stimulus halusinasi. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat memperkuat peran perawat dalam penerapan intervensi nonfarmakologis sebagai bagian dari asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan gangguan persepsi sensori pendengaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Halusinasi pendengaran merupakan gejala utama pada pasien skizofrenia yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Pendekatan non-farmakologi seperti terapi dzikir relavan diterapkan di Indonesia yang kaya nilai spiritual, khususnya dalam konteks keperawatan holistik yang memadukan aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Tujuan: Menganalisis efektivitas terapi dzikir dalam menurunkan tanda dan gejala pada pasien halusinasi pendengaran. Metode: Menggunakan metode studi kasus yang dilakukan pada dua responden selama tiga hari berturut-turut dengan durasi 20 menit, meliputi pengulangan kalimat istighfar, tasbih, tahmid dan takbir. Tingkat halusinasi yang diukur menggunakan skala AHRS (Auditory Hallucination Rating Scale) sebelum dan sesudah penerapan terapi dzikir. Hasil: Terjadi penurunan skor AHRS yang signifikan pada kedua responden: Tn.H dari 28 (kategori berat) turun menjadi 19 (kategori sedang) dan Tn.M dari 26 (kategori berat) turun menjadi 19 (kategori sedang). Kesimpulan: Terapi dzikir terbukti efektif dalam mengurangi gejala halusinasi pendengaran, meningkatkan ketenangan dan membantu pasien mengontrol persepsi sensori. Studi ini merekomendasikan terapi dzikir sebagai bagian dari asuhan keperawatan holistik berbasis spiritual, terutama di masyarakat dengan nilai religius yang kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Halusinasi merupakan gangguan persepsi yang menyebabkan seseorang merasakan sesuatu yang tidak nyata. Salah satu bentuknya adalah halusinasi pendengaran, yaitu kondisi di mana individu mendengar suara atau bisikan yang tidak berasal dari sumber eksternal. Suara tersebut sering kali bersifat memerintah dan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Penanganan halusinasi tidak hanya dilakukan dengan terapi farmakologis, namun juga dapat dilakukan melalui pendekatan nonfarmakologis. Salah satu metode nonfarmakologis yang terbukti efektif adalah terapi musik klasik. Musik klasik memiliki irama yang tenang dan menimbulkan rasa damai, sehingga dapat membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi musik klasik dalam menurunkan tingkat halusinasi pendengaran pada klien dengan gangguan jiwa. Tiga orang klien dengan gangguan jiwa yang mengalami halusinasi pendengaran diberikan terapi musik klasik selama tiga hari. Sebelum dan sesudah terapi, dilakukan pengukuran tingkat halusinasi menggunakan Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS). Hasil menunjukkan penurunan skor yang signifikan. Pada hari pertama, Tn. R mengalami penurunan skor dari 25 menjadi 23 (kategori berat), Tn. A dari 36 menjadi 28 (kategori sangat berat ke berat), dan Tn. N dari 34 menjadi 26 (kategori sangat berat ke berat). Pada hari kedua, Tn. R dari 25 menjadi 21 (berat ke sedang), Tn. A dari 25 menjadi 22 (berat ke sedang), dan Tn. N dari 27 menjadi 23 (kategori berat, namun tetap menunjukkan penurunan). Pada hari ketiga, Tn. R dari 13 menjadi 10 (sedang ke ringan), Tn. A dari 24 menjadi 18 (berat ke sedang), dan Tn. N dari 22 menjadi 16 (kategori sedang). Selain penurunan skor Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS), respon emosional klien menunjukkan ketenangan dan kenyamanan setelah terapi. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi musik klasik efektif dalam menurunkan intensitas halusinasi pendengaran dan dapat dijadikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang mendukung pemulihan klien dengan gangguan jiwa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Halusinsasi merupakan permasalahan yang sering muncul pada penderita skizofrenia. Halusinasi adalah distorsi persepsi palsu yang terjadi pada respons neurobiologis maladaptif. Faktor predisposisi dan presipitasi menjadi penyebab terjadinya halusinasi, sehingga pasien akan merasakan stimulus yang tidak nyata. Tujuan penulisan Laporan Tugas Akhir ini adalah mendapatkan gambaran pengalaman tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien skizofrenia dengan masalah utama halusinasi pendengaran menggunakan pendekatan keperawatan komperhensif. Metode penulisan Laporan Tugas Akhir ini menggunakan studi kasus. Penulis melakukan asuhan keperawatan pada dua orang pasien skizofrenia dengan halusinasi pendengaran. Hasil yang didapatkan terdapat empat diagnosis keperawatan yang ditegakkan pada pasien 1 dan pasien 2, dengan tiga diagnosis keperawatan yang sama yaitu halusinasi pendengaran, risiko