ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Pasien hipertensi sering mengalami tekanan darah yang tidak terkontrol meskipun telah mendapatkan terapi farmakologis sehingga diperlukan intervensi nonfarmakologis yang efektif dan aman. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kombinasi terapi rendam kaki air hangat dan murottal Al-Qur'an Surah Ar-Rahman terhadap perubahan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi. Metode yang digunakan adalah penerapan asuhan keperawatan berbasis evidence-based practice pada dua pasien hipertensi grade II dengan pemberian terapi rendam kaki air hangat suhu 38–40°C disertai mendengarkan murottal Al-Qur'an Surah Ar-Rahman selama 15 menit, satu kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Hasil penerapan menunjukkan adanya penurunan tekanan darah secara bertahap pada kedua pasien. Pada Ny. M tekanan darah menurun dari 178/99 mmHg menjadi 156/92 mmHg, sedangkan pada Tn. A tekanan darah menurun dari 164/96 mmHg menjadi 153/88 mmHg setelah intervensi selama tiga hari. Selain itu, pasien juga melaporkan merasa lebih rileks, nyaman, segar, serta mengalami penurunan keluhan pusing dan nyeri tengkuk. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi terapi rendam kaki air hangat dan murottal Al-Qur'an Surah Ar-Rahman efektif sebagai terapi nonfarmakologis pendamping dalam membantu menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Rekomendasi bagi perawat adalah menjadikan kombinasi terapi rendam kaki air hangat dan murottal Al-Qur'an Surah Ar-Rahman sebagai salah satu intervensi nonfarmakologis pendamping dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien hipertensi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat dan sering kali tidak disadari oleh penderitanya, sehingga dikenal sebagai "silent killer". Kompikasi yang dapat disebabakan oleh hipertensi antara lain stroke, gagal ginjal, penyakit jantung koroner, dan dapat menyebabkan kematian. Penulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hasil evaluasi terapi jus mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada pasien kelolaan dengan hipertensi. Penerapan dilakukan terhadap dua pasien dengan hipertensi menggunakan metode ceramah dan demonstrasi yang meliputi lima tahap keperawatan: pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Terapi jus mentimun diberikan selama 5 hari berturut-turut pada pagi hari 15 menit sebelum makan. Hasil evaluasi menunjukan terjadi penurunan tekanan darah pada kedua pasien dimana pada pasien pertama tekanan darah hari pertama 173/118 mmHg menjadi 160/100 mmHg pada hari ke lima dan pasien kedua tekanan darah hari pertama 165/121 mmHg menjadi 153/102 mmHg pada hari ke lima. Hasil ini menunjukan bahwa penerapan terapi terapi jus mentimun yang dikombinasikan dengan edukasi kesehatan dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam membantu menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi Ibu. Mohon maaf mengganggu waktu nya Ibu. Saya Ayu Lusiana mahasiswa profesi Ners angkatan 4, mahasiswa bimbingan KIAN dengan ibu. Mohon izin bertanya ibu, mengenai KIAN saya Ibu, izin bertanya ibu apakah saya dapat menemui ibu hari ini ibu, untuk meminta tandatangan persetujuan KIAN saya ibu? mohon arahan nya ibu Mohon maaf apabila terdapat salah kata dari saya, Sekian dan terima kasih ibu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Lansia merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai penyakit degeneratif, salah satunya adalah hipertensi. Penatalaksanaan hipertensi secara nonfarmakologis semakin dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan pada obat dan mencegah komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian kombinasi seduhan bawang putih dan akupresur dalam menurunkan tekanan darah dan nyeri pada lansia hipertensi. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan pre-test dan post-test terhadap dua pasien lansia yang mengalami nyeri akut dan defisit pengetahuan terkait hipertensi. Intervensi ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan tekanan darah dan tingkat nyeri pada kedua pasien setelah intervensi. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman pasien tentang hipertensi dan pengelolaannya. Terapi kombinasi ini terbukti efektif, alami, murah, dan dapat dilakukan di rumah dengan pendampingan tenaga kesehatan. Penelitian ini merekomendasikan penerapan terapi seduhan bawang putih dan akupresure sebagai alternatif intervensi nonfarmakologis yang aman dan efektif dalam praktik keperawatan gerontik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat dan sering tidak disadari oleh penderitanya. Kurangnya kesadaran dalam perawatan mandiri dan minimnya dukungan keluarga dalam pengelolaan hipertensi berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian dan komplikasi penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi senam hipertensi sebagai intervensi nonfarmakologis terhadap penurunan tekanan darah pada keluarga dengan anggota yang menderita hipertensi di Kelurahan Pantai Amal RT 03 Tarakan. Metode yang digunakan adalah studi kasus terhadap dua keluarga yang memiliki anggota dengan riwayat hipertensi dan tidak rutin menjalani pengobatan medis. Intervensi dilakukan berupa pelatihan dan pelaksanaan senam hipertensi selama tiga kali seminggu dengan durasi 30 menit setiap sesi. Hasil pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan adanya penurunan tekanan darah yang signifikan pada kedua responden. Penerapan senam hipertensi terbukti menjadi upaya efektif dan aman dalam menurunkan tekanan darah serta meningkatkan kesadaran keluarga dalam perawatan hipertensi. Diperlukan edukasi berkelanjutan dan keterlibatan keluarga secara aktif untuk mendukung keberhasilan terapi nonfarmakologis ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Halusinasi merupakan gangguan persepsi yang menyebabkan seseorang merasakan sesuatu yang tidak nyata. Salah satu bentuknya adalah halusinasi pendengaran, yaitu kondisi di mana individu mendengar suara atau bisikan yang tidak berasal dari sumber eksternal. Suara tersebut sering kali bersifat memerintah dan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Penanganan halusinasi tidak hanya dilakukan dengan terapi farmakologis, namun juga dapat dilakukan melalui pendekatan nonfarmakologis. Salah satu metode nonfarmakologis yang terbukti efektif adalah terapi musik klasik. Musik klasik memiliki irama yang tenang dan menimbulkan rasa damai, sehingga dapat membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi musik klasik dalam menurunkan tingkat halusinasi pendengaran pada klien dengan gangguan jiwa. Tiga orang klien dengan gangguan jiwa yang mengalami halusinasi pendengaran diberikan terapi musik klasik selama tiga hari. Sebelum dan sesudah terapi, dilakukan pengukuran tingkat halusinasi menggunakan Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS). Hasil menunjukkan penurunan skor yang signifikan. Pada hari pertama, Tn. R mengalami penurunan skor dari 25 menjadi 23 (kategori berat), Tn. A dari 36 menjadi 28 (kategori sangat berat ke berat), dan Tn. N dari 34 menjadi 26 (kategori sangat berat ke berat). Pada hari kedua, Tn. R dari 25 menjadi 21 (berat ke sedang), Tn. A dari 25 menjadi 22 (berat ke sedang), dan Tn. N dari 27 menjadi 23 (kategori berat, namun tetap menunjukkan penurunan). Pada hari ketiga, Tn. R dari 13 menjadi 10 (sedang ke ringan), Tn. A dari 24 menjadi 18 (berat ke sedang), dan Tn. N dari 22 menjadi 16 (kategori sedang). Selain penurunan skor Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS), respon emosional klien menunjukkan ketenangan dan kenyamanan setelah terapi. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi musik klasik efektif dalam menurunkan intensitas halusinasi pendengaran dan dapat dijadikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang mendukung pemulihan klien dengan gangguan jiwa.