perilaku kekerasan, isolasi sosial. Adapun diagnosis keperawatan yang berbeda pada pasien 1 dengan harga diri rendah dan pasien 2 dengan defisit perawatan diri. Keempat diagnosis tersebut diamati secara mendalam dan keempat diagnosis tersebut teratasi pada pasien 1 sedangkan pada pasien 2 belum teratasi dan intervensi masih dilanjutkan. Berdasarkan literatur yang digunakan terdapat tiga diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan pada pasien yaitu halusinasi pendengaran, risiko perilaku kekerasan, isolasi sosial. Ketiga diagnosis tersebut semuanya muncul pada pasien. Intervensi yang dilakukan telah disesuaikan dengan kondisi klien, sarana, dan prasarana. Hasil dari penyusunan studi kasus ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam peningkatan mutu asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang dapat mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi emosional, tingkah laku serta dapat mempengaruhi fungsi normal kognitif. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa skizofrenia dimana seseorang akan mengalami perubahan pada persepsi sensori, merasakan sensasi yang palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, dan perabaan dan penciuman. Halusinasi pendengaran adalah klien mendengar suara – suara yang tidak berhubungan dengan stimulasi nyata yang orang lain tidak mendengarnya. Tujuan penulis mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada Tn.M. Metode penulisan: deskriptif dalm bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, pada Tn. M. Hasil pengkajian klien terdapat 5 masalah keperawatan yaitu: Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran, Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah, Risiko Perilaku Kekerasan, Defisit Perawatan Diri: Berpakaian dan Defisit Pengetahuan (Jiwa dan Obat) serta 4 diagnosa keperawatan jiwa yaitu: Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran, Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah, Risiko Perilaku Kekerasan, Defisit Perawatan Diri: Berpakaian. Kesimpulan: penulis menemukan kesenjangan yang ada pada kasus tetapi tidak ada pada teori yaitu pada kasus klien terdapat diagnosa gangguan konsep diri: harga diri rendah. Proses asuhan keperawatan klien membutuhkan stimulus dari orang disekitar untuk melakukan tindakan keperawatan klien mampu melakukan dengan benar, intervensi dipertahankan dan dilanjutkan oleh perawat di ruang teratai . Diharapkan perawat yang ada di ruang teratai mampu membimbing klien melanjutkkan intervensi sesuai dengan yang diharapkan agar indikator dapat teratasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•
Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang dapat mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi emosional, tingkah laku serta dapat mempengaruhi fungsi normal kognitif. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa skizofrenia dimana seseorang akan mengalami perubahan pada persepsi sensori, merasakan sensasi yang palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, dan penciuman. Halusinasi pendengaran adalah klien mendengar suara-suara yang tidak berhubungan dengan stimulasi nyata yang orang lain tidak mendengarnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada Tn. M. Metode penulisan: deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan pada Tn. M. Hasil pengkajian terdapat 3 masalah keperawatan yaitu: Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, isolasi sosial, dan defisit perawatan diri: berhias. Kesimpulan: pada masalah keperawatan yang klien alami, semua memiliki keterkaitan dimulai saat klien mengalami isolasi sosial sehingga muncul gangguan persepsi sensori: halusinasi dan menyebabkan kurangnya perhatian klien dalam melakukan perawatan diri yaitu defisit perawatan diri: berhias. Pada saat pelaksanaan ada satu diagnosis yang intervensinya belum teratasi yaitu isolasi sosial. Proses asuhan keperawatan pada klien membutuhkan stimulus agar bisa mendapatkan informasi dari klien langsung, dalam melakukan tindakan keperawatan klien melakukan dengan benar dan intervensi dipertahankan. Diharapkan keluarga dan perawat di rumah sakit mampu membimbing klien melanjutkan intervensi sesuai dengan yang diharapkan agar indikator dapat teratasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi mental sejahtera yangmemungkinkanhidup harmonis dan produktif sebagai bagian utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia.Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Tujuan umum penulisan laporan tugas akhir ini adalah mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan kepada klien Ny.R dengan masalah utama gangguan persepsi sensori:halusinasi pendengaran.Penyusunan laporan tugas akhir ini penulis menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, pada Ny.R.Pada kasus Ny.R dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran terdapat kesenjangan diagnosa yaitu diagnosa risiko perilaku kekerasan yang dimana ada pada teori tetapi tidak ada pada kasus Ny.R.Proses pemecahan masalah pada Ny.R dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran dilakukan dengan tiga diagnosa gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, isolasi sosial: menarik diri, harga diri rendah, dengan strategi pelaksanaan tiga intervensi masing-masing diagnosa. Masalah belum teratasi dikarenakan strategi pelaksanaan belum terlaksana dikarenakan kondisi Ny R yang masih mendengar suara tersebut penulis tidak dapat melakukan beberapa intervensi.Perlu adanya kerja sama yang baik antara perawat dan keluarga klien untuk turut melibatkan dan membantu proses penyembuhan klien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individ dapat berkembang secarafisik,mental,spiritual, dan sosial sehigga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri. Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana klien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaaan atau penghiduan. Tujuan umum pada penulisan laporan tugas akhir ini adalah mendapatan gambaran dan pengalama nnyata tentang penerapan asuhan keperawatan kepada klien Tn.D dengan masalah utama Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran di Puskesmas Sebengkok Tarakan. Metode penulisan ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Pada metode ini, menggunakan pengumpulan data sebagai berikut: wawancara, observasi, studi kepustakaan, studi dokumentasi. Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis menemukan kesenjangan diagnosa keperawatan pada Tn.D yaitu ada pada teori namun tidak ada pada kasus yaitu: Isolas isosial: menarik diri, Harga diri rendah dan diagnosa ada pada kasus namun tidak ada pada teori yaitu: Resiko perilaku kekerasan dan penulis melakukan intervensi yang tidak teratasi yaitu pada diagnosa: gangguan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran dan Defisit perawatan diri. Proses pemecahan masalah pada kasus Tn.D yaitu melaksanakan 3 strategi pelaksanaan untuk masing-masing diagnosa keperawatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skizofrenia adalah suatu gangguan jiwa yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realita (halusinasi dan waham) efek yang tidak waj ar atau tumpul, gangguan kognitif (tidak mampu berfikir abstrak) dan mengalami kesukaran melakukan aktivitas sehari-hari. Halusinasi adalah suatu keadaan dimana klien mengalami perubahan persepsi sensori yang diebabkan stimulus yang sebenarnya itu tidak ada. Tujuan penulis mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada Ny. M dengan masalah utama gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran .Metode penulisan: deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, pada Ny. M. Hasil pengkajian klien terdapat tiga masalah keperawatan yaitu: gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, Risiko perilaku kekerasan, Gangguan memori, sedangkan pada kasus Ny.M terdapat dua diagnosa keperawatan jiwa yaitu: gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, Risiko perilaku kekerasan. Terdapat kesenjangan pada implementasi gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran dan risiko perilaku kekerasan yang terdapat pada teori namun tidak dengan kasus. Dimana pada teori perencanaan terdapat 5 strategi pelaksanaan pada masing-masing diagnosa keperawatan jiwa,namun pada kasus Ny.M diagnosa keperawatan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran penulis hanya dapat melakukan 3 strategi pelaksanaan dan pada diagnosa risiko perilaku kekerasan hanya dapat melakukan 2 strategi pelaksanaan. Proses asuhan keperawatan klien membutuhkan stimulus dari orang sekitar, untuk melakukan tindakan yang dianjurkan karena klien mampu melakukan dengan benar, intervensi dihentikan. Diharapkan keluarga mampu membimbing klien dan bekerja sama dengan perawat puskesmas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang dapat mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi emosional, tingkah laku serta dapat mempengaruhi fungsi normal kognitif. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa skizofrenia dimana seseorang akan mengalami perubahan pada persepsi sensori, merasakan sensasi yang palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan dan penciuman. Halusinasi Pendengaran adalah klien mendengar suara-suara yang tidak berhubungan dengan stimulasi nyata yang orang lain tidak mendengarnya. Tujuan penulis mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada Ny W. Metode penulisan: deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, pada Ny. “W”. Hasil pengkajian klien terdapat 4 masalah keperawatan yaitu: Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, gangguan konsep diri: harga diri rendah, risiko perilaku kekerasan, dan koping individu tidak efektif dan 3 diagnosa keperawatan yaitu gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran, gangguan konsep diri: harga diri rendah dan risiko perilaku kekerasan.. Kesimpulan: penulis menemukan kesenjangan yang ada pada kasus tetapi tidak ada pada teori yaitu pada kasus klien terdapat diagnosa gangguan konsep diri: harga diri rendah tetapi pada teori untuk pasien gangguan persepsi sensori: halusinasi tidak ada diagnosa gangguan konsep diri: harga diri rendah. Pada saat pelaksanaan ada satu diagnosa yang intervensinya belum teratasi yaitu harga diri rendah. Proses asuhan keperawatan klien klien membutuhkan stimulus dari orang disekitar, untuk melakukan tindakan keperawatan klien mampu melakukan dengan benar, intervensi dipertahankan dan dilanjutkan secara mandiri oleh klien di rumah. Diharapkan keluarga dan perawat puskesmas mampu membimbing klien melanjutkan intervensi sesuai dengan yang diharapkan agar indikator dapat teratasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. A DENGAN MASALAH UTAMA GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG TERATAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN Abstrak Skizofrenia merupakan gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Tujuan penulis mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada Tn.M. Metode penulisan : deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, pada Tn. “M”. Hasil pengkajian klien terdapat 7 masalah keperawatan yaitu: Gangguan, Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran, Isolasi Sosial: Menarik Diri, Defisit Perawatan Diri: Berpakaian, Resiko Perilaku Kekerasan, Koping Individu Tidak Efektif, Kurang Pengetahuan Tentang Penyakit Jiwa, Regiment Terapeuik Inefektif. Dan 3 yang menjadi diagnosa prioritas yaitu: Ganggguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran, Isolasi Sosial: Menarik Diri, Defisit Perawatan Diri: Berpakaian. Kesimpulan: Terdapat kesenjangan salah satu intervensi yaitu dorong keterlibatan dalam aktivitas kelompok maupun terapi, klien mampu mengikuti terapi aktivitas kelompok namun klien tampak apatis sehingga diperlukan komunikasi terapeutik antara perawat dan klien untuk meningkatkan kemampuan interaksi klien dan pada saat pelaksanaan ada satu diagnosa yang intervensinya belum teratasi yaitu Halusinasi. Proses asuhan keperawatan klien membutuhkan stimulus dari perawat, untuk melakukan tindakan yang dianjurkan karena klien mampu melakukan dengan benar tetapi klien belum mampu melakukan secara mandiri, intervensi di delegasikan pada perawat ruangan. Diharapkan perawat mampu melanjutkan intervensi sesuai dengan yang diharapkan perawat agar indikator dapat teratasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. M DENGAN MASALAH UTAMA GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG TERATAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN Abstrak Skizofrenia merupakan gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Tujuan penulis mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang penerapan asuhan keperawatan pada Tn.M. Metode penulisan : deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan, pada Tn. “M”. Hasil pengkajian klien terdapat 7 masalah keperawatan yaitu: Gangguan, Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran, Isolasi Sosial: Menarik Diri, Defisit Perawatan Diri: Berpakaian, Resiko Perilaku Kekerasan, Koping Individu Tidak Efektif, Kurang Pengetahuan Tentang Penyakit Jiwa, Regiment Terapeuik Inefektif. Dan 3 yang menjadi diagnosa prioritas yaitu: Ganggguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran, Isolasi Sosial: Menarik Diri, Defisit Perawatan Diri: Berpakaian. Kesimpulan: Terdapat kesenjangan salah satu intervensi yaitu dorong keterlibatan dalam aktivitas kelompok maupun terapi, klien mampu mengikuti terapi aktivitas kelompok namun klien tampak apatis sehingga diperlukan komunikasi terapeutik antara perawat dan klien untuk meningkatkan kemampuan interaksi klien dan pada saat pelaksanaan ada satu diagnosa yang intervensinya belum teratasi yaitu Halusinasi. Proses asuhan keperawatan klien membutuhkan stimulus dari perawat, untuk melakukan tindakan yang dianjurkan karena klien mampu melakukan dengan benar tetapi klien belum mampu melakukan secara mandiri, intervensi di delegasikan pada perawat ruangan. Diharapkan perawat mampu melanjutkan intervensi sesuai dengan yang diharapkan perawat agar indikator dapat teratasi.